Beautifully Painful

Beautifully Painful
138. About This Night (2)



Readers tersayang, harap bersabar....ini ujian hehe...biar kangennya makin makin ke Agam-Aran-Anja yaaaa 🤗


#author langsung ambil langkah 2.000 🙈🙈🏃🏃🏃🏃🏃


Semoga tidak bosan dengan sisipan kisah Sasa ya 🤗


Happy weekend everyone 🤗


 -------


Pocut


Makanan di dalam piring Sasa masih tersisa tiga sampai empat suapan lagi. Ketika tiba-tiba Sasa merengek sambil mengangkat tangan kiri yang jarinya di perban.


"Tangan Sasa panas, Ma...."


"Coba sini Mama lihat," ia meraih tangan kiri Sasa dengan penuh kehati-hatian.


"Aduh, sakit Ma...huhuhuhuhu....," Sasa mulai terisak.


Membuat Mas Tama yang sedari tadi fokus dengan layar ponsel langsung mematikan gawai kemudian menyimpannya ke dalam saku.


"Kenapa Sasa?" tanya Mas Tama dengan nada khawatir.


"Sakit.... huhuhuhuhu....panas....tangan Sasa panas.....," jerit Sasa membuat beberapa orang menoleh ke arah meja mereka dengan penuh rasa ingin tahu.


"Sini Mama tiupin....," ujarnya cepat sambil meniup-niup jari Sasa yang diperban.


Namun sebuah suara yang terdengar begitu dekat di telinganya mengatakan, "Sepertinya efek obat bius mulai hilang."


Ia masih meniup-niup jari Sasa yang diperban meski dengan gemetaran akibat suara barusan.


"Kita pulang sekarang," suara yang tadi terdengar begitu dekat tiba-tiba menjauh bersamaan dengan bangkitnya Mas Tama dari duduk.


"Ayo, Sasa....kita pulang sekarang....," tanpa permisi Mas Tama langsung meraih Sasa ke dalam gendongan. Kemudian beranjak pergi meninggalkan meja yang masih berantakan.


Ia menyempatkan diri untuk merapikan meja. Memisahkan sampah dan makanan yang masih tersisa agar bisa langsung dibuang. Sebelum akhirnya berjalan dengan -lagi-lagi- terseok-seok mengikuti langkah panjang Mas Tama menuju ke tempat parkir.


"Sakit, Ma.... huhuhuhuhu...."


Sasa terus merengek sepanjang langkah mereka menuju ke mobil.


"Iya...sabar ya sayang....," ujarnya sambil mengusap-usap lengan kanan Sasa yang melingkari leher Mas Tama.


Dan sama seperti tadi, Mas Tama memintanya untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Kemudian baru mendudukkan Sasa ke pangkuannya.


"Sabar ya Sasa....kita pulang sekarang," ujar Mas Tama seraya melajukan kemudi mengarah keluar dari halaman restoran cepat saji.


"Panas, Mama...tangan Sasa panas.....," jerit Sasa sambil terus terisak.


"Iya, sayang...mana yang panas sini Mama tiupin....," ia buru-buru meniup jari Sasa di tempat bekas operasi. Sambil menahan air mata yang tiba-tiba berdesakan memaksa ingin keluar.


"Ini sudah satu jam lebih pasca operasi," gumam Mas Tama yang dengan tangkas mengarahkan kemudi ke ruas jalan yang kosong. Menyalip beberapa kendaraan sekaligus.


"Efek obat bius sudah habis," lanjut Mas Tama yang kembali menyalip dua buah kendaraan dalam satu waktu.


"Biasanya timbul rasa panas dan nyeri. Sendi juga belum bisa ditekuk dan terasa kaku...."


Ia mendengarkan kalimat yang diucapkan oleh Mas Tama sambil terus meniup-niup jari Sasa.


"Bisa sambil ditiup atau diusap biar anaknya tenang," lanjut Mas Tama membuatnya segera mengusap punggung tangan kiri Sasa sembari terus menerus meniupi jari yang baru saja diamputasi.


