
Warning: Kehaluan Setelah Chapter ini, Tanggung Jawab Sendiri ya, haha.
“Tataplah hanya ke arahku, karena kau adalah sumber kekuatan. Jangan pernah ragu, karena kau adalah alasanku untuk tetap hidup.” ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Diandra berulang kali menahan gerakan Bram.
“Pelan, Bram!” pekiknya. Tepat saat lelaki itu memasukinya dengan tempo yang berangsur naik, perempuan itu menahan pekikan.
Bram tersadar. Berhenti sejenak untuk mengambil napas, lelaki itu memperhatikan Diandra yang terbaring dengan peluh di seputaran keningnya.
“Kau kesakitan, Sayang?” bisiknya pelan. Tidak menduga akan mendapati reaksi tertahan dari Diandra, saat biasanya perempuan itu menyukai gerakannya yang seperti tadi.
Diandra meringis. Menancapkan kuku-kukunya di bahu Bram yang kini terekspos, sebisa mungkin menghindari posisi-posisi ‘tidak lazim’ yang selama ini mereka lakukan.
Menduga kegiatan ini akan terjadi setelah ia memberikan kado nanti, siapa sangka ternyata Bram sudah berada di atasnya bahkan saat langit masih berwarna biru muda.
“Tidak, uhm—“
Bram menyerigai. Jawaban Diandra yang terdengar lebih seperti desahan tadi malah membuatnya semakin bergairah, terlebih ia sudah sangat merindukan istrinya itu untuk beberapa hari ini.
“Aku akan melakukannya dengan perlahan, oke?” bisik lelaki itu lagi. Menundukkan kepala untuk menyusuri permukaan leher jenjang Diandra dengan bibirnya, lelaki itu merasa bahagia saat mendengar geraman Diandra yang tertahan.
Keduanya telah sama-sama berada di puncak keinginan, saling mendamba satu sama lain. Bahkan angin yang berembus masuk turut menjadi saksi bisu, saat kerinduan sudah terlanjur mengambil alih.
Mengeratkan cengkramannya di punggung lelaki itu, Diandra menahan desahan sebab bibir Bram sudah terlebih dulu membungkam bibirnya, membuatnya berakhir melemas dalam dekapan Bram seketika itu juga.
“Aku mencintaimu, Diandra. Aku mencintaimu.”
***
Dada bidang Bram selalu terasa begitu nyaman. Setidaknya seperti itu yang dirasakan Diandra, hingga ia pun menyukai berada di dalam sana lama-lama. Tidak peduli apa, tubuh suaminya akan selalu jadi hal yang paling dia suka.
Bram bergerak pelan. Mengusap rambut istrinya dengan gerakan lembut, saat satu tangan lelaki itu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Menghirup aroma tubuh Diandra, entah mengapa sukses membuatnya melepaskan penat yang belakangan ini menggerogoti.
“Diandra.”
Perempuan itu tidak menaikkan kepala, masih asyik bersandar di dada Bram.
“Hmm?”
Bram mengaitkan tangannya pada Diandra, menyimpan satu senyuman tipis di sudut bibir.
“Mana kuenya?”
Pertanyaan yang keluar begitu saja dari bibir Bram itu sukses membuat Diandra membelalak, mengutuk dirinya sendiri mengapa ia bisa lupa dengan hal itu. Bangkit secepat kilat dari pelukan suaminya, Diandra tampak kaget.
“Astaga, Bram! Aku hampir lupa. Kau sih, mengajakku enak-enak terus,” sungutnya.
Menaikkan kepala untuk mencari blouse-nya yang sudah entah terbang ke mana, Diandra akhirnya menggapai kemeja kerja yang tadi digunakan Bram. Tidak mungkin bangkit dengan tubuh polosnya, perempuan itu kemudian memakai kemeja Bram yang jelas sekali kebesaran di tubuhnya. Namun tidak terlalu buruk, karena kemeja itu mampu menutupinya tubuhnya hingga sebatas paha.
Bram terkekeh pelan. Masih menyandarkan diri di headboard ranjang dengan tubuh yang tertutup hanya dari sebatas pinggang ke bawah, lelaki itu tampak tampan dan begitu gagah. Jangan bahas mengenai berapa lama yang mereka habiskan tadi, Diandra sudah mempersiapkan diri untuk mengatasi gempuran suaminya, tentu saja.
Menghilang di sebalik salah satu pintu, Diandra tampak beberapa saat kemudian dengan satu buah kue ulang tahun di tangannya. Beberapa lilin diletakkan di atas kue berwarna putih itu, bertuliskan umur lelaki itu yang telah menginjak 35 tahun.
Melebarkan senyuman saat Diandra mendekat ke arah ranjang, Bram menaikkan tubuhnya untuk duduk tegap.
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday, happy birthday
Happy birthday to you
Nyanyian Diandra dengan suaranya yang tidak terlalu bagus sukses membuat Bram tersenyum lebar, saat perempuan itu kini duduk di tepi ranjang dan menyodorkan kue itu ke hadapan Bram.
“Selamat ulang tahun ya, Sayang. Semoga tetap jadi ayah dan suami yang baik, sayang sama aku dan anak-anak kita terus, sama aku terus sampai tua. Semoga pekerjaan dan karirnya lancar, kesehatan dan rejekinya juga mengalir deras.”
Bram mengangguk kecil. Mengamini dalam hati setiap doa dan ucapan tulus dari istrinya, berharap semua harapan Diandra akan dikabulkan oleh Sang Pencipta.
