
"Kenyataannya kau hanyalah satu tikus kecil, bilamana kau mungkin berpikir kau adalah seorang macan." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Klakson dari mobil berwarna merah menyala milik Roman terdengar nyaring, saat pengemudinya memutar arah tepat di depan pintu utama kediaman Trahwijaya. Menurunkan kaca, Roman sudah tampak di dalam sana, menyampirkan senyuman tipis ke arah Bram yang kini berjalan cepat menuju pintu penumpang.
Beberapa detik kemudian lelaki itu sudah duduk nyaman di sebelah Roman, seiring dengan pijakan kaki Roman di pedal gasnya.
"Jadi, Rom. Siapa Joergen Swarg?" Bram terlalu penasaran. Melirik ke arah Roman yang sedang mengamati kaca spion sebelum membelokkan mobilnya, lelaki itu menunggu.
"Hanya tikus kecil, Bang. Memiliki organisasi kecil yang berkutat dengan penyelundupan narkoba. Menikah satu kali, dengan istri yang kerap kali dijadikan pelampiasan amarahnya yang tidak terkontrol."
Bram berdecak. Bagaimana bisa Hana mengenal lelaki tengik seperti itu?
"Perempuan itu adalah anak dari koleganya. Ayah dari perempuan itu memiliki banyak utang, sehingga dia meminta anak dari pria itu untuk dijadikan istri," lanjut Roman lagi. Membuat Bram menoleh kecil, saat tidak menyangka Roman seolah bisa membaca apa yang dia pikirkan.
"Jadi, kau mengenal dia sebelum ini?" tanya lelaki itu.
"Yang mana? Joe atau istrinya?"
"Joe, tentu saja. Apa kau mengenal istrinya?" Bram penasaran sendiri. Pertanyaan Roman tadi mengandung makna ambigu.
Lelaki itu tersenyum tipis.
"Tidak, kalau istrinya. Tetapi Joe, iya. Dia pernah memohon untuk masuk ke organisasi kami. Terlibat dalam beberapa skandal dan pertikaian kecil dengan beberapa anggota, tetapi kupikir dia mungkin tidak menyangka akan menatap mataku lagi kali ini." Ucapan Roman terdengar sedikit--memberikan ketenangan.
Bram menarik napas lega. Meski ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, setidaknya mengetahui Roman dan organisasinya lebih mempunyai kuasa dibanding lelaki itu--Joergen Swarg, sungguh membuatnya tenang.
Hening beberapa saat di antara mereka, saat Roman memilih untuk fokus mengemudi dan Bram bertapakur dengan pikirannya sendiri. Hingga suara Roman kembali terdengar.
"Apa hubungan lelaki itu dengan istri Joe, Bang?" tanyanya ingin tahu. Masih penasaran dia siapa sebenarnya Alberto Vigez yang telah berada di markas Joergen Swarg lebih dulu.
Bram menggeleng pelan. Tidak tahu harus mulai dari mana, saat ia pun tidak paham sejuah apa hubungan Alberto dan Hana.
"Hmm, dia hanya tertarik pada perempuan itu, kurasa. Dia yang memergoki istri dari Joe saat perempuan itu mengalami kekerasan, dan itu mungkin membangkitkan rasa penasarannya sebagai lelaki, itu saja," jawab Bram.
Dia tidak tahu apakah benar hanya sekilas mengenai itu, tetapi setidaknya seperti itulah yang ia pikirkan tentang tindakan Alberto yang 'terlalu berani' ini.
Roman menyeringai. Memutar kembali kemudinya untuk berbelok, saat ia menyunggingkan satu senyuman tipis.
"Memang cinta kerap kali membutakan. Kau setuju, Bang?" katanya lagi. Telah memikirkan satu bayangan di pelupuk mata, senyumannya masih belum sirna.
Bram memperhatikan bocah lelaki yang kini tampak sudah lebih dewasa itu. Dari sorot mata dan senyum yang masih tersampir di wajahnya, jelas sekali bahwa lelaki itu sedang memikirkan seseorang.
"Kau sudah menikah, Rom?" tebak Bram asal.
Entah mengapa memancing tawa dari lelaki itu, yang langsung menoleh ke arah Bram.
"Tidak, Bang. Belum," jawabnya cepat.
Bram menyeringai pelan. "Menikahlah, dan biarkan perempuan mengubah kehidupanmu," katanya kemudian.
"Bersiaplah. Kita hampir sampai."
***
"Bangun! Kau sialan kecil!" Suara berat dari seorang pria mabuk di depannya ini menyadarkan Alberto yang hampir terlelap, saat bau alkohol tercium dekat sekali kali ini.
