
“Berharap aku punya satu kesempatan. Satu kesempatan lagi untuk menjadi anakmu yang paling kau banggakan.” ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Hanya sekian detik.
Sekian detik yang menentukan, sekian detik yang hampir merenggut nyawa seorang Bram Trahwijaya.
Menginjak pedal remnya sekuat tenaga, Bram hampir menutup mata untuk bersedia larut dalam sebuah kemalangan. Menginjak rem untuk menghentikan laju mobilnya secara tiba-tiba, membuat suara decitan nyaring yang mengiris hati.
Mencengram kemudinya erat-erat, dia dapat merasakan jantungnya yang telah berdegup sangat kencang, menyadari bahwa Tuhan masih memberikannya kesempatan kedua untuk menarik napas.
Perlahan menaikkan kepala, Bram menghela napas lega saat mengetahui dia masih benar-benar hidup. Hampir saja terlibat dalam sebuah kecelakaan yang sudah berada di pelupuk mata, lelaki itu berujar syukur jutaan kali sebab dia dapat menghindari maut kali ini. Masih dengan sedikit gemetar, Bram turun dari mobilnya dan memeriksa sesuatu. Merasakan bagian depan mobilnya sempat beradu dengan mobil lain, Bram berniat untuk memeriksa keadaan.
Setelah memastikan tubrukan antar bagian depan mobil itu tidak begitu parah, Bram lalu undur diri setelah memberikan sebuah kartu nama pada laki-laki yang mobilnya ditabrak olehnya. Berjanji untuk mengganti segala biaya kerusakan, lagi-lagi Bram bersyukur karena sang pengemudi tadi tidak mengalami luka apapun di tubuhnya. Sebab Bram pun harus segera pergi dari sana, sebab dia tidak boleh membuang waktunya dengan percuma.
Kembali memasang sabuk pengaman dengan erat, Bram kini telah melajukan mobilnya di jalanan untuk segera menuju rumah sakit. Menemui ayahnya, sesegera mungkin.
Semoga kejadian tadi tidak berarti apa-apa, Pa. Kumohon bertahanlah.
***
Bram tampak sedikit berlari, menyusuri lorong rumah sakit sembari menggenggam ponsel di tangan kanan. Kepalanya memeriksa ke segala arah secara bergantian, berusaha mencapai ruang rawat yang disebutkan Pak Deded di panggilan telepon sebelumnya. Menuju lift, lelaki itu masih tampak linglung dan penuh kekhawatiran.
“Tuan!” Suara Pak Deded, supir pribadi ayahnya, menggema ke seluruh lorong begitu Bram muncul dari arah lift. Bergerak menuju posisi di mana Pak Deded berdiri, Bram hampir kehabisan napas.
“Bagaimana Papa, Pak?” tanyanya tidak sabar.
Pak Deded tampak meremas jari-jarinya, menundukkan sedikit tubuh separuh bayanya untuk mengeliminasi ketakutan yang melanda sejak tadi.
“Masih belum sadar, Tuan. Dokter Bapak masih berada di dalam.” Hanya begitu yang dapat dia katakan, meski memang itu yang sebenarnya terjadi. Tuannya belum sadarkan diri, dengan beberapa dokter yang sudah masuk ke ruang rawat sejak tadi. Belum ada tanda-tanda apapun, membuatnya tidak punya pilihan lain selain mondar-mandir di depan pintu ruangan VVIP itu.
Bram mendesah. Mendapati manik Pak Deded yang dipenuhi rasa khawatir, dia juga merasakan hal yang sama. Tahu Pak Deded mungkin tidak bisa menjelaskan secara rinci, Bram memilih untuk tidak lagi bertanya. Melangkah untuk meraih gagang pintu, lelaki itu sempat mengintip dari arah kaca kecil yang terdapat di pintu itu, memeriksa keadaan di dalam.
Mendapati ayahnya terbaring lemah di atas sebuah ranjang rawat dengan beberapa dokter dan perawat di dalam sana, Bram mengeratkan pegangan. Menarik napas, memohon kekuatan meski dengan pandangan mata yang dipenuhi kecemasan.
Aku di sini, Pa.
Mendorong pintu itu dengan sekali coba, Bram sudah melangkah besar-besar untuk menghampiri tim dokter yang tampaknya masih memberikan bantuan. Mendapati seseorang yang masuk secara tiba-tiba, seorang perawat sempat menahan langkah Bram untuk memberikan instruksi agar lelaki itu menunggu di luar saja.
Bertahan, syukurnya salah satu dari tim dokter itu memalingkan wajah, membuat keduanya bersitatap untuk beberapa detik.
“Biarkan, Sus. Tuan ini adalah anak dari pasien. Bram, kemarilah!” Suara dokter berkacamata itu membuyarkan lamunan Bram, membuat sang perawat kemudian undur diri dan memberikan jalan untuk Bram melangkah lebih dekat.
