Travelove~

Travelove~
91. After Marriage (3)



“Tidak ada yang menduga takdir. Seperti aku, yang tidak menyesali pertemuan kita meski aku telah jauh sekali terlambat.” ~Alberto Vigez.


.


.


.


Itu Hana.


Jelas sekali Alberto menangkap wajahnya, saat tanpa sengaja satu tamparan keras membuat perempuan itu menoleh ke arah mobil lelaki itu. Tidak perlu waktu lama untuk berpikir, otak Alberto sudah mengirim sinyal tidak baik, saat dirinya cepat menuruni mobil dan berteriak sekencang mungkin.


Tujuannya hanya satu, membuat si pria brengsek itu menghentikan aksi liarnya.


Sialan, such a basta*rd.


Saat pria itu berlalu, Alberto tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekati Hana. Bahkan jika pria itu masih bersikeras di sana, Alberto sudah siap untuk menggulung lengan kemejanya jika saja baku hantam diperlukan. Syukurlah pria tadi langsung melesat pergi, meninggalkan Hana yang kini tersungkur ke atas semen dingin.


Entah apa yang merasuki Alberto, saat dia tidak bisa berpikir jernih kemudian.


Perempuan itu tampak begitu terluka, dengan air mata yang mengalir di pipinya. Wajahnya masih tampak cantik, dengan pipi memerah bekas terkena beberapa tamparan tadi. Tidak membayangkan konsekuensi yang mungkin saja dia terima, Alberto begitu saja menarik perempuan itu ke dalam dekapannya, membiarkan Hana terisak di dadanya. Rambut perempuan itu berantakan.


“Tenanglah, Hana. Aku di sini,” ujarnya pelan sekali, berusaha menenangkan.


Tubuh perempuan itu terguncang pelan. Mengeluarkan kesedihan, yang juga bercampur rasa malu yang tidak tertahan. Tidak menyangka ia akan bertemu dengan pria itu di sana, terlebih dengan kondisinya yang menyedihkan seperti ini.


Setelah beberapa saat larut dalam dekapan pria asing itu, kesadaran Hana mulai kembali. Melepaskan dirinya dengan terburu-buru, perempuan itu menjaga jaraknya dengan Alberto yang masih berlutut tepat di sampingnya.


“Maaf,” katanya pelan. Berusaha bangkit perlahan, berniat untuk meninggalkan Alberto saat itu juga.


Sebaiknya Alberto tidak tahu, sebaiknya lelaki ini tidak ikut campur.


Baru saja Hana hendak berbalik, Alberto kembali menahan tangannya. Membuat Hana refleks melebarkan manik, menatap dengan tatapan bingung pada lelaki itu.


“Ini aku, Hana. Kau tidak mengenaliku?” tanya Alberto lagi. Maniknya menyusuri lengan Hana yang kini ia pegang, mendapati luka lebam di lengan atas perempuan itu. Seketika ia menegang.


“Tidak. Lepaskan aku, kumohon,” pinta perempuan itu lirih. Rasanya tidak bertenaga lagi dia untuk menarik tangannya dari seorang laki-laki, saat semua tenaganya sudah terkuras beberapa saat lalu.


Lagi-lagi, entah mengapa Alberto kali ini tampak begitu tertarik dengan kehidupan orang lain. Tidak menuruti permintaan Hana, ia masih memegang erat lengan perempuan itu.


“Siapa dia? Mengapa dia melakukan ini padamu?” tanyanya lagi.


Jika tadi dia mengira dua orang ini sedang make out di sini, maka ia salah besar. Yang ia saksikan di depan matanya adalah penganiayaan, saat ia dengan jelas melihat Hana ditampar berulang kali. Kini perempuan itu memiliki luka lebam, dan itu tidak hanya di satu tempat saja.


Hana menggeleng pelan. “Lepaskan, kumohon.” Suara perempuan itu lirih, berbanding terbalik dengan suaranya yang terakhir kali didengar Alberto. Senyuman manisnya tidak tampak lagi, saat kini wajah perempuan itu pucat pasi.


“Ayo ke rumah sakit, kau butuh pertolongan,” ujar Alberto kemudian, berniat untuk mengiring Hana menuju mobilnya.


Namun perempuan itu bersikeras menahan langkahnya, menatap pada manik Alberto dengan tatapan memelas.


“Jangan kasihani aku, lepaskan aku sekarang juga. Aku tidak butuh pertolonganmu, dan sebaiknya kau pergi dari sini.”


Lelaki itu mengernyitkan dahi. Bisa-bisanya perempuan itu mengatakan ini padanya? Melihat raut wajah khawatir di manik Alberto, Hana kembali menggeleng pelan.


“Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi. Jadi sebaiknya, menghilanglah secepat mungkin.”


***


Bram memijat tengkuknya. Berusaha tersadar saat mendengarkan penjelasan dari salah satu staf tentang proyek kerjasama dengan salah satu vendor VVIP mereka, lelaki itu sebisa mungkin mengusir rasa kantuk yang menjalar.


Belum lagi dia selalu gagal melindungi diri dari godaan istrinya, meski Diandra tidak melakukan hal yang bisa dikategorikan dengan ‘menggoda’. Melihat perempuan itu menyapukan serum wajah saja membuatnya bergairah, saat leher jenjang Diandra seakan memanggilnya untuk datang mendekat.


Bram menarik napas. Melirik pada arloji TAG Heuer yang ia kenakan di pergelangan tangan kanan, memeriksa waktu. Masih ada setengah jam lagi sebelum jam makan siang tiba, dan sepertinya ia harus menahan diri sedikit lagi.


Keluar dari ruangan rapat itu tepat sebelum jam setengah dua belas, Bram menarik napas lega. Melelahkan sekali berada di rapat seperti tadi, saat ia sudah berniat untuk menyeruput kopinya selepas ini.


Meta belum beranjak dari kursinya, berdiri saat mendapati Bram muncul di ujung koridor. Mata sayu Bram tampak jelas sekali terlihat, langkahnya berhenti tepat di depan meja Meta.


“Kamu break saja, Meta. Saya mau buat kopi. Setelah ini apa jadwal saya?” tanya Bram cepat.


“Setelah ini meeting jam 3 di Nusantara, Pak. Perwakilan dari La Fleur sudah mengkonfirmasi akan datang,” jawab perempuan berambut pendek itu cepat.


“Oke.”


“Bapak mau saya buatkan kopi?” tawar Meta kemudian.


“Enggak usah. Saya mau delivery aja.” Tidak ada semangat Bram hari ini untuk makan ke luar kantor, sepertinya setelah ini ia akan terlelap.


“Baik. Pak. Pak, di dalam ada—“ Belum selesai Meta mengucapkan kalimatnya, Bram sudah berlalu tanpa menghiraukan. Meraih gagang pintu, masuk ke dalam ruangannya beberapa saat kemudian.


Meta terhenyak. “Ada ... Ibu,” ujarnya berbisik sendiri. Setelah itu ia pun beranjak dari kursinya, meninggalkan kantor pimpinan perusahaan Trahwijaya.


~


“Surprise!” Suara Diandra memenuhi ruangan kerja Bram, saat lelaki itu membelalakkan mata tidak percaya. Antara sedang bermimpi atau tidak, saat ia melihat penampakan bidadari di dalam ruangannya.


“Sayang?” Bram mendekat. Diandra bangkit dari sofa yang didudukinya tadi, melebarkan kedua tangan untuk menyambut kedatangan Bram ke dalam pelukan.


“Bagaimana kau di sini, Diandra?” bisik Bram pelan. Mengusap punggung istrinya, menghirup aroma khas yang dia suka sekali dari perempuan itu.


Diandra melonggarkan pelukannya, menatap pada manik Bram yang tampak sendu. Rona letih terpancar dari wajah suaminya.


“Aku menelepon Meta dan bertanya apa kau memiliki jadwal setelah ini, aku baru saja kembali dari D-Gallery dan membawakanmu makan siang, Bram.”


Memang insting istri selalu benar, kata orang-orang tua terdahulu. Entah bagaimana Diandra tiba-tiba saja berinisiatif untuk memberikan kejutan, saat ia telah memesan makan siang dari salah satu restoran favorit suaminya saat jalan pulang. Setelah memastikan Bram berada di kantor, dia langsung memacu mobilnya untuk menuju kantor lelaki itu.


“Aku beruntung sekali, Diandra.” Manik Bram membesar saat mendapati dua buah kotak makan siang berlabel restoran ternama, sudah berada di atas meja.


“Ayo makan, Bram. Kau pasti sudah lapar, kan? Ini beef teriyaki favoritmu, kemarilah.” Diandra hendak melepas kaitan tangan Bram dari tangannya, saat lelaki itu belum sepenuhnya ingin.


“Kau benar. Ini memang favoritku. Tapi sekarang aku punya makanan favorit lain, Diandra. Yang aku sukai setengah mati, dengan seluruh jiwa raga,” lanjut lelaki itu.


Diandra mengernyit. Benarkah?


“Apa itu?” tanyanya polos.


Manik Bram menggelora saat lengan kokohnya kembali menarik pinggang istrinya, berbisik dengan nada menggoda di telinga Diandra.


“Kau, Diandra. Akan selalu menjadi favoritku.”


.


.


.


🗼Bersambung🗼