
"Sebab wanita tidak diciptakan untuk diperlakukan kasar seperti ini, sebaliknya mereka tercipta untuk diberikan kasih dan sayang." ~Alberto Vigez.
.
.
.
Bau alkohol dan besi menyeruak seiring dengan terbukanya mata Alberto. Merasakan denyutan parah di sekujur tubuhnya, ia baru menyadari bahwa kini ia terikat di salah satu kursi, dengan tangan yang dikaitkan di belakang pinggangnya dan kaki yang rapat menginjak tanah.
Penerangannya temaram, saat ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang berada di depannya saat ini. Tetapi indera penciumannya langsung mengidentifikasi aroma alkohol yang kental, juga bau besi yang terlalu tajam di sekitar sana.
Hal terakhir yang ia ingat adalah rasa dingin dari moncong pistol yang menempel di dahi kirinya, saat ia baru saja hendak membawa Hana--perempuan yang tampak mengerikan dini hari tadi, ke rumah sakit.
Menaikkan kepalanya untuk memperhatikan sekitar, Alberto memicingkan mata sekaligus menahan sakit yang terus menjalar. Menyadari kini ia memiliki luka di sekujur tubuhnya, ingatan lelaki itu menggali memori saat ia berusaha melawan beberapa pria bertubuh gempal, tetapi tenaganya tak cukup banyak sebab dia sendirian.
Bagaimana dengan Hana? Apa dia baik-baik saja?
Memaki diri sendiri sebab malah bayangan perempuan itu yang hadir di pelupuk mata, Alberto benar-benar kehilangan kendali. Tidak bisa dipungkiri dia memang khawatir, meski kini ia pun tidak tahu apa yang mengancamnya setelah ini. Menarik napas pelan-pelan, lelaki itu mencoba berpikir jernih untuk menyelamatkan diri sendiri.
Syukurlah aku masih hidup.
***
Suara deringan dari ponsel milik Bram terdengar nyaring, saat lelaki itu menggerakkan badan sedikit demi sedikit untuk menggapai asal suara. Seingatnya ia meletakkan benda berwarna hitam itu di atas nakas, saat kemudian lengan kokohnya bergerak untuk meraba ke arah samping.
Embusan napas Diandra masih terasa di pipinya, saat perempuan itu masih bergelung erat dalam dekapannya dan tampaknya tidak terganggu dengan suara ponsel suaminya.
Mengernyitkan dahi, Bram menggeser layar untuk kemudian menjawab panggilan dari Roman--sang Jaguar The Reds, meski pikirannya masih belum bisa berpikir jernih.
Jam berapa ini?
"Halo?"
"Bang, kau sudah bangun?"
Bram mengarahkan pandangannya ke arah dinding, mendapati jarum pendek dari jam itu kini mengarah ke angka empat. Masih pagi ternyata.
"Ada apa? Mengapa kau menelepon pagi buta seperti ini?"
Roman terdengar menyeringai di ujung sana.
"Joergen Swarg menahan rekanmu, Alberto Vigez. Setidaknya seperti itu yang dilaporkan anak buahku pagi ini. Aku telah melacak posisinya, kau mau pergi?"
Manik Bram memutar, berusaha mencerna informasi yang dikatakan oleh Roman di ujung telepon.
Apa? Joergen Swarg? Menyandera Alberto? Apa yang terjadi?
"Mereka berada di markas Joe, kurasa dia mungkin akan terkejut saat aku ke sana. Bagaimana? Kau mau bersenang-senang?" tawar Roman lagi.
Bram masih hening. Mempertimbangkan sesaat, sebelum kemudian suara Roman kembali terdengar.
"Ah, lelaki itu baik-baik saja. Alberto Vigez maksudku. Anak buahku sudah berjaga di sana dan bersiap untuk berburu. Mungkin kau akan penasaran tentang siapa Joergen Swarg ini, Bang?" Kalimat lelaki itu terdengar menggoda sekali, saat Bram akhirnya memutuskan sesuatu.
"Kau jemput aku ke sini, oke? Aku akan menumpang mobilmu. Datanglah sepuluh menit lagi."
"Oke."
Panggilan itu diputuskan kemudian, saat Bram mendaratkan satu kecupan panjang di kening Diandra. Perempuan itu masih terlelap, dengan napas yang teratur sekali.
"Diandra."
Pada panggilan kedua Diandra menggeliat, setelah menyadari banyaknya kecupan yang mendarat di seluruh permukaan wajahnya.
