
"Mungkin saja aku memang kembali seperti anak muda. Memikirkan alasan receh hanya untuk menatap matamu." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Michael benar-benar melongo. Menatap pada wajah Remond yang tampaknya menahan senyuman sembari menikmati sebatang rokok di sela bibirnya, namun lelaki itu telah menaikkan bahu sebagai tanda bahwa dia sedang merasa di atas awan. Michael berdecak.
“Yang benar aja lo, Bro. Beneran ini gue nyari orang mati? Astaga naga!” Berkata sembari menolehkan kembali kepalanya ke arah layar, Michael masih bertanya-tanya di dalam hati. Bahkan setelah dua jam duduk dan bertengger di depan laptop sedari tadi, dia bahkan tidak menemukan hal yang berarti. Entah bagaimana Remond malah lebih dulu menemukan sebuah titik untuk pencariannya.
Terkekeh pelan, Remond meneggelamkan puntung rokoknya ke arah asbak yang teletak di meja yang sama dengan meja dimana laptop Michael berada.
“Maaf, Bro. Cuma itu yang bisa gue bantu, selebihnya enggak bisa lagi. Memang bener kata lo, target lo yang satu ini susah untuk dilacak,” ujarnya sembari melangkah ke arah sofa, mendaratkan tubuhnya di sebuah sofa panjang.
Michael memutar kursinya untuk menghadap ke arah Remond.
”Gimana lo bisa tahu dia udah meninggal, Mond?” Masih menyimpan rasa penasaran mengapa Remond bisa lebih jeli daripada dirinya, Michael memutuskan untuk bertanya.
Ramond menyeringai di sudut bibirnya.
“Karena hanya ada beberapa Kobayashi-san yang masih terdata. Beberapa dari mereka masih hidup dan beberapa lagi dinyatakan sudah meninggal dunia. Semua yang hidup masih terlacak dengan data lengkap, namun ada satu di antara yang sudah meninggal tidak memiliki riwayat apapun. Makanya gue melakukan verifikasi data dan ternyata itu adalah target yang lo cari.”
Michael mengangguk pelan.
“Gue akan selidiki lagi. Kalau memang dia sudah meninggal, setidaknya gue akan bawa gadis cantik itu ke depan batu nisannya."
***
Bram berdehem.
”Iya, Pa. Aku ke sana tadi,” ujarnya pelan di ujung telepon, sedang berada dalam sambungan telepon bersama ayahnya, Brio Trahwijaya.
”Papa sudah lebih dulu datang tadi? Mengapa tidak menelepon?” tanyanya lagi. Hening sesaat.
“Tentu saja. Aku? Aku bersama seseorang.” Jeda beberapa detik.
“Iya, wanita. Tidak, hanya teman saja.” Mulai merasa tidak enak Bram atas percakapan yang terjadi antara dia dan ayahnya, sebagaimana ayahnya terus menanyai apakah dia sedang berkencan atau tidak dalam waktu belakangan ini. Tidak ingin memperpanjang mukadimah, Bram memotong kalimat ayahnya yang belum selesai di ujung telepon.
“Sampai nanti, Pa!”
Klik. Sambungan telepon terputus saat Bram masih mendengar dengan jelas kekehan ayahnya di sebrang. Meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, lelaki itu menggoyangkan kaki dengan malas. Memandangi sekilas ke arah televisi yang dibiarkan menyala, Bram menarik napas panjang.
Setelah membiarkan Marin menunggu beberapa menit di mobilnya siang tadi, Bram kembali tanpa menyadari bahwa ponselnya tertinggal. Masuk kembali ke dalam mobil dengan senyum merekah, mereka langsung memutuskan untuk pulang ke apartemen masing-masing, sebab memang Bram tidak berencana untuk stand by di kantor hari itu. Ada beberapa dokumen yang dia harus tinjau, tetapi dia lebih memilih untuk mengerjakannya dari kediamannya saja. Entah mengapa kini pulang menjadi salah satu hal yang menyenangkan, berbanding terbalik dengan beberapa bulan silam dimana Bram selalu lebih memilih untuk tinggal di kantornya meski dengan perlengkapan minim.
Melirik ke arah jam dinding, lelaki itu memeriksa waktu. Hampir pukul delapan malam dan dia mulai merasakan perutnya keroncongan. Berfikir sejenak, Bram meraih kembali ponsel dari atas meja, memilih sebuah kontak di sana. Menimang sesaat, lelaki itu tampak ragu apakah dia akan menekan nomor itu atau tidak.
Marin, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah makan?