"Sakit, Ma....Panas....Panas....," gumam Sasa berulangkali dengan air mata berderai.


"Iya, sayang....sabar ya....," ia hanya bisa menenangkan Sasa dengan kalimat klise sembari terus meniup dan mengusap punggung tangan Sasa.


"Sabar ya Sasa....," Mas Tama semakin cepat melajukan kemudi. "Sebentar lagi kita sampai ke rumah Akung Aran."


Tapi di luar dugaan, Sasa justru langsung menjerit begitu mendengar kalimat yang diucapkan oleh Mas Tama.


"Sasa nggak mau pulang ke rumah Akung Aran! Sasa mau pulang ke rumah Sasa! Huhuhuhuhu....."


"Iya, Sasa...besok kita pulang ke rumah....," ujarnya dengan suara gemetaran.


"Sekarang kita pulang ke rumah Akung Aran dulu ya....," lanjutnya sambil terus meniup-niup jari Sasa.


"Kita sudah mau sampai soalnya. Nanti Sasa bisa ti...."


"Nggak mau!" tangis Sasa semakin keras. "Nggak mau pulang ke Akung Aran!"


"Pulang ke rumah Sasa....pulang ke rumah Sasa....."


Ia harus menelan ludah berkali-kali sebelum berusaha menenangkan Sasa dengan semakin mengeratkan pelukan. Berharap tangis Sasa sedikit mereda.


"Sasa mau pulang!"


"Mau pulang! Huhuhuhuhu....."


"Alamat rumah kalian di mana?" suara berat Mas Tama tiba-tiba terdengar mampir di telinganya.


Setelah menghembuskan napas panjang ia pun menyebutkan alamat rumah Mamak.


Lalu tanpa siapapun bisa menduga, Mas Tama yang sedari tadi melirik ke arah spion. Langsung memutar mobil ke jalur yang berlawanan arah.


"Oke Sasa....lalu lintas malam ini keren banget," seloroh Mas Tama. "Mendukung Om bisa putar arah dalam sekejap."


"Sekarang kita pulang ke rumah Sasa ya...."


"Sebentar lagi sampai...."


***


Pocut


Suara wiper yang beradu dengan kaca mobil untuk membersihkan air hujan yang mengalir deras, menjadi satu-satunya musik pengiring perjalanan pulang mereka menuju ke rumah Mamak.


Sementara Sasa yang sepertinya kelelahan mulai mengantuk. Tak lagi menjerit kesakitan meski sesekali masih mendesis lirih, "Sakit, Ma....Panas...."


"Iya sayang.... sebentar lagi sampai.....," ujarnya dengan perasaan yang sedikit lega.


Ketika mobil mulai melewati deretan kios di Pasar Kemiri. Yang meski hujan cukup lebat, namun sebagian besar kios masih tetap buka. Tentu saja karena sekarang adalah hari Jum'at, jadwalnya Pasar Malam.


"Hujan hujan begini masih rame aja pasar," gumam Mas Tama sedikit keheranan.


Ia sudah membuka mulut berniat untuk menjawab perihal tentang Pasar Malam. Namun segera diurungkan karena merasa itu bukan hal yang penting untuk dibahas. Apalagi dengan Mas Tama.


"Berhenti di depan," ucapnya kaku beberapa meter sebelum mobil mencapai ujung gang menuju ke rumah Mamak.


"Bukan....ke depan sedikit lagi," lanjutnya ketika Mas Tama memelankan laju kemudi jauh sebelum ujung gang yang dimaksud.


"Yang ada neon putih dan tulisan spanduk warna biru," ia mencoba memberi penjelasan yang lebih spesifik.


"Nggak ada tempat parkir," gumam Mas Tama begitu menyadari jalan di depan gang sangat sempit. Dan akan bertambah sempit jika ada mobil yang parkir di pinggir jalan.


"Agam biasanya menitipkan mobil Anjani di pekarangan Haji Murod," ia berusaha memberi solusi.


"Agam?" Mas Tama sedikit kebingungan.


"Cakra," jawabnya cepat. "Cakra kalau di rumah dipanggilnya dengan sebutan Agam."


