
Anja
"Kamu mau makan dulu nggak sebelum mulai regis?" tawar Cakra ketika mereka berjalan dari toilet.
"Ntar di dalam nggak bisa makan lho," lanjut Cakra lagi. "Harus nunggu sampai proses regis selesai."
Tadi sebelum berangkat, Bi Enok sempat membekali mereka dengan tiga box makanan. Entah berisi apa karena ia sendiri belum sempat membukanya. Mungkin sejenis cemilan yang bisa mengganjal perut selama ia melakukan proses registrasi administrasi.
"Belum terlalu lapar sih," jawabnya sambil melirik pergelangan tangan kiri. Tinggal tersisa dua jam lagi waktu registrasi administrasi untuk FKG.
"Ntar aja deh habis regis baru makan. Biar tenang," pungkasnya sambil memperhatikan keseluruhan lantai dasar Balairung yang telah dipadati oleh para camaba dan panitia.
"Tunggu ya," ia tersenyum ke arah Cakra yang masih berdiri tepat di belakang jalur antrean yang menuju ke dalam alur registrasi.
Cakra mengangguk sambil mengacungkan jempol, "Semua berkas aman nggak ada yang ketinggalan kan?"
Ia balas mengacungkan jempol. Lalu mulai menempatkan diri di dalam antrean.
Sambil mengantre ia mengeluarkan ponsel. Lalu membuka-buka sosmed untuk mengisi waktu.
Namun tanpa harus menunggu lama, kini ia telah tiba di bagian ujung depan antrean. Dimana terdapat sederet meja yang dijaga oleh para kakak tingkat. Bertugas untuk memeriksa seluruh dokumen persyaratan yang mereka bawa.
"Ya, lengkap," ujar kakak tingkat berkacamata yang memeriksa berkasnya. "Langsung antre di loket satu."
"Terimakasih, Kak."
Di loket 1 ia harus menyerahkan lembaran kertas yang menerangkan bahwa ia telah lolos tahap pemeriksaan kesehatan. Yang diperolehnya dari Klinik Satelit tadi. Kemudian ditukar dengan kwitansi pengambilan jaket kuning.
Usai serah terima kwitansi, ia dipersilakan untuk mencoba pilihan ukuran jaket kuning yang tersedia. Lalu memilih ukuran yang paling pas. Dan menuliskan ukuran pilihan pada selembar kwitansi yang telah diberikan.
Dari loket 1 ia beranjak menuju ke loket 2. Dalam alur antrean yang tak terlalu panjang.
Sesampainya di loket 2, ia dipersilakan untuk melakukan pemindaian sidik jari. Guna melengkapi identitas diri sebagai mahasiswa baru.
Informasi sidik jari ini sangat berguna ketika terjadi kesalahan dengan akun mahasiswanya. Seperti jika ia salah memasukkan password, lupa password, atau bahkan password expired.
Kemudian ia beranjak ke loket 3. Tempat dimana proses registrasi administrasi dilakukan.
Di sini ia harus memperlihatkan beberapa dokumen asli. Lalu mengumpulkan seluruh berkas yang disyaratkan dan telah dilegalisasi. Termasuk surat pernyataan hasil unduhan dari laman website camaba Jakun yang ditandatangani di atas materai.
Proses di loket ketiga ini memakan waktu yang paling lama. Sebab ada banyak dokumen yang harus diserahkan untuk diperlihatkan sekaligus diverifikasi oleh para petugas.
Setelah menyelesaikan proses administrasi di loket 3, ia langsung menuju ke loket 4. Dimana tim Samaru (sahabat mahasiswa baru) telah siap menyambut kedatangan para maba (mahasiswa baru).
Tim Samaru terdiri dari para kakak tingkat yang berasal dari seluruh fakultas. Dipilih oleh Direktorat Kemahasiswaan. Untuk membantu memberikan penjelasan tentang informasi menyeluruh mengenai Kampus Jakun.
