Beautifully Painful

Beautifully Painful
180. Love of My Life (2)



( II )


Anja


Ia tersenyum ketika memasuki meeting room. Demi mendapati semua orang sedang menyantap makan siang dengan lahap.


"Eh, Ja," seru Tamim. "Lagi pesta nih kita."


Ia tertawa sambil menggelengkan kepala. Begitu menyadari label yang tertera di setiap box makanan bertuliskan Keude Mak Agam.


"Siapa yang order nih?" ia mengambil duduk di salah satu kursi yang kosong.


Lalu meraih sebuah box yang masih tertutup rapat. Begitu dibuka, aroma keharuman rempah yang begitu dikenal langsung menguap memenuhi udara. Aroma kelezatan.


"Gue," jawab Tamim dengan mulut penuh makanan.


"Si Tamim mah nggak bisa lepas dari masakan Mak Agam," seloroh Aulia. "Tiap maksi di sini pasti menunya dari Keude Mak Agam."


"Tapi memang enak sih," imbuh Fajar. "Beneran gue juga ketagihan."


"Ada resep rahasia nih pasti," seloroh Naufal, juga dengan mulut penuh.


Ia hanya tertawa. Lebih memilih untuk menyantap makanan daripada harus menjawab pertanyaan teman-teman satu teamnya.


Awalnya ia hanya berkolaborasi dengan Tamim. Mengadakan pengobatan gratis setiap satu bulan sekali di Kampung Koneng. Mengambil tempat di rumah bidan Karunia yang mudah dijangkau.


Sasaran utama mereka adalah warga dari perkampungan padat penduduk. Yang belum tercover oleh jaminan kesehatan dari pemerintah. Kebanyakan karena terkendala status kependudukan. Membuat mereka tak bisa memperoleh fasilitas gratis dari pemerintah.


Tapi lama kelamaan, bersumber dari informasi mulut ke mulut, pasien yang datang berobat semakin banyak. Dengan keluhan penyakit yang beranekaragam. Beberapa kasus bahkan membutuhkan perawatan intensif dan harus dirujuk.


Atas saran dari Cakra, ia mulai mengajak beberapa kenalan dan kakak tingkatnya selama di Jakun, untuk bergabung dalam program ini. Yang mereka beri nama cinta untuk negeri.


Kini, mereka berlima telah menjadi team yang solid. Jangkauan pelayanan kesehatan yang mereka berikan pun tak lagi terbatas di Kampung Koneng dan sekitarnya. Tapi sudah merambah hampir ke beberapa titik pemukiman kumuh, yang belum terjangkau oleh pemerintah maupun pihak swasta lain. Dengan menggandeng rekanan beberapa perusahaan besar. Memanfaatkan dana CSR (Corporate Social Responsibilities) yang mereka miliki.


Ia masih menyantap potongan ayam tangkap yang terakhir. Ketika Tamim mengeraskan volume siaran televisi. Yang sedang menayangkan breaking news.


"Pada hari yang berbahagia ini, saya bersama-sama dengan Pak Wapres, ingin mengumumkan nama menteri-menteri dan pejabat baru yang akan duduk di anggota Kabinet Indonesia Jaya," kata Presiden di Istana Negara melalui siaran langsung. ©©


"Wah, siapa lengser siapa naik?" seloroh Fajar.


Yang langsung disambut dengan jawaban berbeda dari semua orang. Masing-masing memiliki jagoan tokohnya sendiri.


"Gue sih tetep lah, si Agam pasti jadi," seloroh Tamim seraya mengerling ke arahnya.


Tapi ia tak menjawab. Karena sedang asyik menjilati sela-sela jari, masih lengket akibat sisa bumbu yang menempel.


"Langkah apapun yang extraordinary akan saya lakukan. Untuk rakyat, untuk negara. Bisa saja membubarkan lembaga, bisa saja reshuffle," suara penuh wibawa presiden masih menggema dari layar televisi.


