Travelove~

Travelove~
94. Bantuan (2)



"Karena kau hanya sedang berpura-pura tegar. Menganggap dirimu sekuat karang saat sebenarnya kau rapuh seperti kerupuk udang." ~Alberto Vigez.


.


.


.


Ada yang salah.


Ada yang salah pada dirinya, saat Alberto tidak tahu mengapa kini dia berada di tempat yang sama.


Setelah keluar dari ruangan Bram karena lelaki itu memiliki rapat, Alberto pergi dari perusahaan Trahwijaya. Berniat untuk kembali ke kantornya, namun entah mengapa dia mengemudikan mobilnya menuju arah yang berlawanan.


Kini duduk di salah satu tempat duduk yang disediakan oleh pihak mall bagi pengunjung untuk sejenak beristirahat, Alberto bahkan memakai kacamata hitam yang ia temukan di dashboard mobilnya.


Berusaha menutupi diri, saat maniknya sibuk mencuri pandang ke arah D-Gallery, berharap Hana akan muncul di sana.


Perempuan itu bersikeras meminta agar Alberto melepaskan tangannya tadi, sedikit memelas dengan air mata yang terus mengalir deras. Setelah bujukannya tidak dihiraukan, Alberto akhirnya memilih untuk menuruti permintaan perempuan itu, melepaskan tangan Hana meski dengan perasaan berat hati.


Tidak berbasa-basi, Hana langsung meninggalkan Alberto di tempatnya, setengah berlari saat ia tampak celingukan ke kanan dan ke kiri. Seperti sedang memperhatikan sekitar, mungkin khawatir jika pria tadi masih ada di sana.


Alberto mencelos. Mendapati sekelebat bayangan Hana yang terlihat dari kaca, saat wanita itu sedang menggantung beberapa baju di pajangan. Baju yang dikenakan Hana telah berganti, kini dia mengenakan blouse lengan panjang mungkin untuk menutupi luka lebam di tangannya.


Pancaran wajahnya sudah mulai berbeda, dibantu dengan polesan make up untuk menyamarkan bekas tamparan tadi.


Menarik napas, Alberto masih terdiam. Berusaha mengenali dirinya sendiri sekali lagi, mencari alasan dan jawaban mengapa dia duduk tenang di sana sekarang saat begitu banyak laporan yang harus dia tinjau hari ini.


Alberto tidak muncul di kantornya hingga sore menjelang, dan itu disebabkan oleh istri dari lelaki lain.


***


Diandra datang dengan ponsel Bram yang berdering nyaring, membawa benda pipih itu kepada suaminya yang sedang menemani Vallois dan Verden bermain lego di ruang bermain.


"Bram, ponselmu." Diandra menyodorkan ponsel itu ke arah Bram, yang langsung disambut oleh lelaki itu.


Nomor yang dia tidak kenal, namun dia menekan tombol hijau pada akhirnya.


"Ya, halo?"


"Tuan Bram Trahwijaya?" Suara di sebrang sana terdengar khas, saat Bram memicingkan mata untuk berpikir siapa kira-kira si penelepon kali ini.


Bangkit dari duduknya, ia memberikan isyarat melalui matanya pada Diandra bahwa dia akan berada di panggilan telepon untuk beberapa saat.


"Benar. Dengan siapa ini?" Lelaki itu sudah berjalan menjauhi tempat duduknya tadi, beralih ke ruang tamu yang berdekatan dengan ruang bermain anaknya.


"Aku Roman, Jaguar The Reds."


Bram tersentak kecil. Tidak menyangka dia akan mendapatkan panggilan yang begitu cepat dari The Reds--organisasi kelas atas yang menaungi banyak mafia. Padahal baru siang tadi dia mengatakan pada salah satu rekannya bahwa dia membutuhkan jasa penyelidikan orang, dan rekannya tersebut menggaungkan nama The Reds tanpa ragu.


"Ah, benar. Tuan Roman dari The Reds," jawab Bram. Lelaki itu sudah duduk di salah satu sofa, melipat kakinya.


"Kudengar Tuan membutuhkan jasa kami, apa yang bisa kami lakukan untuk Tuan?" Lelaki yang bernama Roman itu kini berbicara dengan nada yang lebih santai.


"Aku membutuhkan bantuan kalian untuk menyelidiki seseorang. Dan kalau bisa, membawa orang itu ke hadapanku," ujar Bram. Teringat akan janjinya pada Alberto untuk membantu lelaki itu, setidaknya dengan seperti itu mungkin Alberto akan mampu mengambil sikap.


Terdengar seringaian di seberang sana.


"Tentu saja bisa, Tuan. Kita bisa bertemu sekarang?"


Bram melirik jam besar yang terpasang di dinding, menimang sesaat apakah dia bisa menyanggupi permintaan lelaki itu sekarang.


"Baiklah. Tentukan tempatnya."


Dia masih punya waktu, sebelum malam semakin larut. Dia hanya akan keluar sebentar, bertemu dengan perwakilan dari The Reds tadi dan kembali secepat mungkin.


"Dari pantauan kami, lokasi Tuan sekarang berada di Grand Avenue, benar?" Suara lelaki tadi terdengar nyaring sekali, tiba-tiba membuat Bram bergidik ngeri.


