
Note: Apa pun yang terjadi setelah chapter ini, bukan tanggung jawab author ya. Pembaca pasti bijak, kwkwkw 😂
“Dari semua jenis suara yang ada di dunia, suaramu akan selalu jadi favoritku.” ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Entah setan apa yang merasuki Bram saat itu. Tepat setelah Diandra menghilang di sebalik pintu kamar mandi, ia sungguh tidak bisa bernapas dengan baik. Raganya terasa kosong, saat degupan jantungnya meningkat dan terus memburu. Pikirannya hanya berpusat pada satu hal saja, yaitu tentang istrinya.
Bahkan dia menenggak habis soft drink dingin itu hingga tetesan terakhir, berharap cairan itu mampu meredakan dahaganya yang menggelegak. Tetapi ternyata tidak mempan, sebab setelah kaleng itu kosong, ia malah semakin merasa gerah dan kepanasan.
Tahan, Bram. Tahan, sebentar lagi saja.
Berulang kali mengucapkan mantra itu di dalam hati, berharap dia bisa mengendalikan dirinya dengan baik seperti waktu yang sudah-sudah. Namun tampaknya pertahanan lelaki itu sungguh lemah sekarang, tepat saat pikirannya mulai menghadirkan bayangan Diandra di pelupuk mata.
Eh, dia kan sudah jadi istriku yang sah.
Meskipun memang setanlah yang membisikkannya untuk beranjak dari sana, Bram mengamini dalam hati pastilah itu setan yang baik. Mengambil ancang-ancang, lelaki itu sudah bangkit tanpa mampu membendung hasrat yang membuncah di dalam dada. Melangkah besar-besar menuju tempat di mana istrinya berada, ia menarik gagang pintu dalam satu tarikan cepat.
Di sanalah Diandra, menoleh ke arahnya saat lelaki itu muncul begitu saja. Memegangi tali baju dalamnya yang baru saja hendak dia turunkan, Diandra refleks menghentikan gerakan.
“Bram.”
Suara indah yang begitu membuat Bram bertekuk lutut, suara yang dia damba sejak beberapa tahun lalu. Suara yang dia bayangkan di setiap malamnya, suara yang dia hadirkan di telinga saat kerinduan datang melanda. Sudah cukup baginya bertahan selama ini, dia tidak ingin menunggu lagi.
Tanpa mengatakan apa pun, Bram menuju pada wanitanya yang masih menatapnya dengan tatapan mata sedikit terkejut. Mungkin memang tidak menduga Bram akan muncul di sana, saat lelaki itu tadi berkata dia akan menunggu.
Mendorong Diandra ke arah dinding, Bram tidak menahan diri untuk mencumbui istrinya yang kini berada tepat di hadapannya. Diandra begitu menggoda, ditambah lagi dengan bahu mulusnya yang begitu jelas terlihat. Kulit perempuan itu bersih, halus bahkan tanpa cacat sedikit pun.
Ritme ciuman itu terlalu terburu-buru pada awalnya, saat Bram terus menghimpit Diandra agar tidak bergerak dari kungkungannya. Menarik pinggang wanita itu untuk kemudian dia lingkarkan tangannya di sana, Bram seakan tidak rela untuk jauh dari istrinya meski hanya beberapa detik.
Mendapati Diandra membalas pagutan itu beberapa saat kemudian, Bram semakin memperdalam tautan bibir mereka. Membiarkan Diandra yang mungkin sedang mencecap sisa-sisa perisa dari soft drink yang dia tenggak tadi, saat dirinya sendiri memainkan lidah perempuan itu di dalam sana. Menyalurkan hasrat, kali ini dengan cara yang benar dan orang yang memang diperuntukkan baginya.
Sebelum kehabisan napas saat keduanya sudah saling terengah, Bram dengan tidak rela hati melepaskan pagutan itu untuk beberapa detik. Memandangi istrinya dengan tatapan mendamba yang tidak bisa dia sembunyikan, Bram bahkan tidak peduli meski Diandra berpikir aneh-aneh tentangnya sekarang ini. Dia sudah terlanjur di ambang batas, tidak lagi bisa menunggu.
“Bram.”
Lagi-lagi suara Diandra yang memabukkan, kali ini dengan desahan yang sepertinya sengaja dibuat oleh perempuan itu. Diandra menyampirkan senyuman kecil, saat ia menggigit bibir bawahnya dengan tatapan menggoda. Sudah pasti membuat Bram semakin tidak tahan saja.
Astaga, Diandra. Kau benar-benar akan habis saat ini juga.
“Aku tidak bisa menunggu lagi, Diandra. Aku menginginkanmu, sekarang juga.” Tidak menunggu jawaban dari istrinya, Bram sudah kembali menahan perempuan itu dengan sebuah ciuman. Kali ini mendapati bibir Diandra yang terbuka lebar, memberi ruang baginya untuk mencecap bibir merah muda yang mungkin kini telah berubah menjadi merah menyala.
