
Anja
Ia berpura-pura tetap memperhatikan panggung live music agar Cakra tak merasa sungkan ketika memasukkan uang ke dalam dompet.
Sejurus kemudian Cakra berdiri kemudian berlalu. Membuatnya tersenyum senang. Karena merasa telah berhasil menembus ego Cakra yang sekeras batu.
Namun ia keliru. Cakra bukannya pergi menuju Bazaar makanan. Tapi berjalan ke arah panggung live music.
"Mau ngapain ke sana?" gumamnya sambil mencibir sekaligus menggelengkan kepala.
Cakra berjalan menghampiri salah seorang personel homeband. Mereka terlihat membicarakan sesuatu sambil sesekali tangan Cakra ikut bergerak menerangkan.
Tak lama kemudian Cakra menangkupkan kedua tangan di depan dada sambil menganggukkan kepala. Sepertinya sedang mengucapkan terima kasih. Kemudian kembali menghampiri tempat duduknya.
"Barusan ngapain?" tanyanya sambil tertawa.
Namun Cakra tak menjawab. Hanya tersenyum simpul sembari merebahkan kepala di pangkuannya.
"Jadi main layangan nggak?" Cakra justru balik bertanya sambil menengadahkan wajah menatap matanya lekat-lekat.
"Terserah," ia kembali tertawa.
"Nanti habis ini ya," ujar Cakra sambil mencium perutnya.
Tapi ia tak menjawab. Keburu menyadari perubahan rahang Cakra jika dilihat dalam posisi miring begini.
"Kamu kurusan?" tanyanya spontan sambil mengusap rahang Cakra yang tak lagi berisi.
"Trainingnya keras banget ya?" tanyanya lagi sambil menelusuri garis wajah Cakra.
"Di suruh ngapain aja di sana?"
Namun Cakra sama sekali tak menjawab. Justru memejamkan mata sambil tersenyum. Dengan hidung dan bibir menempel di perutnya.
Ketika ia mencibir sebal karena merasa diacuhkan. Dari arah panggung live music terdengar suara merdu vokalis homeband yang sedang menginformasikan request lagu berikut.
"Spesial dari Cakradonya untuk Anjani...."
Ia pun memukul lengan Cakra sambil tersipu malu.
"Kamu barusan ke depan request lagu?" tuduhnya sebal.
Cakra mengangguk dengan mata tetap terpejam.
"Kamu bohong katanya cuma tahu lagu dangdut, nggak tahu lagu western!" ia kembali memukul lengan Cakra dengan sebal ketika homeband mulai memainkan intro All of Me nya John Legend.
Tapi Cakra tak bergeming. Justru ikut bersenandung. Membuatnya memutar bola mata. Namun dengan wajah memanas karena merasa senang.
"Cause all of me. Loves all of you....," bisik Cakra yang tiba-tiba membuka mata. Tepat ketika ia tengah menunduk memperhatikan wajah Cakra.
Sontak membuat mata mereka saling bertautan.
'Give your all to me
I'll give my all to you
You're my end and my beginning
Even when I lose I'm winning'
(John Legend, All of Me)
***
Cakra
Pak Cipto baru saja mengarahkan kemudi keluar dari area wisata. Melintasi arus lalu lintas yang terpantau ramai lancar. Namun baru juga mereka melewati Metropolitan Mall, kepala Anja sudah terkulai lemah. Telah tertidur dengan nyenyaknya.
Praktis sepanjang perjalanan, waktunya dihabiskan untuk mengobrol dengan Pak Cipto. Karena Anja bahkan tak merubah posisi tidur saking lelapnya.
Anja baru terbangun setelah Pak Cipto mengarahkan kemudi keluar dari Gerbang Tol Kebon Jeruk 2. Menguap dengan malas sambil bertanya, "Belum sampai?"
Ia baru hendak menjawab. Tapi Anja keburu memejamkan mata lagi. Membuatnya tertawa meski tanpa suara.
"Aku ngantuk banget," gumam Anja dengan suara parau.
