Travelove~

Travelove~
Bonchap 12 - Perempuan Selain Kau



“Tidak pernah terbayangkan akan ada mahluk kecil yang terbentuk dari benihku. Setelah semua dosa yang aku lakukan, aku bersyukur semesta masih memberikanku kesempatan.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Bram menyudahi rapat siang itu dengan cepat. Melirik pada Meta yang sedang membereskan beberapa dokumen di atas meja, lelaki itu mengangguk samar pada peserta rapat yang mulai undur diri satu per satu.


“Kau sudah mengatur ulang semua jadwalku, Meta?” tanya lelaki itu memastikan.


Meta menolehkan kepala untuk membalas tatapan atasannya, yang diikuti dengan anggukan kemudian.


“Sudah, Pak. Termasuk janji temu dengan Dokter Rossa sore ini,” jawab perempuan itu cepat dan tegas.


Bram berdehem. Satu unit laptop masih menyala tepat di hadapan lelaki itu, menampilkan sebuah file dari topik yang baru saja dibahas di rapat tadi. Masih ada beberapa berkas yang harus ditinjaunya hari ini, tetapi dia sudah meminta Meta untuk mengirimkan lewat surat elektronik saja.


“Aku akan pergi lebih cepat, Meta,” ujar Bram lagi. Kali ini lelaki itu bangkit, menggeser laptopnya ke hadapan Meta. “Bawakan laptopku sekalian, ya. Aku akan langsung pergi saja.”


Meta mengangguk takzim. “Baik, Pak,” jawabnya cepat. “Semoga kandungan Ibu baik-baik saja, Pak,” timpalnya dengan senyuman tulus.


Dia tahu Bram ada janji temu dengan salah satu dokter obgyn terbaik di kota mereka sore ini, sebab dialah yang mengatur janji temu itu untuk atasannya. Bram mungkin saja ingin berada di rumah lebih cepat, sebelum nanti bersama Diandra menuju rumah sakit tempat dokter Rossa bekerja.


Bram membalas senyuman Meta. Sekretaris yang sudah bertahun-tahun bekerja untuknya itu bisa dibilang cukup memahami bagaimana seluk beluk kehidupannya selama ini. Sejak ia lajang dan dinobatkan menjadi pimpinan utama perusahaan Trahwijaya, Meta sudah berada di sana.


Perempuan itu juga pastilah tahu tentang hubungannya dengan Zeana Luis, atau beberapa wanita cantik yang pernah mendarat di kantornya bertahun-tahun lalu. Hingga Diandra datang dan meneguhkan posisi sebagai istri dari seorang Bram Trahwijaya, yang entah bagaimana sukses mengubah keseluruhan hidup lelaki itu.


Tepat setelah sosok Bram menghilang dari sebalik pintu, Meta melanjutkan untuk membereskan laptop milik atasannya, dan keluar dari ruang rapat itu tidak lama kemudian.


***


Diandra sudah berpakaian dengan benar. Dia baru saja selesai mandi, sebab dia tahu mereka akan mengunjungi dokter sore ini. Ini bukan kunjungan pertamanya ke dokter kandungan, sebab mereka sudah pernah kontrol beberapa kali. Hanya saja karena dokter Rossa termasuk deretan dokter terbaik di negeri ini, maka sekelas Nyonya Trahwijaya pun harus tetap mengikuti jadwal yang telah tersedia.


Dia tidak mendengar deru mobil Bram datang. Tetapi wangi parfum lelaki itu sudah memenuhi kamar, ketika Diandra kini melangkah dari kloset mereka setelah mengenakan pakaiannya. Celingukan ke seluruh penjuru kamar, perempuan itu tidak mendapati sosok Bram di dalam sana.


“Bram?” panggilnya pelan.


Bram tidak ada.


“Braaaaammm?” ulangnya lagi.


Tersentak kecil ketika dua lengan kokoh sudah melingkar di depan perutnya yang mulai berisi, Diandra melebarkan senyuman sembari tertawa kecil.


