Beautifully Painful

Beautifully Painful
42. When Mama Said



Sada


Ia sedang mengikuti acara ramah tamah dan makan siang bersama usai sholat Jum'at dengan Dirnarkoba (direktur tindak pidana narkoba), PJU (pejabat utama), serta jajarannya di Bareskrim Mabes Polri ketika iseng menyalakan ponsel pribadi yang sejak pagi dimatidayakan. Dan langsung mendapati beberapa pesan singkat. Salah satunya pesan dari Mama yang sedikit membingungkan.


Mama. : 'Nanti malam kita bertiga harus ngobrol tentang Anja.'


Mama. : 'Mama tunggu di rumah sakit.'


Ketika ia masih menerka kira-kira Mama hendak mengobrolkan apa, sebuah pesan singkat baru kembali masuk ke dalam ponselnya.


Dara : 'So sorry, Mama knows.'


Sontak membuat keningnya berkerut dan mengakibatkan seluruh rencana panjang yang telah disusun masak-masak buyar dalam seketika.


Awalnya ia lebih dulu akan berkonsentrasi mengurus perpindahan perawatan Papa ke Singapura. Setelah itu barulah ia berencana membuat perjanjian resmi di depan notaris dengan cowok brengsek itu. Yang isinya kurang lebih bersedia mempertanggungjawabkan perbuatan dengan menikahi Anja secara resmi. Namun hanya diatas kertas, tidak secara fisik. Karena ia tentu saja takkan pernah setuju apalagi mengijinkan adik kecilnya menikah di usia yang sedemikian muda. Dengan orang antah berantah pula. Tidak akan pernah.


Karena baginya menikah bukan untuk permainan. Pernikahan itu momen sakral yang sebaiknya untuk selamanya. Sementara pondasi pernikahan (di atas kertas) yang akan dijalani Anja sangatlah rapuh. Hanya karena kesalahan muda-mudi sesaat. Padahal masa depan Anja masih sangat panjang. Jadi, inilah satu-satunya jalan keluar terbaik.


Ia juga telah memikirkan masak-masak tempat pengasingan untuk Anja selama menunggu kelahiran. Rumah keluarga mereka di Bandung jelas menjadi pilihan terbaik. Berada di kompleks perumahan elite yang sangat menjaga privasi para penghuninya. Kata lain dari sama sekali tak mengenal tetangga kanan kiri. Tertutup, individualis, tak ada tetangga rempong bin nyinyir, sempurna.


Selain tempat, ia juga telah memikirkan hal teknis lainnya. Yaitu pernikahan (di atas kertas) Anja hanya sampai anak yang dikandung lahir. Agar urusan surat menyurat seperti akta kelahiran anak dan lain-lain bisa diurus secepatnya.


Setelah itu mereka harus bercerai. Tentu saja supaya Anja bisa melanjutkan hidup kembali. Urusan bagaimana memberitahu Mama dan Papa tentang bayi yang nantinya akan tiba-tiba hadir di keluarga mereka, bisa dipikir belakangan.


Yang penting Anja sehat dan bisa kembali hidup normal. Bayi yang dilahirkan selamat dan memiliki kekuatan hukum dalam hal surat menyurat resmi. Papa dirawat di Singapura hingga pulih seperti sedia kala. Dan semua akan berakhir indah pada waktunya.


Tapi sekarang tiba-tiba Mama tahu? Jauh diluar dugaan, bahkan lebih awal diluar perkiraan. Sebelum ia sempat membuat perjanjian hitam di atas putih dengan cowok brengsek itu?! Well the hell done.


Membuatnya harus memutar otak dengan cepat. Mencoba menemukan solusi lain yang sesuai dengan keinginan.


"Halo, Mas. Mama udah tahu," ia akhirnya menelepon sang kakak.


"Ya!" jawab Mas Tama gusar. "Barusan malah Mama nelpon aku."


"Sekarang gimana?"


"Aku baru jalan ke Jakarta malam. Kamu ngobrol berdua dulu sama Mama."


