Beautifully Painful

Beautifully Painful
119. Aceh Lon Sayang (2)



.......Flashback.......


Setyo Yuwono


Sejak saat itu, setiap Maghrib tiba, ia akan datang ke surau yang terletak tak jauh dari kantor Polsek. Untuk mengikuti sholat Maghrib berjama'ah. Setelah itu, barulah ia mulai belajar membaca Al Qur'an.


"A I U BA!"


"UU AN ANI A' NA!"


"MINAL MUNI!"


"MAII AN ANIAA!"


Begitu ia harus mengikuti dan mengulang-ulang apa yang diucapkan oleh Hamzah dengan suara lantang.


"Apa memang begini cara belajar membaca Al Qur'an?" tanyanya masygul.


Selain merasa malu telah menjadi perhatian banyak orang yang berdiam di surau untuk menunggu waktu Isya tiba. Juga karena beberapa anak kecil yang melihat dirinya, akan saling berbisik sambil menahan tawa.


"Kita sedang belajar materi pertama. Yaitu makharijul huruf," jawab Hamzah dengan wajah serius.


"Bagaimana mengucapkan huruf alif, hamzah, fathah, kasroh, dhommah, dan dengung."


"Sengaja dibuat dengan ketukan agar tepat, mana panjang dan pendeknya."


Ia hanya menghela napas panjang, "Tapi tak bisa kah kau mengajariku di tempat yang lebih sunyi?"


"Bukan surau yang ramai dikunjungi orang," sungutnya sedikit kesal.


Lebih karena merasa malu. Sudah setua ini baru belajar membaca Al Qur'an. Kalah dengan sekumpulan anak-anak kecil yang bahkan sudah menghapal Al Qur'an.


"Minimal kau mengajariku tak sambil berteriak-teriak seperti orang sedang menjajakan dagangan!" pungkasnya dengan wajah memerah menahan malu.


Hamzah tersenyum mendengar kejengkelannya. Kemudian berucap pelan, "Jika kita merasa kesulitan saat belajar membaca Al Qur'an."


"Mungkin karena merasa lelah, salah terus dalam pengucapan, lalu kita menjadi putus asa."


"Maka Allah hibur dengan Qur'an surat Al Insyiqaq ayat 8."


"A’udzu billahi minasy syaithonir rojiim."


"Fa saufa yuḥāsabu ḥisābay yasīrā."


"Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah."


Ia membuang napas panjang mendengar ceramah dadakan Hamzah yang terdengar semakin menyebalkan.


"Belajar ilmu agama itu tidak mudah dan sering membosankan." ##


"Tapi ingatlah, jangan-jangan saat kita merasa sedih dan putus asa, saat inilah yang akan meringankan kita di hari pertimbangan kelak."


"Seperti arti dari surat Al Insyiqaq ayat 8 tadi."


Kini hatinya mendadak tercekat mendengar penuturan Hamzah.


"Jangan pernah berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah."


Hamzah kembali tersenyum, "Usai menikah, biar aku saja yang datang ke asrama."


Ia mengangguk setuju.


"Tapi kau harus tetap ikut sholat berjama'ah di surau," sambung Hamzah memberikan syarat.


Dan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Yaitu hari pernikahan Hamzah.


Ia mendapat jatah duduk di barisan kedua. Setelah para tetua dan deretan pejabat yang juga turut diundang Hamzah untuk hadir di acara pernikahannya.


"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq." **


Begitu Hamzah mengumandangkan lafal kabul menggunakan bahasa Arab dengan suara lantang dalam satu tarikan napas.


Kebahagiaan ini langsung diikuti dengan meriahnya suara rapai (rebana khas Aceh). Yang dimainkan dengan sangat apik oleh sekelompok pemuda. Mengiringi lantunan shalawat nabi guna menyambut kedatangan mempelai wanita.


