
Anja
Jum'at, 3 Juli 2xxx
Hari kedua Lebaran, mereka isi dengan tinggal di rumah saja.
Dan jika di hari pertama Lebaran kemarin, ia sempat kelelahan karena mengikuti acara silaturahim warga di RW. Kini ia bisa bersantai seharian di rumah.
Karena hingga pagi ini, kaki dan pinggangnya bahkan masih terasa pegal. Padahal kemarin ketika mengikuti acara salaman di RW, Cakra sengaja membawa kursi lipat dari rumah. Agar ia bisa duduk sepanjang acara silaturahim berlangsung.
Namun kondisi perut yang sudah sangat membesar, membuatnya tak mampu melawan keadaan. Alias sering merasa cepat lelah. Apalagi cuaca kemarin cukup terik. Meski ia duduk di bawah tenda beratapkan kain terpal. Tapi tetap saja tubuhnya dibanjiri oleh keringat akibat kegerahan.
Kini ia tengah duduk di ruang tamu. Mendengarkan Mamak dan Yah Bit Hamdan mengobrol. Sementara Cakra sedang tertawa-tawa dengan Bang Fahri.
Sedangkan Kak Pocut dan Kak Fatma sedari tadi sibuk membahas tentang bagaimana cara membuat lapis legit yang lembut namun tak berminyak. Seperti lapis legit bingkisan dari Mama.
"Margarinnya harus sedikit saja dibanding butter atau mentega," ujar Kak Pocut.
"Pakai mentega saja juga tak masalah," jawab Kak Fatma yakin.
"Iya, bisa," Kak Pocut mengangguk.
"Tapi jangan mengocok butter atau mentega terlalu lama. Nanti menteganya meleleh dan mempengaruhi tekstur kue," lanjut Kak Pocut lagi.
"Yang penting kita harus pintar atur-atur suhu dan api," ujar Kak Fatma lagi. "Biar tak terlalu kering."
Pembicaraan Kak Pocut dan Kak Fatma sama sekali tak terdengar menarik baginya. Cenderung membosankan malah. Karena ia benar-benar tak mengetahui bagaimana cara membuat lapis legit agar terasa lembut namun tak berminyak.
Membuatnya mengalihkan pandangan ke arah Mamak dan Yah Bit Hamdan. Namun juga tak kalah membosankannya. Karena kini Mamak dan Yah Bit Hamdan sedang berbicara dengan bahasa yang sama sekali tak dimengerti.
Ia pun beralih melihat ke arah Cakra. Yang masih saja tertawa-tawa dengan Bang Fahri. Entah sedang membicarakan apa. Terlihat sangat seru.
Tak kalah seru dengan anak-anak Kak Pocut dan Bang Fahri yang ramai bermain Lego di lantai ruang tamu.
Namun ketika ia hendak beringsut dari duduk untuk mendekati Sasa dan Nesya yang sedang asyik bermain Barbie, Mamak menyentuh tangannya.
"Anjani lelah?" tanya Mamak sambil tersenyum.
"Kepanasan di sini ya?!" seloroh Yah Bit Hamdan padanya.
Ia hanya tersenyum, "Lumayan, Yah Bit."
"Anjani istirahat saja di kamar," lanjut Mamak setengah berbisik. "Bisa sambil tidur-tiduran."
Ia baru akan menolak ucapan Mamak. Karena ingin bermain Barbie dengan Sasa dan Nesya. Namun Cakra keburu berdiri dan meraih tangannya.
"Yuk."
Ia pun menurut dengan mengikuti Cakra masuk ke dalam kamar. Setelah sebelumnya menyempatkan diri untuk tersenyum sopan ke arah Yah Bit Hamdan, Bang Fahri, dan Kak Fatma.
Di dalam kamar Cakra langsung menyalakan kipas angin duduk yang tersimpan di atas meja. Kemudian menutup satu dari dua daun jendela yang terbuka.
"Teriknya cuaca," gumam Cakra usai menutup satu daun jendela.
Sementara ia telah duduk di atas tempat tidur. Dengan keringat bercucuran karena kegerahan.
