Travelove~

Travelove~
Bonchap 16 - Kekhawatiranku



Ketemu lagi kita, yihaaa :p Mana yang kangen Brambang, semoga dengan up ini mengobati rasa kangen yaa. Iya, sama. Aku juga gagal move on, wkwkwk. Selamat membaca, kakak baik :)


***


"Aku tidak ingin mengalami hal ini lagi. Mimpi burukku sudah aku tutup rapat-rapat, dan aku tidak ingin mengulangi hal yang sama. Tidak lagi." ~Diandra Lee.


.


.


.


Kedatangan Alberto untuk berpamitan ke ruang kerja Bram menjadi pemisah antar meeting yang dimiliki lelaki itu siang ini. Menyambut sepupu iparnya itu yang datang dengan menggandeng Hana, Bram tidak bisa menahan diri untuk tidak memberikannya pelukan.


Mungkin untuk yang terakhir kali, sebab pengajuan undur diri Alberto telah disetujui oleh para pimpinan dan dewan direksi.


Akhirnya perusahaan Lee kembali bersatu dengan perusahaan Trahwijaya kini, dengan aset yang cukup fantastis sebagai salah satu perusahaan bonafit di Indonesia. Dengan bantuan dan keputusan cepat oleh Bram, akhirnya Alberto bisa bernapas lega sebab ia bisa mencapai keinginannya untuk membawa Hana pergi jauh dari sana.


Sekaligus membawa ibunya—Tante Luna, mereka tampaknya sudah memikirkan dan memutuskan perihal ini matang-matang. Bram dan Diandra tidak sama sekali berusaha mencegah, namun sebisa mungkin memberikan bantuan terbaik mereka.


Sebab Alberto telah memutuskan. Sebab lelaki itu akhirnya berkomitmen setelah puluhan tahun menjalani kesendirian dengan prinsip yang ia langgar sendiri kini.


Mengantar Alberto dan Hana hingga pintu depan, Bram meminta maaf sebab ia tidak bisa melepas kepergian mereka di bandara. Dengan bergabungnya dua perusahaan besar itu, berarti Bram kini juga memiliki tanggung jawab penuh untuk mengkoordinir semuanya di bawah kendali.


Dan itu, cukup membuat beban kerjanya bertambah berlipat-lipat belakangan ini.


Melirik arlojinya setelah mobil Alberto bergerak dari parkiran, Bram memutuskan untuk berbalik badan dan kembali melangkah ke dalam kantor. Sebab meeting yang lainnya sudah menunggunya di dalam sana, dan dia mungkin saja pulang terlambat malam ini.


***


Diandra menggigit bibir dengan cemas. Dia baru saja menutup pintu kamar si kembar, setelah mengantar kedua anak lelakinya itu memasuki alam mimpi. Masih berdiri di depan kamar Vallois dan Verden, Diandra bersandar di pintu untuk menarik napas dalam-dalam.


Tentu saja si kembar memberikan perasaan hangat tersendiri di dalam hati Diandra. Meski dia juga harus tetap menemani segala aktivitas Vallois dan Verden yang semakin aktif dan lincah, perempuan itu berusaha menjaga asupan makanan dan memastikan ia berada dalam kondisi yang fit untuk beraktifitas.


Menaikkan tangan untuk meraih ponsel dari saku baju tidurnya, Diandra menatap pada layar itu dalam-dalam.


Memilih room chatnya bersama sang suami pada salah satu aplikasi pesan instan, Diandra mengetikkan sesuatu dengan cepat di atas sana.


To: My Hband


Bram, kau di mana? Apa kau akan pulang lama malam ini?


Terkirim. Menunggu sejenak, perasaan Diandra berubah drastis ketika pesan yang baru saja ia kirim itu hanya menampilkan satu centang.


Bram, balas aku. Kau baik-baik saja? Sudah larut dan aku merindukanmu, sungguh.


Kembali menatap pada layar dengan sorot mata khawatir, Diandra berusaha untuk tetap tenang. Perlahan-lahan perempuan itu bergerak untuk menuruni tangga, dengan ponsel yang masih ia pegang di tangannya. Berpegangan pada sisi tangga dengan tangan yang lain, perempuan itu mengayunkan langkah untuk menuruni anak tangga satu per satu.


Berhati-hati, mengatur napas perlahan-lahan  ia hingga mencapai anak tangga paling bawah. Membelokkan langkah menuju sofa terdekat, ibu hamil itu akhirnya duduk dengan napas yang cukup terengah.


Melirik sekilas pada jam besar yang berada di tengah ruang tamu mereka, Diandra kembali menarik napas dalam-dalam. Hampir pukul sebelas malam, dan Bram tidak bisa dihubungi.


Bram, kau di mana sih? Tidak biasanya seperti ini, apa yang sedang terjadi?


.


.


.


~Stay calm, Diandra~