Dan sesi terakhir perjalanan pulang kembali dilalui Anja dengan tertidur nyenyak.
Kini, meski Pak Cipto telah menghentikan kemudi tepat di halaman rumah. Ia tak langsung membangunkan Anja. Membiarkannya tetap terlelap.
Sengaja menunggu sebentar agar Anja tak terkejut ketika dibangunkan. Namun justru ia yang dikejutkan oleh suara teriakan dua bocah laki-laki usia SD yang tiba-tiba muncul dari halaman samping.
Kedua bocah itu tengah berkejaran menggunakan sepeda dan otopet. Berteriak-teriak sambil tertawa riang.
"Udah sampai?" gumam Anja yang kini telah membuka mata lebar-lebar.
"Ramai banget?" lanjut Anja lagi ketika dua bocah laki-laki itu sedang tergelak-gelak bersama.
"Lagi ada tamu kayaknya," jawabnya sambil menunjuk dua bocah laki-laki yang kembali berkejaran. Melewati mobil yang mereka tumpangi dengan kecepatan kilat menggunakan sepeda dan otopet. Wuss!
"Mas Arka?!" teriak Anja tiba-tiba begitu melihat wajah bocah yang sedang mengendarai sepeda.
Lalu Anja bergegas turun dan melewatinya begitu saja.
"A Yasa?!" teriak Anja lagi.
Ia menyusul keluar sambil meletakkan ransel di bahu. Sekaligus membawa paper bag milik Anja. Kemudian mengikuti langkah Anja memasuki rumah melalui teras depan. Sementara Pak Cipto kembali masuk ke dalam mobil untuk mematikan mesin.
"Hai, Lanaaaaa....," sapa Anja pada seorang gadis kecil yang sedang duduk di sebuah kursi kecil. Menghadap meja ruang tengah. Sambil memainkan puzzle 3D susun paku.
"Tante Anjaaaa....," gadis kecil yang dipanggil Lana itu langsung berdiri dan menghambur ke dalam pelukan Anja.
"Kangeeeen....," Anja menghujani wajah Lana dengan ciuman. Hingga empunya wajah kegelian dan terbahak-bahak.
"Eleuh ini baru pada pulang," sebuah suara yang sangat familiar muncul dari arah dapur.
"Teh," ia menghampiri Teh Dara untuk bersalaman sambil mencium tangan. Tradisi di keluarga Anja jika bertemu dengan orang yang lebih tua.
"Wah, new hair cut?!" seloroh Teh Dara begitu melihat penampilannya.
"Hasil training tea, Teh," kini giliran Anja yang menghampiri Teh Dara untuk mencium tangan dan cipika-cipiki.
"Wah, selamat ya, Cakra," Teh Dara meninju lengannya. "Udah resmi jadi anak korporat nih?"
Ia hanya tertawa, "Saya bagian buruhnya, Teh. Proletar."
"Eh, nggak boleh bilang begitu," Teh Dara mengernyit dengan pandangan tak setuju.
Kemudian mereka bertiga sama-sama mendudukkan diri di sofa ruang tengah. Sementara Lana kembali asyik menyelesaikan puzzle nya.
"Teteh kapan datang? Sama Mas?"
"Tadi sih bareng pesawatnya. Cuma Mas langsung ke Mabes."
"Oh," Anja menganggukkan kepala. "Nggak bilang-bilang mau ke sini?"
"Unplanned biasa," Teh Dara tertawa. "Kebetulan Mas ada acara kantor di Jakarta. Ya udah kita ikut semua."
"Sekalian besok mau munggahan ke rumah Enin."
"Wah, Lana mau jalan-jalan ke Bandung yaa. Tante ikut dooong...."
"Boleh....boleh....," Lana menganggukkan kepala berkali-kali.
Membuat Anja mengusap-usap puncak kepala Lana dengan gemas. Sementara dari arah halaman samping, suara pertengkaran dua bocah laki-laki mulai terdengar.
"Kamu curang! Curi start!"
"Enak aja. Siapa yang curi start?! Ini sah!"
