
"Kau memesona dengan caramu sendiri. Jika saja waktu tidak bermain lebih dulu, apakah mungkin aku punya kesempatan?" ~Alberto Vigez.
.
.
.
Alberto memperhatikan perempuan itu dengan lekat. Pancaran matanya menyimpan banyak sekali emosi terpendam, namun bibirnya terkatup rapat.
Tidak banyak wajah yang selama ini sukses mencuri perhatiannya. Entah mengapa wajah teduh perempuan itu--Hanalia Esava, seakan mampu membuat jarum jam berhenti tiba-tiba.
Hana masih bercengkrama dengan Diandra di ruang tamu bagian depan rumah, saat ia sendiri masih duduk di ruang keluarga. Memperhatikan gerak-gerik Hana yang tampak gemulai dan lembut sekali, bersisian dengan sepupunya yang juga tampak mengobrol dengan senang.
Bram mendekat. Tadinya lelaki itu duduk di sofa terpisah, namun setelah melihat tatapan Alberto yang berulang kali melihat ke arah yang sama, ia memutuskan untuk mendekati sepupu iparnya itu.
"Aku tidak bohong, Al. Itu semua fakta." Seakan ingin memperjelas, Bram masih ingat bagaimana raut wajah Alberto berubah ketika tadi ia memberitahu tentang status pernikahan Hana saat makan pagi.
Alberto berdecak, mendengus kesal. Ia bahkan membatalkan rapatnya hari ini, sebab kepalang tanggung suasana hatinya berubah. Sebaiknya ia tidak berada dalam rapat yang menguras konsentrasi, saat pikirannya telah dipenuhi tentang fakta dari perempuan itu.
"Diamlah!" gerutu Alberto sinis, masih menatap mata Bram dengan tatapan tidak suka.
"Dasar bocah!" seru Bram geram. "Kau begitu menyukainya?"
Alberto tidak lagi bersuara. Menaikkan bahunya, kini meraih surat kabar yang terletak di atas meja. Entah mau melakukan apa, entah mau ke mana, dia tidak tahu.
Menyadari fakta bahwa dia begitu terusik hanya karena mengetahui bahwa Hana sudah menikah, rasanya terlalu berlebihan. Lagipula mereka juga kan tidak saling kenal. Hanya pertemuan singkat sebenarnya, tetapi halusnya kulit perempuan itu masih terbayang di ingatan Alberto.
"Tutup mulutmu, Bram. Kenapa kau suka sekali meringsek aku, sih?" tanya Alberto lagi, membuka surat kabar itu lebar-lebar dan mengibaskannya di depan wajah Bram.
Membuat Bram harus menggeser duduknya, menepis tangan Alberto yang hampir mengenai wajahnya.
Sialan ini anak.
"Kau tidak sadar dengan ucapanmu, Al? Bukankah kau yang selama ini meringsek aku, hah?" Menggerutu lelaki itu.
Namun bukan Alberto rasanya jika terlalu ambil pusing. Memilih untuk berdiam diri dalam hening, membaca judul di surat kabar yang ia buka lebar di depannya.
Tidak menyadari bahwa Hana dan Diandra telah berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri, dikejutkan saat suara perempuan itu terdengar lembut sekali.
"Saya pamit dulu, Pak. Kemarin saya kirim laporan dari D-Gallery ke email Bapak," ujar Hana menghadap pada Bram. Tersentak kecil saat Alberto menurunkan surat kabarnya, dan sama-sama memandang untuk beberapa saat.
"Oke, Hana. Terima kasih," jawab Bram singkat.
"Ayo, Han. Kuanter kamu sampai depan." Suara Diandra sudah mengambil alih, saat Alberto sendiri masih menatap lekat pada Hana.
"Baik, Bu," jawab perempuan itu kemudian, melayangkan senyuman tipis ke arah Alberto dan Bram yang masih duduk bersisian.
Memutar badan, kedua perempuan itu sudah melangkah menjauh, meninggalkan dua lelaki yang masih dirundung kesal satu sama lain.
"Jangan liat! Nanti suka!" goda Bram lagi, terkekeh pelan saat mendapati pandangan Alberto yang tertuju ke arah pintu depan.
Gantian Alberto yang menyikut perut Bram dengan sikunya, membuat lelaki itu meringis pelan sebelum bangkit dan pergi dari sisi Alberto.
Senyummu tadi padaku, Hana. Apakah karena kau mengingat genggamanku semalam, atau hanya formalitas karena aku ada di sini?
