
"Maafkan karena kataku sempat tertahan, membuatmu menunggu selagi aku memantapkan hati untuk kembali padamu lagi." ~Diandra Lee.
.
.
.
Rasanya seperti mimpi. Takdir yang mengikat mereka sejak awal kedua manik itu berjumpa, rupanya semakin erat mempermainkan perasaan. Siapa sangka setelah perjalanan panjang dengan aral melintang dan batu yang terjal, di sanalah mereka sama-sama kembali.
Bersatu kembali dalam sebuah dekapan hangat, menentramkan hati yang selama ini kosong.
"Bram." Diandra memanggil nama lelaki itu dengan nada suara pelan sekali, tidak seperti suaranya yang menggelegar saat dia memaki dan meluapkan kemarahannya sebelum ini.
Bram mendesah.
"Hmm?"
Mengambil jeda beberapa detik untuk menarik napas, Diandra kembali bersuara dalam hitungan detik yang singkat.
"Ayo kita menikah."
Satu kalimat yang disusun Diandra melalui tiga unsur kata, sukses membuat tubuh Bram menegang seketika. Maniknya membesar, saat napasnya juga terasa mencekat kerongkongan. Tidak percaya apa yang dia dengar, lebih tepatnya tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari bibir merah muda wanitanya.
"Diandra ...." Tidak ada respon yang bisa diberikan oleh Bram Trahwijaya sang duda tampan yang memiliki harta berlimpah, selain wajah penuh keterkejutan dan tidak percaya. Jika ada yang hampir saja melemas karena rasa bahagia sekarang, maka dialah orangnya.
Diandra mengedipkan mata. "Aku belum menjawab pertanyaanmu tempo lalu, kan? Saat kau bertanya apakah kita punya kesempatan kedua untuk memulai semuanya dari awal," jelas perempuan itu.
Bram masih terdiam, mencermati setiap kata yang meluncur indah ke telinganya, sembari mengucap syukur berkali-kali dalam hati.
"Aku tidak mau kau pergi. Bagaimana bisa kau berencana untuk meninggalkan aku dan anak-anak? Sekarang kau harus bertanggungjawab sebab kau sudah terlanjur menjadi ayah mereka, Bram." Kalimat Diandra masih terdengar nyaring, saat Bram kini menyunggingkan seutas senyuman.
"Tidak, aku tidak akan meninggalkan kalian. Kalian adalah hidupku, bagaimana aku bisa pergi? Pergi menjauh sama saja mencari mati, hmm?" Bram mengelus rambut Diandra dengan tangannya.
"Kau mencintaiku, Diandra?" Memajukan wajahnya untuk menatap dalam pada manik kecoklatan Diandra, Bram sedang menunggu. Dia sungguh ingin mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Diandra, memastikan mereka memiliki perasaan yang sama. Meski jauh di dalam lubuk hatinya, dia berani bertaruh bahwa level kecintaannya pada wanita itu pastilah mengungguli level kecintaan Diandra padanya.
Menyunggingkan senyuman, Diandra mengangguk kecil saat pipinya mulai memerah. Seperti gadis yang baru beranjak dewasa, bahkan saat dia hendak mengucapkan kata cinta saja perutnya terasa mual.
"Aku men ... cin ... taimu, Bram." Sengaja memutus kata 'mencintaimu' agar Bram dapat mendengarnya dengan jelas, Diandra mendapati Bram sudah kembali membungkam bibirnya sedetik kemudian.
Mendorong tubuh mungilnya yang kalah besar dengan tubuh tegap lelaki itu, Diandra memasrahkan diri untuk kali ini melebur dalam permainan sang dominan. Bram adalah pemimpinnya, dia adalah penguasa.
Mengigit bibir merah muda Diandra saat tubuh keduanya mendempet pada dinding apartemen, Bram tidak melonggarkan jarak mereka barang se inchi pun. Merasakan remasan tangan Diandra pada rambut belakangnya, saat perempuan itu melenguh sebab kehabisan napas akibat ciumannya yang memburu.
Menghirup oksigen dengan tergesa-gesa, sepertinya kedua insan yang sedang dimabuk kepayang itu tidak ingin terpisah satu sama lain. Menuruni leher jenjang Diandra dan memberikan bertubi kecupan di sana, Bram bahkan tidak peduli saat ciumannya meninggalkan bekas yang jelas terlihat.
Kini Diandra miliknya, kini perempuan itu benar-benar berada di dalam pelukannya.
Diandra menggeliat. Merasakan sensasi membakar yang menjalar ke seluruh tubuh, saat bibir lelaki itu menuruni leher dan berhenti tepat di depan dadanya. Gerakan tangan Bram masih sama seperti dulu, lincah dan tidak terhentikan.
Dalam beberapa detik, lelaki itu sudah melepaskan tiga kancing-kancing paling atas dari blouse yang dikenakan Diandra, menyingkap baju berbahan satin itu dengan sekali coba. Diandra menunduk, menahan malu sebab kini Bram dapat dengan jelas melihat bagian atas tubuhnya yang masih terbungkus dengan belahan dada yang jelas sekali terlihat.
