Travelove~

Travelove~
Bonchap 11 - Tentang Cita-Citaku



“Jika kau bertanya tentang cita-cita, maka jawabanku akan sederhana. Aku bercita-cita ingin menjadi suami terbaik untukmu, sekaligus ayah yang hebat untuk anak-anak kita nanti.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Ada dua orang yang saling menatap ke arah yang berbeda pagi buta itu.


Diandra yang sedang menatap ke arah armada besar di depannya, dan Bram yang menoleh ke samping untuk memperhatikan senyuman yang tersampir di wajah istrinya.


Tidak bisa menutupi rasa senang yang begitu menyelimuti, Diandra berulang kali mengelus perutnya yang sudah mulai membesar. Bahkan dia sudah menghabiskan snack yang dibawanya dari rumah tadi, menyisakan hanya bungkusan kosong kini di dalam plastik.


“Kita akan di sini hingga siang nanti, Diandra?” Suara khas milik Bram terdengar pelan, dengan manik yang masih menatap lurus ke arah wajah cantik Diandra yang tampak berkilauan.


Menolehkan kepala, perempuan itu mengangguk kemudian.


“Sebentar lagi, Bram,” jawabnya. Menarik lengan Bram untuk memeriksa waktu, mendapati kini hari memang sudah hampir memasuki pagi.


“Sudah hampir pagi ternyata,” gumam perempuan itu.


“Kita bisa di sini hingga nanti. Kau mau makanan lagi?”


Bram menyadari Diandra tidak berhenti memakan snack-nya sejak tadi, dan kini tinggal minuman saja yang tersisa di depan mereka. Sepasang suami istri itu sedang duduk di tepi landasan pesawat, dengan moncong armada raksasa yang mengarah pada mereka.


“Bram, apa kau tidak pernah bercita-cita menjadi pilot dulu?” tanya Diandra tiba-tiba. “Apa cita-citamu, Bram? Bukankah lelaki biasanya memimpikan untuk menjadi pilot atau semacamnya?”


Kali ini perempuan itu menolehkan kepala untuk menatap pada suaminya, mengamati wajah tampan Bram meski lampu di sana tidak begitu terang.


Bram berdehem pelan. Tidak langsung memberikan jawaban, lelaki itu tampak sedang berpikir sebelum menjawab pertanyaan Diandra tadi. Tidak banyak yang pernah bertanya mengenai cita-citanya, bahkan ayahnya sendiri. Bram Trahwijaya kecil terbiasa hidup sendiri, sebab ayahnya begitu sibuk mengurusi perusahaan terlebih setelah ibunya meninggalkan mereka berdua.


Seingat lelaki itu, dia tidak pernah benar-benar memiliki teman dekat untuk berbagi keluh kesah, termasuk untuk membicarakan mengenai cita-cita seperti ini. Dan pertanyaan Diandra pagi ini sukses membawanya kembali ke masa lalu, menemui dirinya ketika ia belum dewasa dulu.


“Hmm, apa ya?” sahut Bram pelan.


Lelaki itu mengaitkan kedua tangannya di depan lutut, memeluk lututnya dengan posisi santai. Diandra sendiri memilih untuk duduk dengan kedua kaki berselonjor, sesekali menggoyangkan kakinya akibat rasa senang yang hadir di sana.


“Aku tidak benar-benar memiliki cita-cita pada waktu itu, Diandra,” jawab Bram jujur. “Aku tumbuh dengan memperhatikan bagaimana Papa bekerja keras untuk membangun perusahaan, hingga aku hampir tidak punya kesempatan untuk mengatakan apa cita-citaku kepadanya.”


Diandra hening, mendengarkan suara Bram dengan seksama.


“Aku pernah berpikir untuk menjadi polisi atau tentara saat aku berada di sekolah dasar, karena kala itu ada pelatihan baris-berbaris yang diadakan di sekolah saat kegiatan pramuka. Kegiatan itu dipimpin oleh tentara dan polisi, dan mereka terlihat gagah sekali,” jelas Bram. “Apa kau pernah mengikuti kegiatan pramuka, Diandra?” tanya lelaki itu kemudian.


Nyonya Trahwijaya tersenyum samar.


“Aku tidak suka itu,” jawabnya malu-malu. “Aku memilih untuk mengikuti kegiatan Palang Merah Remaja sewaktu aku sekolah, dan menghindari kegiatan pramuka saat aku kecil dulu. Aku tidak suka berada di bawah terik sinar matahari, Bram.”


Kali ini jawaban Diandra membuat Bram tertawa kecil, sembari mengelus rambut istrinya menahan rasa gemas. Jika tidak ada orang yang berlalu-lalang di sana, Bram mungkin sudah menarik perempuan itu untuk memberikan bertubi kecupan.