"Dengerin aja apa kata Mama. Jangan ngomong apa-apa sebelum aku datang."


Ia mengerti.


"Aku lagi nunggu kabar dari Gigih tentang anak itu. Nanti kalau udah dapat ku forward."


"Oke."


Setelah urusan pekerjaan selesai, ia langsung meluncur ke rumah sakit sembari memikirkan jalan keluar apa yang sebaiknya diambil untuk menyelesaikan masalah yang tengah membelit Anja. Tapi otaknya buntu. Tak mampu memikirkan satu jalan keluar pun. Jadi, rencana bertemu notaris malam ini jelas batal. Karena perubahan arah mata angin yang tiba-tiba.


"Halo, Bang," ia pun memutuskan untuk menelepon Bang Junico, notaris langganan keluarga mereka.


"Sori banget, malam ini cancel."


"Oke," terdengar jawaban dari seberang telepon. "Reschedule aja."


"Siap, Bang. Thank you."


"Anytime, Da, anytime."


Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menuju Family room, tempat dimana Mama menunggu dan beristirahat selama Papa dirawat di ruang ICU. Tapi hanya mendapati Dara yang tengah membereskan barang-barang milik Mama.


"Mama mana?" tanyanya heran.


"Lagi bacain Juz 'Amma buat Papa," jawab Dara sembari tersenyum.


Membuat keningnya mengernyit.


"Kemarin Mama minta dibawain Juz 'Amma. Dibacain sama Mama tiap waktu sholat."


Ia mengangguk mengerti. Kemudian tersenyum dan mendekati Dara.


"Miss you so badly," bisiknya sembari mengecup kening istrinya lalu merengkuhnya. Hampir seminggu disibukkan dengan pekerjaan dan bolak balik Jogja-Jakarta guna mengurus Papa dan Anja membuat mereka tak memiliki quality time sama sekali.


"Miss you too," jawab Dara yang mengeratkan pelukan di punggungnya.


"Anak-anak apa kabar?" bisiknya ikut mengeratkan rengkuhan. "Bolos sekolahnya tambah lama."


Dara tertawa, "Nggak papa. Masih bisa ngumpulin tugas by email."


"Kapan lagi mereka dapat rezeki nomplok, unexpected holiday ke rumah Enin," lanjut Dara masih tertawa.


"Meski nggak bisa ketemu Enin sama Aki karena masih di rumah sakit," kini Dara telah melepaskan pelukan lalu menatapnya tajam.


"Bapak kesayangan kita yang satu ini udah makan belum?" selidik Dara setengah menuduh. "Biasanya kalau lagi riweuh jadwal makan jadi berantakan."


Membuatnya tertawa, "Udah makan dong. Pesta malah."


"Tadi pagi?" tebak Dara sambil mencibir. "Atau siang?"


"Siang....siang," ia masih tertawa.


"Tuh kan, siang," Dara mengernyit tak suka. "Malam belum makan berarti?"


Ia menggeleng, "Masih kenyang."


"Kita makan sekarang!"


"Nanti aja."


Tapi Dara telah menarik tangannya, "Makanan di Cafetaria lumayan enak-enak. Ada kesukaan kamu lho."


"Apa?" ia akhirnya mengikuti langkah Dara keluar dari Family room.


"Rawon," jawab Dara yakin. "Tapi yang ini nggak pakai setan."


"Setannya yang makan," lanjut Dara cepat sambil tertawa.


Membuatnya terbahak, "Aku dong setannya?"


Dulu, pertama kali ngedate, hampir sepuluh tahun yang lalu. Ia mengajak Dara mengunjungi festival kuliner jajanan nusantara yang memang rutin digelar tiap setahun sekali di lapangan Gasibu, Bandung. Berhubung hampir semua stand dipenuhi oleh pengunjung dan antrinya gila-gilaan, Dara akhirnya menjatuhkan pilihan pada stand yang terletak paling dekat dengan pintu masuk.