Thala‘a al-badru ‘alaynā 


(Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita)


Min tsanīyāti al-wadā‘ 


(Dari lembah Wada’)


Wajab al-syukru ‘alaynā


(Dan wajiblah kita mengucap syukur)


Mā da‘ā lillāhi dā‘


(Dimana seruan adalah kepada Allah)


Ayyuha al-mab‘ūtsu fīnā


(Wahai Engkau yang dibesarkan di kalangan kami)


Ji’ta bil-amri al-muthā‘ 


(Datang dengan seruan untuk dipatuhi)


Ji’ta syaraft al-madīnah


(Anda telah membawa kemuliaan pada kota ini)


Marḥaban yā khayra dā‘


(Selamat datang penyeru terbaik ke jalan Allah)


(Shalawat Thala'al Badru 'Alaina)


"Selamat menempuh hidup baru," ujarnya ketika menyalami Hamzah yang wajahnya terlihat berseri-seri.


"Ma tur su wun (terimakasih)," jawab Hamzah dengan logat kaku yang khas.


Membuatnya tergelak, "Wah, belajar dari mana?"


Hamzah menunjuk Badrudin yang tengah berbaris dua orang di belakangnya. Sedang tertawa-tawa riang memamerkan keseluruhan gigi.


Ia kembali tertawa sambil menggelengkan kepala.


Kini ia telah duduk kembali. Menikmati makanan yang dihidangkan. Sembari bercakap-cakap dengan Badrudin, Hatta, dan Syamsul. Sebagai perwakilan dari kantor mendampingi pimpinan.


"Cantik nian pengantin wanitanya," gumam Badrudin sambil mencuri-curi pandang ke arah pelaminan.


"Kabarnya Cut Rosyida adalah anak salah seorang ulama berpengaruh pemilik dayah (pesantren) di Lhokseumawe," timpal Hatta setengah berbisik.


"Jauhnya dari Lhokseumawe," Badrudin menggelengkan kepala.


"Tapi karena dianggap berseberangan dengan pemerintah...," lanjut Hatta. "Beliau sering keluar masuk penjara."


"Sampai harus mengungsikan seluruh anaknya untuk hidup menyebar di rumah-rumah kerabat."


"Termasuk Cut Rosyida ini, yang dititipkan di salah satu rumah kerabat yang ada di Idi Rayeuk."


"Piawai benar si Hamzah," gumam Badrudin berdecak kagum. "Bisa menemukan mutiara terpendam di Idi Rayeuk."


"Kalian ini benar-benar tak tahu malu," gerutu Syamsul. "Datang kemari malah membicarakan kecantikan mempelai wanita."


"Tak elok."


"Macam kau tak kagum saja!" balas Badrudin kesal. "Lihat wanita cantik begitu."


"Aku punya yang lebih menarik. Cantik berkali lipat," ujar Syamsul sungguh-sungguh. "Masih gadis. Belum ada yang punya."


"Siapa?!?" tanya Badrudin dan Hatta bersamaan.


"Itu," Syamsul menunjuk ke satu arah dengan menggunakan dagunya.


"Yang sedari tadi duduk di sebelah Mamak si Hamzah."


Membuatnya ikut menoleh melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Syamsul. Dimana duduk seorang gadis yang sangat cantik. Mengenakan kerudung rapi dan memanjang hingga menutupi dada.


"Amboiii, cantik nian," gumam Badrudin cepat.


"Cantiknyaaaa....," Hatta ikut membelalakkan mata.


Ia juga menganggukkan kepala tanda setuju. Gadis berkerudung panjang itu memang sangat cantik. Gambaran nyata dari bidadari turun dari langit.


Seandainya belum menyimpan Yuniar di hati, mungkin ia juga akan tergoda seperti Badrudin dan Hatta. Yang sedari tadi melongo melihat pesona kecantikan alami gadis berkerudung tersebut.


"Siapa dia?" tanya Badrudin dengan mulut tetap menganga.


"Cut Sarah," jawab Syamsul yakin. "Adik semata wayang Hamzah."


"Cantik bak bidadari, salihah, pintar mengaji," lanjut Syamsul bangga. Karena merasa selangkah lebih maju. Memiliki informasi yang cukup banyak tentang bunga di Idi Rayeuk dibandingkan mereka bertiga.