Dokter Aryo masih menatap Bram. Dia mengenali Bram sebab dia sudah lama menantikan untuk bertemu dengan pria itu.
Lelaki itu hening, tidak bersuara. Namun dia mengikuti perintah dokter Aryo dengan turut. Dia ingat dokter Aryo pernah beberapa kali datang ke rumah untuk memeriksa kondisi ayahnya, meski dia tidak pernah memiliki sesi pembicaraan yang serius dengan dokter itu.
“Pa ....” Hampir bergetar suara Bram saat dia berusaha memanggil ayahnya, menatap pada tubuh tua Brio Trahwijaya yang terbaring lemah dengan banyaknya selang yang menempel di dada dan wajahnya. Bahkan sepertinya ayahnya kini tidak bisa bernapas normal, sebab Bram melihat alat bantu yang terpasang di hidung dan mulut ayahnya.
Hening, tidak ada jawaban.
“Kondisinya masih belum stabil, Bram. Ayahmu mengalami stroke, kami sedang berusaha maksimal untuk membantunya pulih kembali,” jelas dokter Aryo kemudian, mengambil alih untuk memberikan penjelasan.
Bram termenung. Bola matanya membesar seiring dengan keterkejutan yang menimpa dirinya.
Tidak mungkin. Papa sehat, bagaimana dia bisa terkena stroke? Apa aku yang tidak tahu kondisinya selama ini?
Dokter Aryo masih menunggu reaksi dari Bram. Membiarkan putra satu-satunya dari sahabatnya itu menikmati waktu, mencerna keadaan. Berharap Bram akan berdamai dengan takdir, menerima semua fakta yang akan dia katakan sebentar lagi.
Menoleh untuk meminta penjelasan, Bram menatap manik dokter Aryo dengan ekspresi penuh pertanyaan.
“Bagaimana bisa, Dokter? Bukankah ayahku sehat selama ini?” Masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar, Bram tampaknya belum ingin bersatu dengan kenyataan. Mencari celah jika dia bisa menolak semuanya, tidak ingin berada pada situasi menyedihkan seperti ini.
Dokter Aryo tampak menarik napas.
“Kemarilah, Bram.” Berujar pelan lalu melangkahkan kakinya untuk menjauh dari ranjang Brio Trahwijaya, dokter itu secara tidak langsung meminta Bram untuk mengikuti langkah kakinya.
Kini telah berhadapan dengan dokter Aryo tepat di salah satu sudut ruangan, Bram menunggu dengan sabar.
“Ayahmu memintaku untuk merahasiakan laporan medisnya padamu, Bram. Dia telah lama mengidap penyakit jantung, dia telah lama ditopang dengan obat yang diminum secara berkelanjutan.”
Bagai mendapat petir keduanya, Bram menegang. Tidak pernah terlintas di fikiran lelaki itu bahwa dia akan berada dalam kondisi dan keadaan seperti ini, Bram sudah kesulitan menarik napas.
Mengusap wajahnya kasar, Bram kini merasa dia benar-benar menjadi anak yang tidak berguna. Bahkan dia tidak mengetahui kondisi kesehatan ayahnya, saat dia hanya fokus untuk mencari kesenangan dan mengatur hidupnya yang entah seperti apa.
“Dokter ....” Terbata lelaki itu menyampaikan katanya, mengerjapkan mata karena masih tidak percaya.
“Kami sedang upayakan yang terbaik, Bram. Tanda vitalnya mulai tampak naik meski kami harus tetap melakukan monitoring hingga beliau sadarkan diri,” jelas dokter Aryo lagi.
Tidak mampu lagi berkata-kata, Bram berusaha menegakkan kepala untuk kembali melirik ke arah ranjang ayahnya. Brio Trahwijaya, satu-satunya yang dia punya di dunia, telah terbaring lemah di sana dan dia tidak mampu melakukan apapun. Menyesali dia tidak menghabiskan waktunya dengan baik bersama ayahnya selama ini, Bram mengutuki diri sendiri.
Tidak menjawab lagi perkataan dari dokter Aryo yang terakhir kali, Bram melangkah pelan untuk kembali mendekati ranjang ayahnya. Memandangi tubuh tua ayahnya yang kini bahkan tidak tersenyum, Bram menarik napas dengan susah payah, memastikan dia masih menghirup oksigen untuk tetap bertahan hidup.
Bangunlah, Pa. Maafkan aku karena terlalu sibuk akan duniaku sendiri. Dunia yang kau ciptakan untukku, dunia yang aku tahu aku memilikinya atas kerja kerasmu. Aku minta maaf, Pa. Kumohon bangunlah, agar aku punya satu lagi kesempatan untuk membuatmu bahagia.
.
.
.
🗼Bersambung🗼