"Sayang, hei. Aku harus pergi." Suara Bram terdengar dekat sekali, saat ia dengan jelas mencium wangi tubuh lelaki itu di dekatnya.
Membuka mata, Diandra mendapati Bram masih mendekapnya erat, menatapnya dengan tatapan dalam.
"Mau ke mana, Bram?" Diandra masih mengumpulkan nyawa, namun ia langsung bereaksi saat Bram mengucapkan kata 'pergi'.
Pergi ke mana? Apa sudah pagi ini?
"Alberto disekap. The Reds sudah menemukan siapa dalang dari semua ini. Kami akan pergi ke sana, Diandra. Untuk menyelamatkan Alberto." Bram berusaha menjelaskan serinci mungkin, meski ia pun tidak tahu apa yang menantinya di depan sana.
Apakah Joergen Swarg yang dikatakan Roman di telepon tadi adalah orang yang berbahaya, dia pun tidak bisa menduga. Seberapa besar kekuasaan Swarg di dunia mafia? Dia juga tidak tahu. Tetapi mendapati Alberto disandera oleh para bedebah sialan itu, setidaknya dia harus datang ke sana untuk menyelamatkan sepupu iparnya.
Manik kecokelatan perempuan itu melebar, seiring dengan dikatupkannya kedua bibirnya setelah menutup dengan telapak tangan. Jantungnya berdetak kencang sekali.
"Apa?! Alberto disandera?!" pekiknya tertahan.
Bram menganggguk. "Aku belum tahu apa yang terjadi, Sayang. Tetapi aku harus pergi. Percayalah bahwa The Reds--organisasi yang kami sewa, bukan organisasi sembarangan di antara mereka. Bahkan Roman berkata ia akan bersenang-senang," jelas Bram berusaha menenangkan.
Diandra menghambur ke dalam dekapan suaminya. Antara tidak rela, namun juga khawatir akan keselamatan abang sepupunya kini.
"Aku takut, Bram," desisnya. Bukan sekali saja Diandra berada dalam lingkungan dan suasana mencekam seperti ini.
Kini saat dirinya kembali berurusan dengan hal-hal yang berbau mafia dan organisasi terselubung, hatinya mencelos. Dulu saat ia menjadi istri dari Gionard Butcher--peperangan dan pertikaian antar klan kerap terjadi di Paris. Tidak menyangka kini dia akan mendapati atmosfer yang sama, saat suaminya Bram Trahwijaya kini akan pergi menuju sisi yang sama seperti waktu itu.
"Tenanglah, Diandra. Biarkan para lelaki menyelesaikan tugas mereka, sebab memang harus ditarik benang merah antara ini semua. Kau juga tidak ingin Hana terus-terusan terluka, kan?"
Bram ada benarnya. Mendengar kabar yang menimpa Hana tempo lalu saja sudah membuat hati Diandra sakit, karena dia tidak menyangka pegawainya yang ceria sejak dulu itu ternyata menyimpan sesuatu yang amat besar di hidupnya.
Perempuan itu mengangguk. Melepaskan sementara dekapannya pada tubuh kekar Bram, menatap lelaki itu dengan mata memelas.
"Berjanjilah kau tidak akan terluka," pintanya lirih.
Setelah apa yang terjadi pada mantan suaminya dulu, Diandra masih memiliki trauma berkepanjangan saat membiarkan seseorang yang dicintainya pergi. Terlebih, kali ini Bram benar-benar akan berada dalam satu pertarungan.
Mengelus rambut Diandra dengan lembut, Bram berusaha sebisa mungkin menenangkan perempuan itu. Menangkupkan kedua tangan di pipi istrinya, Bram menatap Diandra dengan tatapan penuh cinta.
"Aku akan kembali secepat mungkin, Sayang. Lanjutkan tidurmu dan jangan pikirkan yang macam-macam, oke? Aku berjanji aku akan baik-baik saja."
Diandra tahu ada setitik keraguan di hatinya untuk melepas Bram pergi kali ini, tetapi akhirnya ia berusaha memahami kondisi yang terjadi saat ini. Menganggukkan kepala, dia akhirnya setuju untuk membiarkan Bram pergi.
Bram menyampirkan senyuman. Mengecup sekilas bibir kemudian dua pipi Diandra, mengalirkan ketenangan dari sana.
"Aku segera kembali, Diandra."
.
.
.
🗼Bersambung🗼