"Sepertinya aku harus mengikuti jejakmu, Setyo," gumam Hatta sungguh-sungguh.


"Apa?" tanyanya tak mengerti.


Ia hanya tertawa sumbang. Karena kegiatannya belajar mengaji pada Hamzah, ternyata diketahui oleh rekan sekantor. Padahal ia telah berusaha untuk melakukannya secara diam-diam.


Usai melangsungkan upacara pernikahan, seminggu tiga kali selepas Isya, Hamzah rutin datang ke asrama tempat tinggalnya. Untuk mengajarinya membaca Al Qur'an.


Namun karena situasi politik (pada masa itu), dimana pemerintah sangat membatasi aktivitas keagamaan di ranah publik.


Maka ia dan Hamzah harus pintar-pintar mengelabui orang lain tentang kegiatannya belajar mengaji. Terutama pada tetangga kanan kiri dan juga atasan.


Terlebih ia bertempat tinggal di asrama milik pemerintah. Sejatinya ketika memutuskan untuk belajar mengaji, ia jelas-jelas telah 'melanggar aturan' tak tertulis.


Tapi, ia tentu tak punya kesempatan lain bukan selain saat ini? Karena kelak ketika ia dipindah tugaskan, belum tentu bisa bertemu dengan orang seperti Hamzah.


Pandai ilmu agama sekaligus cerdas dan santun. Paket komplet untuk menjadi guru yang tepat bagi orang yang mengedepankan logika dan rasionalisme seperti dirinya.


Dan dua minggu setelah rutin belajar mengaji di asrama. Ia sudah bisa membaca surat Al Fatihah dengan lumayan lancar menggunakan Al Qur'an. Bukan tulisan latin seperti yang selama ini dilakukannya.


Sore ini usai jam dinas berakhir, ia sengaja bertandang ke rumah orangtua Hamzah. Setelah sebelumnya mengambil tiga paket bahan kebutuhan pokok sekaligus di Koperasi kantor.


Satu paket lengkap berisi beras, minyak goreng, susu, gula pasir, tepung, mentega, kecap, dan sekaleng biskuit.


Tak lupa ia selipkan amplop di dalamnya. Berisi sejumlah uang yang sekiranya pantas untuk membalas jasa Hamzah. Karena telah mengajarinya membaca Al Qur'an.


"Hamzah belum pulang," begitu kata Mak Hamzah yang menemuinya.


"Sejak Subuh tadi pergi ke Darulaman bersama beberapa orang temannya."


"Entah sedang mengerjakan apa."


"Tapi kudengar ada yang memerlukan jasa Hamzah."


"Tidak apa, Mak," ia tersenyum mengangguk.


"Saya kemari hanya ingin menyampaikan rasa terimakasih," lanjutnya sembari meletakkan kardus berisi tiga paket bahan kebutuhan pokok ke atas meja.


"Ini memang tak ada apa-apanya dibanding ilmu yang telah Hamzah berikan kepada saya."


"Jadi....mohon diterima."


Mamak Hamzah sempat beberapakali menyusut mata menggunakan ujung kain kerudung. Lalu bergumam pelan, "Teurimong geunaseh, Pak Polisi."


"Teurimong geunaseh," ulang Mamak Hamzah dengan mata berkaca-kaca.


"Balasan dari kebaikan hanyalah kebaikan," lanjut Mamak Hamzah. "Semoga hidup Pak Polisi senantiasa diberkahi oleh Allah Ta'ala."


"Aamiin," jawabnya sambil mengangguk sopan.


Karena Hamzah tak ada di rumah, ia pun langsung pamit pulang.


Namun sebelum keluar dari ruang tamu yang sangat sederhana itu. Matanya sempat menangkap bayangan istri dan adik perempuan Hamzah di belakang punggung Mamak. Memberikan anggukan sopan seraya tersenyum ke arahnya.


Ia pun balas mengangguk. Dan segera berlalu.


Karena selepas Isya, ia hendak pergi berangkat ke Banda Aceh. Untuk mendampingi pimpinan yang menjalankan dinas luar selama kurang lebih seminggu.


