Beautifully Painful

Beautifully Painful
65. Just You and Me



Cakra


Begitu keluar dari dalam kamar Anja, telinganya langsung mendengar keributan tengah terjadi di ruang tamu. Yang paling keras tentu saja suara Aldi dan Dipa. Namun ketika ia hendak menghampiri, Faza lebih dulu mencegahnya.


"Bentar lagi kita cabut," ujar Faza yang menahan langkahnya bahkan ketika ia masih menyusuri ruang tengah.


"Gue harus jelasin sem..."


Kalimatnya terpotong di udara karena Faza keburu menyahut, "Lo nggak perlu jelasin apapun!"


Sementara di ruang tamu Dipa dan Aldi masih saling berteriak. Membuatnya segera beranjak melewati Faza.


"Kita nggak mau bikin ribut di rumah orang," sergah Faza sungguh-sungguh, masih berusaha mencegah langkahnya. "Apalagi dini hari begini."


"Kita nggak mau cari masalah di kompleks yang isinya banyak mantan petinggi."


Ia mengerti kemana arah pembicaraan Faza. Lingkungan kompleks rumah Anja memang banyak ditinggali oleh para mantan petinggi korps cokelat. Bahkan deretan rumah yang membentang di sepanjang sisi kiri dan kanan jalan utama seperti rumah Anja ini, adalah tempat tinggal pribadi para mantan jenderal dari berbagai era kepemimpinan.


Tapi tentu saja ia tak bisa selamanya bersembunyi bukan? Kemarahan Aldi dan kebingungan semua orang justru akan menjadi boomerang jika tak segera diselesaikan dengan baik. Membuatnya yakin untuk terus melangkah ke ruang tamu meski Faza bahkan harus menarik bahunya agar mengurungkan niat.


"Gue bisa jelasin semua," ujarnya melerai keributan antara Dipa, Aldi, Yasser, dan Marshall.


"Diam lo!" bentak Dipa tanpa menoleh ke arahnya. "Kita nggak butuh penjelasan apapun dari lo!"


Namun ia tak mempedulikan Dipa, tetap melanjutkan kalimat, "Gue sama Anja udah nikah."


"Itu alasan gue bisa ada disi...."


BUG!


Tanpa siapapun bisa mengira, Aldi telah berlari ke arahnya dan melayangkan sebuah pukulan tepat mengenai rahang atas.


"AL!" teriak Faza yang berdiri tepat di sebelahnya.


BUG!


Tapi tentu saja Aldi sedang tak ingin membicarakan apapun. Satu-satunya keinginan yang jelas terpancar dari sorot tajam Aldi hanya satu, yaitu membunuhnya. Sudah pasti.


"Nikah gimana maksud lo?!?" Aldi beralih mencengkeram kerah bajunya. "Bacot!"


"Nikah artinya gue sama Anja sah sebagai suami istri menurut agama dan hukum negara yang berl...."


BUG!


Kali ini bukan Aldi yang merangsek maju, tapi Dipa. Telak mengenai rahang yang sama. Seketika berhasil membuat pandangan matanya berkunang-kunang.


BUG!


Ia tak sendiri. Karena Dipa juga melayangkan pukulan ke wajah Aldi. Lebih keras dan telak. Terbukti membuat tubuh Aldi terhempas yang segera ditahan oleh Faza agar tak jadi tersungkur.


"Bubar semua!" geram Dipa dengan nada suara yang begitu emosional.


"Dan lo!" sembari mengarahkan telunjuk padanya.


"Nggak usah banyak bacot!" lanjut Dipa dengan amarah yang menyala-nyala.


"Keberadaan lo di rumah ini jelas masalah! Jangan sampai bacotan nggak penting elo bikin masalah jadi tambah runyam!"


Jujur ia tak mengerti maksud dari kalimat yang diucapkan Dipa. Namun membantah bahkan melawan Dipa saat ini jelas tak menguntungkan baginya. Karena semua orang bahkan menatapnya dengan pandangan menuduh. Membuatnya hanya bisa saling melempar tatapan sengit dengan Dipa.


