
Anja
"Mmhh....," gumamnya malas karena sudah di ambang lelap. Sementara Cakra masih saja mengatakan hal-hal yang jika dalam keadaan normal akan langsung dicibirinya habis-habisan dengan satu kata, "Gombal!"
Namun karena tubuhnya terasa penat. Seperti habis lari mengelilingi GBK 10 kali putaran. Pegal di sana sini. Terutama di daerah intinya. Seolah sesuatu yang mengganjal masih tertinggal di sana. Tidak Anja, berhenti sekarang juga! Kamu benar-benar menjijikkan.
Ah, ya, maaf. Sungguh hanya ingin mendefinisikan kondisi dirinya sendiri saat ini dengan gamblang. Setelah tadi Cakra berkali-kali membawanya mengayun di udara, untuk kemudian meledak bersama. Lagi dan lagi. Seolah energi Cakra tiada habisnya. Begitu menguras stamina. Terasa sangat melelahkan.
Belum rasa kantuk yang menggelayut. Membuatnya hanya bisa memberi respon seadanya. Meski sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam ingin balas mengatakan, "Love you too." Namun yang sempat diucapkan hanya gumaman tak jelas.
"Kamu ngantuk ya?"
Ia masih bisa menangkap tipe suara serak dan dalam. Ketika hidungnya justru makin terbuai dengan aroma maskulin yang terasa begitu dekat dan nyata. Mengantarkannya kian dalam memasuki gerbang menuju ke alam mimpi.
Di tengah suasana mendayu ia sempat berusaha memperbaiki posisi kepala yang berbantalkan lengan Cakra agar terasa lebih nyaman. Ketika sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya.
Kemudian dalam sekejap ia seperti berada di tengah lautan awan seputih kapas yang berarak kian kemari di atas langit biru. Dengan lengan Cakra yang merengkuhnya dari belakang, "Just you and me, Ja?"
Ia tersenyum mengangguk dengan hati meluap akibat dipenuhi rasa suka cita, "Just you and me."
***
Cakra
Ia memandangi paras jelita Anja yang terlelap dengan mulut setengah terbuka. Menandakan jika gadis mungil ini telah tertidur nyenyak. Kenyataan yang menuntun jarinya kian berani menelusuri tiap inci kulit sehalus sutera dari wajah menawan itu.
Apa yang baru saja mereka perbuat menjadi episode sarat makna paling mendebarkan yang pernah ada. Selain perasaan berbunga-bunga yang melingkupi diri karena Anja merespons dengan baik tiap sentuhan penuh hasrat darinya. Juga penerimaan Anja yang begitu terbuka saat menyambut kehadiran dirinya. Sungguh luapan rasa cinta yang teramat manis dan dalam. Never get enough.
Meski ini artinya ia telah ingkar terhadap janji yang sempat disanggupinya tempo hari di hadapan Mas Tama dan Mas Sada. Entah apa yang akan dilakukan dua kakak laki-laki Anja itu jika mengetahui pengkhianatan yang kini tengah dilakukannya. Yang pasti masa depan gelap gulita penuh onak dan duri adalah taruhan terbesarnya.
Kecuali jika ia berhasil meyakinkan Mas Tama dan Mas Sada bahwa ia benar-benar mencintai Anja. Serta mampu memberi penghidupan yang layak. Tak jauh berbeda dengan kehidupan yang selama ini Anja jalani.
Tapi mungkinkah?
Atau lebih tepatnya lagi, sanggupkah ia?
Kira-kira keajaiban seperti apa yang bisa membuat dua kakak laki-laki Anja bisa melihat dirinya sebagai seorang manusia seutuhnya. Bukan pandangan sebelah mata seperti yang selama ini ia terima. Tentu akibat dari kesalahan besar yang telah dilakukannya. Terlebih realita kehidupan yang ia jalani jauh berbeda dengan yang Anja miliki.
