
"Karena kehidupan baru sedang menantiku, kuharap bahagia akan mengikutiku di depan sana." ~Diandra Lee.
.
.
.
"Val, habiskan makananmu, Sayang." Suara Diandra terdengar begitu lembut, saat dia bangkit dari kursi untuk menuju kursi makan yang ditempati Vallois. Tepat di sebelahnya, Verden sedang mencoba memasukkan beberapa mi ke dalam mulut.
Membantu Vallois untuk menyendok mie sehat yang dimasaknya untuk sarapan pagi kedua anak kembar itu, Diandra tertawa kecil saat sendokan Verden malah berakhir mengenai pipinya. Membuat sendok itu jatuh ke lantai, yang langsung diambil dan dibawa oleh sang pengasuh untuk dicuci terlebih dahulu.
"Ver, perhatikan sendokmu. Pegang baik-baik ya," ucapnya seraya mendekati Verden, saat dia telah mengambil sendok yang baru.
"Makanlah dengan perlahan, kunyah dengan baik, oke? Anak Bunda pinter semua," ujarnya lagi seraya mendaratkan masing-masing satu kecupan di puncak kepala anak-anak lelakinya.
Beranjak sebab deringan ponsel yang terdengar, perempuan itu meminta tolong pada para pengasuh untuk mengawasi si kembar selagi dia meraih ponsel dan mengangkat panggilan masuk.
"Halo?"
"Kau di sana, Diandra?" Suara khas milik Leonard Butcher terdengar di sebrang sana.
"Aku di sini, Leon. Bagaimana kabarmu?" Tidak menyangka Leonard akan menelepon sepagi ini. Seingatnya mereka tidak saling berhubungan dekat setelah kepulangannya kembali ke Indonesia dua tahun lalu, meski memang masih saling memberikan kabar satu sama lain.
"Aku baik. Kau? Bagaimana si kembar?"
"Aku juga baik, Leon. Val dan Ver sedang menikmati sarapan mereka. Bagaimana kabar Mikayla?"
Terdengar Leonard menarik napas panjang di ujung sana.
"Dia baik. Masih berkutat dengan bisnis fashion yang dia geluti. Dia berkata dia merindukanmu dan bertanya kapan kau akan kembali lagi ke sini."
Diandra mengusap tangannya. Menempelkan ponsel itu ke telinga kanan dengan tangan kanan yang menahannya, kini mengusap lengannya dengan tangan kiri.
Pandangannya mengarah ke arah luar jendela, mengamati rumput dan tanaman yang sedang dibersihkan oleh juru tanam mereka.
"Ah, aku berharap dia tidak kesepian. Kau sibuk dengan urusan kantormu?" Kembali bertanya Diandra, berusaha menghindari pertanyaan Leonard tadi tentang kembalinya dia ke Paris.
"Tentu. Urusan kantor selalu seperti ini, Diandra. Kau tentu tahu sebab kau pernah mendampingi abangku. Mikayla saja menggerutu terus karena aku selalu menomorsatukan pekerjaan hingga kadang melupakan dia. Tetapi mengingat kembali bagaimana abang selalu membuatmu jadi prioritasnya sungguh membuatku kagum, kau tahu?"
Kalimat Leonard dapat didengar dengan begitu baik oleh Diandra. Menelan ludah, sebab dia tanpa sadar telah membuka kembali kenangan lama. Tentang lelaki itu, almarhum suaminya. Leonard memang mengatakan fakta.
Menarik napas Diandra.
"Kau benar, Leon. Aku selalu jadi nomor satu untuknya." Menahan napas beberapa detik, Diandra masih menerawang. "Leon, ada yang ingin aku sampaikan padamu," lanjutnya lagi.
Leonard mendesah. "Ada apa, Diandra?"
Melangkah dari posisinya berdiri sejak tadi, kini Diandra menuju sofa untuk duduk di sana. Perbincangan ini mungkin akan membutuhkan waktu, namun dia sudah memutuskan untuk memberitahu Leonard.
"Leon."
"Aku di sini, Diandra. Ada apa? Kau butuh sesuatu?"
Leonard selalu seperti itu. Semua klan Butcher seperti itu. Persis seperti bagaimana Gionard selalu memperlakukan dia dengan baik, membuatnya menjadi kepentingan nomor satu. Bahkan reaksi Leonard kali ini semakin mengingatkan Diandra pada sosok Gionard, tanpa sadar kembali membuka luka lama yang telah dia simpan rapat-rapat.
"Aku akan menikah, Leon." Kalimatnya tegas, dalam satu desahan napas. Diandra tidak ingin Leonard tahu dari orang lain, dia ingin dia yang memberitahu sendiri pada lelaki itu.