Yang ternyata adalah stand rawon setan. Membuatnya langsung ngefans dengan makanan berkuah hitam kental itu. Selain memorable sebagai tempat dating pertama mereka -meski harus berdesakan dengan pengunjung lain-, rawon setan yang satu ini memang benar-benar lezat.


Jangan dibayangkan karena namanya rawon setan langsung mengira makanan ini bercita rasa sangat pedas. Oh, tidak. Dinamakan rawon setan karena warung aslinya di Surabaya memiliki jam buka unik, yaitu setiap jam 23.00 WIB keatas.


"Sori," Dara menunduk sambil mengaduk Zuppa soup pesanannya. "Tadi Mama tahu keadaan Anja pas aku lagi ngobrol sama Cakra."


"Aku nggak tahu kalau Mama sama Tante Rita udah berdiri di belakang."


Ia mengangguk, "Mau gimana lagi."


"Kamu pusing?"


"Banget."


Dara tertawa tapi sedetik kemudian terdiam.


"Tadi Mas Tama nelpon, sampai sini malam," ujarnya sambil menyantap rawon yang ternyata lumayan enak juga rasanya. "Aku disuruh ngobrol berdua sama Mama dulu."


"Jadi, rencana ke notaris malam ini cancel," lanjutnya sambil terus makan. "Rencana berubah."


"Kamu...mau bikin surat apa?" Dara mengernyit. "Tadi Cakra cerita."


"Kamu ngobrol apa aja sama cowok brengsek itu?"


"Mas," Dara menatapnya sambil mengernyit. "Kalau kulihat-lihat, Cakra anak yang baik."


"Anak yang baik," ia tertawa sinis.


"Cara bicara dan tingkah lakunya sopan."


Ia pura-pura sibuk makan.


"Jawaban-jawabannya juga oke. Nggak kurang ajar."


Ia menghela napas, "Tapi dia ud...."


"Mas," Dara mengusap tangannya halus. "Dia cinta sama Anja. C i n t a."


"Dara...."


"Aku bisa lihat di matanya."


"Oh, come on!" ia menggerutu tak percaya. "Jangan bilang kamu juga terpesona sama penampilannya!"


Sontak membuat Dara tertawa, "Apa sih Mas?!"


"Pantesan Anja mau digituin," gumamnya sambil menggelengkan kepala. "Kamu aja terpesona."


"Mas!" kali ini Dara tak lagi mengusap tangannya tapi menepuk sekilas. "Aku serius."


"Coba kamu sekali aja ngobrol sama Cakra. Sepuluh menit aja deh," ujar Dara sungguh-sungguh. "Ngobrol beneran ya pakai hati. Buang dulu tuh semua emosi sama rasa marah kamu."


"Terus?" ia mengkerut.


"Habis itu kasih tahu aku kesan kamu, tentang Cakra," jawab Dara sungguh-sungguh. "Apa kamu masih nyebut dia cowok brengsek?"


Ia menatap Dara lekat-lekat. Istrinya ini seorang psikolog klinis. Apa yang diucapkan tentu tak main-main. Toh istrinya pasti sering bertemu dan menangani klien yang notabene seusia dengan Anja dan Cakra. Dari berbagai latar belakang dan masalah yang menimpa. Dengan kata lain, saat ini Dara tidak hanya menggunakan intuisi dan perasaan, tapi juga ilmu yang dimiliki.


"Aku tahu kamu marah," kini Dara kembali mengusap tangannya sekilas. "Tapi di waktu yang sama aku tahu kamu bisa obyektif."


"Tadi, waktu aku keluar ngantar Dipa yang mau pulang sekalian nemenin Mama di room. Cakra udah nungguin kamu di ruangan Anja."


Ia menghela napas panjang lalu mencoba tersenyum, "Habis ini kamu pulang aja temani anak-anak."


"Aku perlu ngobrol dulu sama Mama. Jadi, tolong kasih tahu Cakra kalau malam ini nggak jadi ketemu."


Dara mengangguk.


