
"Karena aku hanya ingin memberitahumu. Tidak ada alasan spesifik. Hanya karena aku ingin. Itu saja." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
"Bunga itu untuk ibuku, Marin." Suara Bram terdengar memecah keheningan, saat lelaki itu melirik sekilas pada Marin yang duduk tepat di depannya.
Setelah membeli dua buket bunga mawar merah dan menyerahkan satu buket pada Marin, Bram meletakkan buket yang lain di bangku penumpang. Marin juga meninggalkan buket bunganya tadi di kursinya, ketika Bram menghentikan mobilnya di sebuah restoran khas Italia dan berkata bahwa dia akan memberikan traktiran pada Marin karena gadis itu telah menemaninya membeli bunga.
Menaikkan kepala sembari masih memegang sendok di tangan kanannya, Marin menatap lurus ke dalam mata Bram.
"Ibumu, Bram?"
Bram mengangguk kecil, memasukkan segarpu lilitan spaghetti sayur ke dalam mulutnya.
"Benar. Ibuku."
Marin terdiam sesaat. Memikirkan perlahan tentang apa yang baru saja diucapkan Bram, fikirannya telah melayang kemana-mana. Tidak pernah menduga lelaki itu akan menyinggung tentang keluarganya, terlebih tentang ibunya.
"Dia meninggal saat aku masih berada di taman kanak-kanak, Marin. Kepergiannya cukup tiba-tiba, saat aku menyadari bahwa aku belum memiliki banyak kenangan bersamanya." Bram kembali membuka suara.
Marin mendengarkan dengan seksama.
"Besok adalah hari ulang tahunnya, dan aku berencana untuk mampir ke makamnya untuk memberikan salam sekaligus memberinya sebuket bunga yang indah. Aku sudah lama tidak mampir," Bram berujar lagi. Tidak tampak perasaan berat dalam nada suara Bram, sepertinya lelaki itu sudah tidak menyimpan kesedihan meski dia sedang membicarakan tentang seseorang yang telah tiada.
"Bagitukah, Bram. Aku mengerti. Maaf karena membuatmu membicarakan semuanya, seharusnya aku tidak bertanya atau penasaran, iya kan?"
Bram menggeleng pelan. Sembari menghabiskan makanannya, dia tampak menikmati obrolannya dengan gadis itu.
"Tidak, Marin. Aku yang memang ingin mengatakannya, meskipun kau tidak penasaran atau bertanya padaku tentang itu."
Marin menarik gelas minumannya, menyesap perlahan.
"Kedengarannya kau tidak lagi sedih, Bram. Karena kehilangan dan waktu akan mengembalikan keadaan, benarkan?" tanyanya pelan.
Bram tersenyum kecil. Ingatannya entah bagaimana telah melalang buana, kembali ke masa-masa lampau saat dia tumbuh besar tanpa seorang ibu. Bertumpu pada ayahnya yang memilih menjadi single parent tanpa menikah lagi, Bram hampir saja lupa bahwa dia tidak memiliki orang tua yang lengkap. Bersyukur bahwa Brio Trahwijaya mendidiknya dengan sangat baik, hingga dia mampu menyelesaikan pendidikannya dan kini menggantikan posisi pimpinan utama di perusahaan Trahwijaya. Setidaknya Bram telah benar-benar menjadi seseorang yang patut diperhitungkan, meski dia hanya memiliki dukungan penuh dari sang ayah.
"Kau benar. Aku jarang mengunjunginya, jadi kurasa tahun ini aku ingin memberikannya sesuatu. Dia mungkin kesepian di sana," balas Bram.
Marin tersenyum.
Aku tahu bagaimana perasaanmu, Bram. Hidup tanpa ibu tidak pernah mudah, begitu pula yang aku rasakan. Tetapi aku bersyukur kau tumbuh dengan baik, sehingga pastilah ibumu bangga dia telah melahirkanmu.
"Kau mau ikut bersamaku, Marin? Jika kau tidak keberatan," lanjut lelaki itu lagi. Kali ini Bram meletakkan garpu dan sendoknya, sudah selesai dengan makannya malam itu.
Marin terperanjat. Bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya maksud dan tujuan Bram mengajaknya untuk mengunjungi ibu lelaki itu, penasaran apakah itu hanya ajakan tanpa arti atau malah memiliki sesuatu di belakangnya. Berfikir beberapa detik, akhirnya Marin menganggukkan kepala.