Suara helaan napas lega yang berasal dari mulut Mas Tama terdengar lumayan keras. Begitu ia menjelaskan jika Agam adalah nama panggilan Cakra ketika di rumah.


"Di mana itu pekarangan Haji Murod?"


"Di depan," tunjuknya ke arah depan. "Dekat pos kamling yang di pinggir jalan."


"Kejauhan," Mas Tama menggeleng tak setuju. "Mana lagi hujan gede."


Ia tak menjawab apapun.


"Ini gang ke rumah kamu?" kini Mas Tama menunjuk gang yang menuju ke rumah Mamak.


"Iya."


"Kalau gitu aku parkir di sini dulu. Nanti kalau kamu dan Sasa udah sampai di rumah. Aku pindahin ke pekarangan Haji Murod."


Ia bahkan belum sempat menjawab ketika Mas Tama tiba-tiba saja sudah membalikkan badan ke belakang. Lalu mengambil payung yang tersimpan di baris kedua. Berada tak jauh dari tempat duduknya.


"Sasa tidur?" tanya Mas Tama ketika melihat Sasa menyandarkan kepala ke dadanya.


"Hampir," jawabnya singkat.


Mas Tama segera mematikan mesin dan melangkah keluar. Kemudian dengan tergesa mengitari bagian depan mobil menuju ke pintu di samping kirinya.


"Sasa biar sama aku aja," Mas Tama jelas sedang memberi instruksi. Bukan mengajak diskusi.


Dengan perlahan mereka mulai berjalan menyusuri gang. Mas Tama berada di depan sembari menggendong Sasa yang telah terkantuk-kantuk.


Sementara ia harus sedikit berjinjit karena memayungi Mas Tama dan juga Sasa. Melindungi mereka agar tak terkena air hujan. Yang malam ini turun cukup deras. Seolah air ditumpahkan dari langit.


Ia harus memberitahu arah jalan pada Mas Tama. Apakah harus lurus atau berbelok.


Mereka pun melewati deretan rumah yang semua pintunya tertutup rapat sebab hujan deras. Tanpa seorangpun berkeinginan untuk berada di luar rumah.


"Di depan," ujarnya ketika mereka hampir sampai.


***


Tama


Ia melangkah memasuki teras mungil yang dipenuhi oleh pot-pot berisi tanaman bunga dan juga apotek hidup. Dengan tulisan angka 173 berwarna merah yang menempel di dinding tepat di samping pintu masuk.


Rumah yang sangat sederhana. Dan berukuran terlalu kecil menurutnya. Kenyataan yang membuat hatinya tiba-tiba diserang oleh rasa nyeri. Untuk yang kedua kali dalam kurun waktu satu jam terakhir.


Sambil menelan saliva ia menunggu Pocut yang masih berusaha menutup payung.


Namun rupanya Pocut mengalami sedikit kesulitan. Karena ukuran payung yang memang cukup besar dan berat bagi seorang wanita.


"Biar nanti sama saya," ujarnya cepat.


Dengan tanpa menjawab apapun Pocut segera menyimpan payung yang masih terbuka ke bagian dalam teras. Lalu membungkuk ke salah satu pot guna mengambil sesuatu. Yang ternyata adalah kunci rumah.


Dalam dua kali putaran anak kunci, pintu berhasil dibuka.


Pocut berbalik untuk menghadapnya. Bermaksud mengambil alih Sasa.


Ia pun bersiap untuk menyerahkan Sasa.


Namun di luar dugaan, Sasa justru semakin mengeratkan tangan yang melingkari bahunya. Sambil menenggelamkan wajah dalam-dalam ke lehernya.


"Sasa....," Pocut mengusap punggung putrinya lembut.


"Kita sudah sampai di rumah sayang...."


"Ayo turun....."


Tapi Sasa menggelengkan kepala sambil terus mengeratkan pelukan padanya.


"Om nya mau pulang....," lanjut Pocut seraya memandanginya dengan tatapan tak enak.


"Sasa digendong Mama ya....."


Tapi Sasa tetap bergeming.


