Travelove~

Travelove~
26. Petunjuk Baru (1)



"Karena aku tidak akan lama berada di sini, maukah kau sedikit saja menatap mataku?" ~Marinda Schoff. 


.


.


.


Marin terdiam. Memperhatikan Bram yang melangkah menuju arah pintu, menyambut seorang pengantar makanan dari aplikasi online yang dipesan Bram sebelumnya. Setelah membuat Marin menahan napas sebab lelaki itu meminta izin untuk tetap tinggal malam itu, Bram tampak seperti orang lain di mata Marin. Gadis itu hanya bisa menyaksikan setiap gerakan yang Bram lakukan, tidak bisa menghentikan lelaki itu barang sedetik pun.


Membereskan panggangan yang telah dengan sadisnya membuat luka pada kaki indah Marin, Bram bahkan mencuci semua piring dan beberapa peralatan makan lain yang berada di westafel gadis itu. Tidak mempedulikan teriakan Marin dari atas ranjang besarnya yang berulang kali meminta agar Bram berhenti menjadi upik abu, lelaki itu tampaknya sudah berniat untuk melakukan semuanya. Tahu bahwa dia tidak bisa memasak malam itu, dia juga memutuskan untuk memesan makanan melalui aplikasi saja. Bertanya makanan apa yang diinginakan Marin untuk makan malamnya, kini Bram telah berdiri di ambang pintu untuk membawa mie tiau seafood yang mulai menjadi makanan kesukaan Marin sejak gadis itu berada di Indonesia.


Berbelok ke arah dapur untuk mengambil sebuah piring dan sepasang sendok, Bram menghampiri Marin yang masih bersandar di tepi ranjangnya. Dia bisa saja bangkit dari sana dan berjalan menuju meja makan, tetapi Bram telah lebih dulu menahan langkahnya. Duduk di tepian ranjang, Bram menyodorkan piring yang dia pegang ke hadapan Marin.


“Makanlah, Marin. Aku akan menunggumu makan,” ujarnya tegas.


Marin menerima sodoran piring itu, mengerjapkan mata beberapa kali sebab dia pun merasa tidak enak atas semua tindakan yang telah dilakukan Bram untuknya.


“Makanlah. Aku akan berada di sini hingga kau terlelap,” lanjut Bram kemudian.


Menatap ke dalam manik Bram, Marin sedang mengatur degupan jantungnya yang semakin lama semakin memburu.


“Tidak. Jangan fikir ini karena aku merasa bersalah padamu. Aku tidak mau kau berfikir demikian lagi!” Seolah mampu membaca fikiran Marin saat manik mereka bertaut, Bram sudah memberikan penjelasan lebih dulu. Entah bagaimana membuat Marin memahami maksudnya, saat dia saja tidak yakin atas apa yang sedang dia lakukan saat ini. Dia hanya ingin melakukannya itu saja.


Marin mencoba menahan senyuman, namun gagal. Saat seutas senyuman tersungging di bibir merah mudanya, dia tahu Bram juga sedang tersenyum kecil.


“Makanlah, Marin. Makanlah yang banyak.”


***


Bram keluar dari apartemen Marin saat jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Setelah memastikan dapur gadis itu bersih seperti sedia kala dan menunggui Marin menghabiskan makanannya, Bram melangkah pulang saat gadis itu telah terlelap. Memeriksa sekali lagi pada luka bakar di punggung kaki Marin yang tampaknya sudah semakin membaik, Bram akhirnya kembali ke kediamannya.


Tidak langsung menuju tempat tidur, lelaki itu malah menuju sofa untuk mengambil beberapa kaleng bir. Membawa kaleng-kaleng itu menuju sofa dan membuka jendela apartemennya, Bram berniat untuk minum dulu sebelum dia naik ranjang. Mungkin saja bir akan membantunya berfikir lebih jernih, mungkin saja bir akan membawa jawaban atas pertanyaan yang berkumpul di kepalanya.


Kenapa aku? Mengapa aku bertindak demikian?


Menerawang saat manik hitamnya terpatri pada lantai apartemennya, Bram menyesap bir dingin itu perlahan. Menyakini dalam hatinya bahwa dia tidak lagi memiliki cinta untuk mantan istrinya, lelaki itu selalu menguatkan diri bahwa kisahnya terdahulu sudah benar-benar usai. Kepergiannya ke Paris untuk yang kedua kalinya sudah cukup membuatnya banyak mengambil hikmah kehidupan, bahkan saat dia berjanji pada dirinya sendiri untuk kembali


berdiri tegak dan melupakan masa lalu. Kini, entah mengapa dia merasa sedikit kebingungan, saat dia mulai merasakan rasa yang berbeda pada si gadis bermanik biru.


