Beautifully Painful

Beautifully Painful
93. "Miss You Already ...."



Cakra


Pak Cipto memaksanya untuk mengantarkan sampai ke terminal.


"Daripada naik ojek, Den. Sama aja," jawab Pak Cipto ketika ia menolak halus tawaran yang diberikan.


"Angkot jam segini juga pasti ngetemnya lama," kilah Pak Cipto lagi. "Mendingan diantar sama saya."


Membuatnya tak memiliki pilihan selain naik ke boncengan motor Pak Cipto. "Makasih banyak, Pak."


"Kenapa nggak bawa mobil aja, Den?" tanya Pak Cipto sebelum motor yang ditumpanginya keluar dari pintu gerbang rumah Anja.


"Enggak, Pak," jawabnya singkat.


Ia sempat meminta Pak Cipto untuk berhenti di sebuah Masjid yang terletak di sekitar daerah Petamburan untuk mengikuti sholat Subuh berjamaah. Sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju terminal.


Dari terminal ia naik Bus Mayasari Bakti AC42A jurusan Kalideres - Cileungsi. Setelah melalui perjalanan sejauh hampir 60 KM yang ditempuh dalam waktu sekitar satu setengah jam, ia turun di Ramayana Cileungsi.


Kemudian dilanjutkan dengan naik Bus jurusan Bogor - Jonggol. Dan turun tepat di depan gerbang warna hijau dengan tanda bertuliskan SIAP.


Ia harus mengantre di depan pos sekuriti seperti puluhan orang lain yang datang lebih dulu. Setelah menandatangani presensi, barulah ia bisa memasuki area pelatihan yang lumayan luas itu.


"Langsung masuk ke dalam!" begitu instruksi dari sekuriti yang bertugas.


Ia pun berjalan menuju gedung berdominasi warna putih dengan tulisan berukuran besar warna kuning di bagian depannya yang berbunyi, SIAP TRAINING CENTER.


Dimana puluhan orang terlihat memadati halaman depan gedung, tepat di depan dua buah tenda warna biru bertuliskan SIAP ACADEMY.


"Ini peserta training dari AxHM kan?" tanyanya pada orang yang mengantre di baris paling belakang.


"Ya. Antre buat daftar ulang," jawab orang tersebut.


Membuatnya ikut berdiri mengantre. Sementara matanya mulai berkeliling mengidentifikasi keadaan sekitar. Dan langsung menangkap sebuah spanduk besar yang dipasang di bagian depan gedung utama bertuliskan,


...STC - PT SIAP PRIMA SATRIA - CILEUNGSI...


...UPACARA PEMBUKAAN...


...PELATIHAN MENTALITAS DASAR...


...PT AXTRA HOMDA MOTOR...


...ANGKATAN 25 BATCH 3...


Di dalam tenda ia menyerahkan beberapa berkas yang disyaratkan, kembali menandatangani dua lembar presensi, serta mendapatkan sebuah goodie bag berwarna merah dengan logo sayap bertuliskan SATUJIWA.


"Silakan antre di sana untuk potong rambut," tunjuk petugas ke salah satu sudut tenda dimana lima orang sedang duduk berjajar untuk dipotong rambutnya secara bersamaan. Model potongan rambut cepak hampir botak tentu saja. Seperti penampakan Keanu Reeves dalam film Speed.


Setelah acara botak massal selesai, petugas mengarahkan mereka menuju kamar masing-masing guna mempersiapkan diri mengikuti upacara pembukaan pada pukul 09.00 WIB.


Namun sebelumnya, beberapa orang menyempatkan untuk berfoto bersama atau selfie di depan tenda warna biru sebagai kenang-kenangan. Sebelum ponsel di kumpulkan pada petugas dan baru dikembalikan 5 hari mendatang.


Ketika sebagian besar peserta training makin riuh berfoto bersama, ia lebih memilih untuk mendekati salah satu petugas dan bertanya, "Saya boleh minta contact person yang bisa dihubungi di sini nggak, Pak?"


"Untuk apa?"


Ia harus menelan ludah terlebih dahulu sebelum menjawab, "Istri saya sedang hamil. Khawatir ada emergency yang har...."


"Boleh," jawab petugas itu cepat. "Nanti langsung hubungi instruktur di peleton kamu. Karena beliau yang akan bertanggungjawab selama training berlangsung."


"Baik, terimakasih, Pak."


Ketika ia hendak melangkah menuju kamar yang telah ditetapkan, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari arah belakang, "Woyyy!"


