Travelove~

Travelove~
64. Yang Tertahan (3)



"Aku hanya tidak ingin terluka lagi. Di sisi lain, kau mungkin tidak seharusnya bersamaku lagi." ~Diandra Lee.


.


.


.


Diandra mencengkram pegangan cangkir kacanya. Memandangi ke arah luar jendela yang menyuguhi pemandangan hamparan bunga, perempuan itu sedang menyesap tehnya dengan hisapan kecil-kecil.


Bram telah berlalu. Lebih tepatnya, lelaki itu telah pergi meninggalkannya.


Mendapati Bram berada di kamar si kembar pagi-pagi sekali, Diandra tidak menyangka dia akan bertemu lagi dengan lelaki itu sepagi tadi. Setelah kejadian semalam yang membekas, tidak--lebih tepatnya terlalu dalam membekas, dia hampir tidak tidur semalam suntuk.


Mengulangi reka adegan yang terjadi di antara mereka ratusan kali, bergantian menyunggingkan senyuman dan menggeleng. Tersenyum saat dia menyadari tingkah laku Bram yang begitu manis, tetapi kemudian menggeleng saat dia berpikir dengan kepala jernih bahwa itu adalah kesalahan.


Menggeram kesal, sekaligus bersyukur karena kedatangan Alberto yang mengacaukan situasi dan membuyarkan segalanya. Kesal karena aktivitas mereka terhenti begitu saja, tetapi bersyukur karna mereka tidak terlalu jauh malam tadi.


Jika saja Alberto tidak muncul, apa yang kira-kira akan terjadi?


Tidak. Tidak mungkin.


Pikiran perempuan itu sudah melayang jauh, memilah-milih memori yang masih dia simpan rapat-rapat. Tentang lelaki itu, tentang mantan suaminya. Pernikahan mereka yang bahkan tidak bertahan untuk satu tahun pertama, pengkhianatan yang diberikan lelaki itu untuknya hingga mereka berakhir di persidangan meja hijau. Kondisi yang juga sekaligus merubah status mereka dari suami istri menjadi janda dan duda.


Perempuan itu menarik napas tipis-tipis. Meletakkan cangkir kaca yang dia pegang, melirik sekilas ke arah dalam gelasnya yang masih menyisakan setengah lagi cairan cokelat.


Bram selalu di sana. Bahkan setelah kepergian Gionard yang begitu tiba-tiba, Diandra tidak pernah bermimpi akan beradu pandang kembali dengan manik lelaki itu. Terlebih, pertemuan itu terjadi saat dia berada di titik nadir terlemahnya.


Tanpa diminta, lelaki itu mengambil posisinya sendiri. Membawa Diandra dan si kembar untuk pulang menuju Indonesia, saat Diandra sungguh merasa udara Paris begitu mencekam jantungnya. Dia harus pergi sejauh mungkin, melepaskan kenangan yang dia punya. Tidak ingin berkutat dengan keadaan dan keterpurukan, karena dia tahu dia harus berdiri setegar karang sebagai seorang single parent.


Gerakan dari seorang tukang kebun yang muncul di sekitar taman membuyarkan lamunan Diandra, kemudian dia memperbaiki posisi tubuh untuk duduk tegak. Masih memandangi ke arah yang sama.


Diandra tidak bisa menolak. Kehadiran Bram yang selalu ada di sisinya, tanpa sadar menimbulkan sesuatu yang berbeda. Dia sudah melupakan kenangan tentang suaminya yang tidak kunjung kembali, saat lelaki itu berada di sana untuk memberikan figur seorang ayah kepada Vallois dan Verden Butcher. Figur yang tidak akan pernah mereka dapatkan dari ayah biologis mereka yang jelas-jelas sudah tidak ada.


Perempuan itu diliputi rasa bersalah, sekaligus rasa ragu yang terus bersarang di hatinya.


Kita pernah gagal, Bram. Apakah kiranya kesempatan kedua akan berpengaruh pada hidup kita?


Pertanyaan yang terus terngiang di benak Diandra meski dia belum mengetahui jawabannya.


Tepat saat ingatannya kembali memutar kejadian malam tadi, Diandra kembali menghela napas. Kemudian beralih pada peristiwa beberapa jam lalu, yang kini dia sedang renungi.


