Travelove~

Travelove~
75. Mempersiapkan (1)



"Kesempatan itu datang. Kesempatan itu selalu ada, selama kau tidak berhenti berharap." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Diandra masih berusaha menghapus air mata yang mengalir. Telepon dari Leonard itu sudah diputuskan beberapa menit lalu, namun dia tampak belum beranjak dari tempat duduknya tadi.


Maniknya menerawang. Memperhatikan lantai marmer yang tampak mengkilap, berbanding terbalik dengan hatinya yang remuk redam. Dalam keheningan, dia sedang bergumam dalam diam.


Tidak. Tidak mungkin, Gio. Bahkan di saat-saat terakhirmu kau masih memikirkan aku. Aku tidak tahu bagaimana harus berterimakasih padamu, Gio.


Terlalu fokus dengan dirinya sendiri, hingga dia tidak menyadari bahwa selagi dia berbicara dengan Leonard di telepon tadi, mobil hitam milik Bram telah memasuki garasi. Kini lelaki itu melangkah pelan untuk menghampirinya dari belakang, membuat Diandra refleks menoleh saat tangan kokoh pria itu menyentuh pundaknya.


"Diandra?" Memperhatikan sedari pintu tadi sebab Diandra tampak sedang melamun, Bram ingin memastikan dengan menghampiri perempuannya lebih dulu.


Manik keduanya bertemu. Menatap mata dan wajah Bram yang penuh pertanyaan, Diandra tidak bisa menahan diri untuk tidak menghambur ke dalam pelukan lelaki itu. Dia sudah terlanjur menitikkan air mata, menangis sesegukan sekalian mungkin tidak akan masalah.


Bram menegang. Meski tubuhnya merespon dengan baik kedatangan Diandra dalam pelukannya, tetapi dia masih diliputi pertanyaan. Mengapa Diandra menangis sepagi ini? Ada apa? Apa yang terjadi?


"Bram." Menyebut nama lelaki itu dengan suara parau yang dia ucapkan di sela-sela tangisan, tubuh wanita itu masih berguncang.


"Aku di sini, Sayang. Ada apa? Apa yang membuatmu sedih? Katakan padaku, hmm?" Mengelus rambut Diandra yang pagi itu sudah rapi dengan ikatan kucir kuda, Bram berupaya untuk menenangkan.


Tidak menjawab Diandra. Mengeluarkan perasaan yang campur aduk, dia memang berniat untuk menangis sejadi-jadinya. Biarlah air matanya kali ini mengalir deras, asalkan semua perasaannya juga ikut menguap dalam tangisan. Karena esok, dia tidak ingin mengingat lagi kenangan lama yang mengoyak hati.


Setelah beberapa saat, perempuan itu mulai tenang. Napasnya mulai kembali teratur, meski sisa-sisa air mata masih tampak di pipi dan wajahnya. Bram melonggarkan pelukan mereka, menunduk untuk menatap pada wajah Diandra yang kini terlihat sayu.


"Ada apa? Kau baik-baik saja?" tanyanya pelan.


Diandra mengangguk. "Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa sedih untuk beberapa saat," jawabnya terbata-bata. Tetapi kini dia sudah berhenti menangis.


"Duduklah." Mengiring Diandra untuk kembali duduk, Bram telah menghadapkan tubuhnya ke arah perempuan itu. Masih memperhatikan, masih menemani.


"Leonard menelepon baru saja," ucap Diandra kemudian, setelah menerima dua helai tisu yang diulurkan Bram kepadanya.


"Benarkah? Lalu? Apa dia membuatmu sedih?"


Kali ini Diandra menggeleng. "Tidak, Bram." Mengelapkan tisu itu ke daerah pipinya. "Dia mengatakan kebenaran, tetapi itu yang membuatku sedih," lanjutnya lagi.


Bram berdehem. Belum mampu menebak apa kira-kira hal yang disampaikan Leonard pada calon istrinya, setelah dua tahun lebih perpisahan mereka terakhir kali. Apakah ini tentang Gionard? Bram menerka-nerka dalam hati.


"Kau mau menceritakannya?" Bertanya Bram, sebab dia ragu apakah Diandra ingin mengulangi kesedihannya atau tidak. Jika perempuan itu memilih untuk tidak mengatakannya, maka tidak masalah untuknya. Bram hanya tidak ingin Diandra berulang kali merasa sedih. Dia tidak ingin Diandra mungkin bisa menangis lagi.