"Kita kayaknya pernah ketemu nggak sih?" menjadi sapaan pertama begitu ia mendudukkan diri di hadapan seorang kakak tingkat salah satu anggota tim Samaru.
Tapi ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Anjani Prameswari, FKG," gumam kakak tingkat tersebut ketika membaca berkas yang disodorkannya.
"Erzal Syahreza," lanjut kakak tingkat tersebut sambil tersenyum. "Itu nama saya."
Ia balas tersenyum dan mengangguk.
Kemudian dengan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti, Erzal mulai menjelaskan tentang lingkungan kampus, biaya pendidikan, tata-tertib kehidupan kampus, kegiatan kemahasiswaan, informasi beasiswa, termasuk kehidupan di lingkungan kampus.
"Kalau ada yang mau ditanyakan bisa langsung potong omongan saya," ujar Erzal. Mungkin karena ia hanya diam mendengarkan tanpa memberikan komentar apapun.
"Nggak perlu nunggu saya selesai ngomong," lanjut Erzal lagi.
Ia mengangguk tanda mengerti.
Erzal lalu memberinya selebaran kertas yang berisi kalender akademik serta jadwal Kamaru Jakun (kegiatan mahasiswa baru).
Erzal juga menjelaskan secara rinci tentang kegiatan awal Kamaru yang akan ia jalani selama kurang lebih satu bulan ke depan.
Mulai dari kapan waktu pembukaan Kamaru, Latihan Paduan Suara, Orientasi Belajar Mahasiswa Baru (OBMB), Upacara Kemerdekaan Indonesia, Pengenalan Sistem Akademik Universitas (PSAU), Display UKM, Program Cinta Kampus (PCK), Orientasi Kegiatan Kampus Jakun (OKKJ), Rangkaian Orientasi Fakultas dan Departemen, Penyambutan Mahasiswa Baru, serta Ujian Komprehensi Bahasa Inggris.
"Kamu benar-benar nggak tertarik untuk bertanya ya," seloroh Erzal karena ia tetap diam seribu bahasa. Hanya sesekali menganggukkan kepala sebagai tanda memahami informasi yang sedang disampaikan.
"Nanti dari sini, setelah menyelesaikan seluruh rangkaian proses registrasi administrasi dan memperoleh KTM (kartu tanda mahasiswa) di loket terakhir...."
"Kamu bisa datang ke acara Welmab (welcoming mahasiswa baru) yang ada di bagian sayap."
"Nanti akan ada kakak kakak yang memberi arahan kamu harus ke stand mana dan melakukan apa."
"Baik, Kak."
"Oke Anjani, welcome to the club," Erzal tersenyum. "Silakan sekarang bisa langsung ke loket selanjutnya."
Di loket terakhir, ia harus mengumpulkan seluruh berkas persyaratan sebagai tanda hadir. Lalu menunggu hingga namanya dipanggil.
Setelah menunggu selama hampir setengah jam, seorang petugas memanggil namanya. Kemudian menyerahkan KTM dan selebaran yang bertuliskan username serta password sementara akun mahasiswa Jakun.
"Username dan password ini dipergunakan untuk login ke laman profile.jakun.ac.id," terang petugas.
"Kami anjurkan untuk segera mengubah password."
"Setelah itu bisa kembali membuka laman academic.jakun.ac.id. Untuk melengkapi isian data mahasiswa baru."
Ia mengangguk tanda mengerti.
"Untuk kwitansi pengambilan jaket kuning, harap disimpan baik-baik," imbuh petugas tersebut.
"Bisa ditukarkan setelah menyelesaikan seluruh kegiatan Kamaru," pungkas petugas tersebut yang menandai selesainya rangkaian proses registrasi administrasi.
Ia tersenyum begitu melangkah melewati pintu keluar alur registrasi. Sebab mendapati Cakra telah menunggu tak jauh dari akses keluar maba.
"Taraaaa....," dengan senyum terkembang ia memperlihatkan smartcard berwarna dasar hitam dan kuning ke arah Cakra. KTM nya sebagai tanda bahwa ia telah resmi menjadi mahasiswa Jakun.