Sementara teman-temannya terus memperdebatkan, siapa saja menteri yang bakal dicopot dan siapa sosok penggantinya. Ketika Presiden mulai mengumumkan nama-nama yang sangat ditunggu.


"Saya akan memperkenalkan satu per satu," lanjut Presiden.


Ia beranjak ke wastafel untuk mencuci tangan. Ketika Tamim berteriak dengan penuh semangat,


"Ja! Habis ini laki lo, Ja!"


Ia masih meratakan cairan pencuci tangan ke seluruh jemari. Ketika terdengar suara Presiden dari layar televisi menyebutkan,


"Kepala BRTN (Badan Riset dan Teknologi Nasional), yang sebelumnya dijabat oleh Prof. Dio Kamadibrata."


"Karena alasan keluarga, beliau memilih untuk mengundurkan diri sebelum masa jabatan berakhir."


"Ya, tentu kita harus tetap mengapresiasi apapun pilihan yang diambil oleh Prof. Dio."


"Untuk selanjutnya saya percayakan kepada...."


***


Mamak Cakra


"Mak, Den Cakra Mak," seru Cucun berkali-kali sambil meremas tangannya.


"Den Cakra masuk TV, Mak."


Ia memperhatikan layar televisi dengan air mata menggenang.


Terlebih ketika layar menyorot pada sosok yang sangat dikenalnya. Mengenakan kemeja seperti yang dilihatnya tadi pagi ketika sarapan. Sedang berjalan dengan setengah berlari menuju ke arah Presiden.


"Teuku Cakradonya Ishak sebagai Kepala Badan Riset dan Teknologi Nasional."


"Alhamdulillah....," gumam Cucun sambil meremas tangannya kuat-kuat.


"Mak, Den Cakra Mak," seru Cucun lagi dengan suara yang lebih antusias. "Jadi pejabat sekarang."


"Selamat ya Mak," kini Cucun telah memeluk tubuhnya erat-erat. "Wilujeng (selamat), Mak. Ngiring bingah (ikut senang)."


"Duh, Den Cakra," gumam Cucun lagi sambil menyusut sudut mata. "Kesampaian juga lihat Aden jadi orang penting."


Sejurus kemudian Cucun telah terisak, "Cucun jadi inget sama Bapak, sama Ibu...."


"Nggak sempat lihat mantu kesayangannya jadi orang penting."


Tanpa sadar ia pun turut menyeka air mata. Teringat akan Pak Setyo dan Bu Niar yang telah mendahuluinya.


"Em ut ka Emak oge (ingat sama Emak -Bi Enok- juga)," lanjut Cucun yang semakin terisak.


"Cucun inget banget. Emak selalu bilang, selama tinggal di rumah Bapak, Den Cakra nggak pernah mau merepotkan Emak sama Abah."


"Baik banget sama Emak sama Abah."


Ia tak menjawab. Karena masih sibuk menyusut air mata yang berjatuhan.


"Aduh, hapunten (maaf) Mamak, abi jadi cirambay kieu (saya jadi berlinang air mata begini)," Cucun menangis sambil tertawa.


"Pokona mah (intinya), abi ngiring bingah. Ayeuna (sekarang) Den Cakra tos (sudah) jadi orang sukses."


"Sing berkah sadayana (berkah semuanya) Mamak, salawasna (selamanya)," Cucun kembali memeluknya erat-erat.


Setelah berhasil menguasai diri dari rasa haru, ia bergumam pelan, "Ini justru ujian yang baru dan berat untuk Agam."


"Kesenangan dan kemudahan, apalagi jabatan, sebenarnya bukan nikmat. Tapi ujian."


"Ujian agar kita selalu mawas diri."


"Ujian agar kita senantiasa berlindung, supaya dituntun dalam setiap langkah."


"Senantiasa memohon, agar mampu untuk jujur dan berbuat adil."