Dan memikirkan semua kemungkinan paling buruk membuat kepalanya mendadak dipenuhi oleh begitu banyak pertanyaan yang tak memiliki jawaban. Memantik rasa lelah hingga berhasil mendatangkan kantuk. Melelapkan dirinya ke alam mimpi dengan pemandangan terakhir yang teramat menentramkan, yaitu raut mungil Anja yang mempesona.
"Just you and me, Ja."
"Just you and me."
***
Anja
"Mmhh....," ia bergumam malas ketika sebuah sentuhan dingin mampir di pipinya.
"Bangun putri tidur," bisik seseorang tepat di hadapannya. Hingga hembusan napas terasa hangat meniup-niup wajahnya.
"Mmmhhh....," namun ia tak bergeming. Tetap menutup mata yang seolah digelayuti sebuah batu besar. Lengkap dengan rasa pegal di sekujur tubuh.
"Ja...," bisikan berat dan dalam itu kembali terdengar. Kali ini dengan sentuhan dingin yang semakin menggigit di kedua pipinya.
Menjadikan rasa kantuk menguap dalam sekejap. Berganti dengan rasa menggigil yang berhasil memancing kedua matanya untuk terbuka lebar.
"Cakra ih!" ia buru-buru menepis tangan Cakra yang ternyata sedang menangkup kedua pipinya.
"Dingin tahu!" sungutnya kesal karena Cakra justru terkekeh.
"Udah pagi tuan putri," seloroh Cakra. "Mau bangun jam berapa?" Cakra tersenyum dengan wajah segar dan mengenakan kemeja lengan panjang. Mau kemana sepagi ini sudah rapi? batinnya heran.
Dengan bersungut-sungut ia pun berusaha melirik jam Mickey Mouse di dinding kamar, 05.00 WIB. Oh, berarti Cakra baru pulang dari Masjid, karena kini waktu Subuh bahkan telah lewat. Pantas telapak tangan Cakra yang menangkup pipinya terasa menggigit. Pasti karena baru dari luar. Terpapar udara dingin pagi.
Tapi entah mengapa ia lebih memilih untuk menggerutu daripada memuji ketaatan beribadah Cakra, "Ya ampun, baru jam lima juga! Kamu gangguin orang tidur aja sih?!?"
Namun Cakra justru tersenyum seraya kembali menangkup kedua pipinya. Kali ini lengkap dengan mengusap lembut kulitnya melalui ujung jari, "Bangun, nanti rezeki dipatok ayam."
"CK!" ia kembali menepis tangan Cakra dengan kasar. "Rese banget deh jadi orang! Aku masih ngantuk!"
"Kalau begini, mau bangun nggak?"
Sama sekali tak pernah menduga jika Cakra akan membenamkan diri padanya. Yang tentu saja berhasil memancing gelenyar aneh di seluruh tubuh. Seperti terkena sengatan arus listrik namun sama sekali tak terasa sakit. Justru kian membuainya hingga melayang ke awang-awang.
"Bangun," Cakra melepaskannya perlahan dengan senyum di ku lum. "Malah keenakan...."
"Cakraaa!!!" dengan wajah merah padam akibat malu yang sangat, tangannya memukuli dada Cakra secara bertubi-tubi.
"Sebel!" gerutunya sambil memberengut.
Namun Cakra justru tertawa.
"Aku cape banget tahu nggak sih!" sungutnya sungguh-sungguh. "Badanku pegel semua. Mana paha sakit lagi."
Tapi Cakra lagi-lagi justru tertawa. Kali ini lengkap dengan kerlingan menggoda, "Berarti harus sering-sering, Ja. Biar kamu terbiasa."
"Sering-sering apa?" tanyanya tak mengerti. Namun begitu melihat Cakra tersenyum-senyum penuh arti, membuatnya langsung paham maksud dari kata sering. Hingga kembali memukuli dada Cakra dengan sebal, "Sialan! Dasar omes!"
"Ayo, bangun," Cakra mengusap lembut pipinya. "Katanya mau ke Planetarium. Kita belum punya tiket lho. Harus antre...."
***
Cakra
Ia sedang membantu Mang Jaja menyiram tanaman di halaman samping ketika Anja muncul dari ruang tengah dengan rambut masih setengah basah.
