Travelove~

Travelove~
06. Kecupan Tetangga Baru



"Siapa sangka semesta begitu cepat menangkapnya. Kata pertama." ~Marinda Schoff.


.


.


.


Marin pandai dalam mengelabui. Jangan ditanya mengapa, karena dia dibesarkan untuk jadi pemimpin klan Schoff. Salah satu klan terbesar di Paris yang terkenal dengan kekayaan jutaan euro di seluruh penjuru negeri. Memiliki banyak bidang bisnis, mulai dari pertanian, manufacturing hingga pelayanan jasa, klan Schoff sudah memiliki nama yang sangat terpandang di kalangan pelaku bisnis dan bangsawan.


Hanya berpura-pura terkejut sangatlah kecil untuk Marin, seperti mengedipkan mata. Sangat gampang sekali. Bram masih memandanginya dengan tatapan penuh rasa terkejut, sungguh tidak menyangka akan kembali bertatapan dengan si gadis pemilik bola mata biru.


"Kau mau mampir?" tawaran yang dilontarkan Marin, namun hampir ditolak oleh Bram karena dia terburu-buru. Hanya saja rasanya tidak sopan jika dia mengatakan dia tidak ingin, jadi setidaknya dia masuk untuk berbasa-basi saja.


"Aku sedang terburu-buru, Marin. Aku berencana untuk berenang malam ini," begitu Bram menjelaskan, menatap dalam pada manik mata Marin. Warna biru yang terang, sekaligus tampak teduh.


Marin tersenyum, khas sekali. Mempersilakan Bram untuk kembali, gadis itu telah menutup pintu apartemennya. Dia baru dua hari menghuni kompleks itu, dan sepertinya berenang akan jadi pilihan yang baik malam ini. Mana tahu dia juga bisa menghabiskan waktu bersama Bram, sekedar untuk bercerita sesaat.


Melangkahkan kaki ke arah walk-in-closet miliknya, Marin bersyukur dia sempat membawa pakaian renang di dalam kopernya. Mengganti pakaiannya dengan cepat, Marin sempat memandangi cermin besar. Mematut dirinya, mengamati diri sendiri.


Kau telah memilih, Marin. Lakukan dengan cepat dan kembalilah ke Paris. Kau hanya punya waktu satu bulan untuk menentukan.


Marin mengerjap, merapikan rambut dan mengikatnya dengan ikatan berwarna merah muda.


Selesaikan misimu dan kembalilah. Meski itu dengan atau tanpa dia.


Meyakinkan dirinya, Marin punya begitu banyak hal yang mulai beterbangan di fikirannya. Tentu saja dia tidak datang tanpa maksud tertentu, melainkan dia datang dengan sebuah misi. Misi yang langsung dia terima dari ayahnya -- sang pemimpin klan, Luke Schoff. Misi yang menentukan, apakah dia kelak layak untuk menggantikan kepemimpinan Luke, mengganti pria tua yang hampir bangka itu.


Hidup Marin dipertaruhkan, namun ketika dia mendengar kata 'Indonesia' tempo lalu, gadis itu tanpa fikir panjang langsung menganggukkan kepala. Belum memikirkan masak-masak mengenai resiko yang mungkin akan dia hadapi, dia telah setuju. Bahkan anggukannya tampak terlampau bersemangat, yang sesaat membuat Luke bertanya-tanya dalam hati.


Marin tidak ingin ayahnya tahu. Cukup Luke mengetahui bahwa dia akan ke Indonesia untuk menyelesaikan misi, tidak lebih daripada itu. Tidak perlu Luke tahu apa yang dia rencanakan, atau bayang siapa yang telah dia hadirkan di pelupuk matanya.


Marin menyunggingkan senyuman, menatap pada dirinya sekali lagi. Gadis itu menyambar sebuah handuk kecil, sesaat sebelum dia melangkah besar menuju pintu.


Langkah pertamanya akan segera dimulai.


***


Bram bersandar pada dinding kolam, menyampirkan kedua lengannya tepat di tepi, menikmati angin yang berhembus mulai kencang. Marin datang. Gadis itu menyusulnya, melangkah indah dengan sebuah handuk yang melilit tubuhnya, menuju sebuah kursi panjang.


Meletakkan handuk dan beberapa barang miliknya di sana, Bram dapat melihat dengan jelas betapa visual Marin sungguh tampak indah malam itu. Kakinya yang jenjang dan tubuhnya yang proporsional, tanpa sadar membuat Bram kepayahan menelan ludah. Entah mengapa kini sedikit sulit untuk lelaki itu menguasai dirinya sendiri.