Hampir saja Alberto kehilangan kesadaran, tetapi kini bau mulut sang pria tercium begitu menjijikkan. Menaikkan kepala untuk menatap pada pria yang kini duduk di kursi tepat di depannya, Alberto menyeringai tipis.
Seorang lelaki yang mungkin berumur tiga puluh tahunan berada tepat dalam pengawasannya, dengan rahang keras dan tinggi yang tidak terlalu menjulang. Jika dilihat-lihat, wajah tampan pria--yang Alberto tidak tahu namanya ini, tersamarkan oleh jambang dan kumis yang tidak teratur, yang mungkin dibiarkan sang pria untuk menambah kesan jahat dan mengerikan pada dirinya.
Belum sempat Alberto membuka mulut, suara pria itu sudah kembali menggelegar dan membuat telinganya sakit.
"Kau menginginkan istriku?!" bentak sang pria lagi, seiring dengan berguncangnya minuman keras yang ia pegang di tangan sebelah kanan. Cairan itu berwarna cokelat pekat, yang dapat dilihat dari botol kacanya yang bening bersih.
"Lepaskan aku!" teriak Alberto tak kalah kencang. Ia memang sudah habis dihajar tadi, tetapi kalau untuk memaki brengsek sialan ini dia tampaknya masih punya tenaga yang tersisa.
Suara serak Alberto tadi sontak saja membuat sang pria tergelak, saat tubuhnya berguncang hebat sebab menahan kegelian yang menjalar ke seluruh tubuh. Alberto tidak tahu ada berapa orang yang bersembunyi di sekeliling tempat kumuh yang layak disebut sebagai gudang itu--saat hanya ada beberapa lampu temaram yang dibiarkan menyala.
"Hah! Brengsek kecil ini!" Sang pria kemudian meludahi lantai, setelah puas menertawai ketidakberdayaan Alberto yang masih terikat erat.
Manik Alberto menyorot tajam, penuh kebencian pada pria di depannya ini. Bertanya-tanya dalam hati apakah pria ini yang ia temui di parkiran basement mall tempo lalu, apakah pria keji ini yang menyiksa Hana di depan matanya.
"Kuperingatkan padamu!" seru pria itu lagi. Mengambil jeda untuk menuang minuman keras ke dalam mulutnya, menyebabkan ceceran yang membasahi kemejanya yang tidak terkancing sempurna.
"Jangan mendekati istriku! Karena dia hanyalah boneka yang bisa aku tunggangi sesuka hati, bisa kusiksa sesuka hati!"
Mendidih darah Alberto mendengar kalimat brengsek tengik ini, terlepas dari entah siapa lelaki itu sebenarnya. Hana sungguh tidak pantas mendapatkan pria seperti dia, terlebih lagi perempuan itu mendapatkan kekerasan yang terlampau parah.
"Kau seharusnya menjaga istrimu dengan baik, lelaki sialan!" Akhirnya keluar juga makian Alberto yang tertahan sejak tadi, mengemukakan kalimatnya dengan intonasi menggebu saat kemarahan sudah berada di ambang batas.
Menarik perhatian lelaki itu, tentu saja. Saat ia tidak menduga bahwa tawanannya kali ini punya nyali lebih untuk menyalak padanya. Seperti anjing kecil saja.
"Karena kau menyiksanya, lelaki lain mungkin saja berniat mencurinya dari sisimu!" lanjut Alberto, tanpa menurunkan intonasi suaranya yang tetap meninggi.
Memancing kemarahan pria itu kali ini, saat mendapati lelaki lain mungkin menaruh perhatian pada istrinya. Tidak, tidak ada yang boleh memiliki Hana, tidak ada yang boleh mengendalikan perempuan itu selain dirinya sendiri. Dia tahu persis bagaimana perempuan itu mencintai dirinya, meski dia tidak pernah benar-benar menganggapnya sebagai istri.
Suara pecahan kaca terdengar nyaring, saat botol kaca yang pria itu pegang sejak tadi dilemparkan ke lantai. Membuat kaca itu pecah berserakan, dengan cairan yang tumpah meresap ke tanah.
"Sialan kau!" teriak pria itu murka, bangkit dari kursinya dengan segera untuk melayangkan satu lagi bogem mentah di wajah Alberto.
Hanya sekian detik, lagi-lagi hanya sekian detik.
Ayunan tangan kokoh pria itu refleks tertahan, saat suara seseorang telah menggema di seluruh ruangan.
"Joe, apa kabar?"
.
.
.
🗼Bersambung🗼