Masih senang bergumul dengan fikirannya sendiri, lelaki itu tanpa sadar menyunggingkan senyuman tipis saat sebuah ide melintas begitu saja di kepalanya. Tidak jadi menekan tombol di benda pipih itu, Bram memilih untuk bangkit dari sofa dan berjalan cepat menuju kulkas. Membuka pintu kulkasnya, lelaki itu tampak memilih sesuatu. Mengeluarkan tiga buah apel besar, empat buah pir hijau dan dua renteng anggur hitam, Bram menaruh semuanya ke dalam sebuah mangkuk lebar.
Mungkin saja ini akan jadi alasan yang masuk akal, kan? Lagipula aku adalah tetangga yang baik.
Masih dengan senyuman yang tersampir di sudut bibirnya, Bram sudah menenteng mangkuk besar itu dengan kedua tangannya, melangkah besar-besar untuk menuju pintu apartemennya. Dia akan bertamu malam ini.
Beberapa detik kemudian, Bram sudah berdiri tepat di depan pintu apartemen milik Marin. Menekan bel, dia tanpa sadar menegakkan tubuhnya saat mendengar suyup-sayup suara dari arah dalam. Menahan napas saat Marin menarik pintu dan muncul dari sana, Bram melebarkan senyuman. Menyodorkan mangkuk berisi buah itu ke hadapan Marin, Bram bersuara pelan.
Marin melongo. Mendapati Bram Trahwijaya berdiri di hadapannya dengan semangkuk buah, dia tidak mampu menahan tawa.
Dari mana kau mendapat buah ini, Bram? Tumben sekali.
“Ah, kau mau memberiku buah, Bram?” bertanya sembari menerima mangkuk yang disodorkan Bram, Marin menatap lurus ke arah manik Bram.
Bram menyeringai tipis.
“Benar. Aku belanja banyak buah dan kufikir aku tidak bisa menghabiskannya sendiri. Aku teringat mana tahu kau tidak punya buah, jadi aku datang dan ingin memberikannya padamu,” jawab lelaki itu cepat.
Marin mengangguk pelan.
“Baiklah, Bram. Terima kasih atas pemberianmu ini. Aku menyukai anggur, tentu saja.” Menjawab dengan lugas gadis itu, melirik sekilas pada anggur hitam tanpa biji yang tampak menggoda sekali.
Bram mengerjap.
Kau tidak ingin mengundangku masuk, Marin?
“Baguslah kalau begitu, kan? Kelak jika aku membeli buah lagi akan kubelikan kau anggur hitam yang banyak, bagaimana?”
Marin tersenyum lebar, jelas-jelas mendapati bahwa lelaki di depannya ini sedang mengulur waktu. Tidak seperti biasanya dimana Bram selalu berbicara seperlunya dan tepat sasaran, kali ini tampaknya lelaki itu menikmati obrolan mereka meski sama-sama berdiri di depan pintu.
“Tidak, Bram. Tidak perlu. Kelak aku yang akan membelikanmu buah sebagai tanda terima kasih. Kau suka buah apa?” tanya gadis itu.
Bram mendesah.
Apa kita akan berbicara sepanjang malam di depan pintu seperti ini, Marin?
Marin hening, menunggu jawaban dari tetangganya itu. Setidaknya dia memang sudah berniat untuk membalas pemberian Bram malam ini.
“Aku suka semua buah, Marin. Kau boleh membelikanku buah apa saja. Tidak ada buah kesukaan yang spesifik,” jawab Bram setelah sekian detik berfikir.
Marin mengangguk.
“Baiklah!” katanya singkat. Sengaja ingin menyudahi pembicaraan mereka, Marin begitu penasaran apa yang kira-kira akan dilakukan Bram kemudian.
“Baiklah, Marin. Masuklah!” ujar Bram kemudian, mundur dua langkah ke belakang seolah memberi ruang untuk Marin agar dia leluasa menutup kembali pintu apartemennya.
Marin mengangguk kecil sembari menahan senyuman, berniat untuk meraih gagang pintu saat Bram tiba-tiba maju tiga langkah.
“Marin, apa aku boleh bertamu dan masuk ke dalam?” tanyanya cepat, saat maniknya pula tampak membesar.
Marin tampak terkejut untuk beberapa detik, namun kemudian dia melebarkan senyuman.
Mengapa kau menahan diri dengan sangat baik saat kau sebenarnya ingin ke dalam sini, Bram?
“Masuklah, Bram. Aku memanggang daging. Kau mau?”
.
.
.
🗼Bersambung🗼