“Aku di sini, Sayang,” bisik Bram pelan, tepat di telinga istrinya. Menghidu aroma tubuh yang juga telah bercampur parfum khas milik Diandra, Bram sempat memejamkan mata untuk beberapa detik.


Mencuri beberapa kecupan di tengkuk perempuan itu, Bram membuat Diandra menggeliat pelan di dalam dekapannya.


“Kau bersembunyi ya, tadi?” tanya Diandra kali ini. Melepaskan kaitan tangan Bram dari tubuhnya, perempuan itu memutar badan kemudian.


Mendapati Bram masih mengenakan pakaian kantor seperti pagi tadi, meski kini dasi lelaki itu sudah terlepas entah ke mana. Bram juga sudah membuka tiga kancing kemejanya paling atas, mungkin sedikit gerah atau mungkin berencana untuk menggoda Diandra.


Lelaki itu mengangguk. “Aku mau memelukmu,” katanya. “Hampir saja aku masuk ke dalam kamar mandi tetapi kau sudah berada i walk in closet tadi,” jelas Bram.


Mengundang decak tawa yang lebih lebar dari Diandra kali ini, ketika perempuan itu menangkupkan kedua tangan di pipi suaminya.


“How’s your day?”


Bram mengangguk samar. “Everything’s good, Diandra. Aku hanya selalu ingin cepat pulang belakangan ini. Seperti ingin bersamamu terus.”


Senyum Diandra kembali merekah.


“Kau harus bekerja keras sebab ada satu lagi yang akan merengek padamu nanti,” ujar perempuan itu.


Meraih tangan Bram untuk ia letakkan di atas perutnya, Diandra bahkan menyelipkan tangan suaminya ke dalam blouse ibu hamil yang ia kenakan. Membiarkan tangan kokoh lelaki itu bertemu dengan kulitnya di dalam sana, seiring dengan lengkungan senyum yang tidak memudar.


“Nanti anakmu akan meminta banyak hal, Bram,” bisik Diandra pelan. Membimbing tangan lelaki itu untuk bergerak di setiap permukaan perutnya, dia ingin Bram membangun kedekatan dengan anak mereka sedini mungkin.


Biar si kecil di dalam sana bisa merasakan betapa dia begitu dicintai, bahkan sebelum mereka saling bertemu.


Bram menarik napas dalam-dalam. Menikmati sensasi lain yang kini ia rasakan, seiring dengan rasa hangat yang menjalar masuk ke dalam hatinya. Tidak bisa dipungkiri, Bram Trahwijaya sungguh merasa diberkati.


Setelah semua dosa yang ia lakukan, dia tidak pernah berpikir semesta akan berpihak sekali lagi padanya. Tidak hanya memberikan Diandra ke sampingnya, tetapi kini dia akan menerima seorang malaikat kecil yang membawa gennya dalam tubuh.


Bram tidak bisa lebih bahagia daripada ini.


“I promise to love you always, Diandra,” bisik Bram mendekat.


Diandra adalah satu-satunya perempuan paling berharga di kehidupan Bram kini, dan itu tidak akan bisa tergantikan. Tidak sekarang, tidak kapan pun.


Melotot, melebarkan manik kecokelatannya yang membuat Bram tertawa.


“Bram!” seru perempuan itu. “Aku tidak mau terlambat ke dokter Rossa ya,” lanjutnya memperingatkan.


Bram (masih) begitu nakal. Bisa-bisanya dia mulai menggerayangi tubuh istrinya ketika kini mereka harus pergi secepat mungkin.


“It’s okay, Sayang.” Bram tertawa senang. “Aku hanya ingin memeriksanya sebentar, itu saja,” dia berkilah cepat.


Diandra menggeleng. Menarik tangan Bram kini, menyuruh lelaki itu untuk bersiap sekarang.


“Gantilah bajumu, aku tunggu di bawah. Vallois dan Verden mungkin akan menangis.”