Setelah perjalanan panjang yang mereka lalui, tidak ada satu hal pun yang diinginkan Bram selain bersama perempuannya hingga nanti-nanti, selamanya bersama membangun biduk rumah tangga yang bahagia.
“Ayo, make a wish dulu.” Diandra melebarkan senyuman, menanti Bram yang kini tampak memejamkan mata untuk mengucap permohonannya.
“Yeee ... Kau sudah bertambah tua, Bram. Tapi entah mengapa kau semakin terlihat tampan dan gagah saja.” Diandra meletakkan kue yang dipeganginya tadi di atas meja, kini beringsut mendekat untuk memberikan kecupan di kedua pipi dan kening suaminya.
Menangkupkan kedua tangan saat wajah mereka berhadapan dekat sekali, Diandra berbisik pelan.
“Aku mencintaimu, Bram. Sungguh.”
Diandra tidak ingin kehilangan lagi. Jika ini adalah ulang tahun suaminya, maka dia berharap dia bisa numpang berdoa juga. Berharap agar Bram selalu bersama mereka, agar kebahagiaan mereka kali ini akan tetap ada hingga kapan pun. Dia tidak ingin terluka lagi, dia hanya membutuhkan kasih sayang Bram di sisinya.
Biarlah semua kenangan pahit yang pernah terjadi itu berlalu begitu saja dalam ingatan, tidak perlu lagi di ingat bahkan untuk sejenak.
Bram mengembuskan napas pelan. Dadanya terasa berdesir, saat mendengar nada suara Diandra kali ini. Perempuan itu selalu bisa membuatnya bahagia, bahkan hanya melalui satu kalimat saja.
“Terima kasih, Diandra. Terima kasih karena membuat hidupku bahagia dan berwarna, Sayang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku bisa bertahan tanpamu. Kau adalah satu-satunya alasanku untuk terus bernapas dengan baik.”
Diandra terkekeh pelan. Memukul dada bidang Bram dengan tenaga yang pelan sekali, perempuan itu mendesis.
“Gombal! Kau semakin pintar bermain kata-kata, Bram. Tetapi entah mengapa mendengarkan itu terasa menyenangkan.”
Lelaki itu tertawa, menatap pada istrinya dengan tatapan penuh cinta.
“Kau mau kue?” tanya Diandra. Melirik sekilas pada kue yang masih yang ia letakkan di atas meja tadi.
“Tidak.” Bram menggeleng.
Kemejanya yang digunakan Diandra entah mengapa terlihat menggoda sekali, terlebih saat istrinya itu tidak mengancingkan dengan benar tiga kancing paling atas.
“Aku ingin kau saja, bagaimana?” tawarnya menggoda.
Diandra terkekeh. Memang tidak berniat untuk menolak lagi ajakan Bram, terlebih sebab hari ini adalah hari ulang tahun lelaki itu. Dia sudah berniat untuk mengabulkan semua permintaan suaminya, berjanji akan selalu di sana untuk lelaki itu.
“Baiklah. Aku untukmu semalaman ini, Bram,” ujar Diandra mendekat. Beringsut naik ke dalam selimut yang dikenakan suaminya, jari Diandra sudah menelusuri dada bidang Bram.
Manik Bram melebar. “Kita akan menginap?”
Mendapati anggukan dari Diandra, saat perempuan itu membuka suara.
“Aku menitipkan Val dan Ver di rumah Tante Luna. Papa juga sudah memberi izin agar kita tidak pulang. Khusus hari ini, hanya kau dan aku saja, Sayang.”
Hampir berteriak kegirangan lelaki itu. Tetapi bersyukur dia bisa menahannya dengan baik.
“Kau yang terbaik, Diandra,” bisik Bram kini, telah bergerak untuk kembali menyatu dengan istrinya. Mengecup leher Diandra dengan perlahan, sebelum memulai kembali permainan mereka.
“Bram.” Tangan Diandra sontak menghentikan gerakan Bram, membuat lelaki itu menatap pada wajah cantik istrinya untuk beberapa saat.
“Apa, Sayang?”
Diandra menggigit bibir. Bukan seperti ini rencananya untuk memberikan kado bagi lelaki itu, tetapi sepertinya perubahan rencana tidak terlalu buruk sekarang.
“Berjanjilah untuk bermain dengan lembut,” bisik Diandra.
“Huh?”
Perempuan itu menahan senyuman.
“Kalau kasar-kasar nanti adek bayinya bisa kaget,” lanjutnya lagi.
Bram mengernyitkan dahi. Maniknya membulat sempurna, saat ia melongo untuk beberapa saat. Menelusuri bola mata kecokelatan Diandra, mencari satu celah kejujuran di sana. Hampir tidak bisa bersuara dia, saat kerongkongannya tercekat.
“Diandra, kau, kau—“
“Kau akan jadi ayah lagi, Bram,” ujar Diandra cepat. Mengalungkan kedua tangannya di leher Bram, memeluk lelaki itu dengan erat.
Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali Bram menitikkan air mata. Kali ini maniknya kembali terasa berkaca-kaca, saat mendapati ia akan kembali menjadi ayah. Kali ini anaknya, darah dagingnya sendiri.
Membalas pelukan Diandra dengan erat, keduanya saling mengalirkan perasaan cinta yang membuncah. Menarik napas samar-samar, saat saling berkaca haru untuk kabar bahagia yang ikut hadir di hari ulang tahun seorang Bram Trahwijaya.
God, thank you for trusting us. Thank you for giving us a miracle like this.
.
.
.
The End.~