
“Karena sesungguhnya aku yakin, tidak ada luka yang abadi.” ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Bram Trahwijaya menghentikan deru mobilnya, sesaat setelah dia tiba pada sebuah lahan parkir yang memang dikhususkan untuknya.
Melepaskan sabuk pengaman kemudian mematikan mesin, lelaki itu tampak merogoh ponsel yang tadinya dia letakkan di atas dashboard. Memandangi layar ponsel itu sekilas, senyuman telah tampak merekah di sudut bibir lelaki yang mengenakan setelan jas berwarna biru dongker itu.
Senyuman yang menandakan bahwa perasaannya tampak baik hari itu dan dia siap untuk meluangkan waktu dengan segudang pekerjaan yang menunggu.
“Pagi, Pak.” Meta berdiri dari kursinya untuk memberikan hormat, mengukir senyuman di wajahnya yang tampak tetap berseri meski dia sudah memiliki dua orang anak.
“Pagi, Meta. Bagaimana kabar Ryoza?” Menghentikan langkah sejenak tepat di depan meja sekretarisnya itu, Bram menunggu jawaban dengan wajah yang tampak cerah.
“Baik, Pak. Seperti biasanya,” jawab Meta sumringah.
“Syukurlah. Pastikan kau bermain dengannya, Meta. Anak-anak tumbuh dengan cepat sekali bahkan tanpa kita sadari.” Menyampaikan kalimatnya dengan mata berbinar, Bram kemudian melangkah masuk untuk menuju ruangan.
Meninggalkan Meta yang masih berdiri di posisi saat maniknya mengikuti ke mana arah bosnya itu menghilang, dengan senyuman yang masih bertengger di wajah. Berseri-seri dan senang hatinya, sebab kini bosnya itu begitu perhatian untuk urusan anak.
Bahkan Bram pernah membatalkan rapat penting karena Ryoza, anak sulung dari Meta, mendadak sakit saat bahan presentasi mereka belum selesai dikerjakan. Bram sama sekali tidak menunjukkan ekspresi marah, dia malah menyuruh Meta untuk segera pulang ketika itu terjadi.
Meta tidak tahu sejak kapan perubahan itu bermula, tetapi dia tahu bosnya tampak semakin mengagumkan dari hari ke hari.
***
Alberto meneggak bir dinginnya dengan semangat membara. Hari masih menunjukkan pukul dua siang tetapi dia sudah berada di kawasan kantor Bram hari itu. Rencana ingin membahas beberapa hal mengenai pekerjaan, siapa sangka dia malah berakhir di kafe lantai dasar bersama sang pimpinan utama-Bram Trahwijaya, yang juga ternyata adalah salah satu dari penerus klan Schoff.
Mengaduk kopinya dengan gerakan memutar, Bram melirik pada Alberto yang tampak jelas sedang memperhatikannya lekat.
“Kau lihat apa, Al?” sungutnya. Tidak menaikkan kepala, tetapi kalimat tanya itu pastilah ditujukan pada Alberto yang menatapinya sejak tadi.
“Kau serius, Bram? Ah, yang benar saja!” Tampak seperti menggerutu, Alberto kini menggeleng pelan. Seperti masih tidak percaya, tetapi memang benar begitu adanya.
“Apanya yang ‘yang benar saja’ itu?” Kembali bertanya, Bram tampaknya tidak menaruh perhatian penuh pada Alberto. Membuat lelaki itu kini bergerak kecil untuk memperbaiki posisi duduknya, mendengkus kesal.
“Cih! Kau tampak tampan sekarang, Bram. Kau tahu itu?” Memuji yang juga sekaligus mengejek kali ini, tetapi sukses membuat Bram menaikkan garis bibirnya untuk membentuk senyuman.
“Apa? Apa? Kau senang?!” Tidak terima lawan bicaranya hanya hening dan membalas dengan senyuman tipis, Alberto semakin menahan kekesalan yang memuncak.
Meskipun dalam hati dia bersyukur, sekaligus heran. Entah dari mana semua itu bermula, takdir tetap saja yang menentukan.
“Tentu saja, Al. Aku harus menjaga kesehatanku, kau tahu?” balas Bram kali ini, membuka suara setelah menyesap kopinya perlahan.
Alberto menyeringai. “Kau benar-benar ya! Jadi kau sama sekali tidak meminum wine lagi?”