"Tak memanfaatkan kemudahan untuk kepentingan pribadi."


"Apalagi menggunakannya untuk merugikan orang lain."


"Astaghfirullah," ia bergumam dengan suara bergetar. "Jangan sampai."


Cucun menatapnya tak mengerti, "Mamak...nggak seneng Den Cakra jadi pejabat?"


Ia menggeleng, "Bukan tak senang, Cun."


"Tapi harus lebih menguatkan doa."


"Karena...banyak orang bisa lulus jika melalui ujian kesulitan."


"Tapi...jarang ada yang lulus, jika menghadapi ujian kesenangan."


"Berat, Cun."


Cucun semakin menatapnya tak mengerti.


Ia pun kembali memusatkan perhatian pada layar televisi. Dimana Agam terlihat tengah berdiri di antara para menteri dan pejabat negara yang baru.


Setetes air mata kembali jatuh membasahi kulit kering dan keriputnya. Sebab teringat akan Cutbang dan seluruh kisah hidup mereka yang penuh dengan air mata.


"Allohumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu....," bisiknya lirih, melantunkan doa untuk yang tercinta.


***


Sarip


Ia sedang mengawasi para montir yang tengah bekerja di bengkelnya. Ketika siaran breaking news terdengar menggema dari layar televisi.


"Gedein suaranya! Gedein!" serunya pada Echa, anak Bang Naim yang duduk di belakang meja kasir.


"Beberapa menit yang lalu, Presiden baru saja mengumumkan reshuffle kabinet."


"Reshuffle lagi?" komentar salah satu montirnya yang sedang mengganti oli.


"Iya lah. Orang dua menteri kena OTT (Operasi Tangkap Tangan)," jawab yang lain. "Kosong jabatan."


"Belum yang mengundurkan diri," sambung montir satunya lagi. "Sama yang nggak becus kerja."


Ia memutuskan untuk melangkah maju mendekati layar televisi. Agar bisa mendengar dan melihat dengan lebih jelas berita yang sedang ditayangkan.


Ia masih memperhatikan layar televisi. Ketika pembaca berita membacakan nama yang sangat familiar.


"Teuku Cakradonya Ishak sebagai Kepala Badan Riset dan Teknologi Nasional."


Matanya hampir melompat dari tempat semula. Begitu melihat sosok yang sangat dikenal, muncul dalam tayangan televisi. Tengah melambaikan tangan ke arah kamera. Lalu berjalan dengan setengah berlari mendekati Presiden.


"GILA!!" pekiknya keras. "GILA! GILA! GILA!!"


"Kenapa, Cing?!" Echa menatapnya kaget. "Kena sawan, Cing?!" selidik Echa kurang ajar. Persis seperti babenya.


Tak terkecuali seluruh montir yang ada di sana, ikut menghentikan pekerjaan masing-masing. Lalu memperhatikannya dengan penuh tanda tanya.


"Menteri baru siapa, Bos?" seru salah seorang montir ke arahnya.


"Nggak sesuai perkiraan ya, Bos?"


"Bakalan ngaruh ke dunia usaha nggak?"


Tapi ia justru mengepalkan tangan dan bersorak kegirangan.


"Salah satu pejabat itu temen gua! Temen gua!!!"


"Ah, mesti nelepon si Theo sama Sidik nih," geramnya seraya mengambil ponsel dari dalam saku.


"Bos, kenal sama menteri yang baru Bos?"


"Siapa, Bos?"


"Menteri apa, Bos?"


"Yang bener, Bos?"


Tapi ia tak mempedulikan rentetan pertanyaan yang dilontarkan para montir. Karena sedang menunggu nada sambung dari ponselnya.


"WOII! PREN!" serunya ketika terdengar jawaban dari seberang.


"Bucin halu kita jadi pejabat negara oiii, kereeen!!"