"Udah...udah...," Agung turut angkat suara. "Ini rumah orang. Kita cabut sekarang!"


Aldi menjadi yang pertama mendengus sembari berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Faza. Kemudian beranjak keluar disusul berturut-turut oleh Agung, Yasser, Marshall, Lukman, dan Hasbi. Tinggal menyisakan Dipa, Faza, dan Bumi.


Ia masing saling melempar tatapan sengit dengan Dipa ketika terdengar suara pintu mobil yang dibanting dan deru mesin kendaraan meninggalkan halaman rumah. Menyisakan suasana kaku dan tegang di ruang tamu yang perlahan namun pasti akan membunuh siapapun yang berada di dalamnya.


Namun Dipa lebih dulu menyadari ketidaknyamanan yang meruar memenuhi udara, dengan berkata cepat, "Gue pulang." Kemudian melangkah pergi tanpa berniat untuk menoleh sedikitpun.


Tak lama kemudian Hanum dan Bening muncul dari ruang tengah. Hanum lebih dulu tersenyum menatapnya seraya berkata, "Congrats Cakra, berhasil dapatin Anja."


Yang langsung disikut oleh Bening.


"Oh, maksud gue...," Hanum mendadak gelagapan. "Kita mau pulang sekarang."


"Iya," tambah Bening cepat. "Karena surprise nya gagal total."


Ia tersenyum mengangguk, "Sori kalau gu...."


"Nggak perlu minta maaf," sela Bening memotong kalimatnya. "Yang penting, lo jaga Anja baik-baik."


"Iya," sahut Hanum. "Jangan sampai bikin Anja sedih apalagi nangis."


"Kalau lo sampai nyakitin Anja," Hanum memandangnya dengan penuh ancaman. "Lo bakal berhadapan sama gue..."


"Gue juga," imbuh Bening tak mau kalah. "Dia...," tunjuk Bening ke arah Bumi.


"Dan dia juga," kali ini Hanum menunjuk Faza yang meringis bingung.


Ia menganggukkan kepala tanda mengerti. Tanpa adanya ancaman dari orang lain pun ia sudah barang tentu akan menjaga Anja dengan baik. Seperti janji yang pernah diucapkannya pada Mamak. Yang tentu harus ditunaikan.


"Aduh, sialan banget tuh anak-anak," gerutu Bening sejurus kemudian demi mendapati ruang tamu berantakan dengan balon huruf, pita, kertas warna-warni, gunting, dan peralatan lainnya.


"Main pergi gitu aja nggak beresin apa-apa!" lanjut Bening yang segera beranjak untuk membereskan kekacauan di ruang tamu.


"Ih, iya!" sungut Hanum baru sadar jika ruang tamu seperti kapal pecah. "Dasar cowok-cowok nggak bertanggungjawab!'


"Wios (biar), Neng," suara Bi Enok mendadak menyeruak di antara mereka. "Ku Bibi diberesanana (sama Bibi dibereskannya)."


"Jangan dong, Bi," Hanum menggelengkan kepala tak setuju.


"Biar kami bereskan, Bi," imbuh Faza yang mulai ikut membereskan ruang tamu bersama Bumi juga dirinya.


"Ulah (jangan), Den...ulah," Bi Enok ikut menggelengkan kepala. "Biasana oge ku Bibi (biasanya juga sama Bibi)."


"Biar, Den," Mang Jaja turut bersuara. "Nanti biar dibereskan sama saya saja."


"Tuh kan," Bi Enok kembali menyahut.


Membuat mereka berlima yang telah membereskan setengah dari kekacauan akhirnya memutuskan untuk menghentikan aktivitas. Kemudian mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Bi Enok dan Mang Jaja karena telah bersedia membantu.


"Kita cabut dulu," pamit Faza mengikuti langkah Bening, Bumi, dan Hanum yang telah lebih dulu keluar meninggalkan ruang tamu. Disusul suara deru mesin kendaraan yang menjauh.