Tidak langsung menjawab, Bram mengitari pemandangan ke sekeliling untuk menghilangkan pegal di tengkuknya yang mulai terasa naik. Menepuk-nepuk leher bagian belakang dengan tangan kanan, Bram mengangguk.
“Tidak. Tidak ada lagi wine, tidak ada lagi bir, bahkan. Aku sudah berhenti. Jadi, kau silakan cari teman minummu yang lain, oke?”
Mendapati Alberto yang masih melongo dengan tatapan mata tidak percaya, kesempatan Bram kini yang menyeringai tipis meski tetap belum membuka suara.
“Katakan, siapa yang memintamu untuk berhenti minum? Apakah dia?!” todong Alberto lagi, sebegitu penasaran tentang siapa sebenarnya sosok yang bersembunyi di balik perubahan perilaku seorang Bram Trahwijaya.
Kali ini Bram melebarkan senyuman saat pikirannya mulai melalang buana menuju nirwana. Menampilkan bayang-bayang dari seseorang, yang selalu di sana. Seseorang yang merubah kehidupannya, seseorang yang selalu memintanya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
“Kau juga harus berkencan, Al. Terlalu lama sendiri akan berpengaruh pada psikologismu, kau tahu?” Mengatakan kalimatnya dengan enteng sekali, Bram telah bangkit dari kursinya. Meninggalkan cangkirnya yang masih berisi setengah lagi cairan hitam, sekaligus meninggalkan Alberto yang terdengar mengumpat dari tempat duduknya.
“Sialan!”
***
“Kau sudah pastikan semuanya siap?” Maniknya masih memandangi jalanan padat yang terbentang di depan, saat dirinya sendiri sedang berada pada sambungan telepon dengan seseorang. Mengecilkan volume dari lagu milik grup band lawas Indonesia-Padi, Bram sudah mengaktifkan mode handsfree.
“Tentu saja. Semua sesuai dengan draft terakhir kali yang aku tunjukkan padamu. Kau sudah memeriksanya?” Suara seorang lelaki terdengar di sebrang sana.
“Sudah. Pastikan saja semua sama, aku tidak ingin ada yang terlewat. Kupercayakan padamu,” balasnya kemudian.
“Baiklah, Bram. Tidak perlu khawatir. Apa kau masih di kantor?”
Bram melirik sekilas pada arloji yang melingkar di pergelangan kirinya, memeriksa waktu. Hampir pukul setengah lima sore dan seharusnya dia bergegas. Entah mengapa sore itu jalanan tampak macet dengan antrian kendaraan yang lumayan panjang.
“Tidak, aku sudah dalam perjalanan pulang.”
Terdengar kekehan di sebrang sana, sebelum kemudian lawan bicaranya membalas dengan satu kalimat telak.
“Kau benar-benar berubah, Bram!”
Memutuskan panggilan telepon itu setelah mengucapkan selamat tinggal, Bram kembali menaikkan volume suara untuk playlist yang masih dia dengarkan. Membiarkan lagu-lagu Padi menemani sore harinya, sembari dia berharap kemacetan akan segera terurai.
Tidak ingin membuang waktu, Bram menginjak gasnya dalam-dalam untuk menambah laju kendaraan. Memilih jalur alternatif yang mungkin bisa menghemat waktu, dia sedang mengupayakan yang terbaik untuk tidak membuat beberapa orang kecewa.
Setelah menempuh hampir empat puluh menit perjalanan dari kantor, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Bram memasuki sebuah rumah nan megah dengan pagar menjulang. Dengan sigap dia membelokkan benda beroda empat itu untuk menuju parkiran terdekat.
Melepaskan sabuknya dengan gerakan hampir terburu-buru, Bram sempat melirik kembali arlojinya untuk memastikan sudah pukul berapa saat itu.
Syukurlah belum terlambat, mereka pasti sudah menunggu.
Turun dari mobilnya dengan langkah besar, pria itu tampak sedikit berlari kecil menuju pintu. Meraih gagang yang berwarna keemasan dan mendorongnya dengan sekali coba, Bram disambut oleh teriakan dari arah utara yang terdengar nyaring sekali, saat dirinya sendiri sudah melebarkan senyuman selebar wajah.
Manik keduanya bertemu, dengan pancaran sinar saling mendamba.
“Ayah!”
.
.
.
🗼Bersambung🗼