
.......Flashback.......
Zainal (rekan Hamzah di GNM)
Pertama kali ia mengenal sosok Hamzah Ishak ketika mereka sama-sama bekerja di restoran yang terletak di jalan Joo Chiat. Kawasan tempat makan kalangan atas yang berada satu deret dengan kantor polisi.
Awalnya ia sempat mengira jika Hamzah adalah keturunan peranakan atau bahkan penduduk asli Singapura.
Tentu karena penampilan Hamzah yang sedikit berbeda dibanding orang kebanyakan. Hamzah selalu berpembawaan rapi dan necis. Cara bicaranya juga sopan dan menyenangkan. Menjelaskan dengan singkat kualitas kecerdasan yang dimiliki oleh seorang Hamzah Ishak.
Disamping warna kulit yang terlalu bersih dan kuning untuk ukuran kalangan bawah. Hamzah adalah paket lengkap yang pantas menyandang gelar pemuda berkarakter sekaligus berkharisma.
Jelas menjadi profil sempurna dari sosok yang sedang mereka cari selama ini.
Ya, sejak tahun 70 an, ketika ia masih berusia belasan tahun. Sebagai anak dari mantan pengikut setia Daud Beureuh yang kecewa dengan adanya Ikrar Lamteh. Ia memutuskan untuk bergabung dengan inisiator Geurakan Nasional Meurdeka (GNM).
Yang tujuan utamanya adalah melepaskan diri dari NKRI (negara kesatuan republik Indonesia). Menjadi negara berdaulat yang adil dan makmur.
Sekitar awal tahun 80 an, setamat dari SGO (sekolah guru olahraga) di Banda Aceh. Ia dan beberapa rekan sesama simpatisan GNM memilih untuk pergi merantau ke Singapura.
Sehari-harinya mereka bekerja seperti layaknya orang normal kebanyakan. Namun di malam hari, mereka diam-diam sering melakukan pertemuan politik.
Membahas tentang visi dan misi perjuangan, rencana pergerakan, sekaligus melakukan perekrutan terhadap para pemuda Aceh yang menetap di Singapura untuk turut terlibat dengan GNM.
Dan pengalaman hidup cukup tragis yang dialami oleh seorang Hamzah Ishak. Mulai dari Ayah kandung yang meninggal karena ditembak petrus. Dan sampai sekarang tak pernah terungkap siapa pelakunya.
Juga Ayah mertua yang menjadi residivis politik. Keluar masuk penjara akibat terlalu vokal menentang kebijakan pemerintah yang tak berpihak pada rakyat banyak.
Terakhir, tentu kisah paling memilukan yang menimpa Cut Sarah. Berita tragedi tersebut bahkan sampai ke telinga mereka yang tinggal di Singapura.
Telah berhasil membentuk Hamzah Ishak menjadi sosok orang yang teraniaya dan terdholimi di tanah kelahirannya sendiri. Jelas sasaran empuk untuk mereka tarik ke dalam pergerakan.
Dan kecakapan Hamzah langsung menarik perhatian para tokoh berpengaruh GNM. Hamzah yang terbukti memiliki kualitas kecerdasan di atas rata-rata, dalam waktu singkat berhasil memperoleh rekomendasi beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke Tripoli, Libya.
Selama menempuh pendidikan dan pelatihan militer di Libya, Hamzah tampil menjadi peserta yang memiliki prestasi paling menonjol. Jauh melebihi rekan-rekannya sesama pemuda Aceh.
Hamzah bahkan mampu bersaing dengan peserta pelatihan dari negara lain yang lebih maju. Irlandia Utara misalnya.
Ditambah kemampuan verbal Hamzah yang fasih menggunakan bahasa Arab juga Inggris sebagai percakapan sehari-hari. Membuat para tokoh berpengaruh GNM sepakat untuk memplot Hamzah masuk ke jajaran pimpinan GNM di Aceh usai pelatihan berakhir.
Dan setelah hampir 3 tahun menimba ilmu sekaligus pernah menjadi pengawal Khadafi, Hamzah Ishak akhirnya pulang ke Indonesia.
Sama seperti ketika berangkat ke Libya untuk pertama kalinya, Hamzah terbang menggunakan pesawat carteran dari Tripoli menuju ke Amsterdam.
Di Amsterdam Hamzah sempat singgah selama 11 hari. Di sana Hamzah melakukan pertemuan dengan Ketua, perdana menteri, sekaligus para tokoh berpengaruh GNM guna membicarakan langkah pergerakan selanjutnya.