"Kita jalan jam berapa?" tanya Anja sembari mendudukkan diri di ayunan gantung rotan berwarna putih yang terletak di teras samping.
"Terserah kamu siapnya jam berapa."
"Antrenya lama nggak?!"
"Tergantung," jawabnya sambil menyiram deretan daun pandan dan pohon jambu kristal yang baru berbunga.
"Sama banyaknya orang yang juga mau ke sana. Biasanya kalau weekend lumayan penuh," lanjutnya sambil menoleh ke arah Anja.
"Tahu gitu aku nyuruh orang pabrik buat beli tiketnya!" sungut Anja. "Jadi kita nggak usah antre!"
Namun ia tak menghiraukan kekesalan Anja. Lebih memilih untuk membahas hal lain, "Ke planetariumnya naik motor mau nggak?"
"Motor kamu?!" Anja menatapnya curiga.
"Iya," angguknya bangga.
"Nggak ah!" tolak Anja cepat. "Nanti mogok lagi di jalan!"
"Aman kalau sekarang," jawabnya tenang. "Udah di service kemarin."
Tapi Anja tetap memberengut, "Kita kan mau pergi seharian?!"
"Nggak masalah," ujarnya tak kalah tenang. "Motor Abang siap ngantar Eneng kemanapun pergi," selorohnya geli. Seumur-umur belum pernah ia mengatakan hal sejenaka ini. Terlebih kepada seorang gadis.
Tapi rupanya Anja juga sama sekali tak berminat membahas kalimat menggelikan yang baru saja diucapkannya. Justru berkata sambil bersungut-sungut, "Aku mau bawain rumah Barbie buat Sasa. Sama beberapa mainan lain yang lucu-lucu."
"Emang motor kamu muat buat bawa barang segitu sebanyaknya?!" cibir Anja tak percaya.
"Pokoknya banyak," jawab Anja cepat. "Belum nanti kita mampir sebentar ke Kidz Station, aku mau beli Barbie koleksi terbaru."
"Jangan banyak-banyak, Ja," cegahnya kurang setuju. "Rumahku kan kecil. Nanti nggak muat kalau semua mainan kamu bawa."
"Terus, nggak usah beli mainan baru. Mainan lama kamu juga masih bagus-bagus aku lihat."
Namun Anja justru melotot, "Eh! Suka-suka aku dong mau bawa mainan yang mana dan berapa banyak!"
"Kamu bawel banget deh!"
Ia pun hanya bisa menggelengkan kepala sembari tersenyum. Masih menyiram sederet pohon jambu kristal yang tumbuh subur.
"Mana kalau sore suka hujan lagi!" Anja kembali mendecak kesal. "Nggak mau naik motor ah!"
"Lagian mobil juga pada nganggur semua nggak ada yang pakai," imbuh Anja dengan mimik serius. "Ngapain mesti susah-susah pakai motor sih?!?"
Ia tersenyum seraya mematikan selang air dan menggulungnya ke pinggir. Kemudian mendudukkan diri di lantai teras, persis di sebelah Anja yang sedang setengah tiduran dengan kedua kaki diangkat ke atas ayunan gantung.
"Karena aku cuma punya motor, Ja."
"Kan kamu udah dikasih mobil sama Mas Tama?!?"
"Dipinjami kali," ralatnya.
"Terserah apa istilahnya!" sahut Anja cepat. "Yang penting ada mobil nggak kepakai. Ya udah sih kita pakai aja!"
"Daripada panas-panasan naik motor! Belum kalau hujan! Hayo?!"
Ia pun mengalah. Lagipula jarak perjalanan yang akan mereka tempuh lumayan jauh. Belum seabrek mainan bawaan Anja yang seperti orang mau pindahan rumah saking banyaknya. Membuatnya mulai memanaskan kendaraan yang kuncinya ia peroleh dari Mas Tama seminggu lalu.