Bagaimana bisa dia mengetahui titik lokasi tempatnya berada sekarang? Apakah The Reds punya sistem navigasi atau pelacak? Sepertinya dia harus bertanya pada rekannya tadi seberapa besar kekuasaan organisasi ini sebenarnya.


"Kau benar. Kalian melacak dengan baik." Terdengar seperti kalimat yang mengandung makna ganda, antara memuji kehebatan The Reds itu atau malah mengejek sebab organisasi itu telah melacak lokasinya secara ilegal.


Sekarang pria itu tertawa? Mafia macam apa itu?


"Maafkan aku, Tuan. Aku mendengar Anda memiliki anak kecil dan mungkin saja tidak ingin keluar terlalu jauh dari rumah. Aku mencoba untuk menemukan tempat nyaman untuk kita berbincang yang jaraknya paling dekat dengan kediaman Anda," jelas sang pria lagi. Sepertinya hal ini sudah bukan hal baru untuknya, meski kini ia menjelaskan untuk calon pelanggan mereka dengan sabar.


"Baiklah. Ada kafe di sekitaran sini bernama Confetti, kau bisa ke sana?" tanya Bram to the point, tidak ingin waktunya berkurang sebab terlalu lama berbicara di telepon.


"Aku tahu itu. Sampai bertemu di sana, Tuan Trahwijaya," ujar Roman kemudian, menutup telepon setelah menyelesaikan kalimatnya.


Bram memutar tubuh, menggenggam ponselnya di telapak tangan. Menghampiri Diandra yang duduk di atas karpet beludru bersama Vallois dan Verden, juga pengasuh keduanya, Bram berbisik pelan ke arah istrinya.


"Aku harus pergi, Sayang. Tidak jauh, hanya ke kafe dekat sini saja. Kau tidak apa-apa kutinggal?" tanyanya.


Diandra bangkit. Mengikuti langkah Bram untuk menjauh beberapa langkah dari sana, menatap manik kehitaman lelakinya.


"Apakah ini tentang Hana tadi, Bram?" tanya perempuan itu balik, terlalu khawatir sebenarnya. Dia telah mendengar cerita dari Bram tentang kejadian hari ini.


Bram mengangguk pelan. "Kau benar. Aku ingin mengusut ini secepat mungkin, menyelesaikannya secepat mungkin. Jika memang benar lelaki tadi adalah suami Hana, maka setidaknya Alberto harus menyelesaikannya sendiri," jelas Bram.


Diandra menarik napas. Tidak ada istri di dunia ini yang menginginkan suaminya berada dalam situasi yang berbahaya, tetapi dia percaya Bram tahu apa yang lelaki itu lakukan.


Mengusapkan tangannya di dada bidang Bram, Diandra kemudian bersuara pelan.


"Jaga dirimu, Bram. Dan cepatlah kembali."


***


Tidak memerlukan waktu lama untuk mencapai Confetti Cafe dari kediaman Trahwijaya. Meski Bram tidak tahu sejauh mana jarak yang akan ditempuh lawan bicaranya tadi saat ia menunjuk kafe ini untuk tempat pertemuan mereka.


Entah dirinya yang datang lebih dulu, atau mungkin pria yang mengaku sebagai Jaguar The Reds tadi. Sesaat Bram bergidik memikirkannya. Bergidik, bercampur geli.


Apa? Jaguar? Yang benar saja!


Memarkirkan mobilnya dan melangkah untuk masuk ke Confetti dengan langkah sedang, Bram mengira pastilah ia yang duluan tiba di sana. Mendorong pintu kaca itu perlahan, maniknya menelusuri seisi kafe, mencari di mana kira-kira tempat yang cocok untuk mereka mengobrol nanti.


Sebaiknya dia memilih meja yang agak pojok, mungkin agar pembicaraan mereka nanti tidak mudah dikuping oleh orang lain.


Saat dia sedang memilih tempat duduk yang dirasa cocok, satu suara sudah mengudara memanggil namanya.


"Tuan Bram!"


Membuatnya otomatis menoleh, melayangkan pandangan untuk mencari ke sumber suara.



Satu lelaki terlihat melambaikan tangan, saat kemudian manik Bram memicing untuk memperhatikan lelaki itu lebih jelas. Jadi lawan bicaranya sudah berada di sana, telah tiba lebih dulu sebelum dirinya tiba.


Mendekati tempat duduk dari mana suara itu berasal, manik Bram membelalak lebar saat kini ia dengan jelas memperhatikan wajah sang lelaki.


Lelaki yang mengaku sebagai Roman, sang Jaguar The Reds, telah berada di sana dan tersenyum lebar ke arahnya.


Tertegun, Bram terdiam di pinggiran meja dan melongo.


"Apa yang kau lakukan di sini, bocah?" tanyanya dengan tatapan bingung.


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Ada yang masih inget Roman Alvero? Ngacung tangan!! Wkwkwk~


Yang belum kenalan sama Roman, segera meluncur ke novel CASSANDRA ya, ada Bang Roman di sana lho, hihihi.


Sampai jumpa ❤️