
“Kadang kala aku khilaf. Mungkin saja maafmu takkan cukup untukku.” ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Bram tidak berangkat ke kantor hari itu. Setelah menyantap sup ayam yang ditinggalkan Marin di atas meja makan, lelaki itu akhirnya memutuskan untuk berdiam diri di dalam apartemennya hingga sore mulai menjelang. Bukan hanya karena tubuhnya yang masih berusaha memulihkan setelah tidak mabuk sekian lama, tetapi lelaki itu tidak memiliki agenda penting hari itu.
Dia meninggalkan apartemen Marin dengan keadaan rapi. Setelah mencuci piring dan bahkan merapikan tempat tidur, Bram juga menuliskan pesan balasannya di secarik kertas yang ditinggalkan Marin untuknya. Berterima kasih atas tumpangan dan makanan yang disediakan sang tuan rumah, Bram berpesan agar Marin menghubunginya kapan saja, terutama saat gadis itu membutuhkan teman untuk bercerita dan berkeluh kesah.
Menyematkan predikat tetangga yang baik dalam dirinya sendiri, Bram tidak memungkiri bahwa dia tampaknya mulai menaruh peduli pada gadis itu. Meski Bram tahu gadis sekelas Marin pastilah mampu menjaga diri sendiri dan menyelesaikan urusannya sendiri, tetapi tetap saja setiap manusia memiliki sisi lemah yang mungkin ditunjukkan kepada orang lain.
Dentingan bel yang berbunyi memenuhi ruangan apartemennya, sesaat mengejutkan Bram yang sedang fokus membaca sebuah artikel online mengenai reksa dana. Menganggap dia tidak mengundang siapapun, fikirannya hanya berpusat pada dua orang saja. Jika bukan Marin, maka pastilah si bocah satu itu, yang entah mengapa selalu hadir saat Bram tidak ingin.
Mengintip pada sebuah lubang kecil yang terletak di pintu, Bram memastikan lebih dulu siapa kira-kira yang kini berdiri di depan pintu apartemennya, sekaligus memilih tindakan apa yang akan dia lakukan setelahnya. Mendapati bahwa dugaannya tidak salah kali ini, maniknya telah menangkap tubuh kekar Alberto yang kini memenuhi pintu.
Menarik handle dengan setengah hati, Bram hampir tersentak saat Alberto tiba-tiba saja menyodorkan dua buah kantung belanjaan ke arah wajahnya.
“Al, kau!” Menggeram, Bram sungguh menahan kesal.
Tertawa kecil Alberto. Sudah melangkah melewati tubuh Bram lebih dulu setelah dia menaikkan sekantung berisi kaleng bir di tangan kanannya dan sekantung lagi berisi paha ayam di tangan kirinya.
“Kau seenaknya libur, Bram. Kufikir kau mungkin jatuh sakit. Jadi aku datang menjengukmu, bolehkan?” Seperti biasanya, Alberto telah bertindak semaunya, saat Bram masih menahan geram namun lebih memilih untuk ikut memasuki apartemennya kembali.
“Mana ada orang jenguk bawa bir, kau tahu Al?!” Mendelik, Bram memasukkan kedua tangannya di saku celana, menatap pada Alberto yang sudah lebih dulu menuju sofa dan meletakkan kantung-kantung bawaannya di atas meja.
“Ayolah, Bram. Kau kan tidak sakit.” Membela diri, Alberto sungguh hanya ingin singgah saja.
Bram tidak menjawab. Mengamati tangan Alberto yang tampak cekatan mengeluarkan kaleng-kaleng bir dari kantung belanjaan, menyusun kaleng-kaleng itu di atas meja kaca miliknya. Beberapa saat kemudian, lelaki itu telah mengeluarkan ember sedang bergambar salah satu restoran ayam goreng cepat saji, membuka tutupnya dan menghirup aroma ayam yang memenuhi ruangan.
“Kau sungguh membuat apartemenku bau, Al,” gerutu Bram saat dia juga mencium aroma ayam goreng yang begitu semerbak, namun juga menggoda di sisi yang lain. Bangkit dari duduknya, lelaki itu menuju jendela untuk menyibak tirai dan membuka kaca jendela besarnya lebar-lebar. Dia tidak ingin tidur dengan aroma ayam goreng malam ini.
Alberto tergelak.
“Kemana kau malam kemarin, Bram? Aku menelepon tetapi kau tidak menjawab,” ujar Alberto yang telah membuka kaleng birnya, menyesap cairan itu perlahan.
Bram mendesah.
“Mau apa kau menelepon terus?” Dia ingat dengan riwayat panggilan yang dilayangkan Alberto pada nomor ponselnya tetapi dia tidak menjawab panggilan itu sedetik pun.