Leonard hening. Tidak menjawab, namun Diandra bisa mendengar desahan napasnya di ujung telepon. Leonard mungkin saja terkejut, hingga belum bisa mengatakan apa pun.
"Sudah dua tahun, Leon. Dua tahun yang kulewati dengan susah payah, merindukan abangmu sepanjang malam. Tetapi kini aku tahu aku harus melanjutkan hidup, melepaskannya baik dari hidup juga hatiku. Kau mengerti posisiku, kan?" Berkata lagi Diandra, sebab Leonard belum memberikan jawaban.
"Apakah dengan Bram?" tanya Leonard kali ini setelah keheningan panjang.
Tidak ada yang perlu disembunyikan oleh Diandra. Perasaannya tulus pada lelaki itu, saat dia juga memikirkan tentang pengaruh besar yang Bram berikan pada anak-anaknya.
Leonard berdehem. "Dia menyayangi Val dan Ver?" tanyanya. Dia tidak ingin lelaki itu hanya mencintai Diandra saja, sebab dengan menikahi Diandra maka Bram akan menjadi ayah untuk keponakan kembarnya.
Diandra tersenyum tipis. "Tentu. Sikap dan perilakunya yang begitu menyayangi si kembar sungguh membuat hatiku hangat. Aku yakin dia akan jadi ayah yang baik untuk Val dan Ver," ujarnya.
Terdengar Leonard menghela napas, meski dia tidak menduga akan mendengar kabar ini dari bibir Diandra. Tetapi waktu memang terus berjalan, saat manusia tidak boleh berhenti di satu titik kehidupan.
Kenyataan yang terjadi adalah, kini abangnya telah tiada. Seberat apa pun, sesakit apa pun, itulah takdir yang digariskan untuk klan mereka. Kepergian Gionard yang begitu tiba-tiba, pastilah menyisakan lubang besar di hati Diandra. Namun kini waktu telah menyembuhkan. Leonard yakin lelaki itu adalah satu-satunya orang yang bisa menjaga Diandra dan kedua anak kembarnya, melanjutkan perjuangan yang telah dimulai Gionard sebelum dia pergi.
"Diandra."
"Hmm?"
"Aku akan mengatakan satu kebenaran. Pastikan kau mendengarnya dengan seksama." Leonard menggantung kalimatnya, mengambil jeda saat menarik banyak udara.
Diandra mengerutkan dahi. Bertanya-tanya dalam hati yang terlanjur penasaran.
"Tentang apa? Katakanlah, Leon."
Hening sesaat.
"Tepat di hari kematian abang sebelum dia menaiki helikopter itu, dia meneleponku dan berkata kau meminta untuk naik bersama-sama dengannya. Tetapi dia menolaknya, benar kan?"
Ingatan Diandra bergerak mundur, memutar memori.
"Kau benar, Leon. Lalu?" Bergetar bibir Diandra mengucapkan kalimatnya, merasa khawatir akan apa yang mungkin dia dengar setelah ini.
"Pada saat itu juga dia mengatakan satu hal yang membuatku muak, Diandra. Dia sudah mengatakan hal itu beberapa kali sebelumnya," Leonard melanjutkan.
Diandra hening kali ini. Memasang telinganya pada tingkat radar paling tinggi, menunggu kelanjutan kalimat Leonard.
"Kalimat itu dia ulang berulang kali. Namun jika kuingat-ingat lagi, suaranya terakhir kali terdengar begitu tenang dan tanpa keraguan."
Diandra mengerjapkan mata, semakin penasaran.
"Katakan, kalimat apa yang dia sampaikan?"
Tidak langsung menjawab, Leonard kembali mengambil jeda. Tidak mudah baginya untuk mengulangi kisah lama, saat kerinduan yang begitu memuncak untuk abangnya sudah menyelimuti dan mengambil alih perasaan.
"Dia berkata bahwa tidak ada lelaki lain yang bisa menjagamu sebaik dia menjagamu, selain lelaki itu, Diandra."
Perempuan itu menegang. Maniknya membesar, saat tangannya yang kosong refleks mengarah untuk menutupi mulut yang menganga.
Tidak. Tidak mungkin, Gio.
Tidak menyadari bulir-bulir kristal mulai hadir di pelupuk mata, Diandra masih berusaha menguasai diri.
Tidak mampu menahan aliran kristal itu berapa detik kemudian, bibirnya bergetar saat Leonard melanjutkan kalimatnya.
"Dia mungkin tahu dia akan pergi. Lelaki lain yang dimaksud abangku adalah calon suamimu, Diandra. Bram Trahwijaya."
.
.
.
🗼Bersambung🗼