"Apa baik-baik saja jika aku ikut denganmu, Bram?" tanya Marin memastikan sekali lagi.
Bram meraih beberapa helai tisu, benar-benar menyudahi makan malamnya. Menatap lurus ke arah Marin, dia menyunggingkan senyuman.
"Tentu saja, Marin. Ibuku mungkin akan senang saat dia mengetahui aku membawa seorang wanita ke hadapannya," Bram berujar kemudian, tertawa kecil setelahnya.
Lelaki itu memperhatikan Marin tanpa gadis itu sadari, diam-diam bergumam dalam hatinya sendiri.
Ibuku mungkin akan bertanya-tanya kau siapa, Marin. Bahkan aku tidak pernah membawa Diandra ke sana, tetapi entah mengapa kali ini begitu mudah untukku mengajakmu pergi. Kuharap Ibu tidak penasaran berlebihan tentangmu, Marin. Jangan sampai dia menghantuiku dan datang ke mimpiku hanya untuk memastikan siapa kau sebenarnya.
"Aku sudah selesai, Bram. Kita pergi sekarang?" Suara Marin membuyarkan lamunan Bram, membuat Bram tersentak tiba-tiba. Dia tidak ingin ketahuan bahwa dia sedari tadi menaruh perhatian lebih pada visual gadis itu.
"Ah, baiklah. Ayo kita pergi, Marin. Tunggulah di mobil," ujar Bram seraya bangkit dari duduknya, memberi isyarat dengan tangannya kalau dia akan mampir ke kasir lebih dulu.
Marin mengangguk tanda dia mengerti, sebelum akhirnya dia melangkah lebih dulu menuju pintu keluar restoran.
***
Pintu lift terbuka lebar setelah suara dentingan terdengar. Memegangi buket bunga yang sama, Bram dan Marin berjalan bersisian melewati lorong apartemen, menuju ke unit apartemen mereka masing-masing.
Tinggal beberapa langkah lagi mencapai unitnya, Bram menghentikan langkah tiba-tiba. Menatap lurus pada seorang pria yang sedang bersandar tepat di dinding, persis di sebelah pintu apartemen Marin. Memicingkan mata, Bram menduga apakah pria itu adalah tamunya atau seseorang yang dia kenal. Tidak mungkin pria itu adalah tamu Marin, kan?
"Michael, kau datang?" Suara Marin terdengar memenuhi lorong, saat gadis itu mendapati sosok Michael Andrew sudah berdiri tepat di depan pintu apartemennya kini.
Bertatapan, Michael melempar sebuah senyuman ke arah Marin.
"Maaf aku mengejutkanmu, Marin. Ponselmu tidak bisa dihubungi dan aku kebetulan lewat. Jadi kuputuskan untuk mampir. Ada sesuatu yang harus aku katakan padamu," Michael berujar tanpa ragu, bahkan nada suaranya terdengar bersahabat dengan senyuman yang masih bertengger di wajah tampannya.
Bram memperhatikan lelaki itu lekat-lekat. Menyimpannya dengan benar dalam ingatan, menandainya dalam sekali tatapan mata.
Marin menoleh ke arah Bram yang tampak terdiam.
"Terima kasih, Bram. Untuk bunga dan juga makan malamnya. Sampai jumpa besok, ya," berujar pelan gadis itu, menatap ke arah Bram dengan manik berbinar.
Bram masih berusaha menguasai keadaan. Menyangkal fakta bahwa dia merasa sedikit terusik atas kehadiran lelaki di depan mereka, namun dia memilih untuk mengembangkan senyuman tipis.
"Baiklah Marin, sampai jumpa."
Marin masih tersenyum, telah melangkah besar-besar untuk menghampiri Michael yang masih menunggu.
"Ayo Michael. Masuklah. Apa kau menunggu lama?"
Bram dapat jelas mendengar suara ceria Marin menyapa tamunya, saat maniknya tidak lepas dari gadis itu. Di depan matanya, Bram melihat sendiri bagaimana Marin memasukkan kombinasi angka apartemennya dan mempersilakan lelaki lain masuk ke dalam sana dengan sebuah senyuman.
Tanpa sadar rahangnya telah mengeras, Bram masih belum beranjak dari tempatnya berdiri meski kini dia telah sendiri di lorong itu.
Marin, siapa lelaki itu? Mengapa kau menyuruhnya masuk?
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~ Selalu dukung dgn like, vote dan tinggalkan komen ya kak readers. Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan 🙏😊