Cakra ikut tersenyum sembari meraih smartcard yang dipamerkannya. Lalu memperhatikan deret tulisan yang tertera di atas smartcard sambil bergumam, "Benar, jujur, adil."
"Kereeeen," Cakra meraih bahu untuk merengkuhnya.
"Beres semua?" tanya Cakra sembari mengusap lengannya perlahan.
"Belum," jawabnya sambil menunjuk sederet stand yang berada di sisi sebelah timur dan barat.
"Harus ke sana dulu," lanjutnya sembari memasukkan KTM yang diangsurkan Cakra ke dalam sling bag.
"Ada sosialisasi kegiatan mahasiswa baru gitu deh," ia mengangkat bahu.
"Oke," Cakra mengangguk. "Kalau begitu kita kemon."
Di stand yang berada paling depan sekaligus berukuran paling besar dengan background mencolok bertuliskan "Welcoming Mahasiswa Baru Jakun."
Terlihat sederet kakak tingkat telah bersiap menyambut kedatangan mereka para mahasiswa baru.
"Halo, maba ya maba?" sapa seorang kakak tingkat berwajah ramah yang langsung menyambutnya.
Ia mengangguk.
"Kenalin, nama gue Farrel Hadian dari Fakultas Hukum," kakak tingkat tersebut mengulurkan tangan.
"Anjani Prameswari, FKG," jawabnya yang segera menyambut uluran tangan tersebut. Termasuk Cakra.
"Kalau lo Fakultas apa?" tanya Farrel ke arah Cakra.
Cakra tersenyum canggung sebelum menjawab, "Teknik."
Yang langsung Cakra tambahkan dengan, "Tapi dari kampus tetangga."
"Wah, jadi statusnya di sini bukan maba tapi sebagai pengawal Anjani nih?" seloroh Farrel yang langsung disambut gelak tawa mereka bertiga.
Kemudian dengan bahasa yang lugas dan enak didengar, Farrel mulai menjelaskan secara singkat gambaran tentang kegiatan apa saja yang akan dilakukan oleh mahasiswa baru. Tak jauh berbeda seperti penjelasan yang disampaikan oleh Erzal di loket 4 tadi.
Farrel juga mengulas sedikit tentang sejumlah UKM (unit kegiatan mahasiswa) yang ada di Jakun.
"Jadi di sini ada tiga stand yang harus kamu datangi secara berturut-turut," kini Farrel mulai menjelaskan apa yang harus dilakukannya di stand Welmab ini.
"Pertama stand OKKJ," Farrel menunjuk stand yang terletak paling dekat dengan stand Welmab.
"Kedua stand Keagamaan."
"Lalu ketiga stand Fakultas," ujar Farrel dengan tangan menunjuk ke deretan paling ujung. "FKG di sebelah sana."
"Sebelahan sama Farmasi dan MIPA."
Di sini seorang kakak tingkat kembali menyambut kedatangan mereka. Lalu mulai memberi penjelasan tentang kegiatan apa saja yang ada dalam OKKJ.
Di stand OKKJ ini ia menyempatkan untuk membeli beberapa merchandise.
Ia bahkan langsung mengambil dua buah official t-shirt sekaligus. Yang memiliki desain unik dan menarik perhatian.
Sementara Cakra lebih tertarik untuk memperhatikan official notebook hardcover yang berdesain tak kalah uniknya.
Cakra masih memperhatikan beberapa desain official notebook ketika ia tiba-tiba iseng memakaikan topi ke kepala Cakra.
"Keren," gumamnya puas. Dan langsung memasukkan official cap (topi resmi) tersebut ke dalam daftar merchandise yang hendak dibeli.
Cakra hanya tersenyum memperhatikan tingkahnya.
Dari stand OKKJ ia segera bergabung ke stand keagamaan. Dimana seorang kakak tingkat yang menyambut kedatangan mereka, menjelaskan perihal tentang unit kegiatan keagamaan apa saja yang bisa ia ikuti selama berada di kampus.