"Saya antar ke dalam," ia berusaha membuat keputusan yang tepat.


Karena tak mungkin mereka terus berdiri menunggu di depan pintu rumah. Sampai Sasa mau terlepas dari gendongannya.


Tapi Pocut tak langsung menjawab. Tetap berdiri mematung di depan pintu dengan ekspresi wajah yang semakin murung.


"Nanti saya langsung pulang begitu Sasa tidur di kamar," ujarnya mencoba berdiplomasi. Meski hatinya merasa tak yakin dengan apa yang sedang sedang diucapkan.


Pocut menghembuskan napas panjang. Lalu melangkah ke luar teras dengan melewatinya. Menengok ke rumah yang berada di sebelah kanan dan kiri. Seperti sedang mempertimbangkan situasi dan kondisi.


"Kamarnya yang di sebelah sana," ujar Pocut akhirnya meski dengan suara yang di telinganya terdengar sangat tertekan. Sembari menunjuk ke pintu kamar nomor dua dari depan. Yang tertutup rapat dengan kain korden berwarna biru.


Tanpa berkata ia segera melepas sepatu dengan menggunakan kaki. Kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Namun ketika ia baru melangkah sepanjang satu meter, Pocut kembali berkata.


"Nanti kalau sudah, boleh tolong langsung keluar. Saya tunggu di sini."


Ia mengangguk dan segera melanjutkan langkah menuju ke kamar nomor dua.


Lalu menyibak kain korden yang telah pudar warnanya sekaligus lusuh karena dimakan usia, dengan menggunakan kepala. Dan mulai memasuki kamar.


Begitu masuk ke dalam, matanya langsung memperhatikan empat dinding yang membatasi kamar.


Kamar berukuran sekitar 3x2,5 M itu memiliki dinding yang terbuat dari setengah tembok dan setengah kayu. Bercat putih pudar. Dengan beberapa bagian yang telah berubah warna menjadi agak kekuningan. Pasti karena jarang di cat ulang.


Kenyataan yang membuat hatinya semakin didera rasa nyeri. Tatkala teringat jika kamar Bi Enok dan Mang Jaja di rumah Papa berukuran jauh lebih besar dibandingkan dengan kamar milik Pocut dan anaknya ini. Bahkan kamar yang sering ditempati oleh Pak Cipto, batinnya miris.


Setelah menghela napas panjang ia pun berbisik di telinga Sasa.


"Sasa tidur di kasur ya," ujarnya sambil memperhatikan tempat tidur sederhana yang berbalut sprei warna hijau dengan corak batik.


Namun lagi-lagi Sasa justru semakin mengeratkan pelukan. Membuatnya memilih untuk mendudukkan diri di atas kasur. Berharap ketika Sasa terlelap, ia bisa langsung merebahkan Sasa ke atas tempat tidur.


Sembari menyandarkan punggung ke dinding kayu, diusapnya punggung Sasa yang meringkuk dalam pelukannya.


Belum berpengalaman memiliki anak perempuan, membuat hatinya menghangat ketika Sasa terus saja memeluknya erat-erat. Menjadikan dirinya merasa dipercaya karena dianggap bisa memberikan perlindungan.


Sebuah perasaan menyenangkan yang telah lama hilang. Bahkan hampir terlupakan. Sebab hubungan rumitnya dengan Kinan, lambat laun mulai merenggangkan ikatan emosional antara dirinya dan Reka.


Jauh berbeda dengan saat ini. Ketika lengan kecil Sasa dengan nyaman melingkari tubuhnya. Telah berhasil memancing rasa bangga sekaligus merasa dibutuhkan dalam satu waktu. Perasaan yang sangat menenangkan dan menentramkan.


Ia pun menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Karena khawatir Sasa akan terkejut kemudian terbangun. Ini tentu akan merepotkan Pocut, karena kemungkinan besar Sasa bisa kembali merengek. Sebab jari yang terluka bekas operasi amputasi, akan semakin terasa sakit.


Sambil menunggu Sasa mau ditidurkan di atas kasur, matanya kembali menjelajahi isi kamar.