Hari ke 12 Hamzah akhirnya kembali ke Singapura menggunakan pesawat komersil. Menetap selama hampir sebulan untuk mematangkan rencana.
Setelah semua rencana tersusun rapi, barulah Hamzah pulang ke Aceh melalui Tanjung Balai. Dilanjutkan dengan naik bus menuju ke kampung halamannya di Idi Rayeuk.
***
Teuku Hamzah Ishak
Ia tersenyum menatap Ida yang melongo ketika membukakan pintu untuknya. Namun dengan airmata yang mengalir deras.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucapnya seraya meraih Ida yang tak henti-hentinya meneteskan air mata.
Hampir tiga tahun mereka tak bertemu. Ia bahkan tak pernah sekalipun berkirim kabar. Kepulangannya yang mendadak tentu sangat mengejutkan.
Ia bahkan tak lagi bisa mengenali Is. Yang memiliki tinggi hampir melebihi pinggangnya. Padahal waktu ia tinggalkan, Is masih kecil dan badannya gempal. Belum setinggi sekarang.
"Soe gobnyan (siapa dia), Mak?" tanya Is yang bergerak mundur dan menolak mentah-mentah ketika ia hendak memeluknya. Is bahkan bersembunyi di balik tubuh Ida. Menatapnya seperti orang asing.
Perilaku Is membuatnya tersenyum sekaligus meneteskan air mata. Kepergian selama bertahun-tahun tanpa kabar berita ternyata membuat putra kandungnya sendiri tak mengenalinya.
"Nyan Ayah, Neuk (beliau ayahmu, nak)," jawab Ida seraya membelai kepala Is.
Seminggu kemudian barulah Is mau dekat-dekat dengannya. Sungguh memakan waktu adaptasi yang cukup lama.
Kini setelah dua minggu mereka berkumpul menjadi keluarga utuh, Is sudah berani bertanya tiap kali melihatnya tengah mengerjakan sesuatu.
"Ayah teungoh peu (Ayah sedang apa)?"
Dan akan terus bertanya sampai ia bisa memberikan jawaban yang memuaskan rasa keingintahuan Is.
"Aneuk Agam lon carong (anak laki-laki ku yang pintar)," ucapnya tersenyum seraya mengusap kepala Is tiap kali memberikan pertanyaan sulit untuknya.
Di Idi Rayeuk ia kembali bekerja sebagai nelayan dan pedagang ikan. Menjajakan berkeliling dari gampong ke gampong.
Sementara dari uang tabungan yang berhasil dikumpulkannya sedikit demi sedikit ketika berada di Libya, telah menghasilkan sebuah warung kelontong kecil di depan rumah yang dikelola oleh Ida.
Namun setiap malam ia dan beberapa pemuda lain diam-diam sering melakukan pertemuan. Sekaligus merekrut para pemuda lain untuk turut terlibat dalam GNM. Termasuk ketiga sahabat masa kecilnya yaitu Azis, Umar, dan juga Latif.
Mereka bertiga bahkan langsung dikirim ke Libya guna mengikuti pelatihan militer di Kamp Tajura.
Tapi sebelum mereka bertiga bertolak ke Libya, ia sempat mengajak ketiga sahabatnya itu untuk melakukan satu hal penting. Meski Ida melarang keras dan sangat tak menyetujui rencananya.
"Jangan sampai seluruh amal soleh yang Cutbang lakukan selama ini justru memudharatkan (membawa pada keburukan)," gumam Ida dengan wajah sendu ketika ia sedang membersihkan beberapa senjata yang sempat dibawanya dari Libya. Salah satu favoritnya adalah AK-47.
Namun ia diam tak menjawab apapun.
"Kehidupan kita baik, kehidupan kita buruk. Takdir kita baik, takdir kita buruk. Kewajiban kita adalah taat," lanjut Ida yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Jangan keliru mengambil keputusan hanya karena emosi," ujar Ida lagi.
"Jangan sampai kita menebar keburukan di atas bumi."
Ia mengalihkan pandangan dari AK-47 untuk menatap mata Ida yang telah penuh dengan airmata.
"Cutbang, balasan orang yang berbuat buruk adalah keburukan yang setimpal," Ida kembali berkata. ##
"Tak takutkah apa yang hendak Cutbang lakukan akan berbalik kepada diri kita sendiri? Anak keturunan kita kelak?"
Ia mencoba tersenyum menenangkan, "Kau tenang sajalah. Aku hanya melakukan apa yang kuyakini benar."