Mengalungkan kedua tangannya di leher lelaki itu, Diandra bahkan tidak peduli dengan bajunya yang hampir terlepas. Gerakan tangan Bram sungguh cepat, bergerilya di atas kulitnya saat ia merasakan jemari lelaki itu sudah menelusup ke dalam kaus dalamnya.
Terlepas begitu saja, baju berbahan satin itu meluncur dengan sendirinya dari tubuh Diandra. Kini menarik pandangan Bram yang lelaki itu layangkan padanya, saat Bram menyampirkan senyuman tipis yang lebih mirip seringai serigala.
Menurunkan kepalanya untuk menyusuri leher jenjang Diandra, Bram tidak memberikan sekecil apa pun ruang bagi mereka. Diandra melenguh, melepaskan desahan kecil saat bibir suaminya menciptakan gigitan dan kecupan di sepanjang leher. Meninggalkan bekas-bekas bergaris, yang pasti akan tampak memerah untuk beberapa hari ke depan.
Tidak hanya Bram saja yang sedari tadi berusaha menahan diri, tetapi Diandra juga sudah berusaha menahan diri dengan sangat baik hingga detik ini. Sentuhan Bram seolah memberikan efek lemas, menghipnotisnya hingga ia tanpa sadar bertekuk lutut. Pesona lelaki itu sungguh luar biasa, tidak dapat ditepis barang sedetik pun.
Diandra mengerang. Memberikan ruang untuk Bram menyusuri setiap inchi tubuhnya, karena dia kini sudah sepenuhnya menjadi milik lelaki itu. Memiringkan kepala untuk mengikuti gerakan saat Bram semakin menginginkan dirinya, Diandra melingkarkan kedua tangan kini di punggung suaminya.
Mendesah, menggelinjing akibat rasa tagih yang diciptakan Bram di atas kulit, saat dia tahu Bram sudah menuntut lebih.
Lelaki itu menyusuri dua aset yang dia miliki di atas sana, membiarkan lelaki itu bermain dengan bibir dan gigitan kecilnya. Tangan Bram semakin menelusuri dan menimbulkan efek sengatan listrik, saat diam-diam Diandra memejamkan mata.
“Bram,” desisnya pelan.
Desisan yang semakin menaikkan gairah, saat lelaki itu dengan sigap mengangkat tubuh Diandra dalam dekapannya. Menempelkan tubuh wanita itu rapat ke dinding, memegangi bagian kakinya untuk menahan Diandra tetap stabil.
“Aku ingin dirimu, Diandra. Sebutlah namaku,” bisik Bram pelan, saat Diandra kembali meringis untuk yang kesekian kalinya.
“Bram.” Wanita itu menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak yang hampir menggelegar di dalam dada. Mencengkram rambut Bram dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Bram, sesaat sebelum dia melayangkan satu hisapan kecil di sana.
Kini gantian Bram yang melenguh, sudah berada di ambang batasnya.
“Aku akan melakukannya, Sayangku.” Suara lelaki itu jelas terdengar, saat kemudian Diandra tidak bisa menahan diri untuk tidak mengangguk. Anggukan itu cepat sekali, menandakan dia juga berada di ambang batasnya kali ini.
Peduli amat dengan taburan bunga lili dan mawar di atas tempat tidur tadi. Keduanya bahkan tidak berniat untuk berpindah posisi.
Menenggelamkan kepalanya sekali lagi ke ceruk dada istrinya, Bram lalu menargetkan bibir Diandra untuk kembali dia pagut. Menarik napas pelan-pelan, saat ia berusaha mencari celah untuk penyatuan mereka, menyadari Diandra sudah siap untuk memberikan semuanya.
Kini, saat ini juga.
Desahan kembali terdengar, seiring dengan lenguhan Diandra yang menaikkan kepalanya ke atas dengan mata terpejam. Menyadari sesuatu yang lain kini memasuki tubuhnya, dia benar-benar telah menjadi milik pria itu, Bram Trahwijaya.
Bram bergerak dengan ritme yang dia ciptakan sendiri, membimbing Diandra untuk larut dalam penyatuan mereka kali ini. Gerakan itu teratur, lembut namun cukup menguras tenaga. Bibir keduanya masih bertautan, saat napas terus memburu diselingi desahan demi desahan yang terdengar.
Tembok yang hening itu menjadi saksi, untuk kisah cinta dua insan yang akhirnya menyatu dalam damai. Kamar mandi itu akan selamanya menjadi saksi bisu, untuk perjuangan cinta Bram pada istrinya yang dia tunggu bertahun-tahun.
“Diandra,” bisikan Bram terdengar manis sekali, saat Bram menaikkan ritme gerakannya. Membiarkan Diandra terus melenguh dan mendesah, saat dia kembali bersuara pelan.
“Aku mencintaimu, Diandra.”
Tepat setelah kalimat itu mengudara, Diandra telah terkulai lemas di pelukan Bram akibat olahraga mendadak yang dia tidak duga sebelumnya.
Menyandarkan kepala di bahu suaminya, embusan napas perempuan itu tepat mengenai punggung polos Bram kali ini.
“Aku mencintaimu, Bram.”
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~Wuuuuuussssshhhhh lari takut diamuk netijen 🏃🤣