"Siapa bucin halu?" pertanyaan Theo di seberang sana jelas terdengar penuh kebingungan.


Tapi ucapan Theo selanjutnya justru terdengar sangat menyebalkan di telinganya.


"Bukannya elu yang bucin halu?!"


"Jadi pejabat apa lu?!?"


"Jangan bilang pejabat di hati bini lu. Eaaaa...."


Suara gelak tawa Theo terdengar membahana dengan sangat menyebalkan.


Benar-benar definisi nyata dari somethings never change (beberapa hal tak pernah berubah), keluhnya sambil menggelengkan kepala.


"Lihat TV elah!! Jangan ngekepin bini muda mulu!!" gerutunya sebal.


"Ada si Cakra noh udah jadi pejabat!!"


"Besok kita samperin ke rumahnya yak!"


***


Anja


Ia masih berkutat di meeting room. Memeriksa setumpuk laporan kegiatan mereka yang memanfaatkan dana filantropi. Sementara Tamim, Aulia, Naufal, dan Fajar telah pulang terlebih dahulu.


Ia melihat pergelangan tangan kiri. Waktu yang ditunjukkan belum terlalu sore. Jadi, sambil menunggu kabar dari Cakra, apakah akan menjemputnya atau langsung bertemu di rumah Mas Tama, ia kembali melanjutkan memeriksa laporan. Sebelum dikirim ke Dikara Foundation, sebagai lembaga penyedia filantropi.


Namun konsentrasinya terusik, ketika layar televisi di dalam meeting room menayangkan berita tentang reshuffle kabinet.


"Berikut profil singkat tujuh menteri dan pejabat setingkat menteri, yang baru saja diumumkan oleh Presiden siang tadi," begitu narasi yang dibacakan oleh news anchor.


Tanpa sadar, tangannya meraih remote. Lalu mengeraskan volume suara.


"Untuk Menteri Perdagangan, kita memiliki wajah lama di jajaran pengambil kebijakan bidang ekonomi." ®®


Ia kembali memeriksa setumpuk laporan. Sambil sesekali mengalihkan pandangan ke layar televisi.


Ia bahkan sudah tenggelam sepenuhnya di depan laporan. Ketika narasi yang disampaikan oleh news anchor membuat wajahnya otomatis mendongak.


"Terakhir adalah Teuku Cakradonya Ishak."


"Putra daerah kelahiran Aceh ini, diketahui mengawali karier sebagai peneliti di Lembaga Sains dan Antariksa Nasional."


Membuat ingatannya kembali terlempar pada masa silam.


Kurang lebih sekitar seminggu usai di wisuda. Ketika ia tengah mengandung Ankaa. Cakra memperlihatkan layar ponsel padanya. Yang menampilkan laman Pengumuman hasil seleksi administrasi Lembaga Sains dan Antariksa Nasional, tahun 2xxx. Dengan nama Cakra di urutan teratas.


Ia mengernyit, "Abang mau kerja?"


Cakra justru tertawa, "Ya atuh, Neng. Udah lulus kuliah...mau ngapain lagi?"


Ia kembali mengernyit, "Baru seleksi administrasi kan? Belum tentu juga diterima."


Cakra mengangguk, "Aku juga masukkin ke tempat lain."


"Sambil nunggu pengumuman beasiswa," lanjut Cakra dengan mata menerawang.


Sejujurnya, jika boleh memilih. Ia lebih suka Cakra memperoleh beasiswa master di Kampus Jakun daripada bekerja. Agar mereka tak lagi terpisahkan jarak.


Kurang lebih dua bulan kemudian. Ketika ia bahkan sudah mulai lupa, tentang bagaimana giatnya Cakra mengikuti tes masuk di berbagai Lembaga pemerintahan maupun perusahaan swasta.


Cakra merengkuhnya sambil tersenyum lebar, "Neng cantik masih kuat nggak kalau jauhan?"


"Kenapa gitu?"