"Ya ampun, Ja," Cakra menatapnya iba. Lalu melangkahkan kaki ke arah lemari. Mengambil sesuatu di sana. Kemudian segera menghampirinya.
"Kamu kepanasan," ujar Cakra seraya menyeka keringat di sekitar kening juga lehernya. Dengan sapu tangan warna abu yang baru saja diambil dari dalam lemari.
"Sampai mandi keringat begini."
Ia hanya meringis. Cuaca jelang siang ini memang terasa begitu terik. Seolah matahari berada tepat di atas kepala.
"Baju kamu basah," Cakra menunjuk dress floral warna hijau yang sedang dipakainya. Dress hadiah ulangtahun dari Cakra.
"Buka ya, Ja," ujar Cakra dengan wajah serius. "Nanti lengket nggak enak di kulit."
"Ditambah kena kipas angin nanti kamu bisa masuk angin."
Ia pasrah saja ketika Cakra berlutut. Kemudian mulai membuka resleting dress. Membuat kain halus dress jatuh di samping tubuhnya.
Memperlihatkan keseluruhan bagian dirinya yang sama-sama menggelembung ke depan. Membuatnya merasa menjadi sosok yang paling menarik perhatian.
Sudut matanya bahkan sempat menangkap gerik Cakra yang menahan napas. Ketika dress floral tak lagi melindungi dirinya.
Namun kini Cakra telah mampu menguasai diri. Sedang tersenyum sembari mengusap kulit tipis yang menutupi perutnya.
"Kok kenceng gini, Ja?" tanya Cakra sambil menyapukan telapak tangan ke seluruh permukaan perutnya.
"Sakit nggak?" tanya Cakra lagi.
Ia menggelengkan kepala. "Udah biasa kenceng begini."
Nut!
Nut!
Sejurus kemudian perutnya mulai bergerak-gerak sendiri. Seperti ada yang menendang-nendang dari dalam.
"Hai....," bisik Cakra sambil mendekatkan wajah ke perutnya.
"Mau ikut lebaran ya?" lanjut Cakra seraya menciumi perutnya. Tepat di sisi yang sedang bergerak-gerak kesana-kemari.
"Baik-baik di dalam ya," bisik Cakra lagi seraya menyentuhkan ujung hidung ke atas permukaan kulit perutnya.
"Nanti pas mau lahir boleh bantu Mama."
Ia hanya mencibir mendengar kalimat yang diucapkan Cakra.
"Jangan bikin Mama kesakitan lama."
"Emang nggak akan terasa sakit kan," sergahnya cepat. "Orang lahirnya lewat operasi."
Namun kalimat Cakra selanjutnya langsung menghentikan cibirannya.
"Kamu dan Mama sama-sama sehat, selamat."
Membuatnya menatap Cakra yang masih menundukkan kepala di depan perutnya.
"Kalau dia lagi aktif nendang-nendang begini, kamu terasa sakit nggak, Ja?" tiba-tiba Cakra mendongak ke arahnya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
Membuat mata mereka saling bertautan.
"Sampai perut kamu meleyot kesana kemari gini," lanjut Cakra sembari menyentuh sisi perut sebelah kanan yang menonjol.
Ia menggelengkan kepala dengan pipi memanas karena baru saja terpergok memandangi Cakra diam-diam. "Nggak sakit. Seneng malah."
Cakra yang masih menatapnya langsung tersenyum.
Kemudian Cakra kembali meraih sapu tangan warna abu yang tergeletak di sampingnya. Lalu mulai menyeka leher, lengan, hingga punggungnya yang bebas terekspose.
"Yang ini diseka juga nggak?" kerling Cakra sambil menunjuk bagian depan dadanya. Usai menyeka keseluruhan punggung hingga tak lagi bermandikan keringat.
Ia pun langsung memukul bahu Cakra sambil mendelik.
"Basah tuh," tunjuk Cakra membuatnya kembali memukul dengan kesal.
"Cakra, ih!" rutuknya sebal. "Orang sekampung lagi pada ngumpul di ruang tamu. Ini malah mau mak...."
"Aku bilang basah, Ja," potong Cakra cepat.
"Ba...sah," ulang Cakra dengan mimik menggoda. "Bukannya mau ma...."