Dan begitu melihat Anja keluar dari dalam rumah, matanya sempat terpana demi mendapati Anja tampil cantik dengan mengenakan dress pemberiannya semalam. Dengan dipadu outer warna senada. Menjadikan Anja terlihat kian mempesona di matanya. Seperti bidadari.
"Dipakai?" gumamnya dengan senyum di ku lum begitu Anja masuk ke dalam mobil.
Anja balas tersenyum sambil memakai seat belt, namun sejurus kemudian menyalak galak, "Kenapa?! Nggak boleh?!?"
"Cantik," gumamnya jujur. Ya, saat ini Anja terlihat makin segar dan cantik dengan mengenakan dress bermotif floral berwarna lembut. Sangat sejuk dipandang.
"Buruan jalan!" sungut Anja dengan pandangan lurus ke depan.
Sudut matanya sempat melihat jam digital di dashboard menunjukkan pukul 7 lebih sedikit ketika ia mulai melajukan kemudi menuju ke kompleks Taman Ismail Marzuki yang terletak di bilangan Cikini. Arus lalu lintas Sabtu pagi yang lumayan padat membuat laju kendaraan mereka cukup tersendat di sekitar daerah Pesanggrahan sampai Kebon Sirih.
Hingga jarak sejauh kurang lebih 15 km yang harus ditempuh dari rumah Anja menuju Planetarium. Jika dalam kondisi lalu lintas normal bisa dicapai dalam waktu kurang dari 30 menit. Kini mereka harus melaluinya selama hampir satu jam.
"Kalau nggak dapat tiket show pertama gimana?" tanyanya usai memarkir kendaraan agak jauh dari lobby gedung berwarna putih berbentuk kubah setengah lingkaran yang berdiri megah itu. Dengan tulisan berwarna silver berbunyi “Planetarium Jakarta” yang mulai memudar. Sudah pasti tak mendapat tempat parkir yang nyaman, karena mereka datang terlampau siang.
Anja mengangkat bahu, "Selow aja deh. Sedapatnya."
"Kalau emang nggak dapat tiket, kita cari destinasi lain yang nggak kalah menarik," lanjut Anja sembari membuka seat belt.
"Anak pintar," ia sontak mengusap kepala Anja dengan bangga. Namun Anja justru mencibir. Seketika berhasil meledakkan tawanya.
Dengan menggenggam erat tangan mungil Anja, mereka berjalan melewati halaman parkir yang dipenuhi oleh kendaraan. Disertai tiupan angin sepoi-sepoi yang berhasil menerbangkan beberapa anak rambut Anja hingga membuat suasana pagi terasa makin menyenangkan.
Dan begitu melangkah masuk ke dalam gedung, mereka langsung disambut oleh antrean panjang menuju loket. Melewati kursi-kursi yang disusun sedemikian rupa hingga menyerupai labirin. Namun karena saking panjangnya antrean, banyak orang yang berbaris jauh di belakang kursi. Mengular hingga hampir mendekati pintu masuk. Membuatnya berjalan ke arah lain, tak langsung masuk dalam baris antrean.
"Loh?" tanya Anja keheranan. "Mau kemana? Bukannya antre?"
"Cari tempat duduk dulu buat kamu," jawabnya cepat dengan mata nyalang menelusuri seluruh isi ruangan. Namun yang terlihat hanyalah orang lalu lalang. Tak satupun kursi kosong tersedia.
"Aku gampang," Anja memberengut. "Bisa jalan-jalan buat lihat-lihat. Mending kamu cepetan antre daripada nggak kebagian tiket."
Ia pun mengangguk setuju. Segera beranjak ke dalam antrian. Sementara Anja melangkah menuju Exhibition Hall untuk melihat-lihat.
Namun baru juga lima menit mengantre, satpam memberi pengumuman jika tiket untuk teater bintang show pertama telah habis terjual. Membuatnya refleks melihat ke arah layar monitor di kejauhan yang menunjukkan jumlah kursi tersedia. Benar, layar menunjukkan angka 0.
"Itu tadi tiket ke 320 yang terjual. Sudah habis."