Dan sepeninggal Hanum, Bening, Bumi, juga Faza, ia pun bergegas menuju kamarnya. Guna mengambil sesuatu yang telah dipersiapkannya untuk Anja.


"Ja?" ia mengetuk pintu kamar berwarna putih tulang itu sekaligus membukanya tanpa berniat menunggu si pemilik mempersilakan masuk. Kemudian menutupnya rapat-rapat. Sekedar memastikan privacy mereka terlindungi.


Dilihatnya Anja tengah duduk di salah satu sisi tempat tidur dengan kaki menggantung. Memunggungi pintu masuk hingga tak menyadari kehadirannya.


Dengan jantung berdegup kencang ia pun memberanikan diri untuk melangkah mendekat.


"Ja?" sapanya lagi.


"Eh?" Anja menoleh dan terkejut melihatnya telah berdiri di dalam kamar. Kemudian buru-buru melepas AirPods warna putih dari telinga.


"Anak-anak udah pulang semua?" tanya Anja.


Ia mengangguk. Dan sebelum keberaniannya menguap tanpa bekas, ia pun buru-buru berlutut di hadapan Anja. Membuat sepasang mata bulat nan indah itu membeliak heran.


Mungkin ini akan menjadi hal bodoh kedua yang dilakukannya secara sadar. Yang pertama tentu saja, hal bodoh tapi menyenangkan yang berhasil membuatnya menitipkan makhluk hidup di dalam tubuh mungil Anja.


Jika yang pertama bersifat alamiah. Maka yang kedua ini ia pelajari secara otodidak dari berbagai artikel yang bertebaran di dunia maya. Sedikit menggelikan. Namun efek luar biasa yang bisa ditimbulkan, membuatnya nekat untuk mempraktekkan. Berharap semua ini bisa membuat hubungan entahnya dengan Anja menjadi lebih bermakna.


"Selamat ulangtahun, Ja," gumamnya antara grogi dan malu. Pasti wajahnya sudah merah padam seperti kepiting rebus.


Anja tersenyum memandangnya dengan tatapan tak percaya. Terlebih ketika ia mengulurkan setangkai mawar merah. Ya, ia melakukan hal persis seperti yang dikatakan dalam artikel. Say it with flower.


***


Anja


Setelah menerima setangkai mawar merah yang diulurkan oleh Cakra, entah kekuatan macam apa yang menggerakkan tangan lainnya untuk mengusap luka berdarah di sudut bibir Cakra.


"Kamu berdarah," gumamnya sedih.


"Semoga panjang umur, sehat dan bahagia selalu," ujar Cakra sama sekali tak menghiraukan keingintahuannya tentang luka di sudut bibir.


"Bisa menggapai semua cita-cita."


"Aamiin," jawabnya sungguh-sungguh. Dengan jemari yang semakin berani menelusuri wajah bersih Cakra. Alis tebal, bentuk tulang wajah menarik serta tatapan mata tajam menjadi legitimasi sempurna dari ungkapan good looking. Perfecto.


"Ini kadonya," ujar Cakra sembari mengangsurkan kotak berwarna merah muda yang dibalut pita berwarna senada dari balik punggungnya.


"Makasih," ia tersipu malu. Terpaksa mengangkat tangan yang tengah mengusap wajah Cakra.


"Isinya apaan nih?" cibirnya demi melihat kotak berpita yang cantik itu.


"Buka aja."


"Sekarang?"


Cakra mengangguk.


Seraya mengu lum senyum ia pun menarik simpul pita dan membuka kotak tersebut.


"Wah?" matanya terbelalak melihat isi di dalam kotak.


"Aku nggak tahu kamu sukanya apa," gumam Cakra sambil tertawa. "Jadi pilih yang aman."


"Bagus banget," ujarnya sungguh-sungguh setelah menarik isi kotak ke atas. Sebuah dress floral berwarna hijau lembut yang sangat cantik.


Sekilas ketika menarik dress ke atas, matanya sempat menangkap pita halus berwarna putih yang menempel di bagian dalam leher belakang. Bertuliskan 4 huruf merk yang sangat familiar. Membuat keningnya mengkerut.