Bram masih mematung di posisinya, memandangi punggung Diandra yang berjalan menjauh menuju arah pintu. Berbisik dalam hatinya yang terdalam, betapa dia mengagumi perempuan itu dengan sepenuh jiwa raganya.



Nyempil, Brambang yang pake masker aja ganteng wkwwkwk.


***


Dokter Rossa menggerakkan alat ultrasonografi dengan cekatan.


“Congrats, Mr and Mrs Trahwijaya. It’s a baby girl!” serunya kemudian.


Suara dokter Rossa yang memenuhi ruang praktik itu terasa begitu menyegarkan, seiring dengan tautan manik Diandra dan Bram yang bertemu kemudian. Diandra masih berbaring di atas ranjang periksa, dengan Bram yang memegangi tangannya dari sisi sebelah kiri. Sedangkan dokter Rossa berada di sebelah kanan, menghadap pada sebuah layar dengan perangkat periksa lainnya.


Bram tidak bisa menahan haru. Mengeratkan pegangan tangan mereka, ketika kini lelaki itu mengikuti gerakan jemari dokter Rossa yang menari di layar. Dadanya bergemuruh, tidak bisa ditahan. Bahkan dia hampir saja meleleh, ketika menyadari kini ada seseorang yang hidup di dalam rahim istrinya.


Anaknya. Benihnya. Buah hati mereka.


“Ini dia, tumbuh sehat sekali. Kudengar kalian sudah memiliki anak laki-laki, bukan begitu?” tanya dokter cantik berpotongan rambut sebahu itu.


Bram mengangguk. “Benar, Dokter. Dua anak kembar laki-laki,” jawabnya cepat.


Dokter Rossa berdehem. “Kali ini adiknya perempuan. Selamat ya, Nyonya. Apa kau masih merasa mual belakangan ini?”


Diandra menggeleng. Rambutnya terurai di bantal yang sedang ia sandari.


“Tidak lagi, Dokter,” jawabnya. “Makan sudah mulai membaik dan segalanya menjadi lebih mudah,” jawab perempuan itu jujur.


Dokter Rossa mengangguk samar, lagi. Menyelesaikan pemeriksaan itu tidak lama kemudian, ia meminta Diandra untuk bangkit dari tempatnya berbaring.


“Minumlah vitamin yang kuresepkan secara teratur. Lakukan olahraga ringan, dan teruslah bahagia, Nyonya,” pesannya kemudian.


Beralih untuk kini menuliskan resep di mejanya, dokter itu membiarkan Bram yang sudah mengambil alih. Membantu Diandra untuk turun perlahan-lahan, lelaki itu tidak melepaskan gandengan tangan mereka bahkan sedetik pun.


Mendengarkan dengan seksama beberapa hal lagi yang disampaikan dokter Rossa sebelum sesi pemeriksaan itu berakhir, kini Diandra dan Bram sudah kembali berada di dalam mobil.


Membantu istrinya untuk mengenakan sabuk pengaman, Bram sempat menghentikan gerakan tepat di depan tubuh Diandra.


Ada dua pasang mata yang saling menatap dalam.


“Diandra,” panggil Bram pelan.


“Hmm?”


Terdengar lelaki itu menarik napas perlahan.


“Selama ini hanya ada satu perempuan yang aku cintai setengah mati dalam hidupku,” ujar Bram. “Tetapi sepertinya aku harus membagi kasih sayang pada satu perempuan lain, sebab kini ada dua perempuan yang harus aku jaga hingga nanti.”


Diandra mengulum senyuman. Dia tahu ke mana arah pembicaraan suaminya, dan itu membuatnya merasa hangat.


“Benarkah?” tanya Diandra pura-pura. “Lalu, siapa dua perempuan beruntung itu?”


Bram sempat menaikkan sudut bibirnya untuk tersenyum kecil, sebelum menjawab pertanyaan istrinya.


“Kau, dan putri kecil kita.”


.


.


.


~Ini Brambang kenapa jadi soswit banget sik? Kan jadi pengen juga fyuuhh 🙄