Ia buru-buru melotot sambil mencubit lengan Cakra.
Membuat Cakra tertawa kecil. Namun sejurus kemudian bertanya, "Mau pakai baju yang mana?"
"Kaos kamu aja," jawabnya cepat.
Ia memang sengaja tak membawa baju banyak-banyak ke rumah Cakra. Hanya membawa baju untuk sholat Id kemarin dan dress floral yang tadi dikenakannya. Namun kini telah terlepas.
Cakra mengambil beberapa helai pakaian dari dalam lemari.
"Yang ini?" tawar Cakra sembari memperlihatkan sebuah kaos warna putih yang terlihat masih baru.
"Boleh," ia mengangguk tanda setuju.
Kemudian Cakra mulai memakaikan kaos tersebut padanya. Membuat kain katun combed yang halus juga lembut terasa menyentuh kulitnya.
"Celana pendek juga?" tanya Cakra lagi. Kali ini sambil memperlihatkan tiga buah celana pendek.
"Yang itu," tunjuknya pada celana sepakbola Cakra yang terbuat dari kain berbahan Polyester ringan.
Dan perut yang telah membesar membuat celana sepakbola milik Cakra terasa pas di pinggangnya. Sama sekali tak kedodoran.
"Sebentar lagi aku mau Sholat Jum'at," ujar Cakra usai melihat jam di pergelangan tangan kanan.
Ia menganggukkan kepala sambil mendudukkan diri lagi di atas tempat tidur.
"Habis sholat Jum'at aku mau ke rumah kamu ambil motor."
Kemarin usia sholat Id, karena harus mengikuti acara silaturahim di RW. Rencana Cakra mengirim makanan untuk sekuriti yang sedang bertugas menjaga rumahnya gagal.
Cakra pun memutuskan untuk mengirim dua box lontong sayur dan rendang serta dua box kue lebaran ke sekuriti yang berjaga di rumah menggunakan layanan Do-send.
Jadi, mau tak mau hari ini Cakra harus pulang ke rumahnya untuk mengambil motor. Karena nanti malam Cakra sudah mulai masuk kerja lagi.
"Kamu mau titip apa?"
Ia menggelengkan kepala. "Habis ambil motor langsung pulang lagi ke sini kan?"
Cakra mengangguk. "Mau dibawain baju?"
"Ya udah kamu tiduran aja," ujar Cakra sambil menepuk-nepuk bantal dan menyusunnya sedemikian rupa agar nyaman ketika dipakai.
Ia pun menurut dengan merebahkan diri ke atas tempat tidur. Punggung kakunya mendadak terasa nyaman ketika bertemu dengan kasur. Meski tak seempuk kasur miliknya. Namun cukup untuk melepas lelah barang sejenak.
Tapi ia tak betah berlama-lama tidur dalam posisi telentang. Karena perut besarnya jadi terasa kurang nyaman.
Membuatnya beralih tidur dengan posisi menyamping ke kiri. Sesuai dengan anjuran dari dokter Stella. Agar pembuluh darah yang mengalirkan darah ibu ke plasenta dan janin tak mengalami penekanan. Serta darah dan nutrisi bisa sampai ke janin dengan optimal.
Begitu melihatnya merubah posisi menjadi tidur miring, Cakra yang telah mengganti kemeja dengan baju Koko dan sarung langsung mendekat.
"Mau pakai bantal?" tawar Cakra.
"Mau."
Cakra pun beranjak untuk mengambil tiga buah bantal yang tertumpuk di atas kursi lipat.
Satu diletakkan di belakang punggungnya. Satu lagi Cakra selipkan di antara kedua tungkainya. Lalu yang terakhir untuk dipeluknya.
"Nanti aku bawain maternity pillow kamu ya," ujar Cakra sambil tersenyum.
Kemarin ia lupa tak membawa maternity pillow warna pink hadiah dari Teh Dara. Karena tak mengira akan begitu memerlukannya untuk tidur.
Cakra sempat mengusap pipinya lembut sebelum berjalan ke belakang pintu kamar. Tempat dimana gantungan baju berada.
Kemudian Cakra mulai merogoh saku celana, lalu mengambil dompet, dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Sepertinya untuk infaq sholat Jum'at.