***
Vallois dan Verden tertidur setelah makan siang mereka, sedangkan Tante Luna mengambil waktu untuk berbelanja ke pusat perbelanjaan. Alberto masih tiduran di sofa, menggoyangkan kakinya dengan malas sembari memejamkan mata. Berusaha terlelap mungkin, saat pikirannya masih melalangbuana entah kemana.
Bram muncul dari balik pintu. Baru saja kembali dari kamar si kembar, mendapati Diandra sedang memegang satu hadiah berukuran sedang, duduk di depan tumpukan kado yang menggunung di dalam kamar mereka.
Beberapa pelayan dari venue baru saja datang pagi tadi, membawa banyak hadiah dari pesta pernikahan mereka kemarin. Bram menyuruh untuk meletakkan kado-kado itu di dalam kamar, agar dia dan Diandra bisa membukanya satu per satu saat waktu senggang.
"Bram." Diandra menoleh ke arah pintu, mendapati Bram sudah melangkah ke arahnya setelah menutup kembali pintu berwarna cokelat itu.
"Kemarilah, lihat ini," seru Diandra senang.
"Heuer terbaru, huh? Bagus, aku suka warnanya," sambut Bram kemudian, sudah duduk di atas karpet beludru di samping istrinya.
"Cocok untukmu, Bram," seru Diandra senang. Mengamati satu Heuer untuknya yang tampak lebih kecil ukurannya, memakainya di pergelangan tangan kiri.
"Bagus, hehe," ucapnya kemudian.
Bram tertawa kecil. Beringsut mendekati istrinya untuk mencuri satu kecupan kecil, saat Diandra melebarkan senyuman.
"Yang mana lagi yang ingin kau buka, Bram? Coba pilih." Manik perempuan itu tertuju lagi ke arah tumpukan hadiah yang berwarna-warni, mengitari satu per satu untuk memilih.
"Yang itu saja." Bram menunjuk pada sebuah hadiah berukuran agak besar, bersampul merah muda.
"Oke!"
Mengamati Diandra bergerak mendekati hadiah yang dia tunjuk, Bram menoleh saat ketukan di pintu kamar mereka terdengar nyaring.
"Bram?!" Itu suara Alberto sang jomblowan.
Bangkit secepat kilat untuk menuju arah pintu, Bram membuka pintu itu dengan sekali tarikan. Alberto berkacak pinggang di depannya.
"Apa, Al?"
"Kau membeli mobil? Astaga, kau banyak uang sekali, Bram!" seru Alberto cepat, menggeleng kecil tidak percaya.
Bram mengernyitkan dahi. Membeli mobil? Apa sih yang dibicarakan lelaki ini?
"Kau ngomong apa? Mobil apa?" tanya Bram bingung.
"Jangan sok tidak tahu, Bram. Itu di bawah mereka sedang mengantar mobilmu!"
Mendengar perseteruan antar sepupu dan suaminya di depan pintu, Diandra tidak bisa menahan diri untuk tidak bangkit. Mendekati Bram yang masih berada di ambang pintu, ia bertanya pelan. "Ada apa, Bram?"
"Turunlah, Diandra. Ayo!" Alberto telah lebih dulu berseru sebelum Bram menjawab, membalik badannya untuk melangkah menuju tangga.
Kedua suami istri itu berpandangan untuk beberapa detik, kemudian memutuskan untuk sama-sama mengikuti langkah Alberto menuju lantai bawah.
Betapa terkejutnya lelaki itu saat melihat sebuah mobil mewah berada di depan rumah itu, sedang diturunkan untuk diparkir di halaman.
Masih diliputi kebingungan, tiba-tiba getaran di ponselnya menyadarkan lelaki itu, mendapati satu panggilan masuk.
"Halo?" jawabnya cepat.
"Kau menyukai hadiahnya, Bram? Kurasa seharusnya sudah sampai saat ini." Suara khas dari seseorang terdengar di ujung telepon, sontak membuat Bram melebarkan maniknya.
"Kau mengirim ini, Leon?!" tanyanya tidak percaya.
Leonard Butcher terkekeh di sebrang sana.
"Selamat atas pernikahanmu, Bram. Sampaikan salamku pada Diandra. Semoga kalian selalu bahagia."
Melirik pada istrinya yang masih memperhatikan lekat, saat ia pun menyunggingkan senyuman lebar.
"Terima kasih, Leon. Aku menghargai ini, sangat."
Satu unit BMW i8 Roadster telah terparkir indah di halaman rumah itu, mobil mewah berwarna abu yang berharga hampir empat milyar.
.
.
.
🗼Bersambung🗼