Beautifully Painful

Beautifully Painful
145. Best Decision, Ever



Anja


Ia pun segera menghubungi Kak Aneesha. Nama yang tertera di dalam kartu berwarna biru, dengan logo Adhitama Studio yang diberikan oleh Cakra semalam. Guna mendapatkan jadwal photoshoot.


"Anjani adiknya Mas Sada ya?" jawab suara riang di seberang sana.


"Betul, Kak. Maaf baru bisa menghubungi sekarang."


"Nggak apa-apa, santai aja."


"Tapi besok kami sudah ada jadwal pemotretan. Gimana kalau lusa?"


"Jadi, masih ada waktu untuk memilih tema photoshootnya."


"Boleh, Kak."


Dengan perasaan tak sabar, ia menunggu Cakra pulang bekerja di sore hari. Malamnya, barulah ia bisa meminta Cakra untuk bersama-sama memilih tema newborn photoshoot.


Tapi Cakra hanya menjawab dengan nada santai, "Udah...terserah kamu."


"Tema olahraga lucu ya," ujarnya seraya memperlihatkan album sample newborn photoshoot bertemakan olahraga. Yang tadi sempat dikirimkan oleh Kak Aneesha via email.


"Hmmm."


"Tema profesi juga lucu....," gumamnya sambil memandangi foto-foto bayi yang mengenakan baju serta atribut dokter dan juga pilot.


"Atau superhero?" kini ia menunjuk foto bayi yang tengah memakai kostum superhero dengan pose menggemaskan.


Cakra berusaha mendekatkan wajah mereka berdua agar bisa melihat sample foto dengan lebih jelas.


"Aku ngikut aja," bisik Cakra tepat di telinganya. Yang berhasil membuat sekujur tubuhnya meremang.


Namun ia langsung merengut, "Ck!!"


Jelas merasa sebal dengan jawaban automatically yang diberikan oleh Cakra.


"Kamu tuh ya, kalau diajak diskusi pasti terserah....terserah...."


"Kasih pendapat kek....apa kek...."


Tapi Cakra hanya tertawa seraya melingkarkan lengan mengelilingi bahunya, "Percaya deh sama pilihan istriku...."


Ia hanya mencibir sambil terus melihat-lihat album sample newborn photoshoot.


Dan setelah hampir satu jam memilih-milih tema. Dengan interupsi beberapa kali sebab Aran menangis ingin nen.


Akhirnya ia berhasil memilih tema newborn photoshoot. Yang menurutnya paling unik dan lucu untuk Aran.


Lalu mengirimkannya melalui email pada Kak Aneesha. Agar crew Adhitama Studio bisa mempersiapkan properti yang dibutuhkan. Untuk pengambilan foto esok hari.


Namun ketika ia hendak mematikan laptop, Cakra keburu menahannya.


"Kenapa? Kamu mau pakai?"


Cakra mengangguk. Lalu mengambil alih duduk tepat di depan laptop.


"Atau kamu mau bantu?" Cakra mengerling ke arahnya seraya menyunggingkan senyum penuh arti.


"Bantu?" ia justru mengernyit karena benar-benar tak mengerti.


"Bantu bikin surat resign."


"Besok pagi mau kuajukan ke kantor."


Ia menatap tepat di kedua mata Cakra. Tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Sebab saking gembiranya. Tak pernah menyangka, jika lima hari yang dijanjikan Cakra, ternyata bisa dipersingkat waktunya.


"Kamu....," ia tak mampu lagi menyembunyikan rasa suka cita. Pandangannya bahkan mendadak buram dipenuhi kaca. Hingga raut wajah Cakra berubah menjadi kabur.


Tapi ia tahu pasti, jika Cakra balas menatap matanya sambil terus menyunggingkan senyum.


Senyum itu.


Ia bahkan masih terpana ketika Cakra menyusut air mata yang membasahi kedua pipinya. Kemudian tanpa peringatan apapun, telah menyentuhkan wajah mereka berdua.


Dekat, perlahan, terasa begitu mendamba. Membuat mereka berdua menyatu dengan penuh kehalusan.


Kian dalam mendesak, melambungkan ke awan, hingga yang tersisa di dirinya hanyalah keindahan dan kebahagiaan.


"Kamu mau bantuin nggak?" seloroh Cakra setelah mereka saling melepaskan diri.


"Besok pagi langsung kuserahkan ke Bang Nugie. Checkman di section ku."


"Biar langsung diproses."


"Karena pengajuan resign lumayan memakan waktu ternyata."


"Kurang lebih semingguan."


Ia hanya bisa mendengarkan Cakra berbicara. Sambil terus menggigit bibir yang terasa tebal juga panas. Akibat hal menyenangkan yang baru saja mereka lakukan.