Ternyata Sarip dengan beberapa orang lain yang berjalan mengikuti. Sepertinya mereka sudah saling mengenal satu sama lain.


"Aripudin, Pandeglang."


"Theo, Bekasi."


"Yadi, Wonogiri."


"Mamat, Pacitan."


"Sidik, Cimahi."


"Syahril, Muaro Bungo, Jambi. Panggilannya Ariel."


Ia pun menyalami mereka satu per satu sambil tersenyum, "Cakra, Jakarta."


"Tetangga gua nih, cocok jadi ketua peleton!" seloroh Sarip sambil merangkul pundaknya, yang diikuti anggukan oleh semua orang.


Tapi ia menolak mentah-mentah sambil tertawa sumbang, "Jangan gua lah. Yang lain masih banyak."


Mereka semua tergabung dalam satu pleton sekaligus kamar yang sama dengannya.


Begitu sampai di kamar, ia segera merapikan barang bawaan ke dalam lemari yang tersedia. Termasuk membongkar goodie bag yang ternyata berisi kaos dan celana training bertuliskan PT AxHM, nametag, pin, jadwal kegiatan selama 5 hari, buku saku, daftar pembagian pleton dan kamar, serta beberapa benda lain yang berhubungan dengan kegiatan training.


Kemudian ia berganti baju dengan kemeja lengan panjang warna putih serta celana panjang hitam. Lengkap dengan pin warna merah yang menempel di dada sebelah kiri bertuliskan,


#cariaman


saat naik motor


Homda


Serta nametag yang menggantung di leher berisi identitas diri,


Program Seleksi


Tahap II PT AxHM


047


T. Cakradonya Ishak


Sebelum upacara pembukaan dimulai, peleton 3 tempatnya bernaung berkumpul sebentar dengan instruktur yang akan mendampingi mereka selama training berlangsung.


"Nama saya Fiki Koesdianto. Instruktur kalian di peleton tiga!"


"Silakan langsung hubungi saya jika ada yang perlu disampaikan!"


"Tidak kasak kusuk di belakang!"


"Mengerti?!"


"Siap! Mengerti!" jawab mereka serempak.


"Untuk yang pertama, kita perlu memilih satu diantara kalian untuk menjadi pemimpin."


Ia yang telah duduk di baris paling belakang dan berusaha merundukkan bahu agar tak terlihat, tak mampu berbuat apa-apa ketika sebagian besar anggota pleton 3 menunjuk ke arahnya.


"Gua cocok nih jadi marketing handal," seloroh Sarip yang duduk di sebelahnya begitu secara aklamasi nama Cakradonya terpilih menjadi ketua peleton 3.


"Gua cuma mau lolos dan bisa langsung kerja," keluhnya yang merasa sedikit keberatan dengan keputusan pleton 3. "Nggak tertarik tampil yang beginian."


"Nggak ada lagi yang cocok selain elu, bro!" ujar Sarip dengan mimik meyakinkan.


Tepat pukul 09.00 WIB, upacara pembukaan pelatihan mentalitas dasar batch ke 3 pun dimulai.


"Tujuan diadakannya pelatihan ini adalah untuk membentuk mental disiplin, tanggung jawab, dan siap bekerja," ujar Bapak Efraim Tjandra sebagai Learning Center Dept - HRD PT AxHM dalam amanat upacara.


"Sekaligus menyiapkan pribadi tangguh dalam menghadapi setiap tantangan yang diberikan."


***


Anja


Ia bangun kesiangan dan hampir kehabisan waktu untuk melaksanakan sholat Subuh. Karena sekujur tubuh terasa lunglai dan inginnya terus berbaring di atas tempat tidur.


Namun ia tentu harus segera bangun dan membersihkan diri usai petualangan semalam. Agar tak benar-benar kehabisan waktu Subuh.


Sambil menyeret kaki dengan penuh rasa malas, perlahan ia mulai beranjak menuju ke kamar mandi. Dan berdiri di depan kaca wastafel berniat untuk menggosok gigi.


Namun sebelum berhasil meraih sikat gigi, sebuah tanda merah di dekat tulang selangka berhasil menarik perhatiannya.


"Apaan nih?" tanyanya heran ketika tanda yang sama juga terlihat di sepanjang lehernya. Seperti bekas gigitan luka berwarna merah namun tak terasa sakit ataupun gatal.


Saking penasarannya ia pun meloloskan babydoll yang sedang dipakai. Dan terkejut demi mendapati hampir di sekujur tubuhnya terdapat tanda merah yang sama.