Ia masih memperhatikan Cakra yang sedang mengembalikan dompet ke dalam saku celana. Ketika hembusan kipas angin mulai membuainya. Mendatangkan rasa kantuk yang menghanyutkan.
Membuatnya perlahan mulai memejamkan mata. Namun masih sempat merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh keningnya.
Ia tak tahu telah tertidur berapa lama. Karena seperti baru saja memejamkan mata. Ketika sesuatu yang basah dan lembut kembali terasa menyentuh keningnya.
Perlahan ia mulai membuka mata yang masih menggelayut. Dan menangkap bayangan wajah Cakra yang sedang tersenyum.
"Udah sholat belum?" bisik Cakra yang tengah berlutut di hadapannya. Seraya menyimpan dagu di atas tempat tidur. Membuat wajah mereka berdua kini hanya tinggal berjarak beberapa senti.
"Sholat apa?" tanyanya tak mengerti.
"Dzuhur."
"Kamu udah pulang dari sholat Jum'at?" ia kembali bertanya tak mengerti.
Cakra hanya tersenyum, "Udah pulang ambil motor dari rumah kamu malah."
"Ya ampun," ia pun buru-buru beringsut untuk bangun. Dengan Cakra yang membantu memegangi tangannya agar ia bisa duduk.
"Kamu beneran kecapekan," Cakra menatapnya iba. "Kemarin harusnya kita nggak usah ikut acara silaturahim sampai selesai."
Namun ia menggelengkan kepala, "Cuma kegerahan ini."
"Atau kita pulang besok?"
"Kenapa jadi besok?" ia tak mengerti.
Karena rencana awal adalah, mereka kembali ke rumahnya pada hari Minggu. Ketika Bi Enok dan Mang Jaja sudah pulang dari Cihideung.
"Kasihan kamu di sini kepanasan terus."
"Nggak setiap hari ini," jawabnya sambil berusaha bangkit. Membuat Cakra kembali memegangi tangannya untuk membantu berdiri.
"Kalau pulang besok, nanti pas kamu berangkat kerja, aku sendirian dong di rumah?" tanyanya dengan kening mengkerut.
"Iya juga ya," Cakra tertawa kecil. "Ya udah kita tetap pulang hari Minggu."
Usai melaksanakan sholat Dzuhur, Cakra mengajaknya untuk makan siang. Ia memilih makan nasi putih dengan lauk rendang. Sementara Cakra dengan lahap menyantap sepiring gulai pliek (gulai patarana) dan sambalado ikan kembung.
Cakra bahkan menambah nasi hingga dua kali.
"Beneran lapar terus ih kamu?" cibirnya ketika Cakra kembali beranjak dari kursi untuk mengambil kuah gulai pliek dari dalam panci yang tersimpan di atas kompor.
"Mamak jarang-jarang masak gulai ini," seloroh Cakra yang telah kembali duduk di sebelahnya.
"Kebetulan dapat oleh-oleh pliek u dari Yah Bit Hamdan waktu baru datang dari Lhokseumawe."
"Sayur lodeh?" tebaknya demi melihat isi piring Cakra. Mirip seperti sayur lodeh masakan Bi Enok.
"Tapi kentalnya kayak gulai," ralatnya sambil mengernyit.
"Cumi, cuma mirip," seloroh Cakra. "Kalau yang ini rasanya asam dan pedas. Mau coba?"
Ia pun membuka mulut ketika Cakra menyuapkan sesendok gulai pliek.
"Iya," ia menganggukkan kepala. "Asam pedas. Enak."
"Mau lagi?" tawar Cakra.
Tapi ia menggeleng, "Udah kenyang."
Cakra pun kembali melanjutkan melahap sisa nasi dan gulai pliek di atas piring.
Dan demi melihat cara makan Cakra yang teramat rakus. Membuatnya bergumam lebih pada diri sendiri, "Kapan aku bisa masak yang aneh-aneh begini?"
Cakra tertawa, "Aneh-aneh gimana?"
"Selain goreng telur, bikin mie," jawabnya sambil merengut.
Cakra kembali tertawa, "Lama-lama juga pasti bisa."