Marin mendekat, telah menyeburkan diri ke dalam air, meliukkan tubuh dengan mahir. Kini gadis itu berada tepat di samping Bram, melirik pada lelaki itu sekilas.


"Ayo kita lomba, Bram. Yang menang boleh mengajukan permintaan atau melakukan sesuatu pada yang kalah," ujar Marin menawarkan sebuah kompetisi, daripada mereka hanya semakin merasa kedinginan karena berdiam diri di dalam kolam.


Bram mengangguk cepat. Dalam hati penasaran juga dengan kemampuan renang yang Marin miliki. Setelah mampu menahan pencopet dengan satu tangan, mari kita lihat apa gadis ini punya kemampuan renang yang baik.


Tersenyum saat mendapati Bram menyetujui tawarannya, Marin bersorak dalam hati. Bram tidak mengenalnya dengan baik, Bram sungguh tidak tahu bagaimana kemampuan Marin dalam menaklukkan air.


"Kau siap? Satu, dua, tiga!"


Maaf, Bram. Aku harus menang. Lain kali akan kubiarkan kau menang.


Bram tidak tahu siapa sebenarnya gadis yang sedang dia lawan. Mengerahkan seluruh tenaga, Bram juga ingin memenangkan pertandingan, tidak mau kalah dari seorang gadis. Namun pupus harapannya seketika, saat mengetahui Marin telah lebih dulu sampai, mencapai garis finish.


"Baiklah, Marin. Kau menang. Kecepatanmu cukup baik juga, kurasa." masih terengah-engah, Bram berusaha mengatur deru napasnya, memandangi sekilas pada Marin yang sudah tampak lebih tenang.


"Kau sportif juga, Bram," berkata Marin dengan nada senang, sungguh dia menyukai kemenangan.


Bram tersenyum tipis.


"Baiklah, katakan keinginanmu." Bram tahu dia harus menepati janji, bertindak layaknya seorang pria sejati.


Marin mendekat, menatap lelaki yang berada di depannya dengan tatapan penuh arti, tanpa sadar telah mengeliminasi jarak di antara keduanya.


"Maafkan aku, Bram. Tapi aku sungguh penasaran."


Marin telah semakin dekat, menutup erat matanya saat dia berjinjit sedikit, menuju pada bibir Bram yang tampak menggoda.


Sebuah kecupan mungkin akan membantu, Bram. Membantu misi pribadiku.


Menegang tubuh Bram seketika, saat bibirnya kembali merasakan sensasi berbeda setelah dia resmi menjadi seorang duda. Melewati hampir setahun lebih tanpa mampu memandang gadis lain, kini Bram malah mendapatkan sebuah kecupan dari seorang gadis asing. Menjauhkan bibirnya setelah beberapa detik, Marin mengerjapkan mata.


"Bibirmu manis juga, Bram. Terima kasih!" mengucapkan hanya kalimat sederhana itu dengan intonasi santai, Bram ditinggalkan dengan fikiran yang masih berhamburan. Lelaki itu ambyar seketika.


Marin telah berenang menjauh, saat Bram baru saja mulai menguasai diri.


Tunggu! Marin, apa yang kau lakukan?!


Marin mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil yang dibawanya tadi, sempat melirik sekilas pada Bram dari arah pintu keluar. Tersenyum di sudut bibirnya saat memandangi Bram yang masih terdiam, gadis itu kembali bersorak dalam hati.


Langkah yang hebat, Marin. Lihat bagaimana dia bisa menolakmu kali ini.


Menekan tombol pada lift yang berjejer tiga, gadis itu menunggu sembari menyilangkan tangan di depan dada. Dia tidak menyadari bahwa lelaki yang baru saja dia lihat tidak lagi berada di tempatnya, sudah berlari kecil untuk menuju dirinya.


Marin telah masuk ke dalam salah satu lift, saat Bram baru saja berbelok di pintu. Memeriksa lampu berwarna merah yang terletak tepat di atas lift yang menunjukkan dimana lift itu berada, Bram telah menimang. Terlalu lama jika dia menunggu lift datang. Memutuskan dengan cepat kilat, lelaki itu telah berlari menuju pintu darurat untuk mencapai lantai apartemennya.


Marin, kau sadar apa yang telah kau lakukan?


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Terima kasih sudah mampir, diharap bersabar yaa 😂