Namun rupanya doa yang dipanjatkan oleh Ida lebih dulu terkabulkan. Karena 5 orang tersangka pelaku utama pemerkosaan yang berujung pada terbunuhnya Cut Sarah, sebagian telah mendapat hukumannya masing-masing.
"Sejak dua tahun lalu, tersangka 1 dikirim orangtuanya untuk melanjutkan sekolah ke Jawa," terang Azis ketika ia memberitahukan nama-nama orang yang hendak mereka buru.
"Terakhir berita yang kudengar, dia tewas setelah berkelahi dengan sesama pengunjung diskotik (klub malam) di Jakarta."
"Ada beritanya dimuat di koran Peristiwa."
Ia mengangguk tanda mengerti. Karena perbuatan buruk pasti akan terus mengejar. Kalau pun tidak di dunia, kelak di akhirat.
"Tersangka ke 2 sudah tak bisa melakukan apapun," kini Umar yang berkomentar.
"Mengalami kecelakaan parah waktu berkendara menuju ke Medan."
"Tinggal menunggu ajal saja," Umar menggelengkan kepala. "Semua dokter sudah angkat tangan."
Ia kembali menganggukkan kepala.
"Tersangka ke 3 dikirim orangtuanya untuk melanjutkan sekolah ke Amerika," Azis kembali memberikan informasi.
"Terlalu jauh," keluhnya.
"Kita ambil saat dia pulang," desis Latif dengan mata menyala.
"Entah kapan waktunya. Kita tak pernah tahu," ujarnya seraya menggelengkan kepala.
"Tersangka ke 4 dan ke 5," Umar berhenti sejenak sebelum kembali berkata.
"Kudengar mereka sudah jadi tentara. Tapi tak tahu dinas di daerah mana."
Ia menghembuskan napas panjang, "Kalau ada umur, mereka pasti akan kutemukan."
***
Setyo Yuwono
Hamzah telah kembali.
Tanggal 14 Desember, Hamzah menjadi orang yang paling dicari oleh aparat penegak hukum. Sekaligus menuai sorotan media nasional. Karena telah mengibarkan bendera Nasional Merdeka di lapangan SMA Negeri Peureulak.
Beberapa hari setelah insiden pengibaran bendera Nasional Merdeka. Hamzah bersama kelompok gerilyawan yang dipimpinnya tiba-tiba melakukan penyerangan terhadap pos ABRI di desa Babah Krueng, Kecamatan Sawang, Aceh Utara. ©©
Dalam penyerangan yang dilakukan dari tiga penjuru dengan menggunakan senjata berat. Seperti pelontar granat (GLM), minimi dan senapan serbu AK-47. Dua tentara tewas, satu kritis, sementara delapan tentara lainnya terluka.
Hamzah dan kelompoknya juga berhasil mengambil 22 pucuk senjata M-16 dan senjata jenis minimi. Sebelum akhirnya melarikan diri menuju ke hutan.
Hanya berselang dua hari setelah melakukan penyerangan terhadap pos ABRI. Hamzah dan kelompoknya kembali berhasil menduduki Kecamatan Blang Mangat selama hampir 14 jam. ©©
Mereka bisa menduduki Blang Mangat karena aparat keamanan yang bertugas sedang melakukan penyisiran ke desa-desa pedalaman setempat. Usai insiden penyerangan terhadap pos ABRI dua hari yang lalu.
Karena itu, ketika gerilyawan GNM memasuki kota dalam jumlah yang lumayan besar dengan persenjataan lengkap. Aparat keamanan yang ada tak mampu untuk mengimbanginya.
Dan selama Blang Mangat berada dalam penguasaan gerilyawan GNM. Bendera GNM yang berwarna dasar merah terlihat berkibar sepanjang 5 kilometer. Bendera tersebut diikat pada tiang-tiang kayu yang tinggi di sepanjang jalan negara Medan - Banda Aceh.
Selain itu, GNM juga membakar sejumlah bangunan.
Blang Mangat baru berhasil dikuasai kembali oleh aparat keamanan, setelah pasukan gabungan ABRI/Polri dalam jumlah yang lebih besar dikerahkan.
Akibatnya sempat terjadi kontak senjata selama beberapa saat antara pasukan gabungan dan gerilyawan GNM. Yang berhasil melukai beberapa tentara dan juga gerilyawan. Namun sama sekali tak ada korban dari warga.