"Jadi...," Cakra menangkup kedua pipinya dengan telapak tangan yang besar dan hangat. "Tuan putri harap bersabar."


Ia sontak tertawa meski sembari setengah terisak. Begitu mendengar Cakra memanggilnya dengan sebutan tuan putri.


"Karena aku baru mau mengisi data camaba....setelah surat resign dari kantor keluar."


Ia masih mencampur adukkan senyum penuh kebahagiaan dengan sedu sedan. Ketika jemari Cakra mulai menyusuti sudut matanya dari sisa buliran bening air mata.


"Aku bantuin....," bisiknya usai menelan ludah berkali-kali.


"Aku mau bantuin kamu bikin surat resign."


***


Cakra


Ia tersenyum-senyum sendiri memperhatikan Anja yang sedang mengetik surat pengunduran dirinya. Wajah Anja terlihat merona akibat terlalu bersemangat.


"Sip!" Anja menekan tuts keyboard dengan sedikit hentakan di penghujung surat. "Udah selesai."


Kemudian terdengar suara mesin printer yang menyala.


Sambil terus menyunggingkan senyum, Anja beranjak menghampiri printer. Lalu mengambil selembar kertas ajaib yang baru bisa diputuskannya setelah sekian lama.


"Taraaa....," Anja melambaikan kertas yang akan menjadi titik balik bagi masa depannya itu.


"Aku kasih tahu Mama sama Papa ya?" Anja meminta persetujuannya.


Tapi sebelum ia sempat menjawab, Anja sudah keburu melangkah panjang-panjang keluar kamar.


"Udah malam, Ja," ia berusaha mencegah. "Mama sama Papa mungkin udah tidur."


Namun Anja telah lebih dulu membuka pintu kamar dan berjalan keluar. Membuatnya segera bangkit guna mengikuti langkah Anja. Setelah sebelumnya menengok ke arah Aran. Memastikan jika Aran masih terlelap dan dalam keadaan aman.


Ketika sampai di luar kamar, ia melihat Mama dan Papa Anja masih duduk di sofa ruang tengah. Dengan televisi menyala dalam volume suara yang cukup keras.


Tengah menayangkan gelar wicara dari berbagai narasumber kompeten. Yang sedang membahas topik tentang masalah hukum dan politik terkini.


Sementara Anja telah mengambil duduk di antara beliau berdua sambil tersenyum lebar. Memperlihatkan kertas yang baru selesai di print.


"Alhamdulillah," ucap Mama Anja dengan nada suara yang terdengar amat lega. Begitu membaca isi surat yang diperlihatkan oleh Anja.


"Akhirnya," Mama Anja tersenyum ke arahnya sembari mengacungkan jempol.


Sementara Papa Anja masih berusaha mencari-cari kacamata untuk membaca isi surat.


"Nih, Pa," Anja meraih kacamata yang tersimpan di atas meja. Kemudian memakaikannya.


"Besok....," ujar Anja seraya memeluk Papanya. "Cakra mau ngajuin surat resign ke AxHM."


"Karena....," kini Anja telah mengeratkan pelukan pada Papanya. "Cakra mau kuliah."


"Anja seneeeeeng banget....," gumam Anja sambil terus memeluk Papanya.


Sementara Papa Anja usai membaca surat resign miliknya, langsung melepas kacamata lalu menyusut sudut mata.


"Akhirnya....kamu membuat keputusan yang tepat," ucap Papa Anja dengan nada suara yang cukup tersendat.


"Terimakasih, Cakra."


"Papa bangga sama kamu."


Dan sepanjang malam, Anja tidur sambil terus memeluk tubuhnya. Seolah enggan untuk melepaskan walau barang sejenak.


***


Cakra


Pagi ini ia sengaja berangkat kerja jauh lebih awal. Karena berniat menemui Bang Nugie terlebih dahulu untuk menyerahkan surat resign.


"Jadi juga lu habis kemarin nanya-nanya?" seloroh Bang Nugie begitu menerima amplop panjang berwarna putih darinya.


"Jadi, Bang."


"Dapat kerjaan baru di mana?" Bang Nugie membuka amplop lalu mengeluarkan lembaran surat.


"Lebih bagus gajinya?" lanjut Bang Nugie sembari membaca isi surat resign miliknya.


"Bukan tentang kerjaaan, Bang."


"Terus?"


"Saya mau lanjut kuliah."


Air muka Bang Nugie mendadak berubah, "Kuliah di mana?"


"Ikut kelas karyawan?"


"Kalau iya nggak perlu ngajuin resign."


"Lu bikin surat pengajuan dispensasi waktu kerja aja. Jadi bisa jalan dua-duanya."