Sore harinya, keluarga Yah Bit Hamdan pamit pulang.
"Sehat-sehat ya Anjani," ujar Kak Fatma seraya memeluknya.
Namun sejurus kemudian Kak Fatma bertanya kepada Mamak, "Perut Anjani sudah turun begini Ma Wa?"
"Iyakah?" Mamak jadi ikut memperhatikan perutnya.
"Sebentar lagi mau lahir ini," ujar Kak Fatma lagi sambil mengusap lembut perutnya.
"Oiya sudah turun ke bawah," gumam Kak Pocut usai memperhatikan penampilan perutnya. "Baru sadar."
Ia jadi meringis bingung, "Memang kenapa kalau sudah turun ke bawah Kak?"
"Tandanya kepala bayi sudah masuk ke panggul. Tak lama lagi bisa lahir," jawab Kak Fatma dengan mimik serius.
"Aku memang mau melahirkan nanti tanggal 11," jawabnya sungguh-sungguh. "Sudah dijadwalkan oleh dokter."
"Melahirkan bisa pakai jadwal?" Kak Fatma mengernyit bingung. "Bagaimana bisa?"
Tiba-tiba Cakra merengkuh bahunya sambil berkata, "Anjani mau melahirkan lewat operasi Caesar, Kak."
"Lho, memang ada kelainan?" Kak Fatma makin mengernyit. "Bayinya sungsang?"
Cakra menggelengkan kepala, "Bayinya baik-baik saja. Memang Anjani pilih melahirkan lewat operasi."
Kalimat yang diucapkan Cakra sontak membuat Mamak, Kak Pocut, dan Kak Fatma melihat ke arahnya secara bersamaan dengan tatapan tak mengerti.
Ia memang belum menceritakan tentang keinginan melahirkan secara Caesar pada Mamak dan Kak Pocut. Ia bahkan belum memberitahu tentang jadwal melahirkannya di tanggal 11 Juli.
Dan dari sikap terkejut yang ditunjukkan oleh Mamak juga Kak Pocut. Bisa ditarik kesimpulan jika Cakra juga belum menceritakan tentang rencana melahirkannya di tanggal 11 Juli.
"Ya bagaimanapun cara melahirkannya nanti, semoga Anjani dan bayinya sehat semua," pungkas Kak Fatma meski dengan wajah mengkerut.
"Aamiin," sahut Cakra cepat.
Sepeninggal keluarga Yah Bit Hamdan, rumah tak seramai sebelumnya. Kembali hanya dihiasi oleh celotehan Icad, Umay dan Sasa yang sedang asyik bermain.
Ia pun mengisi waktu dengan memperhatikan Mamak yang sedang menyelesaikan rajutan selimut untuknya.
"Anjani mau coba?" tawar Mamak.
Namun ia menggeleng sambil tersipu, "Enggak. Sekarang mau lihat aja."
Sementara Kak Pocut mulai sibuk memasak di dapur karena ada pesanan. Sedangkan Cakra memilih untuk mencuci motor di depan rumah.
Malam hari jam 8, entah mengapa ia sudah merasa sangat mengantuk. Padahal ia ingin melihat Cakra berangkat bekerja.
"Tidur aja," ujar Cakra sambil merapikan sprei yang sedikit berantakan. "Nanti kalau mau berangkat aku bangunin."
Tapi ia sama sekali tak terbangun. Meski di dalam tidur ia merasa ada seseorang yang mencium pipinya.
***
Keterangan :
Gulai pliek u : kuliner khas Aceh yang
terbuat dari berbagai campuran sayur-mayur
ditambah bumbu andalan yang hanya ada di Aceh yaitu pliek u.
Pliek u adalah bumbu yang
terbuat dari kelapa parut yang telah di fermentasi selama 3 hari lalu dijemur di bawah terik matahari berhari-hari hingga kering.
Karena sudah berhari-hari disengat matahari, pliek dapat tahan hingga bertahun-tahun.
Pliek u tak hanya dipakai sebagai bumbu sayur, juga sedap bila dimakan sebagai cocolan buah salak atau jambu batu (sumber : cookpad Nurul Udhiyah B)