"Leonard berkata Gio bilang hanya kau yang bisa menjagaku dan sikembar sebaik Gio menjaga kami." Kalimat Diandra terdengar nyaring, karena dia telah memilih untuk tidak menyimpan rahasia dari Bram.


Bram hening. Terpaku beberapa saat, sebab dia memang telah mendengar itu sebelumnya dari bibir Leonard langsung.


Gio, kau memang lelaki sejati. Mendengar kalimat ini lagi sungguh membangkitkan kenanganku padamu. Semoga kau selalu tenang dan bahagia meski tidak lagi di sini.


"Begitukah." Hanya itu yang bisa Bram ucapkan dari bibirnya.


"Bram." Menatap pada manik kehitaman Bram Diandra memanggil dengan nada rendah.


"Hmm?" Memperhatikan, Bram menunggu.


"Kuharap kau tidak marah bila suatu saat nanti aku mungkin mengingat tentang Gio. Karena kau harus tahu bahwa dia bukan hanya mantan suami dan sahabatku, tetapi dia juga ayah biologis dari Vallois dan Verden. Meski dia tidak lagi di sini, meski aku tidak lagi menatap matanya, mungkin dia akan tetap berada dalam lubuk kenangan meski aku tidak lagi menginginkan dia. Apakah menurutmu aku egois, Bram?" Bertanya Diandra dengan manik melebar, mengungkapkan isi hatinya pada Bram. Dia ingin Bram memahami posisinya, memahami perasaannya.


Bram menyunggingkan senyuman. Manik kecokelatan Diandra selalu terlihat menenangkan, terlebih saat manik itu menatapnya dengan tatapan memohon seperti ini.


Aku sungguh tidak keberatan, Diandra. Kau punya masa lalu, begitu pula diriku. Kini kita hanya harus mempersiapkan semuanya dengan benar sejak awal, hingga kelak jika datang batu-batu yang menghadang kita akan tetap mampu melewatinya dengan baik.


"Tentu tidak, Sayang. Gio akan tetap di sana, tidak hanya kau yang akan menyimpan kenangan tentang dia, tetapi juga aku. Aku dan Gionard sudah memutuskan menjadi teman, kau tahu? Dia adalah temanku sejak dulu."


Kalimat yang diucapkan Bram bagai oase di padang pasir untuk Diandra, saat dia merasa sungguh lega sebab Bram kini benar-benar menjadi lelaki yang berbeda.


Jika empat tahun lalu lelaki itu mudah sekali terprovokasi hanya dengan mendengar nama Gionard Butcher mengudara, kini dia telah jauh lebih dewasa dalam menghadapi berbagai situasi. Waktu yang mengajarkan, waktu yang memberikan arah.


"Terima kasih, Bram. Aku tahu kau lelaki yang baik," balas Diandra kemudian.


"Temuilah Val dan Ver. Mereka sudah terlalu merindukanmu. Aku akan berganti baju sebentar, oke?" Diandra bangkit dari tempat duduknya, meraih lengan Bram untuk membawanya ikut bangkit dari sana.


Melebarkan senyuman, Bram menurut. Mengikuti langkah kaki Diandra menuju arah meja makan, mendapati teriakan gembira dari kedua bocah kembar yang tampak sudah selesai dengan makan pagi mereka.


Mengambil Vallois pertama kali dari tempat duduknya, Bram kemudian melakukan hal yang sama pada Verden. Kini pria itu sudah menggendong kedua bocah kembar itu di sisi kanan dan kirinya, membopong keduanya menuju ruang bermain.


Diandra telah menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamar, berganti baju sebab dia akan pergi bersama Bram ke suatu tempat siang ini.


***


Bram membolak-balik majalah yang dia pegang sedari tadi, memang tidak berniat untuk membaca kumpulan kertas itu. Maniknya hanya tertuju pada gambar-gambar yang berada di sana, memperhatikan satu per satu meski dengan tidak seksama, sembari menunggu sesuatu akan terbuka di depannya.


Beberapa saat kemudian, pria itu menaikkan kepala. Merubah arah yang dia lihat menjadi ke arah depan, memperhatikan ketika tirai yang sedari tadi ditutup itu terbuka perlahan-lahan.


Hampir saja melongo, tertegun dengan manik melebar. Terhanyut dalam keindahan.



"Bagaimana, Bram? Apa ini bagus?" Menatap Bram dengan sedikit rasa khawatir.


Lelaki itu bangkit dari duduknya, tidak bisa melepaskan manik untuk menatap perempuan di depannya.


"Kau ... cantik sekali, Diandra."


.


.


.


🗼Bersambung🗼