"Diganti besok," ia berpikir sebentar. "Jam sembilan an."


Dara kembali mengangguk, "Oke."


Dari Cafetaria ia langsung menuju ruang ICU, sementara Dara berkemas untuk pulang.


Dan disinilah ia, berdiri di ruang ICU tempat Papa dirawat. Dengan Mama yang sedang duduk sembari menggenggam tangan Papa dan mengajak berbicara seolah Papa dalam keadaan sehat dan normal, tak sedang terbaring sakit.


Karena memang terkadang Papa membuka mata, meski sangat jarang. Bahkan sesekali tangan kanan Papa bergerak meski acak dan tak terarah. Mulut Papa juga satu dua kali menggumamkan sesuatu meski tak jelas.


"Papa sayang....kuat ya Pa. Cepat sembuh," begitu kata Mama sambil mengusap lengan Papa.


"Minggu depan kita pindah ke rumah sakit rekomendasi dari Mas Puguh."


"Ini masih diurus sama dokter Raharjo dan anak-anak."


"Kemungkinan hari.....," Mama terdiam dan menoleh kearahnya ingin tahu.


"Rabu atau Kamis," jawabnya cepat. "Tinggal nunggu konfirmasi."


"Tuh, Rabu atau Kamis, Pa," bisik Mama. "Sebentar lagi."


"Mama yakin Papa kuat."


Mama menghela napas sebentar untuk kemudian berkata dengan suara pelan, "Pa... sebenarnya aku kesini sekalian mau minta ijin sama Papa."


Keningnya mendadak mengkerut.


"Sebelum Papa berangkat ke Singapura, ijinkan Anja menggenapkan separuh agama ya Pa."


Nit! Nit! Nit!


Suara mesin di layar monitor mendadak berbunyi lebih cepat dan keras.


"Ma....," ia mengusap bahu Mama. Merasa khawatir ucapan Mama akan berimbas pada kondisi Papa. Tapi Mama hanya tersenyum kearahnya sembari mengangguk.


"Papa harus tahu," bisik Mama melalui isyarat mulut meski tanpa suara.


"Nanti biar Papa diwakili sama Tama," lanjut Mama yang kembali mengusap lengan Papa.


Nitnitnitnit!


Kali ini ritme di layar monitor bahkan tiga kali lebih cepat.


"Ma....," ia kembali mengusap bahu Mama. Berusaha mengingatkan agar Mama tak terlalu banyak bicara. Karena, meski minim respon, indera pendengaran Papa sepertinya masih berfungsi dengan cukup baik.


"Papa mengijinkan ya, Pa?" bisik Mama lagi. "Buat kebaikan semua."


Nit! Nit! Nit!


Kini suara mesin telah kembali ke ritme sedang. Tak lagi memburu seperti beberapa detik yang lalu.


"Namanya Cakra, teman sekolah Anja."


Ia kembali menepuk bahu Mama perlahan. Berusaha menghentikan ucapan Mama. Karena khawatir keadaan Papa memburuk.


"Papa pernah ketemu waktu datang ke rumah dulu. Ingat nggak?"


Tapi kekhawatirannya tak terbukti, karena alat pendeteksi detak jantung Papa justru kembali menunjukkan ritme normal. Dan bunyi mesin telah tenang seperti semula.


"Iya, yang kata Papa dulu, anak sekarang kok tinggi-tinggi?" kali ini Mama tersenyum. "Anaknya sopan menurut Mama."


Ia hanya bisa menggelengkan kepala menahan kesal. Mana ada anak sopan yang menghamili anak gadis orang?!


Mama masih menceritakan beberapa hal lain tentang Anja dan Cakra kepada Papa. Namun ia memilih untuk keluar ruangan terlebih dulu. Karena enggan mendengar Mama menyebut-nyebut nama cowok brengsek itu. Ya, tentu saja, kemarahannya belum seratus persen mereda. Masih banyak residu yang tersisa.