Hingga akhirnya setelah 14 jam berada dalam pendudukan GNM, aparat kembali berhasil menguasai Blang Mangat usai berhasil memukul mundur para gerilyawan ke arah hutan.
"Kita kejar mereka malam ini!" seru pimpinan dengan raut tegas.
Ia hanya diam dan tertegun. Karena namanya termasuk dalam daftar petugas operasi gabungan ABRI/Polri menumpas gerilyawan GNM.
Bayangan wajah Tama dan Sada, dua putranya yang masih berusia balita. Juga senyuman di wajah Niar ketika melepasnya pergi berangkat bekerja tadi pagi. Mendadak datang silih berganti memenuhi seluruh benaknya.
Ia bahkan tak sempat pulang ke Aspol untuk berpamitan pada mereka bertiga. Karena pimpinan memerintahkan mereka agar segera bergabung dengan para prajurit infanteri guna menyusun strategi.
"Selalu waspada! Jika tidak, nyawa taruhannya!" seru Letkol marinir Yonif 1 Syahrir yang menjadi komandan operasi kali ini.
Malam hari mereka mulai menyusuri pedalaman desa. Lalu naik ke bukit. Dan masuk ke dalam hutan.
Sepanjang perjalanan mereka harus selalu berhati-hati dan waspada. Karena medan jalan di dalam hutan sangat terjal. Naik turun melewati jalan setapak licin yang sebelah kanan kirinya adalah jurang.
Setelah berjalan berpuluh-puluh kilometer yang rasanya seperti di neraka. Sampailah mereka di tengah hutan lebat. Yang disinyalir sudah semakin dekat dengan markas persembunyian para gerilyawan GNM.
Ketika tiba-tiba dari arah utara muncul sesosok pria berpostur kecil. Sama sekali tak ada kesan gerilyawan yang jago bertempur.
Berdiri tegak seorang diri. Lalu dengan gagah berani memberondong pasukan gabungan dengan senapan serbu Kalashnikov.
Belum lagi pasukan gabungan sempat membalas. Pria bertinggi tubuh tak lebih dari satu setengah meter itu sudah menghilang seperti siluman. Berhasil lolos dari kejaran.
Wajahnya mendadak serius. Mulutnya menggumamkan doa apapun yang melintas di kepala. Ketika menyadari dua anggota polisi rekannya di Polres Lhokseumawe telah roboh akibat terkena berondongan peluru pria misterius tadi.
Dan langsung digotong mundur oleh dua orang prajurit sekaligus. Sementara yang lain tetap bergerak maju menuju markas gerilyawan GNM yang disinyalir telah semakin dekat itu.
Setelah memeriksa situasi, komandan memerintahkan mereka untuk berpencar.
Ia dan beberapa orang bergerak ke arah barat. Sementara anggota pasukan gabungan yang lain juga bergerak menuju tiap penjuru arah mata angin. Bermaksud menyergap dengan kekuatan penuh.
Kini ia berjalan melewati pohon besar yang tingginya mencapai belasan meter. Sambil berusaha tetap meningkatkan kewaspadaan agar tak sampai mendapatkan serangan.
Lalu kembali menyusuri jalan setapak licin yang diapit jurang.
Tapi tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tergelincir. Kepalanya terantuk batu. Darah pun mulai mengucur. Berceceran membasahi wajahnya.
Ketika di kejauhan mulai terdengar suara keras baku tembak dan berondongan peluru. Tak diragukan lagi, para gerilyawan mulai melawan. Pasti karena laporan dari pria berpostur kecil yang tadi sempat menyerang mereka.
Ia segera bangkit dan kembali berjalan dengan mengendap-endap. Matanya awas. Siap memuntahkan peluru jika berpapasan dengan gerilyawan.
Ketika tiba-tiba dari jarak sekitar sepuluh meter di depannya. Tiga sosok bayangan muncul sekaligus. Membuatnya segera bersiap mengokang senjata.
Satu diantara mereka lebih dulu memuntahkan peluru. Namun meleset. Tak berhasil mengenainya.
Ia segera mengangkat senjata. Bersiap menarik pelatuk. Ketika sosok yang berdiri paling depan tiba-tiba berseru menahan reaksi dua rekannya. Yang telah menarik pelatuk bersiap untuk memberondongnya dengan tembakan.
"Theun (tahan)!"
"Bek teumimbak (jangan tembak)!"
Mendadak rasa takutnya berangsur hilang begitu mendengar jenis suara yang sepertinya tak asing.