“Kau menggemaskan sekali, Sayang,” ujar lelaki itu. “Tetapi kemudian yang terjadi adalah, aku tumbuh dan memperhatikan bagaimana Papa berbisnis. Papa membawaku ke beberapa pertemuan dan memperkenalkan aku pada kolega saat aku beranjak remaja, dan aku mulai terbiasa akan hal itu.”


Diandra mengangguk pelan. Mendengarkan penuturan dari suaminya seperti ini, sungguh memberikan kesan tersendiri bagi perempuan itu. Dia menyadari bahwa mereka tidak sesering ini berbicara dengan santai dan leluasa, dan waktu seperti ini sungguh sangat berharga dalam meningkatkan kualitas hubungan.


“Apa kau menyesal sebab kau tidak berakhir menjadi seperti apa yang kau inginkan, Bram?” tanya Diandra lagi.


Menatap lurus pada manik Bram, Diandra menunggu dengan sabar. Lelaki itu memberikan satu senyum yang tulus, sebelum kemudian ia mengutarakan jawabannya.


Ada yang tersipu, tetapi bukan bunga putri malu. Ada yang bersemu merah, tetapi bukan buah tomat.


“Bertemu denganmu adalah anugrah untukku, Diandra. Kau begitu berhasil mengubah cara pandangku akan kehidupan. Kini tidak lagi menjadi polisi atau tentara, aku sudah memiliki cita-cita yang lainnya,” sambung Bram lagi.


“Kau masih memiliki cita-cita lain? Apa itu?”


Terdengar Bram menarik napas dalam-dalam, saat lelaki itu sedang memenuhi rongga dadanya dengan udara yang cukup. Mata kecokelatan Diandra tampak begitu menawan, dengan tatapan perempuan itu yang menembus masuk ke dalam jantung seorang Bram Trahwijaya.


Tidak dapat didefinisikan dengan kata-kata, bagaimana Bram bersyukur akan takdir yang diaturkan semesta untuk dirinya dan Diandra. Setelah bertahun-tahun, kini perempuan itu benar-benar bangun dan terlelap dalam dekapannya, benar-benar berada dalam jangkauannya.


Bram tidak pernah sedalam ini mencintai wanita, dan dia terus jatuh cinta pada Diandra setiap hari, setiap waktu.


“Aku bercita-cita agar aku menjadi suami yang baik untukmu, yang terus bisa menjadi sandaranmu. Menjadi ayah terhebat untuk Vallois dan Verden, juga calon anak kita yang sedang kau kandung kini, Sayang. Aku ingin bersama kalian, terus menerus tanpa henti.”


Menjeda kalimatnya beberapa saat, Bram menggerakkan tangan untuk mengelus perut istrinya. Seakan-akan dia ingin menyapa anaknya yang berada di dalam sana, ingin menyampaikan bahwa ia sudah mencintai anak itu bahkan ketika mereka belum saling menatap satu sama lain.


“Bram.”


“Kelak apa pun cita-cita yang diinginkan si kembar, aku akan bekerja keras untuk membantu mereka mewujudkannya. Kelak biarkan mereka memilih akan jadi apa mereka nanti, Diandra. Sebab sebagai orangtua kita berkewajiban untuk mendukung ke arah mana nanti anak-anak itu akan berkembang.”


Diandra mengulas senyuman.


“Kau tidak akan memaksa mereka untuk meneruskan bisnis? Seperti aku yang harus meninggalkan duniaku tempo lalu karena harus menggantikan Ibu?”


Bram menggeleng yakin. “Tidak,” jawabnya cepat.


“Biarkan mereka mengejar impiannya nanti, aku tidak akan melarang selama itu adalah pilihan yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan. Tetapi kurasa pasti ada kelak yang mengikuti jejakku, untuk kelak menjadi pebisnis muda yang tidak hanya sukses, tetapi juga tampan. Mungkin Val, atau mungkin Ver?”


Diandra tidak bisa menahan tawa yang begitu saja pecah. Mendengarkan penuturan Bram yang sungguh tidak ia duga, saat kini lelaki itu tampak seperti bapak-bapak idaman.


“Jika tidak keduanya?” tanya Diandra asal.


“Mungkin yang sedang berada di perutmu?”


Diandra tertawa lagi.


“Jika dia juga tidak?”


Bram menahan senyuman. “Kita bikin lagi, sampai ada yang mau.”


Mendapati Diandra semakin tertawa lepas, sembari menepukkan tangannya ke arah lengan lelaki itu.


“Kau ini!”


Meraih tangan Diandra dengan gerakan tepat, Bram begitu saja memberikan kecupan penuh cinta di punggung tangan istrinya. Perempuannya,tempat terindah untuknya melabuhkan hasrat dan kembali. Membalas tatapan Diandra yang memancarkan rasa bahagia, ada lelehan es yang begitu saja terasa di dalam hati lelaki itu.


Sesederhana itu definisi kebahagiaan untukku, Diandra. Yaitu melihatmu bahagia.


.


.


.


~