Karena Cakra berhasil memperoleh pekerjaan pertama usai meraih gelar sarjana. Yaitu sebagai peneliti di Lembaga Sains dan Antariksa Nasional.


"Bandung lagi?" tanyanya antara meringis dan tertawa. Karena Cakra mendapat penempatan di Bandung.


Namun dalam sekejap, kesadarannya kembali ke masa kini.


Dimana news anchor menyebutkan, "Cakradonya berhasil menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan tingginya di kampus Ganapati."


"Selama menjadi peneliti di Lembaga Sains, Cakradonya diketahui telah berhasil mempublikasikan sejumlah jurnal ilmiah internasional."


"Dan keputusan presiden menunjuk Cakradonya menjadi kepala BRTN (Badan Riset dan Teknologi Nasional). Berhasil memicu kesangsian dari beberapa pengamat."


Kini layar televisi terlihat menayangkan gambar seorang pengamat. Yang sering dilihatnya malang melintang di setiap berita panas perpolitikan negeri.


"Saya tidak bisa menebak apa yang menjadi pertimbangan presiden," begitu kata pengamat.


"Karena secara kualitas terlalu jauh gapnya dengan Kepala BRTN sebelumnya."


"Yang kita semua tahu meski masih muda, beliau sangat kompeten di bidangnya."


"Tapi untuk pejabat yang baru ini....," pengamat menggelengkan kepala.


"Kita lihat saja ke depan. Gebrakan seperti apa yang akan dibuat untuk kemajuan riset dan teknologi negara kita."


Ia langsung meraih remote dan mematikan layar televisi. Sebab merasa sedikit kesal dengan komentar yang baru saja diberikan oleh pengamat.


Ia tentu saja menjadi saksi, usaha seperti apa yang dilakukan Cakra selama menjadi peneliti. Meski memang belum sementereng pejabat sebelumnya.


Ia ingat betul ketika Cakra masih menjadi peneliti pertama. Dengan gaji standar seorang pegawai negeri sipil yang baru diangkat. Belum cukup untuk mengcover semua biaya hidup yang biasa ia jalani.


Tapi Cakra adalah Cakra. Selalu ingin mempersembahkan yang terbaik. Tak berhenti berkarya dengan melakukan riset dan menghasilkan jurnal ilmiah terbaru. Bahkan untuk issue yang belum pernah diangkat sebelumnya. Berhasil memberikan penemuan baru di bidangnya.


Hingga dalam waktu yang tergolong singkat, Cakra berhasil menapak ke jenjang yang lebih tinggi. Dari peneliti pertama menjadi peneliti muda. Berlanjut ke peneliti madya. Dan terakhir berhasil menjadi peneliti utama. Sampai akhirnya bisa menduduki jabatan struktural.


Ia paham betul bagaimana Cakra bisa berada di titik sekarang ini. Bukan karena usaha sehari dua hari. Tapi dedikasi dan keuletan sepanjang waktu.


Kini ia memandangi setumpuk laporan dengan kening mengkerut. Moodnya mendadak hilang untuk melanjutkan pemeriksaan. Hatinya tiba-tiba mendongkol hanya karena statement seorang pengamat politik.


Ia pun menghembuskan napas.


Mungkin memang sudah menjadi hukum alam. Dimanapun kita berada dan apapun posisi kita, tetap akan ada orang lain yang mengecilkan arti.


Ia kembali menghembuskan napas. Kali ini lebih panjang.


Memutuskan untuk membereskan setumpuk laporan. Agar bisa dibawa pulang ke rumah. Ketika pintu meeting room diketuk. Lalu terbuka dari arah luar.


***


Keterangan :


©©. : terinspirasi dan dikutip dari berita yang terbit di cnnindonesia edisi 22 Desember 2020


®®. : terinspirasi dan dikutip dari berita yang terbit di kompas.com edisi 22 Desember 2020