Travelove~

Travelove~
Bonchap 4 - Pria Seperti Aku



"Kau sungguh berhak bahagia. Tidak seharusnya bersanding dengan pria seperti dia, aku yakin kau akan menemukan pria yang lebih baik." ~Alberto Vigez.


.


.


.


 


Hana menaikkan kepala. Memandangi Alberto yang kini menatapnya lekat, saat keheningan masih menyelimuti. Kafe itu hampir saja sepi sekarang, seiring dengan matahari yang terus beranjak naik. Tetapi mereka masih di sana, masih betah sepertinya berada dalam keheningan.


Jam kantor tentu saja telah dimulai sejak tadi, namun Alberto memang tidak berniat beranjak dari tempat duduknya. Dia sudah memberitahu pada sekretarisnya lewat panggilan telepon tadi bahwa dia tidak akan naik ke kantornya pagi ini. Setidaknya dia harus tetap di sana, menemani Hana hingga perempuan itu nantinya pamit undur diri


Alberto tidak tahu hal apa yang mungkin ingin disampaikan Hana padanya, tetapi dia hanya akan menunggu saja.


Hana berdehem pelan. “Aku belum berterimakasih dengan benar,” katanya setengah berbisik.


“Terima kasih karena kau menyelamatkan aku malam itu. Jika saja kau tidak ada mungkin semuanya hanya akan menjadi mimpi buruk yang lebih mengerikan untukku,” sambungnya lagi.


Alberto meraih gelasnya yang hampir kosong, menelan ludah dengan susah payah. Dia tidak tahu mengapa pertemuan ini terasa seperti sedikit serius sekarang.


“Kau berhak pergi darinya, Hana,” komentar lelaki itu. Mengangkat kepalanya, Alberto bersandar pada kursi.


Hana menunggu.


“Tidak ada satu pun lelaki yang berhak memiliki perempuan jika hanya untuk diperlakukan dengan tidak hormat,” jelas Alberto. “Kalian—perempuan, diciptakan untuk diberikan kucuran kasih sayang dan dilindungi. Bukan untuk diperlakukan seperti apa lelaki itu memperlakukanmu.”


Hana menelan ludah dengan susah payah. Merasakan degupan jantungnya yang tiba-tiba saja meningkat, memunculkan elegi dari perasaan yang bercampur aduk. Tidak pernah dia menyangka dia akan mendengar kalimat sebaik ini dari pria lain, saat pria yang berstatus sebagai suaminya malah menyiksanya tanpa ampun.


Hana tersenyum getir. Alberto tidak gentar, dan sepertinya lelaki itu tidak menyesali perkataannya baru saja. Meski ia sempat bertanya-tanya dalam hati apakah kalimatnya tadi menyinggung Hana atau tidak.


“Aku tidak tahu sejauh apa hubungan kalian,” ujar Alberto lagi. “Tetapi melihatmu terluka sebegitu parah dengan mataku sendiri membuatku tidak bisa hanya diam saja.”


Hana bergerak untuk meraih gelas kopinya, menatap ke dalam cairan kecokelatan yang masih berada di dalam sana.


“Oleh sebab itu aku berniat untuk menyelamatkanmu. Meski itu bukan urusanku sebenarnya, aku hanya tidak ingin melihat laki-laki berandal menyiksa perempuan, meski itu istrinya sekalipun,” ujar Alberto lagi.


Pria yang menaruh peduli pada luka dan kondisinya, pria yang membantunya untuk bangkit. Pria yang ada di sana untuk mengulurkan tangan ke arahnya bahkan saat pria itu tidak tahu siapa dia sebenarnya, pria yang sama yang juga berakhir dengan luka lebam akibat dihajar oleh Joergen dan anak buahnya dengan brutal.


“Aku tahu,” sahut Hana pelan sekali. Ia memalingkan wajah, memandangi ke arah luar.


Alberto menarik napas. Tidak tahu ke mana kira-kira pikiran Hana membawa perempuan itu terbang, saat dia begitu mengagumi pahatan wajah Hana sekarang. Bibir Hana tampak ranum dan merah, dengan garis leher yang tegas.


Alberto tidak tahu setan apa yang membuat lelaki sialan itu—Joergen Swarg, bisa dengan mudahnya melayangkan tamparan dan siksaan pada tubuh Hana. Saat dirinya begitu ingin merengkuh perempuan itu dalam dekapannya.


“Kau benar, seharusnya aku berhenti sejak dulu,” bisik Hana kemudian. Kali ini menatap lagi ke arah Alberto yang masih setia duduk di sana, mengabaikan banyaknya dokumen tentang tender bernilai milyaran rupiah yang menunggunya.


“Kau berhak bahagia, Hana. Perempuan sepertimu tidak pantas bersanding dengan pria semacam dia, terlebih untuk menjadi suamimu,” balas Alberto jujur.


Hana mendesah. Melengkungkan satu senyuman tipis di bibirnya, saat ia juga diam-diam mengamini dalam hati.


“Kini dia bukan lagi suamiku,” perempuan itu membalas. Memperjelas perkataannya di awal tadi bahwa mereka telah bercerai.


Alberto berdehem. Memperbaiki posisi tubuhnya untuk duduk tegak, saat lelaki itu menautkan jari-jarinya di atas lutut.


“Mungkin kau harus menemukan pria lain,” ujarnya kemudian. Berniat memang untuk memberikan saran terbaik bagi perempuan itu.


Hana mengedipkan mata. Menarik napas panjang. “Kau benar,” sambutnya. Meletakkan gelas kopinya tadi ke atas meja, perempuan itu tertegun saat Alberto melanjutkan kalimatnya kemudian.


Pria itu mengucapkan kalimatnya dengan tegas, dalam satu helaan napas.


“Mungkin saja seorang pria yang seperti aku.”


.


.


.


~Bolehlah usahamu, Al. Tetap semangat yaa~