Apa kau sadar kau telah mencuri atensiku, Marin? Apakah aku tidak menyadari bahwa aku mungkin saja tertarik padamu?


Masih menyesap bir dan membiarkan cairan itu melewati kerongkongannya, Bram belum beranjak dari posisinya. Tenggelam dalam keheningan yang begitu dalam, Bram telah larut dalam fikirannya sendiri.


Marin, apa kau bersedia untuk perlahan-lahan menapakinya bersamaku?


***


Marin baru saja mengerjapkan mata. Memandangi sekelilingnya yang tampak temaram, gadis itu memutar tubuhnya untuk memeriksa waktu. Dia tidak punya agenda penting hari ini, tetapi dia telah berniat untuk mampir di perusahaan Leah untuk sekedar menghabiskan waktu sembari menunggu kabar lebih lanjut dari Michael. Maniknya membesar beberapa detik saat mendapati ternyata dia telah tidur hampir sembilan jam, sebab kini waktu telah menunjukkan pukul delapan pagi. Kembali mengingat kejadian malam kemarin antara dirinya dan Bram,


Marin tersenyum tipis. Buru-buru memeriksa luka bakarnya yang mungkin telah meninggalkan bekas, gadis itu menyingkap selimut tebal yang membalut tubuhnya semalaman.


Menarik napas, Marin memandangi kaki putih mulusnya yang kini memiliki sebuah bercak luka kecoklatan. Dia mungkin saja dapat menemui dokter untuk menghilangkan bekas luka itu, tetapi nampaknya membiarkan luka itu tetap di sana adalah pilihan terbaiknya saat ini. Setidaknya dia punya sesuatu untuk dikenang bersama Bram, meski dia tahu waktunya tidak lama lagi.


dengan cepat.


“Halo, Michael?” Menjawab panggilan dari Michael meski dengan suara yang masih serak, namun Marin memiliki feeling bahwa Michael mungkin telah menemukan sesuatu.


“Marin, apa aku membangunkanmu?” Suara Michael terdengar renyah di sebrang, tampaknya lelaki itu sudah bangun sejak tadi.


“Tidak. Ada apa? Kau menemukan sesuatu?” Marin menegakkan posisi tubuhnya, bersandar pada bantalnya di ujung ranjang.


“Yeah. Aku mendapati beberapa petunjuk penting mengenai target yang kau cari. Memang aku belum bisa menemukan siapa dia sebenarnya, namun ada yang harus kau tahu tentang dia, Marin.”


Marin melebarkan bola mata. Adrenalinnya sudah terpacu bahkan sebelum matahari naik terik.


“Katakan. Apa yang kau temukan?”


Terdengar Michael mendesah di ujung teleponnya.


“Targetmu ini tidak memiliki data valid. Tetapi ada dua hal yang telah berhasil aku lacak,” Michael kembali bersuara, berhenti saat mengambil jeda beberapa detik.


“Lanjutkan."


“Pertama, targetmu ini tidak lagi bernyawa. Sudah dikonfirmasi bahwa dia telah meninggal belasan tahun lalu.”


Marin tersentak kaget. Tubuhnya menegang, selaras dengan matanya yang membelalak lebar.


Tidak mungkin. Apa Papap menyuruhku membawa orang mati ke hadapannya?


“Kau sudah mengkonfirmasi hal ini, Michael?” Masih tidak percaya gadis itu.


“Tentu. Aku sedang mencari dimana dia dimakamkan, kelak akan kuberitahu padamu dan kau boleh mengeceknya sendiri.”


Marin masih belum menguasai diri, namun dia berusaha untuk tetap menjaga fokusnya.


“Baiklah. Lanjutkan hal keduanya.” Marin terdengar tidak sabar.


Michael menarik napas panjang.


“Kau mungkin akan terkejut dengan ini, Marin. Kurasa targetmu ini memang bukan orang sembarangan,” Michael memelankan ritme suaranya.


Marin menunggu dengan seksama.


“Sebab dia memiliki tabungan puluhan juta dollar di Bank Swiss.”


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Like-nya jangan lupa kak readers, hehe. Vote-nya juga yaaak  :D