Dengan agenda utama mengikuti rapat terbatas bersama Kapolri. Yang saat ini sedang mendampingi Presiden melakukan kunjungan kerja ke Banda Aceh. Dimana salah satu kegiatan Presiden adalah menghadiri acara pembukaan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur'an) tingkat nasional yang ke XII.


***


Cut Sarah


Hari Kamis


Setiap hari, mulai dari Sabtu sampai Kamis. Karena mengambil libur di hari Jum'at. Selepas Ashar ia akan mengajar mengaji anak-anak kecil di meunasah. Kemudian dilanjutkan dengan mengecek hapalan Al Qur'an untuk anak-anak yang usianya lebih besar.


Biasanya mereka berempat. Cut Kak Ida (kakak iparnya, istri Hamzah), Cut Da Aminah (istri Teungku Imum, guru di meunasah), Istianah, dan dirinya.


Namun untuk hari ini, Cut Kak Ida ijin tak bisa mengajar di meunasah. Karena hendak memasak dan mempersiapkan diri menyambut kepulangan Bang Hamzah. Yang dua hari kemarin tak pulang sebab menyelesaikan pekerjaan di Darulaman.


Sementara Istianah sejak kemarin sudah tak ikut mengajar. Karena sedang sibuk membantu Maknya memasak. Untuk mempersiapkan perhelatan acara pernikahan kakak perempuannya dua hari ke depan.


Jadilah hari ini hanya Cut Da Aminah dan dirinya saja yang mengajar anak-anak. Membuatnya baru bisa pulang ke rumah menjelang Maghrib.


"Pulangnya biar diantar oleh Abang (Teungku Imum, suaminya)," ujar Cut Da Aminah. "Ini sudah terlalu sore."


"Sebentar lagi gelap."


Ia menengadahkan kepala untuk memandangi langit yang berwarna jingga dengan semburat kuning kemerahan. Terlihat cerah dan indah sekali.


"Tak apa Cut Da, biar aku pulang sendiri," jawabnya yakin.


"Nanti malam sudah mulai bulan purnama. Sekarang juga tak ada hujan dan langit cerah," lanjutnya sembari berkemas.


"Aku takkan kemalaman sampai di rumah."


Tapi Cut Da Aminah menggeleng tanda tak setuju. "Jaraknya lumayan jauh. Dan kau harus melewati sawah juga ladang yang gelap lagi sepi."


"Aku akan berjalan dengan sangat cepat Cut Da," jawabnya sambil tersenyum meyakinkan. "Kau lupa kalau aku juara lari marathon waktu lomba 17 Agustus kemarin?"


Cut Da Aminah menatapnya masygul.


"Lagipula pasti Abang (Hamzah) sudah pulang ke rumah sekarang," lanjutnya sembari tetap tersenyum.


"Dua hari tak bertemu rasanya sudah rindu dengan kecerewetan Abang."


Kalimat terakhir yang diucapkannya membuat Cut Da Aminah ikut tersenyum.


"Kalau begitu cepatlah pulang sebelum hari bertambah gelap," ujar Cut Da Aminah pada akhirnya.


"Kalau ada hal-hal ganjil atau orang tak dikenal yang mencurigakan," Cut Da Aminah menghela napas. "Cepatlah kau balik arah kemari lagi."


"Karena jarak dari ladang luas dan gelap yang akan kau lewati, lebih dekat kemari. Dibanding jarak dari ladang ke rumah kau."


Ia mengangguk setuju. Lalu segera mengucap salam dan cepat-cepat melangkah menembus langit senja yang mulai menggelap.


Ia terus berjalan ke arah barat menuju rumahnya. Tak sedikitpun menengok ke belakang atau ke kanan dan kiri.


Suasana jalan sangat sepi dan lengang. Hanya satu dua orang yang lewat menggunakan sepeda atau berjalan kaki seperti dirinya. Karena kebanyakan orang, pasti lebih memilih untuk berkumpul di rumah dengan keluarga sembari menunggu waktu Maghrib tiba.