Usai menyambangi stand keagamaan, mereka harus berjalan cukup jauh untuk menuju ke stand Fakultas Kedokteran Gigi.
Setelah melewati stand Fasilkom (fakultas ilmu komputer), FKM (fakultas kesehatan masyarakat), Vokasi (Diploma 3), dan FIB (fakultas ilmu pengetahuan budaya), mereka akhirnya sampai di stand Fakultas Kedokteran Gigi. Tepat bersebelahan dengan stand Fakultas Farmasi dan FMIPA.
Dua orang kakak tingkat langsung menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Dan mempersilakan untuk bergabung dengan sesama maba di bagian tengah stand. Untuk mendapatkan penjelasan dari pihak BEMF (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas).
Ia baru hendak mengambil duduk di tempat yang kosong, ketika seseorang terdengar meneriakkan nama panggilan Cakra.
"Agam! Agam!"
Ia dan Cakra serempak menoleh ke arah suara.
"Udah selesai regis?" sapa seorang gadis berjaket kuning. Dengan senyum terkembang menghampiri mereka berdua.
Salma.
"Udah," jawabnya sambil melirik ke arah Cakra yang tersenyum kikuk.
"Aku jaga di sebelah tuh," Salma menunjuk ke arah stand Fakultas Farmasi yang letaknya memang bersebelahan dengan stand FKG.
"Nanti mampir ya. Ditunggu lho."
Ia dan Cakra belum sempat menjawab, namun Salma sudah keburu pergi.
Di stand FKG, seorang kakak tingkat yang memperkenalkan diri sebagai kadiv adkesma BEMF (kepala divisi advokasi kesejahteraan mahasiswa BEM Fakultas), memberikan informasi mengenai kegiatan akademik dan organisasi yang berada di lingkungan FKG.
Termasuk beberapa informasi umum menyangkut tentang peraturan berpakaian selama berkuliah di FKG Jakun. Yaitu no jeans, no oblong, no sandal, no legging, dan no kaos.
Lalu, terdapat pula peraturan terkait sikap berupa 6S yang terdiri dari senyum, sapa, salam, sopan, santun, dan semangat.
Mereka juga mendapatkan informasi mengenai briefing mahasiswa baru untuk OKKJ FKG. Terkait tugas-tugas dan tanggal pelaksanaan OKKJ.
Terakhir mereka diminta untuk mengumpulkan tugas mengisi data diri dan analisis SWOT (strength, weakness, opportunities, threats) (kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman).
Sebelum beranjak meninggalkan stand FKG, ia menyempatkan untuk membeli emblem fakultas. Sekaligus berfoto di photobooth dengan sesama maba FKG lainnya.
"Mampir yuk," ia menarik lengan Cakra agar berbelok ketika mereka lewat di depan stand Fakultas Farmasi.
Cakra menurut namun tak mengatakan apapun.
"Kak Salmanya ada?" tanyanya pada seorang berjaket kuning yang berdiri di depan stand.
"Ada," jawab orang tersebut. Lalu menoleh ke dalam stand dan berteriak, "Saaal....ada yang nyari nih."
Tanpa harus menunggu lama, Salma datang menghampiri mereka dengan senyum terkembang, "Udah selesai di Fakultas?"
"Udah," jawabnya singkat.
"Anjani makin cantik aja," seloroh Salma sambil tersenyum ke arahnya.
Tapi ia hanya meringis malu. Lalu saling berpandangan dengan Cakra yang juga kedapatan tengah meringis bingung.
"Gimana, udah dapat jadwal Kamaru tadi?" tanya Salma mengalihkan topik pembicaraan pada bahasan yang lebih umum.
Lalu obrolan pun mulai mengalir lancar. Tak lagi kaku ataupun canggung. Ia bahkan banyak bertanya tentang kegiatan OKKJ dan lainnya pada Salma.