Sekitar sepuluh menit kemudian, ketika ia tengah menelepon Dara apakah sudah sampai rumah atau belum, Mama keluar dari ruang ICU. Membuatnya segera mengucapkan kalimat perpisahan untuk istrinya.


"Besok suruh orangtua Cakra datang kesini ketemu Mama," ujar Mama setelah mereka berdua sama-sama duduk di sofa ruang tunggu.


"Apa nggak kita obrolin bertiga dulu Ma, nunggu Mas Tama?"


Mama menggeleng, "Lebih cepat lebih baik."


"Mama ingin sebelum Papa ke Singapura, Anja sudah resmi menikah."


"Ma? Apa nggak terlalu cepat?" ia menggelengkan kepala tak mengerti. "Kita sama sekali belum tahu ini anak si...."


"Tadi Mama sempat ngobrol sebentar sama Cakra tentang Anja. Dari cara bicara sepertinya anak yang baik dan sopan."


Membuatnya menghembuskan napas panjang, "Masa depan Anja dipertaruhkan disini Ma. Apa nggak sebaiknya kita tunggu beberapa waktu dulu. Mama konsentrasi ke Papa. Biar aku sama Mas Tama yang me...."


"Kamu tolong segera urus teknisnya," Mama segera memotong kalimatnya. "Kalau bisa akad nikah di sini saja. Biar Papa tahu."


"Kalau di rumah nanti malah beritanya simpang siur kemana-mana. Cukup keluarga Ceu Rita (Bunda Dipa) saja yang tahu."


"Jangan lupa undang mereka juga. Biar A Hartadi (Ayah Dipa) yang jadi saksi."


"Coba kamu ngobrol sama pihak rumah sakit. Bisa nggak kita adakan akad nikah disini."


"Oya, tadi Mama sempat ngobrol sama Dara tentang bingkisan untuk saudara dan kerabat dekat. Sekedar pemberitahuan kalau Anja sudah menikah."


"Coba kamu periksa daftar namanya. Ada yang kurang nggak?"


"Tadi Mama buru-buru waktu ngasih daftar nama ke Dara."


"Jangan sampai ada yang terlewat."


"Termasuk keluarga sahabat-sahabat Papa ya, jangan lupa."


"Kalau tetangga cukup kanan kiri sama RT RW. Yang lain nanti dulu, tunggu Papa pulang dari Singapura."


"RT RW harus, khawatir nanti kalau Cakra tinggal di rumah kita pas Mama masih di Singapura ada salah paham."


"Kamu juga ngobrol ke pihak sekolah Anja. Jangan sampai Anja sama Cakra putus sekolah. Harus tetap ikut ujian sampai lulus."


"Langsung ke Wa Muchtar (ketua yayasan Pusaka Bangsa) aja. Nanti biar Wa Muchtar yang ngasih tahu ke yang lain. Biar cepat. Mendadak soalnya."


"Dua tahun lalu juga ada anak PB yang bisa tetap ikut ujian meski lagi hamil," tambah Mama yakin. "Anaknya Om Dadang tahu kan?"


Ia menggeleng. Ada begitu banyak rekan dan kolega Papa. Tentu tak bisa diingat satu per satu semuanya.


"Jadi harusnya Anja juga bisa."


"Tolong kamu urus dan atur semuanya," ujar Mama seraya menepuk bahunya. "Mama mau istirahat dulu."


Ia tak menjawab, hanya bisa mengangguk sembari matanya mengikuti langkah Mama yang berjalan menuju Family room.


Ia masih termangu sambil memandangi kelip lampu dari bangunan di sekitar rumah sakit yang terlihat melalui balik jendela kaca, ketika ponsel pribadinya bergetar.


Mas Tama Calling.


"Ya?"


"Aku baru check-in. Jam 11 an sampai Cengkareng."


"Oke."


"Barusan udah kukirim tentang anak itu lewat email. Coba kamu lihat."


"Sip."


"Kamu pasti nggak nyangka."


"Apa?"


"Dia anaknya Hamzah Ishak."