Ia menggeleng, "Kuliahnya bukan di Jakarta, Bang. Tapi di Bandung."


"Saya....diterima kuliahnya di Bandung, Bang."


Bang Nugie masih mengernyit, "Jadi anak rantau lu."


Ia tersenyum sambil menundukkan kepala.


"Ya udah. Nanti gua ajukan dulu ke atasan. Paling semingguan."


"Nanti gua kabari kalau udah di acc."


"Terimakasih, Bang."


Dan hari ini ia lebih bersemangat dalam bekerja. Seolah merasa, jika ini adalah hari terakhirnya berstatus sebagai seorang operator produksi. Padahal surat resign baru diajukan. Belum juga di acc. Namun entah mengapa, hatinya sudah menyiratkan perpisahan.


"Tadi pagi gua ngajuin surat resign," ujarnya sore ini saat jam keluar shift pertama. Ketika ia dan trio Sunter sedang berjalan beriringan menuju ke tempat parkir.


Sontak membuat Sarip, Theo, dan juga Sidik menghentikan langkah. Sambil menatapnya dengan ekspresi tak percaya.


"Makanya gua kasih tahu sekarang," lanjutnya geli demi melihat ekspresi melongo ketiga sahabatnya itu.


"Biar nggak pada kaget."


"Jir!" Theo mencibir. "Ngeprank kita lu!"


Sarip bahkan memelototinya, "Lu salah makan apa waktu istirahat tadi?"


"Apa jangan-jangan susu yang tadi lu minum udah kadaluwarsa?" tanya Sidik sembarangan. "Bikin otak lu geser."


Ia hanya tertawa meski tanpa suara. Begitu melihat reaksi trio Sunter.


"Serius gua," ujarnya sambil melanjutkan langkah yang sempat terhenti.


"Info dari Bang Nugie prosesnya semingguan sampai di acc."


"Jadi....ini mungkin seminggu terakhir gua kerja di sini."


Sarip yang masih melotot sontak memukul bahunya keras-keras. "Bang ke lu! Serius?!"


"Serius," jawabnya sambil tertawa.


"Kenapa pada kaget sik?" tanyanya tak mengerti.


"Ah, nggak rame lu!" sungut Theo yang masih menatapnya tak percaya.


"Susah susah ikut tes masuk. Sampai ikut training macam mau jadi tentara di Cileungsi. Lu malah pilih resign?" tanya Sidik tak mengerti. "Gila nggak sih?!"


"Baru juga tanda tangan kontrak, udah resign aja," Theo menggelengkan kepala tak percaya.


"Gua mau lanjut kuliah," gumamnya hampir tak terdengar.


"Kuliah kan bisa sambil kerja, elah!" Theo masih bersungut-sungut.


"Gua mau kuliah di Bandung."


"Jir!" Sarip kembali memelototinya.


"Double jir!" sahut Sidik yang kini ikut memelototinya.


"Jauh amat?" Theo mencibir. "Kayak di sini nggak ada kampus aja."


Ia hanya tersenyum samar.


"Nggak bener ini sih," Sarip ikutan mencibir.


"Udah dipikir baek baek lu?" Theo jelas konsisten mencibirnya.


Ia hanya mengangguk sambil terus tersenyum samar.


Sejurus kemudian, mereka berempat sama-sama terdiam. Ia memandang jauh ke depan. Sarip menunduk untuk menekuri ujung sepatu. Sementara Theo dan Sidik sama-sama menengadahkan wajah ke atas.


Hanya terdengar suara motor yang di stater. Dan suara deru mesin motor milik teman-teman mereka yang berseliweran meninggalkan area parkir.


"Mesti ada pesta perpisahan nih," ucapan Sarip memecah kesunyian di antara mereka berempat.


"Bener...bener....," Theo mengangguk-anggukkan kepala.


"Setuju!" Sidik bahkan mengepalkan tangan kanan ke atas dengan penuh semangat.


"Perpisahan nanti gampang, kalau pengajuan resign gua udah di acc."


"Siiip lah!" jawab Sarip, Theo, dan juga Sidik serempak sambil mengacungkan jempol.


Kemudian tanpa pernah diduga, tiba-tiba trio Sunter merangkul bahunya dalam waktu yang bersamaan. Membuat tubuhnya oleng sebab tak siap menerima serbuan dari tiga orang sekaligus.


"Sukses di Bandung bro!"


"Jadi mahasiswa euy, keren!"


"Kapan kapan mampir ke Cimindi ke rumah gua."


Ia hanya tertawa membalas selorohan trio Sunter. Yang sepanjang langkah menuju motor masing-masing, terus mendorong-dorong punggungnya sambil bercanda.