“Tidak ada yang penting, sih. Aku ada undangan pesta dan beberapa orang bertanya mengapa kau tidak datang, itu saja. Kau tidak berfikir orang-orang telah terbiasa melihat kita bersama, Bram?” Alberto meraih sebuah paha ayam, kini bersandar pada sofa sambil menikmati ayam gorengnya.
Bram menyeringai.
“Sebaiknya kita tidak muncul lagi bersamaan. Kau tahu kau begitu mengganggu, kan?” Sudah terlalu terbiasa bagi Bram, hingga dia yakin kalimatnya ini pasti tidak berdampak apa-apa pada Alberto. Bocah itu pasti akan tertawa setelah ini.
Alberto tertawa kecil.
Benarkan? Dia selalu tertawa seperti tidak memiliki beban.
Tidak menanggapi perkataan Alberto, Bram memilih untuk meraih kaleng birnya, sebelum kaleng itu tidak lagi terasa dingin. Membukanya dengan sekali coba, kini Bram telah meneggak bir dingin itu ke dalam kerongkongannya.
“Bram.” Suara Alberto kembali memecah keheningan, menatap lurus pada Bram dengan tatapan yang sulit di tebak.
“Apa?”
Tampak seperti berfikir sejenak, Alberto masih menimang apakah dia akan mengajukan pertanyaan atau tidak. Pertanyaan yang dia simpan sejak siang tadi, pertanyaan yang menjadi alasan mengapa dia datang ke apartemen Bram malam itu. Alberto sungguh tidak yakin, hanya saja jawaban Leah mengenai Marin siang tadi sukses mencuri atensinya. Tidak mampu mengabaikan rasa ingin tahu yang begitu menggebu, akhirnya Alberto memberanikan diri untuk mencari jawabannya. Kini di sanalah dia, menatap dengan perasaan ragu pada manik Bram yang tampak tenang, masih memegangi kaleng bir di genggaman tangannya.
“Kau mau bertanya apa?” Bram kali ini yang menyadarkan Alberto dari lamunannya, menunggu lelaki itu mengajukan pertanyaan.
“Tidak. Tidak jadi.” Alberto masih ragu, menjawab tidak jadi saja kali ini sembari dia mengumpulkan keberanian untuk benar-benar bertanya.
Jika memang yang dicari Marin adalah orang itu, maka apa yang akan terjadi?
“Kau membuang waktuku, Al. Pergilah setelah makan. Aku ingin istirahat,” ujar Bram kemudian.
Alberto menarik napas. Menerka kira-kira seperti apa mood Bram malam itu, apakah lelaki itu akan marah ketika Alberto mengajukan pertanyaannya atau tidak. Berkecamuk dengan keraguan dan fikirannya sendiri, tampaknya Alberto masih bingung untuk menentukan keputusan.
“Bram.” Memanggil lagi, perlahan.
Bram menaikkan kepala, menatap sinis kali ini pada Alberto.
“Sekali lagi kau memanggilku tanpa alasan maka aku tidak akan membantu proyekmu lagi,” ancam lelaki itu kali ini. Bram tidak suka dibuat penasaran, dan tampaknya Alberto sedang memikirkan sesuatu yang rumit di kepalanya.
“Baiklah. Begini. Kau pernah berkata bahwa kau mendapati garis Jepang dari ibumu kan, Bram?” Alberto berusaha memilih kata, dia masih ingin Bram membantunya dalam menjalankan proyeknya meski mungkin Bram tidak bersungguh-sungguh dengan kalimatnya barusan.
“Mengapa kau bertanya demikian?” Nada suara Bram kini penuh selidik, merasa aneh saat tiba-tiba Alberto menyinggung masalah ibunya.
“Uhm, begini. Aku ingat kau pernah berkata bahwa ibumu menukar namanya setelah menikah dan meninggalkan namanya yang dahulu, benar kan?” Kembali bertanya pelan, jantung Alberto berdegup dengan sangat kencang.
Menarik kalengnya dan menyesapnya kembali, Bram tampak santai.
“Benar. Mengapa kau bertanya?”
Alberto menarik napas. Hampir masuk pada pertanyaan inti yang dia tahan sejak tadi.
“Jika aku tidak salah, apakah namanya adalah Kobayashi-san?” Menunggu dengan harap-harap cemas, berharap jawaban yang didapatnya adalah gelengan kepala.
Bram tersenyum kecil. Meletakkan kembali kaleng birnya di atas meja, dia menunjuk pada Alberto dengan tawa.
“Ingatanmu bagus, Al. Kau mengingatnya dengan sangat baik.”
.
.
.
🗼Bersambung🗼