"Kamu beli mahal-mahal begini," sungutnya sangat tak setuju. Terlebih ia sudah memiliki lebih dari selusin dress dengan merk yang sama. Seharusnya Cakra tak memaksakan diri seperti ini.


"Ini maternity mood new edition," jawab Cakra tak mempedulikan protesnya.


"Kamu pasti jadi tambah cantik kalau pakai ini," lanjut Cakra. "Masih muat dipakai sampai usia kehamilan 9 bulan."


"Iya, tahu! Tahu!" sungutnya cepat. Ia bukannya tak tahu iklan koleksi maternity mood yang beberapa waktu lalu tak sengaja dilihatnya.


"Tapi ini terlalu mahal," imbuhnya tetap tak menyetujui tindakan Cakra. "Kamu nggak sampai hutang kan buat beli ini?!"


Di luar dugaan Cakra justru tertawa, "Ini kasbon dulu ke Kak Riany. Potong gaji tiga bulan berturut-turut."


"Cakra?!?"


"Bohong...bohong....," ralat Cakra cepat sembari masih tertawa.


"Untuk orang spesial....kadonya harus spesial dong," lanjut Cakra seraya tersenyum penuh arti.


"Lagian kamu kan biasa pakai merk ini. Kalau aku beli merk biasa, nanti badan kamu gatal-gatal lagi," seloroh Cakra menyebalkan.


"Eh!" membuatnya melotot sebal. "Hidup kamu hampa kalau nggak ngeledek aku?!?"


Cakra tertawa, "Tapi kenyataan kan?"


"Sebel!" sungutnya benar-benar sebal dengan selorohan Cakra.


Namun sedetik kemudian ia berhasil menemukan satu cara paling jitu untuk membalas ledekan Cakra. Dan itu adalah....


"Kucoba ya?"


Cakra menganggukkan kepala. Dan sebelum Cakra menyadari niat jahilnya, ia pun buru-buru berdiri. Tepat di hadapan Cakra yang masih setengah berlutut hendak berdiri. Tanpa peringatan apapun mulai membuka resleting belakang babydoll nya.


***


Cakra


Ia sama sekali tak menyangka jika Anja berani melepas baju tepat di hadapannya. Tindakan paling impulsif yang berhasil membuat lututnya lemas hanya dalam sepersekian detik.


Anja bahkan seolah sengaja membuat semua gerakan berjalan dalam slow motion. Memperlihatkan detik-detik mencekam bagaimana babydoll biru muda itu lolos melewati leher kemudian terhempas ke lantai. Menyisakan pemandangan paling menggetarkan yang pernah ada.


Go to the hell, Cakra!


Anja memang memiliki paras manis cenderung polos. Sifat dan sikapnya bahkan masih seperti anak kecil dan sering bertingkah kekanak-kanakkan. Namun ini tidak berlaku untuk keseluruhan fisik Anja. Karena ke mo lekan Anja jelas berbanding terbalik dengan sikap kekanakkan yang seolah melekat abadi.


Raga Anja adalah representasi sempurna dari keindahan sekaligus godaan dalam satu waktu. Gadis mungil ini bahkan memiliki gambaran fisik wanita dewasa. Kombinasi utuh antara jelita, molek, ranum, sekaligus menggiurkan.


Ia masih terlolong di tempatnya berdiri. Mungkin dengan air liur yang terus mengalir hingga berhasil merendam keseluruhan dirinya. Menyaksikan Anja dalam gerak lambat menarik dress floral hijau lembut dari dalam kotak. Kemudian perlahan mengenakannya.


Benar-benar perlahan karena selama beberapa menit ke depan, matanya masih saja disuguhi oleh pemandangan fisik paling ranum sekaligus memprovokasi ketahanan dirinya.


Tolong, kembalikan akal sehatku! batinnya geram.


"Kancingin dong!" sebuah suara manja membuyarkan pikiran kotornya. Dimana Anja telah berbalik menyodorkan punggung seputih susu padanya.


"Cakra?!?" gerutu Anja karena ia justru berdiri termangu. Tak segera melakukan apa yang diminta oleh Anja.