***


Cakra


Begitu melajukan motor masuk ke halaman rumah Anja, dilihatnya dua buah mobil telah terparkir.


"Ada tamu, Mang?" tanyanya pada Mang Jaja yang tengah merapikan taman di halaman samping. Sembari menunjuk mobil jenis city car warna biru dan sebuah MPV warna hitam yang terparkir di halaman.


"Tamunya Neng Anja, Den. Mau ada acara foto atau apa gitu."


Ia mengangguk mengerti, "Makasih, Mang."


Kemudian buru-buru mencuci tangan sebelum masuk ke ruang tengah melalui teras samping.


"Eh....ini suami aku baru pulang," seru Anja riang begitu melihatnya muncul di pintu ruang tengah.


Dilihatnya beberapa orang yang mengenakan seragam bertuliskan Adhitama Studio di bagian punggung, tengah sibuk menyusun properti di ruang tengah.


Sementara seorang wanita bermata sipit yang memegang kamera dan satu pria bertubuh atletis, sedang duduk mengerumuni Anja dan Aran yang tengah tertidur nyenyak. Seolah tak terganggu dengan kehadiran banyak orang di sekitar.


"Kak Aneesha....kenalin nih, suami aku...."


Ia tersenyum sambil menyalami wanita yang rautnya terlihat amat mirip dengan vokalis grup musik gambus yang sedang naik daun.


"Cakra."


"Aneesha."


"Kalau Kakak yang ini....pacarnya Kak Aneesha," seloroh Anja sambil menunjuk ke arah pria yang telah lebih dulu mengulurkan tangan padanya.


"Tara."


Ia tersenyum mengangguk, "Cakra."


Sementara Kak Aneesha langsung mencibir ke arah Anja dengan wajah bersemu merah.


"Maaf, baru bisa gabung," ujarnya sungguh-sungguh. Karena Anja bilang, photoshoot dilakukan sejak siang hari.


"Enggak kok," Kak Aneesha menggelengkan kepala. "Justru kami yang minta maaf."


"Karena telat datang tadi."


"Telat banget dari waktu yang dijanjikan malah."


"Gara-gara nungguin ini nih," kini Kak Aneesha mencibir ke arah Kak Tara. Yang hanya dibalas oleh Kak Tara dengan senyum lebar dan gelengan kepala.


"Ada acara mendadak," sungut Kak Aneesha.


"Iya...iya....Sori...," Kak Tara masih tersenyum sambil mengusap puncak kepala Kak Aneesha.


Kalau begini, ia percaya dengan ucapan Anja tadi. Yang mengatakan jika Kak Aneesha dan Kak Tara adalah sepasang kekasih.


"Family photoshootnya nanti di akhir ya, Cakra," ujar Kak Aneesha setelah mereka berbasa-basi sebentar.


"Kami selesaikan photoshoot baby Aran dulu."


"Baik, Kak."


Ia pun memperhatikan bagaimana Kak Aneesha, yang dibantu oleh beberapa crew kembali melanjutkan sesi photoshoot Aran.


Semua crew yang bertugas, termasuk Kak Aneesha dan Kak Tara, menerapkan prosedur standar kesehatan dengan sangat baik. Semaksimal mungkin menjaga semua tetap dalam kondisi higienis dan steril. Sebab Aran baru berusia kurang dari dua minggu. Masih rentan terserang penyakit karena sistem imun yang masih lemah.


Seluruh crew Adhitama Studio mengenakan masker selama proses photoshoot Aran berlangsung. Kak Aneesha bahkan berkali-kali mencuci tangan sebelum menyentuh Aran untuk mengarahkan gaya.


Dan proses pengambilan foto juga dilakukan dengan cepat, lembut dan dalam mode silent. Agar tak sampai mengganggu kenyamanan Aran yang sedang tertidur lelap.


Team Adhitama Studio bahkan melengkapi berlangsungnya proses photoshoot dengan heater, yang menjaga suhu ruangan tetap hangat. Dan baby shusher supaya Aran tetap tenang selama proses photoshoot berlangsung.


Benar-benar apa yang di rekomendasikan oleh Teh Dara adalah yang terbaik.


***


Keterangan :


Baby Shusher. : adalah alat yang mengeluarkan suara zzzzzzz zzzzzzz seperti ketika hendak menidurkan bayi. Efeknya bayi lebih tenang lalu tertidur nyenyak


SPOILER ALERT :


Readers tersayang,


Aneesha (Adhitama Studio) adalah tokoh utama dalam novel karya author Desi Desma, dengan judul :


"Hati Sang Pewaris."


Dipersilakan berkunjung bila berkenan 🤗