Terdapat sebuah lemari kayu model dua pintu edisi entah tahun berapa saking lamanya.


Kemudian meja kecil di sudut ruangan. Tepat di bawah cermin berbentuk persegi panjang yang hanya mampu memperlihatkan bagian dada ke atas untuk ukuran tinggi orang dewasa.


Dan terakhir adalah sebuah kursi plastik berwarna hijau yang telah pecah di bagian dudukannya.


Kini ia beralih memperhatikan isi meja. Dimana terdapat sebuah kaleng bekas biskuit khas lebaran. Berisi bedak bayi, minyak kayu putih, minyak but-but, deo roll on khusus wanita, alat pemotong kuku, pelembab wajah mungkin, lipstik dan terakhir sebuah benda warna hijau muda berbentuk lingkaran dengan tulisan compact powder yang mulai pudar.


Menjadi bukti paling nyata bahwa pendapat Prasbuana tentang Pocut sore tadi adalah benar. Jika Pocut sama sekali tak pernah pergi ke salon kecantikan seperti yang biasa dilakukan oleh wanita pada umumnya.


Lihat saja produk perawatan wajah yang dimiliki. Pocut bahkan tak mempunyai paket skincare andalan para wanita seperti yang setiap bulan dibeli oleh Kinan.


Luar biasa.


Dengan modal perawatan kecantikan sesederhana itu, tapi penampilan Pocut telah berhasil menarik perhatian teman-temannya. Yang notabene memiliki standar tinggi dalam menilai penampilan fisik seorang wanita.


"Gua tahu mana cewek yang cantik alami, mana yang hasil editan," selorohan menyebalkan Wisak mendadak muncul di benaknya. Ketika memberi penilaian tentang penampilan Pocut.


Sialan memang playboy yang satu itu.


Matanya kembali menelusuri bagian lain di dalam kamar. Kali ini dinding yang berada di sebelah kirinya. Tak jauh dari cermin dan meja kecil, menempel kertas karton warna putih berisi tentang penjumlahan, perkalian, dan pembagian dari angka 1 sampai 10.


Yang menarik adalah, angka-angka yang tertera di dalam kertas karton jelas-jelas sengaja dibuat. Bukan cetakan pabrik seperti yang sering dilihatnya dipajang di sekolah-sekolah umum. Atau dijajakan oleh penjual mainan keliling di pinggir jalan.


Ditulis dengan menggunakan spidol warna-warni, perhitungan matematika sederhana itu menjadi terlihat sangat menarik. Terlebih di mata anak-anak.


Mungkin ini rahasia mengapa Sasa spontan menjawab Matematika ketika ditanya tentang pelajaran kesukaan oleh dokter Aldin saat operasi amputasi tadi. Karena Sasa memiliki media belajar yang menarik dan menyenangkan.


Benar-benar definisi dari kreativitas tak harus mahal.


Dari dinding sebelah kiri, matanya beranjak menelusuri dinding yang berada tepat di hadapannya.


Dimana terdapat sebuah foto berukuran kurang lebih 16R. Berbingkai kayu warna hitam. Berisi foto sepasang pengantin dengan tulisan di bawahnya yang berbunyi,


 -------


...Jambi, 11 Januari 2xxx...


...Teuku Iskandar Muda Ishak...


...❤️...


...Pocut Halimatussadiah...


--------- 


Ia masih mengernyit memperhatikan wajah mempelai wanita. Yang di dalam foto terlihat masih sangat muda. Mungkin berusia sekitar belasan tahun. Ketika korden kamar mendadak dibuka dari luar dengan gerakan kaku.


"Kenapa lama sekali?"


"Belum ditidurkan?!?"


***


Keterangan :


Ucapan terimakasih tak terhingga untuk Mom Dyani 🤗 readers tersayang yang telah bersedia menjadi narasumber 🤗 terutama dalam menjelaskan detail pasca operasi amputasi yang dialami oleh Sasa menurut bahasa medis 🤗 hingga author bisa menuangkan ke dalam bentuk tulisan.


BIG HUG 🤗