Dan benar-benar menghilang ketika sadar ia tengah berhadapan dengan seorang Hamzah Ishak.
Sahabatnya yang telah hilang.
"Jih rakan lon (dia sahabatku)!" seru Hamzah lagi.
Dan dalam jarak sepuluh meter di tengah rimbun dan gelapnya suasana hutan. Ia bisa melihat dengan jelas wajah Hamzah yang menujukkan air muka ramah dan sorot mata bersahabat.
Namun mereka berdua hanya berdiri mematung di tempat masing-masing.
Sementara dua orang pria di belakang Hamzah memandanginya dengan penuh kecurigaan.
Dari pencahayaan sinar bulan yang terbatas, matanya menangkap penampilan Hamzah yang necis. Mengenakan kaos biru dengan celana warna senada.
Sepatu Hamzah bahkan kulit Doc Mart. Lengkap dengan tas kecil menyelempang di samping tubuhnya. Sama sekali tak menujukkan sosok kumal meski telah puluhan kilometer naik turun gunung.
Jauh berbeda dengan dirinya yang lusuh, kotor, bau, basah, gatal. Setelah berjalan berpuluh-puluh kilometer menembus hutan.
Mereka masih saling berpandangan. Ketika suara tembakan di belakang tubuhnya terdengar semakin mendekat dan bertambah keras.
Namun sebelum ia sempat membuka mulut untuk menanyakan kabar. Hamzah lebih dulu berucap cepat,
"Me'ah, teupaksa loen timbak gata (maaf, aku terpaksa menembakmu)...."
Lalu desingan peluru tiba-tiba terdengar melintas tepat di bawah telinganya. Bersamaan dengan terciumnya bau percikan mesiu yang sangat tajam.
Dalam sekejap rasa panas mendadak menyerang bahu sebelah kanan. Disusul rembesan darah yang dengan cepat membasahi baju seragamnya.
Namun sebelum terjatuh ia sempat menangkap gerak mulut Hamzah mengucapkan, "Maaf...."
Lalu cukup dengan satu kedipan mata, sosok Hamzah dan dua rekannya telah menghilang di balik rerimbunan pohon dan kegelapan malam. Lenyap tanpa bekas.
Kini tubuhnya telah terhempas ke atas tanah. Bersamaan dengan seruan rekannya yang berteriak, "Ada yang tertembak!"
"Setyo tertembak!"
***
Keterangan :
**. : dia sahabatku
Daud Beureuh. : adalah mantan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Juga pejuang kemerdekaan Indonesia.
Ia merupakan tokoh kontroversial yang populer di kalangan masyarakat Aceh.
Ia melakukan pemberontakan kepada pemerintah dengan mendirikan NII (negara Islam Indonesia) akibat ketidakpuasannya atas pemerintahan Soekarno. Dan memimpin pemberontakan Darul Islam di Aceh pada tahun 1953-1962.
Namanya kini diabadikan untuk sebuah jalan di Banda Aceh (sumber : Wikipedia)
Ikrar Lamteh. : adalah sebuah kesepakatan damai antara pihak Darul Islam dengan Pemerintah Indonesia pada tahun 1957. Ikrar tersebut dibuat di desa Lamteh, Banda Aceh (dari berbagai sumber)
SGO. : singkatan dari sekolah guru olahraga. Yaitu lembaga pendidikan (sekarang setara dengan SMA) bagi para calon guru di tahun 1970 - 1990 an awal.
Lulusan-lulusannya pada umumnya langsung menjadi guru, tetapi ada juga yang melanjutkan ke Diploma (D-II) UT, dan ke S-1 jurusan kependidikan.
Yang juga sama seperti SGO adalah SPG (sekolah pendidikan guru) dan PGA (pendidikan guru agama) (dari berbagai sumber)
##. : arti dari ayat Al Qur'an surat Asy-Syuara ayat 40 yang berbunyi, "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat). Maka pahalanya dari Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang zalim."
©©. : disadur dari berbagai sumber, salah satunya tempo.co dan aceh1986
Ucapan terimakasih tak terhingga untuk Mom Siska 🤗 readers tersayang yang asli Aceh 🤗 Teurimong gaseh Mam sudah menjadi narasumber 🤗 terutama dalam menterjemahkan bahasa Aceh 🤗 BIG HUG 🤗
##jika ada kekeliruan penulisan atau kesalahan dalam menerjemahkan realita sejarah dan lain-lain, feel free untuk PC author ya readers tersayang 🤗 dengan senang hati akan author revisi