Hatinya mulai diliputi perasaan was-was ketika melewati pematang sawah yang luas. Namun suara dedekhung yang sangat nyaring. Berbunyi bersahutan dari balik pepohonan dan berlangsung lama. Berhasil membuat suasana senja menjadi lebih berwarna.


Mulutnya terus menerus menggumamkan dzikir ketika mulai melewati deretan ladang yang gelap dan sepi. Suara dedekhung juga masih terdengar nyaring bersahutan. Seperti membentuk suatu senandung yang khas.


Ketika tiba-tiba telinganya mendengar suara deru kendaraan yang melaju tepat di belakang tubuhnya.


Membuatnya berusaha keras untuk semakin mempercepat langkah. Lengkap dengan hati berdebar tak karuan karena diliputi rasa ketakutan.


Namun apalah daya langkah kakinya dibanding kecepatan sebuah mobil. Tiba-tiba saja suara decitan ban yang di rem mendadak telah berhenti tepat di hadapannya. Secara otomatis menghalangi laju langkahnya.


Tiga orang pria sekaligus keluar dari mobil lalu menyeringai ke arahnya. ®®


Ia berusaha menghindar dengan berjalan memutar melewati mobil. Namun dua orang pria sekaligus telah lebih dulu menghadang langkahnya.


"Masuk ke mobil!" seru seorang pria berwajah asing dengan potongan rambut crewcut.


Ia tak menjawab. Berusaha kembali melewati hadangan mereka. Tapi tak berhasil. Karena dua pria yang menghadangnya, kini telah mencengkeram tangannya.


"Ikot ngon kamoe pue pileh mate (ikut dengan kami atau pilih mati)!" gertak salah satu diantara mereka dengan logat yang khas.


Membuatnya memberanikan diri untuk memandang wajah pria tersebut. Ingin mengetahui siapa orangnya. Namun sayang, ia tetap tak bisa mengenali pria tersebut. Wajah mereka benar-benar asing baginya.


Tanpa menunggu, dua pria tersebut langsung menarik paksa dirinya memasuki mobil.


Ia pun berusaha sekuat tenaga menolak paksaan mereka. Dengan berteriak sekencang-kencangnya, memberontak, memukul, menendang, mencakar, menjambak, meludah.


Namun tetap tak berhasil.


Dengan mudah mereka bisa memaksanya masuk ke dalam mobil. Dan langsung tancap gas.


Di dalam mobil yang melaju kencang, ia terus berusaha melepaskan diri. Dengan menendang membabi buta dan meludah berkali-kali.


Tapi tiba-tiba sebuah benda yang tajam, dingin, dan berbau besi telah menempel tepat di urat nadi lehernya.


***


Keterangan :


**. : lafal kabul dalam bahasa Arab. Yang artinya "Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah."


Makharijul huruf. : tempat-tempat keluarnya huruf. Makharijul huruf merupakan salah satu materi yang dipelajari ketika belajar membaca Al Qur'an dengan tajwid


##. : kalimat yang sering diucapkan oleh seorang guru tahsin ketika para siswanya mulai merasa lelah dalam belajar


MTQ tingkat nasional yang ke XII diselenggarakan di Banda Aceh pada tanggal 7 - 14 Juni 1981.


Meunasah. : sejenis tempat ibadah dan tempat belajar agama. Seperti surau.


Dedekhung. : bahasa Acehnya tonggeret. Yaitu serangga yang mengeluarkan suara nyaring dari pepohonan dan berlangsung lama (sumber : Wikipedia)


®®. : sebagian terinspirasi dari kisah pilu Sum Kuning tahun 1970 (dari berbagai sumber)


Ucapan terimakasih tak terhingga untuk Mom Siska 🤗 readers tersayang yang asli Aceh 🤗 Teurimong gaseh Mam sudah menjadi narasumber 🤗 terutama dalam menterjemahkan bahasa Aceh 🤗 BIG HUG 🤗


##jika ada kekeliruan penulisan atau kesalahan dalam menerjemahkan realita sejarah dan lain-lain, feel free untuk PC author ya readers tersayang 🤗 dengan senang hati akan author revisi