Di seluruh permukaan dada, perut, pinggang, bahkan pinggul dan ....


Ia mendadak terkesiap. Ya ampun, Cakra?!?


Wajahnya langsung terbakar dengan hati membuncah diliputi rasa bahagia campur malu begitu menyadari Cakra meninggalkan kissmark hampir di seluruh le kuk tubuhnya. Yang benar saja. Bagaimana bisa melakukannya?


Dan usai mandi, ia masih saja tersenyum-senyum sendiri demi mengingat tanda yang Cakra tinggalkan. Terlebih ketika sedang sarapan, Bi Enok tiba-tiba menatapnya heran,


"Neng Anja sakit atau habis digigit apa itu?" tanya Bi Enok sambil menunjuk lehernya yang memerah di sana sini.


Membuatnya tersipu malu dan menjawab sekenanya, "Digigit nyamuk kali, Bi."


"Eleuh...eleuh....," seru Bi Enok membuatnya terkejut.


"Kamar Neng Anja ada nyamuknya? Harus cepat-cepat dibersihin khawatir nyamuk aedes," lanjut Bi Enok yang segera pergi ke belakang. Tapi tak lama kembali muncul sambil membawa vacum cleaner.


"Saya bersihkan dulu ya, Neng," ujar Bi Enok sebelum memasuki kamarnya.


Ia hanya tertawa geli melihat reaksi sigap Bi Enok. Padahal sih yang gigit udah nggak ada di rumah, batinnya dengan pipi yang kembali memanas. Jadi nggak enak si nyamuk dikambing hitamkan.


Cakra. : 'CP SIAP Academy : Fiki Koesdianto - 0812657890.'


Cakra. : 'Miss you already.'


Membuatnya segera membalas pesan Cakra. Namun tak terkirim. Hm, sepertinya Cakra telah menonaktifkan ponsel dan memulai kegiatan trainingnya. It's gonna be a looong dayyy.


Ia pun mencoba mengisi hari dengan melakukan aktivitas yang bisa mendistrak pikiran dari mengingat Cakra. Namun ini jelas bukan hal mudah. Karena ia merasa telah melakukan semua hal. Tapi jarum jam dinding seolah berjalan sangat lambat.


Hingga ia memutuskan untuk tidur-tiduran saja di dalam kamar. Sembari mendengarkan musik yang mungkin bisa membuatnya terlelap agar bisa sedikit terhindar dari kebosanan.


Namun matanya justru terus saja nyalang memandangi langit-langit kamar. Sambil menyusun rencana, kira-kira hal menarik apa yang bisa dilakukannya selama 5 hari ke depan.


Mungkin mengajak Hanum dan Bening menginap di rumahnya? Lalu mereka bisa ngobrol semalam suntuk sambil tertawa-tawa. Atau bisa juga jalan ke mall dan nonton bioskop. Hmm, sepertinya lumayan seru juga.


Ketika ia hendak mengambil ponsel di atas nakas untuk mengirim pesan chat di grup, tiba-tiba matanya tertumbuk pada bungkusan berwarna biru yang tersimpan di rak buku paling atas.


Membuatnya mengurungkan niat untuk mengambil ponsel. Karena lebih tertarik untuk meraih bungkusan berwarna biru.


Ya, tak salah lagi. Ini kado yang diberikan Salma padanya ketika sedang berada di pasar kaget Minggu pagi beberapa waktu lalu. Kado berpita biru yang mulai berdebu karena tak pernah disentuh.


"Kirain udah dibuka," sungutnya karena salah mengira jika Cakra telah membuka kado dari Salma tanpa sepengetahuannya.


Dengan rasa penasaran campur sedikit was was, ditariknya pita warna biru yang mengelilingi kado sampai simpulnya terlepas. Kemudian membuka bungkusan dengan warna senada hingga menampilkan keseluruhan isi di dalamnya.


"Bener kan isinya buku," gumamnya seolah Cakra sedang duduk di hadapannya. "Kubilang juga apa."


Diraihnya kartu ucapan berwarna merah muda dan berbau harum yang tersimpan di bagian paling atas isi kado. Bertuliskan,


Dear Agam&Anja,


Best wishes on your wedding


Regards,


Salma


Lalu di bawah kartu ucapan masih terdapat sebuah amplop warna pink garis putih. Dengan tanda hati di bagian belakang amplop yang mengelilingi tulisan dari tinta hitam berbunyi VICTOLIA'S SECRET.