"Ulang ulang!"
Namun Teh Dara hanya menggelengkan kepala mendengar pertengkaran dua bocah tersebut.
"Masih hobi berantem aja mereka berdua," seloroh Anja sambil tertawa.
"Biasaa," Teh Dara ikut tertawa. Kemudian kembali berkata, "Sama ngurus 7 bulanan kamu biar acaranya di rumah aja."
"Mau ada acara?" Anja justru balik bertanya dengan heran.
"Bukan acara seremonial. Pengajian aja ngundang anak-anak tahfidz yatim. Biar kamu nggak usah pergi ke sana."
"Oh," Anja menganggukkan kepala. "Iya deh. Enakan di rumah."
"Lagian Sabtu sore jadwal kamu periksa ke dokter kan?"
"Iya, sorenya kita mau ke dokter Stella."
Malam hari ketika ia sedang duduk di karpet ruang tengah. Bermain cepat-cepatan menyusun Lego dengan Arka dan Yasa. Sementara Anja dan Teh Dara asyik mengobrol sambil tertawa-tawa. Mas Sada muncul dari arah ruang tamu dengan masih mengenakan seragam dinas.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serempak.
"Ayaaaaaah!" Lana yang sedang bermain boneka Barbie di sebelah Anja langsung berlari menghambur ke pelukan Mas Sada.
Disusul Arka dan Yasa yang juga bangkit untuk memeluk Mas Sada. Meski hanya sebentar. Karena mereka kembali asyik dengan lego masing-masing.
"Wah, belum pada bobo nih udah malam?" seloroh Mas Sada sambil menciumi Lana yang tergelak-gelak karena kegelian.
"Belum lah, nungguin Ayah pulang," jawab Teh Dara yang beranjak ke arah dapur. Namun tak lama kemudian kembali datang sambil membawa segelas air putih.
Setelah Mas Sada menurunkan Lana. Ia pun bangkit untuk menyalami Mas Sada.
"Mas?"
Mas Sada menyambut uluran tangannya namun tak berkomentar apapun.
"Makasih, sayang," Mas Sada mencium sekilas kening Teh Dara.
Kepalanya langsung merekam baik-baik kehangatan yang diperlihatkan oleh keluarga kecil Mas Sada.
Mas Sada sempat duduk sebentar di sofa. Mengobrol dengan Teh Dara dan Anja. Membahas teknis pelaksanaan acara 7 bulanan besok.
Kemudian Mas Sada bergabung di karpet dengan mereka bertiga. Ikut berlomba menyusun Lego.
Dan pertandingan di antara mereka berempat berlangsung ketat. Arka dan Yasa meski masih SD namun memiliki ketangkasan yang luar biasa.
"Menang, yeeee!" teriak Arka setelah berhasil menjadi yang pertama merakit pesawat tempur.
Kemudian disusul dirinya, Yasa, dan terakhir Mas Sada.
"Curang pasti kalian!" sungut Mas Sada sambil tertawa-tawa.
Tepat pukul 20.30 WIB Teh Dara menggiring Arka dan Yasa untuk melakukan ritual sebelum tidur. Yaitu menggosok gigi dan mencuci tangan serta kaki.
Sementara Lana telah tertidur pulas di bahu Mas Sada.
Ketika sayup-sayup suara Arka dan Yasa masih terdengar ribut bertengkar di kamar mandi entah memperebutkan apa. Mas Sada menyusul masuk ke dalam kamar sambil menggendong Lana.
Ia masih duduk di sofa bersama Anja yang menyandarkan kepala di pangkuannya. Ketika Mas Sada keluar dari dalam kamar telah memakai baju rumah. Lalu mendudukkan diri di sofa, tepat di hadapannya.
"Papa gimana, Mas?" Anja memecah kesunyian.
"Masih terapi jalan sama bicara."
"Kapan Papa pulang? Aku udah kangen banget. Mana aku nggak bisa nengok ke sana lagi."
"Kita lihat perkembangannya. Mama ingin sampai tuntas. Biar nggak bolak balik."