Bram menelan ludah. Tidak menghentikan tangannya yang telah mengerayangi tubuh putih mulus Diandra, Bram tidak berniat untuk mundur kali ini. Tidak akan ada yang mengganggu mereka, tidak akan ada Alberto di antara mereka.
Kali ini mereka bisa melakukannya dengan indah dan penuh penghayatan.
Diandra mencengkram kaus berwarna hitam legam yang menutupi tubuh bidang Bram, memberikan tanda bahwa dia ingin melepaskan baju itu sekarang juga. Bram menyeringai, menaikkan kedua tangannya ke udara saat tangan Diandra dengan cepat menaikkan bajunya sebelum kemudian melempar kaus itu ke lantai.
Kini saling bertatapan dengan bagian atas yang terbuka, Bram tidak bisa menahan keinginan yang sudah dia tahan hampir empat tahun terakhir.
Wanita itu kini berada di depannya, dengan hasrat yang juga menggebu. Menyorokkan wajahnya ke ceruk dada Diandra, Bram tahu Diandra menggelinjing perlahan sebagai reaksi atas sentuhannya. Memejamkan mata, Diandra memberikan ruang untuk Bram mengecup dadanya berkali-kali, memberikan beberapa tanda kemerahan sebagai bukti kepemilikan atas dirinya.
Itu adalah cinta, yang dibumbui dengan hasrat membara.
Merasakan pertahanan dirinya yang hampir saja jebol, Bram menggendong tubuh mungil Diandra untuk dia bawa menuju ranjang. Merasakan luapan perasaan antara bahagia dan mendamba, Bram melebarkan senyuman saat Diandra menantinya untuk benar-benar menyatu.
Memandangi dada bidang lelaki itu yang ditumbuhi bulu-bulu halus, Diandra tidak bisa memungkiri bahwa Bram punya pesona yang tidak bisa dia gambarkan dengan kata-kata. Tangannya sudah bergerilya untuk mengelus dada lelaki itu, saat tanpa sadar menuruni tubuh Bram menuju pangkal celananya.
Tidak bisa tertahan lagi. Bram menginginkan Diandra, saat dia yakin Diandra juga menginginkan dirinya.
Diandra merasakan jemari Bram yang meluncur untuk menurunkan resleting celana skinny jeans-nya, saat dia tiba-tiba menegang saat mengingat sesuatu. Sesuatu yang terlupakan, sesuatu yang dia sesali sepenuh hatinya.
"Bram!" Pekikan tertahan Diandra tampaknya tidak menggangu lelaki itu, saat Bram masih sibuk dengan aktivitasnya di ceruk dada Diandra.
Tidak mendapat jawaban, Diandra kembali memekik tetapi kali ini dengan suara lebih tinggi.
"Bram!" Menjauhkan tubuhnya dari lelaki itu hingga Bram menaikkan kepala, Diandra menggigit bibir.
"Kenapa, sayang? Apa kau sudah tidak sabar?" Berkata dengan nada suara menggoda, Bram menegakkan setengah tubuhnya berencana untuk melepaskan celana dari tubuhnya dengan sempurna.
Dia sudah siap. Dia lebih dari siap.
"Tidak, bukan begitu!" Protes Diandra saat dia mencekal kedua tangan Bram, membuat keduanya saling berpandangan.
"Ada apa? Hmm?"
Diandra mengerjap. Mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan suara.
"Itu ... Itu ...."
Bram memicingkan mata. Menunggu dengan tidak sabar.
"Aku lupa, Bram. Aku sedang datang bulan."
Bagai ditusuk beribu-ribu belati, Bram jatuh melemas seketika. Lunglai, tidak lagi bertenaga.
Astaga, Diandra. Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Yang kau lakukan padaku ini jahat, kau tahu!
Hening terpana beberapa detik saat kemudian Bram memilih untuk menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Tepat di samping Diandra yang sudah menarik selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang tersingkap, meski dia telah mengancing tiga kancing blouse-nya yang sempat terlepas.
Melirik sekilas pada Bram yang tampak memperhatikan ke arah langit-langit kamar, Diandra memiringkan tubuh untuk menatap lelaki itu. Bram masih mengatur deru napasnya.
"Bram, maafkan aku, oke?" Diandra sudah memiringkan tubuhnya ke samping untuk menghadap lelaki itu, saat Bram tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan. Menciumi rambut Diandra, mengecup puncak kepalanya.
"Kau tidak salah apa pun, Diandra. Kurasa memang aku harus menunggu, benar kan?"
Diandra tertawa kecil. Berada dalam dekapan lelaki itu sungguh terasa menenangkan sekarang, saat mereka telah saling membuka hati masing-masing.
Kini tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sebab masa depan mungkin sedang menunggu mereka.
"Diandra." Panggilan Bram terdengar sangat lembut.
"Hmm?"
"Kue cucur, kue bolu."
"Hah?"
Bram melebarkan senyuman.
"For sure, ai lop yu."
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~ Sa ae lu Brambang 😒 ~