"Buruan!"


Namun maksud dari kata buruan yang tertangkap oleh neurotransmitter otaknya adalah menarik tangan Anja sehalus mungkin agar ikut duduk bersamanya di atas tempat tidur.


Tidak, Cakra! Jangan! Hentikan sekarang juga! begitu bisik akal sehatnya. Namun fungsi keseluruhan tubuhnya justru berpendapat lain.


"Cakra?!?" salak Anja marah karena ia bukannya membantu mengancing dress seperti yang diminta, tapi justru membuat Anja duduk di pangkuannya.


"Kamu mau ngapain?!?!" mata Anja kian membelalak marah namun konsentrasinya jelas tertuju di tempat lain. Sungguh, ia tak lagi mampu bertahan.


"Kamu na....."


Kalimat Anja terpotong di udara karena ia keburu membungkam dengan melekatkan mereka berdua.


***


Anja


Sentuhan Cakra terasa begitu sopan dan halus. Membawa keseluruhan dirinya terbang ke awang-awang hingga menetap di sana tak ingin kembali. Bahkan setelah Cakra melepaskannya perlahan.


"Ja....," suara Cakra terdengar gemetar. Wajah Cakra bahkan merah padam dengan api membara di dalamnya.


Ia mungkin bodoh dan belum berpengalaman. Namun insting alamiah jelas tak membutuhkan keahlian apapun. Terbukti hanya dengan melihat api di kedua mata Cakra, kedua tangannya dalam sekejap berubah mahir dengan bergerak mengalungi leher kokoh itu. Lengannya bahkan bertumpu di sepanjang bahu.


Gerakan singkat yang secara ajaib menjadi lampu hijau bagi Cakra dalam secepat kilat mendesak dirinya sekaligus membenamkan wajah mereka berdua.


Ia tak tahu apakah ini sesuatu yang dibenarkan atau justru keliru. Namun Cakra jelas jelmaan dewa angin puyuh. Pengetahuan Cakra tentang membawanya terbang ke langit ketujuh benar-benar luar biasa. Membuai, melengahkan, sekaligus meruntuhkan keseluruhan dirinya.


Kini wajahnya pasti telah merah padam akibat kepuasan batin yang hakiki. Tapi Cakra sama sekali tak berniat menyudahi. Masih saja mempersembahkan sentuhan yang melenakan. Kembali menerbangkannya ke angkasa. Lagi, lagi, dan lagi. Berhasil meloloskan suara asing yang ia sendiri heran bagaimana bisa mengucapkannya.


Malu, ia sungguh merasa malu. Meski malu entah pada siapa. Karena Cakra sepertinya sama sekali tak peduli.


Bahkan tiap kali ia bersuara asing, energi Cakra seolah menggila berkali lipat.


Kian dalam menariknya menyusuri luapan telaga penuh keindahan, menuntunnya mengarungi arus paling memabukkan, sekaligus memungkasinya dengan pusaran menghanyutkan yang membawa mereka berdua ke puncak tertinggi.


Mengayun penuh pesona untuk kemudian meledak secara bersamaan di udara.


Menikmati keindahan tiada tara.


Sungguh memikat dan menakjubkan.


Begitu Istimewa.


Just you and me.


"Aku cinta kamu, Ja," bisik Cakra dengan suara dalam dan serak.


"Aku cinta kamu," ulang Cakra kali ini sembari mengecup puncak kepalanya.


***


Keterangan :


Neurotransmiter  : adalah senyawa kimiawi dalam tubuh yang bertugas untuk menyampaikan pesan antara satu sel saraf (neuron) ke sel saraf target. Sel-sel target ini dapat berada di otot, berbagai kelenjar, dan bagian lain dalam tubuh.


Neurotransmitter dalam bentuk zat kimia bekerja sebagai penghubung antara otak ke seluruh jaringan saraf dan pengendalian fungsi tubuh. Secara sederhana, dapat dikatakan neurotransmiter merupakan bahasa yang digunakan neuron di otak dalam berkomunikasi.