"Lebaran besok Papa bisa pulang ke sini nggak? Masa Lebaran aku sendirian."
"Belum tahu. Masih panjang prosesnya, Ja. Terakhir Mas ke sana, Papa masih kayak orang bingung. Meski secara fisik udah jauh lebih baik."
Anja dan Mas Sada masih terus membicarakan keadaan Papa. Sementara ia hanya diam dan mendengarkan.
"Aku ngantuk," ujar Anja sambil menguap.
Namun sebelum ia sempat berdiri untuk mengikuti Anja masuk ke dalam kamar, Mas Sada lebih dulu berkata, "Pinjam Cakra sebentar, Ja."
Anja tertawa, "Ambil aja Mas kalau mau."
Setelah Anja menghilang di balik pintu kamar, Mas Sada berdehem lalu berkata, "Dara cerita kalau kamu habis training."
"Iya, Mas."
"Resmi masuk AxHM?"
"Sudah, Mas. Hari Senin besok tanda tangan kontrak."
"Bagian apa?"
Ia menelan ludah sebentar sebelum menjawab, "Di pabriknya. Operator produksi."
"Pabrik yang di Sunter apa Cikarang?"
"Belum tahu, Mas.
"Urusan sama Om Raka beres?"
"Terus terang saya nggak terlalu mengikuti, Mas. Kemarin konsen UN sama SBM. Tapi ibu saya bilang, sudah tanda tangan perjanjian. Ramadhan besok launching."
Mas Sada menganggukkan kepala. Lalu berkata dengan ekspresi datar, "Motor yang di garasi pakai aja buat kamu kerja."
"Sunter atau Cikarang sama jauhnya."
"Motor kamu udah terlalu riskan buat dibawa jalan jauh setiap hari."
***
Anja
Acara 7 bulanan dimulai tepat pukul 10.00 WIB. Hanya acara sederhana sebagai tanda syukur karena usia kandungannya dalam keadaan sehat dan telah mencapai usia 7 bulan. Sekaligus memanjatkan doa agar kelak bisa melalui proses melahirkan dengan sehat dan selamat, baik ibu maupun bayinya.
Tanpa tamu undangan. Hanya mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an dari para santri Tahfidz Rumah Yatim Piatu.
Kemudian membagikan bingkisan pada para tetangga, kerabat, dan handai taulan.
Ketika Cakra dan Mas Sada pergi mengantarkan bingkisan 7 bulanan ke rumah Pak Puguh dan beberapa orang sahabat baik Papa. Ia dan Teh Dara mengobrolkan banyak hal di ruang tengah. Sementara Arka, Yasa, dan Lana asyik bermain sendiri.
Sore hari Mas Sada sekeluarga bertolak ke Bandung diantar oleh Pak Cipto. Sementara ia dan Cakra pergi menemui dokter Stella untuk memeriksakan kandungan.
"Wah, lihat...aku sudah sebesar buah melon," ujar dokter Stella sambil tersenyum. "Sudah usia 34 Minggu 2 hari."
"Beratnya 2,2 Kg. Panjang 45 Cm."
"Plasenta bagus. Nggak ada simpul."
"Ketuban bersih."
"Posisi janin bagus. Menghadap ke jalan lahir."
"Ini baby nya nih, lagi meringkuk sambil ngenyot jempol ini."
"Tuh, De....ditengokkin sama Mama Papa."
Ia tersenyum bahagia dengan hidung mengembang ketika melihat gambar hasil USG yang sedang ditampilkan oleh layar monitor.
Sementara Cakra berkali-kali mengeratkan genggaman tangan mereka dengan mata menatap takjub ke arah layar monitor.
"Calon Mama harus banyak istirahat, rileks, minum air putih yang banyak," lanjut dokter Stella usai pemeriksaan USG.
"Sekarang sering lelah dan sulit tidur ya?"
"Iya, Dok," ia menganggukkan kepala. "Kadang perut terasa begah. Terus seperti ada yang mendorong ulu hati."