Sambil mengernyit dibukanya amplop tersebut. Yang ternyata berisi selembar kertas berwarna senada dengan amplop bertuliskan, GIFT VOUCHER.


Sementara di balik kertas tertulis detail jumlah voucher, termasuk serial number dan kalimat,


This gift card is issued by Valilam Group on behalf of Victolia's Secret and is only valid 12 months from the date of issue.


"Ya ampun," desisnya tak percaya karena Salma memberinya kado yang berhubungan dengan....


Ah ya, tentu saja ia tak akan mencairkan voucher ini. Yang benar saja jika ia harus bertualang dengan memakai wardrobe dari mantan kekasih wannabe suaminya. Never ever.


Ia segera memasukkan voucher ke dalam amplop dan menyimpannya di atas nakas. Kemudian mengambil buku paling atas yang berjudul,


Chicken Soup for The Soul : Married Life!


by Jack Canfield, Mark Victor Hansen, and Amy Newmark


Lalu di bawahnya terdapat satu buku lagi yaitu,


Men are from Mars


Women are from Venus


by John Gray


Yang ketika ia buka sampulnya terdapat tulisan tangan berbunyi,


Dear Anja,


I see the way he looks at you


He's afraid to lose you


Diusapnya sampul buku tersebut sambil bergumam pelan, "Makasih Salma. Semoga kamu segera bertemu dengan orang yang tepat."


Kemudian dengan hati yang sedikit lega, disimpannya dua buku hadiah dari Salma ke dalam rak. Berjajar di antara deretan buku koleksinya.


"Nanti pasti kubaca," gumamnya lagi lebih ke diri sendiri.


"Kalau lagi butuh pencerahan karena sikap less emphaty Cakra," lanjutnya sedikit mencibir demi mengingat bayangan wajah Cakra yang sedang tertawa.


"Kalau sekarang.....," ia tersenyum sendiri sambil meraih ponsel di atas nakas.


"Aku mau dengarin sesuatu yang lebih penting dulu," bisiknya seraya membuka layar ponsel. Dan mulai mencari file podcast yang berjudul Cakradonya.


Ini akan menjadi kali pertama ia mendengarkan podcast berjudul Cakradonya. Karena selama beberapa waktu kemarin, praktis hanya membuka podcast yang berisi cerita tentang Lima Sekawan atau Eragon favoritnya.


Sementara file berjudul Cakradonya tenggelam dan hampir saja terlupakan. Kira-kira isinya tentang apa ya?


"Ja...."


Begitu suara pertama yang terdengar ketika ia memutar podcast buatan Cakra.


"Malam dimana kamu memasuki Retrouvailles dalam keadaan paling kacau adalah hal paling menyenangkan sekaligus menyedihkan bagiku."


"Menyenangkan karena itu menjadi kali pertama aku bisa ngobrol sama kamu."


"Tapi menyedihkan karena aku harus melihat kamu menangis."


"Anja....."


"Jangan menangis lagi....."


"Aku nggak mau lihat kamu sedih dan menangis...."


"Anja....."


"Tersenyumlah...."


"Aku sangat berharap, bisa selalu membuatmu tersenyum...."


Ia telah menggigit bibir kuat-kuat tapi isak tangis tetap saja lolos. Hingga ia harus menutup mulut dengan kedua tangan karena tak kuasa menahan derai airmata.


"Cakra.....," bisiknya sambil terus terisak.


"Anjani Prameswari....."


Suara Cakra kembali terdengar.


"Aku cinta kamu....."


"Let your smile change the world...."


"But don't let the world change your smile...."


Kini ia terisak semakin dalam. Hatinya mendadak mencelos berkali-kali.


'There goes my hand shaking


And you are the reason


My heart keeps bleeding


I need you now


If I could turn back the clock


I'd make sure the light defeated the dark


I'd spend every hour of every day


Keeping you safe


And I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I've broken


Oh, 'cause I need you to see


That you are the reason'


(Calum Scott, You Are The Reason)


***


Keterangan :


Peleton. : adalah satuan militer yang terdiri dari 30 sampai 50 orang. Biasa dipimpin oleh seorang letnan.


Peleton terbentuk dari dua sampai empat regu, dan ini berbeda-beda tergantung negara dan jenis satuan anggota peleton.


Tiga sampai empat peleton membentuk sebuah kompi (sumber : Wikipedia)


Wardrobe : aksesoris pendukung kostum bagi peran-peran tertentu