"Yaaah....," sebagian besar pengantre di bagian belakang menggumam kecewa.
"Setelah ini ada 80 tiket tambahan," ujar Satpam berusaha menenangkan massa.
Wajah-wajah kesal dan bosan para pengantre pun kembali sumringah. Seolah mendapat angin segar.
"Untuk penonton yang tak mendapat kursi. Alias lesahan," tambah Satpam dengan memasang wajah tenang tanpa dosa.
"Yaaah.....," dengungan kekecewaan dari para tiket hunter lagi-lagi terdengar.
"Nggak papa deh....," gumam sebagian yang lain yang sepertinya masih terlihat antusias meski hanya mendapat tiket lesehan. Mungkin karena sudah terlanjur mengantre lama sejak pagi.
Informasi ini membuatnya menggelengkan kepala. Tak mungkin mengajak Anja menonton teater bintang dengan duduk lesehan. Dan memutuskan untuk keluar antrean meski ia telah berada di barisan tengah.
"Pak," tanyanya menghampiri Satpam yang baru saja memberi pengumuman.
"Kalau untuk show kedua, loket tiket buka jam berapa ya?"
"Jam setengah dua belas, dua jam sebelum pertunjukan."
Waduh, itu berarti masih tiga jam lagi. Yang benar saja. Ia pun buru-buru menghampiri Anja yang tengah melihat-lihat di Exhibition Hall. Mungkin Anja ingin pergi ke tempat lain terlebih dahulu. Sebelum nantinya mereka kembali ke Planetarium dan mengantre lagi untuk tiket show kedua.
Matanya kemudian mulai mencari di antara lalu lalang pengunjung, juga anak-anak setingkat SD dan SMP berseragam sekolah yang sedang mengikuti tur, tak ketinggalan anak-anak kecil yang berseliweran dan bermain-main kesana kemari hingga makin membuat gaduh suasana. Disapukannya pandangan ke seantero Exhibition Hall guna menemukan Anja.
Namun rupanya menemukan sosok Anja di tengah keramaian tidaklah mudah. Ia bahkan harus menyusuri tiap sudut Exhibition Hall sebelum akhirnya berhasil menemukan tubuh mungil Anja di antara hiruk pikuk anak sekolah berseragam SD yang tengah menyaksikan diorama kehidupan bintang.
"Ja," ujarnya begitu ia berdiri di belakang Anja yang tengah khusyu membaca keterangan di salah satu sisi diorama.
"Eh?" Anja menoleh ke arahnya dengan sedikit terkejut. "Udahan?" kernyit Anja heran. "Cepet amat?"
"Tiket show pertama habis," jawabnya sambil mengangkat bahu.
"Oh," Anja hanya berkomentar pendek dan kembali konsentrasi membaca tulisan yang terpampang di depan mereka.
"Jadi gimana?" tanyanya ingin tahu.
"Gimana apanya?!"
"Loket buat show kedua baru buka tiga jam an lagi," ujarnya sembari meringis. "Kamu mau ke tempat lain dulu mungkin?"
Namun Anja menggelengkan kepala. "Tanggung ah. Ntar kalau kita telat ke sini nya, harus antre lagi, apa malah nggak kebagian tiket?!"
"Kamu mau nunggu tiga jam?!" tanyanya heran sama sekali tak percaya.
"Ya udah sih, kita lihat-lihat dulu di sini," jawab Anja tenang. "Nanti kalau bosan tinggal ke Perpustakaan di sebelah."
"Atau kalau lapar tinggal jalan dikit buat makan gado-gado enak."
"Emang kamu mau ke mana dulu?!" tanya Anja dengan dahi berkerut.
"Enggak," selorohnya lega. "Aku sih terserah yang lagi ulang tahun."
"Tadinya khawatir kamu bosan karena kelamaan nunggu."
"Tapi ternyata kamu enjoy," ujarnya sembari memberanikan diri untuk meraih bahu Anja. Dan si pemilik bahu mungil ternyata sama sekali tak menolak rengkuhannya. Membuat senyum di bibirnya kian terkembang.