Dokter Stella tersenyum, "Iya, betul. Karena baby tumbuh semakin besar. Hingga memerlukan ruang yang lebih untuk sekedar meregangkan tangan atau kaki."
"Atau berpindah posisi."
"Bosan ya De, posisi yang sama terus," seloroh dokter Stella.
"Sekarang sudah bisa mulai direncanakan untuk kelahiran baby nya."
Semalam ia sempat membicarakan tentang pilihan proses melahirkan dengan Teh Dara. Terus terang ia takut merasakan sakit ketika melahirkan. Seperti yang sering dilihatnya dalam adegan film. Seorang calon ibu berteriak-teriak kesakitan dengan peluh membanjir. Benar-benar gambaran nyata antara hidup dan mati.
Tidak. Ia tak mau merasa kesakitan.
Sakit karena nyeri haid saja ia bisa sampai menangis guling-guling. Apalagi sakit karena melahirkan. Yang menurut sejumlah tulisan di internet. Sakit saat mengalami nyeri haid tak ada seujung kukunya sakit yang dirasakan ketika melahirkan.
Jadi dengan mantap ia menjawab, "Saya mau melahirkan secara Caesar saja, Dok."
"Soalnya kalau melahirkan normal takut sakit," lanjutnya sambil tersipu.
Sedangkan Cakra langsung menoleh ke arahnya dengan wajah memucat.
"Sebenarnya baik persalinan normal maupun Caesar, semua ada plus minusnya," ujar dokter Stella.
"Ada kelebihan dan kekurangan masing-masing."
"Sekarang tinggal bagaimana kesiapan calon Mama. Sekaligus meminimalisir resiko yang bisa terjadi dengan memilih proses persalinan yang paling tepat."
"Untuk kasus Anjani sebenarnya sangat mungkin untuk melahirkan secara normal."
"Karena kondisi kehamilan sehat. Dan tidak ditemukan adanya resiko komplikasi yang mengharuskan lahir melalui proses Caesar."
"Tapi jika calon Mama memang sudah mantap memilih satu proses melahirkan."
"Bisa saya jadwalkan waktu yang tepat untuk melahirkan di usia kehamilan Minggu ke 39 hingga 40."
"Antara tanggal 5 sampai 12 Juli."
"Di rentang waktu tersebut kondisi janin sudah matang dan siap untuk dilahirkan."
Lagi-lagi tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan Cakra, ia berkata dengan yakin namun sambil tersipu, "Saya mau melahirkan tanggal 11 Juli, Dok. Biar tanggal lahirnya sama dengan ayahnya."
Cakra kembali menoleh ke arahnya dengan wajah yang semakin pucat.
"Kamu lahirnya tanggal 11 Agustus, kan?" bisiknya ke arah Cakra sambil tersenyum senang.
Namun Cakra hanya balas menatapnya dengan pandangan kosong.
"Baik, kita jadwalkan ya," dokter Stella mengangguk. "Tapi selama rentang waktu tersebut. Calon Mama diharapkan tetap menjaga kondisi kesehatan dan janin dengan baik."
Ia tersenyum mengangguk. "Baik, dokter Stella."
Namun tiba-tiba Cakra menyela dengan suara tersendat, "D-dok...maaf, b-berapa biaya melahirkan melalui operasi Caesar?"
Kini giliran ia yang menatap Cakra sambil mengkerut.
***
Keterangan :
Proletar. : istilah untuk mengidentifikasi jelata, atau masyarakat kelas kedua
Munggahan : adalah tradisi masyarakat Sunda untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Yang dilakukan pada akhir bulan Sya'ban (satu atau dua hari menjelang bulan Ramadhan).
Bentuk pelaksanaannya bervariasi. Umumnya berkumpul bersama keluarga dan kerabat, makan bersama (botram), saling bermaafan, dan berdoa bersama.
Ada pula yang mengunjungi tempat wisata bersama keluarga, berziarah ke makam orang tua atau orang saleh, atau bersedekah (sumber : Wikipedia)