"Titip istriku ya, Sal," seloroh Cakra ketika mereka pamit pulang. "Jangan diapa-apain di kampus."
Salma tertawa mendengar selorohan Cakra, "Siappp."
"Tapi nggak janji ya, Gam," lanjut Salma dengan ekspresi wajah misterius.
"Anjaninya keren begini, bakalan tetep kedetect sama para kating," seloroh Salma sambil mengangkat bahu.
"Wah, kacau kalau gini sih," jawab Cakra seraya menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah tak terima.
Kemudian meledaklah tawa mereka bertiga.
Kini mereka berdua telah beranjak dari stand Fakultas Farmasi. Tengah berjalan melewati deretan stand Fakultas lain yang masih saja ramai dihiasi obrolan dan canda tawa para maba juga kating yang menjadi panitia.
"Kamu kenapa tadi ngomong begitu ke Salma?" tanyanya benar-benar ingin tahu. Ketika mereka mulai meninggalkan halaman Balairung.
"Emangnya aku barang pakai dititip segala," sungutnya sambil menoleh ke samping. Memandangi Cakra yang terus saja menatap lurus ke depan.
Tapi Cakra hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Lebih memilih untuk meraih tangannya lalu menggenggam erat.
"Aku seneng Salma udah ceria begitu kayak tadi," ujar Cakra sambil tersenyum menatapnya.
"Ck!!" namun ia justru memberengut sebal. "Orang nanyanya apa, jawabnya apa. Kebiasaan deh kamu!"
Cakra tertawa, "Ya masa mesti titip ke Hanum atau Bening yang beda Fakultas?"
Tapi ia masih mencibir.
"Mana Salma tadi bilang begitu lagi. Jadi tambah berat mau ke Bandung."
"Bilang begitu gimana?" ia mengernyit tak mengerti.
"Keberadaan kamu yang mencolok bakal kedetect sama orang-orang keren di sini," jawab Cakra sambil tersenyum. Namun langsung sirna begitu mata mereka saling bersitatap.
"Dan mereka pastinya lebih keren dari aku," lanjut Cakra sambil terus menatapnya.
"Ck!!" tapi ia justru langsung memukul lengan Cakra hingga si empunya mengaduh.
"Males banget deh ah!" gerutunya tak suka.
Cakra tertawa lalu meraih bahunya lembut, "Kamu lapar nggak?"
"Aku lapar banget nih," lanjut Cakra sambil memegangi perut dengan ekspresi menahan lapar.
"Aku traktir mau nggak?"
Ia mendesis sebal namun sambil tersenyum menatap Cakra, "Gayanya...."
"Baso Mas Warno?" seloroh Cakra.
"Atau cafe pinggiran kota yang isinya nenek nenek sama kakek kakek semua?"
Ia langsung tertegun mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Cakra.
"Atau jajan Sostel di pinggir jalan?"
Kini matanya bahkan mulai memanas.
"Kangen nggak sih sama suasana yang dulu?" Cakra terus saja berbicara.
Dengan lalu lalang dan hiruk pikuk banyak orang di sekitar. Seolah menjadi pemandangan slow motion yang mengiringi langkah mereka menuju ke tempat parkir.
"Suasana yang dulu terasa membingungkan dan menakutkan...tapi kalau diingat sekarang ternyata ngangenin juga."
Ia tak menjawab apapun. Sebab terlalu sibuk menggigit bibir agar bendungan air matanya tak jebol. Karena ucapan Cakra kembali mengingatkannya pada perjalanan panjang kisah mereka.
Cakra menundukkan kepala tepat saat ia mendongak. Membuat mata mereka saling bertautan.
Cakra sempat menatapnya lama. Tapi kemudian tersenyum sambil mengeratkan rengkuhan di bahunya.
"Selamat jadi mahasiswa FKG, istriku," gumam Cakra yang berhasil meloloskan setetes air mata di pipinya.
"May your dreams come true (semoga mimpimu menjadi kenyataan)."