Memperhatikan Bram yang telah mengenakan pakaian kantor yang tampak rapi, dasi lelaki itu mencuri perhatiannya. Tanpa dia sadari, dia telah mendekat untuk merapikan dasi lelaki itu, persis seperti tindakan yang dilakukan oleh seorang istri pada suaminya.


Bersidekap, Diandra sedang mencari jalan terbaik. Dua tahun Bram terus menunggunya, dua tahun Bram terus menjadi ayah bagi anak-anaknya.


Kali ini dia telah memutuskan, meyakinkan hati bahwa dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Dia perlu menarik benang kusut yang terus memilin di antara mereka, memperjelas hubungan yang mulai abu-abu.


Berharap Bram akan menyanggah seperti biasanya, berharap Bram akan memberikannya secercah senyuman seperti biasanya. Berharap lelaki itu akan berkata bahwa dia akan terus datang dan menganggap kalimat tadi tidak pernah terdengar.


Tetapi yang terjadi adalah, hatinya remuk redam. Tepat setelah Bram memandanginya dengan tatapan dalam dan menusuk, yang mungkin menandakan bahwa lelaki itu lelah menjalani semuanya.


Alih-alih menyanggah, lelaki itu kali ini memberikan jawaban yang Diandra tidak suka.


"Baiklah, Diandra. Jika itu yang kau inginkan." Mengucapkan kalimatnya tanpa ragu dengan nada jelas dan tenang, Bram Trahwijaya berbalik badan dan melangkah besar menuju pintu.


Tidak lagi menoleh ke arah Diandra yang masih berdiri tegak, lelaki itu meraih handle pintu dan keluar dari sana. Tanpa kata-kata, tanpa kecupan atau senyuman perpisahan.


Diandra goyah. Kehilangan keseimbangan yang sungguh tiba-tiba, dia bahkan berpegangan pada sisi lemari pakaian si kembar yang berada tepat di belakangnya.


Tidak menduga reaksi Bram yang begitu mengoyak hatinya, dia berharap dia bisa menarik kembali kalimat yang baru saja bergulir.


Suara pintu yang ditutup adalah suara terakhir yang dia dengar, sebelum hening menyelimuti kamar besar itu.


Bram pergi. Bram benar-benar pergi.


Tidak menyadari sejumput rasa sesal hadir di sana, Diandra membiarkan air mata yang telah mengumpul di pelupuk matanya meluncur indah untuk membasahi pipi. Mengutuk dirinya sendiri, yang tampak begitu labil bahkan saat dia telah menikah dua kali dan memiliki dua orang anak.


Astaga, Diandra. Apa yang kau lakukan sekarang?!


Ini bukan permainan layangan tentang tarik dan ulur perasaan, tetapi mengapa hatinya terasa sakit sekali.


Terlebih lagi saat kemudian si kembar Vallois dan Verden bangun, hal pertama yang Verden teriakkan adalah lelaki itu.


"Bunda, di mana Ayah?" Mata kecilnya berbinar, menanyakan keberadaan laki-laki yang baru saja Diandra suruh pergi dari sana.


Memandangi Verden yang terus menatapnya, Diandra tidak kuasa untuk menahan tangis yang kini pecah. Mengangkat tubuh bocah lelaki itu yang masih melihatnya dengan tatapan bingung, Diandra menggendong dan mendekap anaknya dalam dekapan hangat.


Membiarkan air mata itu menggenang beberapa saat, Diandra menyudahi tangisnya. Tidak ingin melawan takdir, sebab dia telah memilih meski pilihan itu melukai dirinya. Mungkin tidak hanya dirinya, tetapi hati kedua anak-anaknya yang terlanjur menganggap Bram sebagai sosok ayah mereka.


Diandra mengangkat kembali cangkirnya. Menenggak sisa teh yang kini tidak lagi hangat, dia belum ingin beranjak dari duduknya. Memilih untuk bergumam dalam hati, sambil menyesali apa yang telah terjadi meski itu mencoreng harga diri.


Gio, maafkan aku. Kurasa aku telah kembali jatuh cinta.


.


.


.


🗼Bersambung🗼