Travelove~

Travelove~
42. Kesempatan Lain (2)



“Berharap kesedihan ini akan segera berakhir, agar aku mampu mengukir kembali senyuman di wajah tuamu.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Alberto menyusuri lorong rumah sakit tempat di mana ayah Bram dirawat dengan langkah tergesa. Setelah benar-benar mampir dan mendapati Bram tidak berada di ruangannya, Alberto lantas memacu mobil untuk menuju rumah sakit tepat setelah Meta memberi kabar bahwa ayah Bram sedang berada dalam perawatan medis.


Celingukan begitu langkahnya menuju arah luar lift, manik lelaki itu membesar saat dia menemukan Bram sedang terduduk lemas dengan pandangan menunduk ke arah lantai, tepat berada di salah satu kamar rawat pasien VVIP.


Mendekat, Alberto menarik napas.


“Bram,” panggilnya pelan.


Tidak menyadari kehadiran Alberto hingga lelaki itu berdiri tepat di depannya, Bram masih mengaitkan kedua tangan sembari memohon kekuatan dalam keheningan. Kini menaikkan kepala perlahan, pandangan keduanya bertemu.


“Kau di sini, Al.” Tidak mampu berucap apapun yang lebih layak, Bram tampak benar-benar linglung sekarang.


Alberto mengambil posisi duduk tepat di samping Bram, menepuk pundak lelaki itu sekilas untuk mengalirkan dukungan.


“Bagaimana keadaan ayahmu?” Bertanya pelan agar tidak terdengar seperti menuntut penjelasan, sungguh Alberto tidak ingin menambah level kesedihan untuk Bram kali ini.


Terdengar Bram mendesah berat.


“Hampir tiga jam aku menunggu, Al. Belum ada kemajuan,” ujar Bram pelan, nadanya jelas mengandung rasa kesedihan yang tidak bisa dia tutup-tutupi.


Alberto memilih untuk diam. Mengusap kembali punggung Bram sekilas, dia berharap bisa membantu meski sedikit saja.


Menoleh, Bram berusaha menyunggingkan senyuman tipis.


“Terima kasih sudah datang, Al,” ujar lelaki itu kemudian, yang langsung dijawab dengan sebuah gelengan keras oleh Alberto.


“Mamiku bersikeras untuk ikut ke sini saat aku memberinya kabar tadi. Tetapi aku memaksanya untuk mengurungkan niat, berharap kelak ayahmu lekas sadar dan pulih, Bram. Aku hanya bisa bantu untuk memanjatkan doa saja.” Berkata dengan setulus hati lelaki itu, yang dapat ditangkap oleh Bram melalui pancaran matanya.


Kembali tersenyum, Bram mengangguk pelan. Dia bersyukur dia memiliki teman dekat yang juga merupakan mantan abang iparnya, meski seringkali Alberto membuatnya jengkel. Tetapi kini mendapati Alberto begitu peduli, Bram diam-diam berucap syukur bahwa dia masih memiliki teman setia di saat-saat dia mengalami kondisi menyedihkan.


Bergumul dalam keheningan beberapa menit setelahnya, perhatian kedua lelaki itu terbuyarkan saat pintu ruang rawat Brio Trahwijaya di dorong oleh seorang dokter yang muncul dari dalam sana. Seperti sedang mencari seseorang, manik dokter Aryo kembali berbinar saat pandangannya beradu dengan mata Bram yang kini bangkit berdiri.


“Bagaimana Papa, Dok?” Tidak mampu menahan pertanyaan yang sejak tadi dia tahan, Bram melangkah untuk mendekati posisi dokter Aryo yang masih berada di ambang pintu.


Tersenyum saat membuka pintu itu sedikit lebih lebar, dokter Aryo ternyata sedang memberikan ruang bagi Bram untuk kembali memasuki ruangan yang didominasi warna putih itu.


“Masuklah, Bram. Ayahmu sudah sadarkan diri.”


***


“Aku di sini, Pa.” Masih dengan suara gemetar, Bram mencoba berkomunikasi dengan ayahnya yang memang telah sadarkan diri saat ini. Memegangi tangan kanan pria tua itu, Bram mengelus punggung tangan ayahnya dengan lembut.


Brio Trahwijaya tersenyum pelan, meski tampak kesusahan. Para dokter dan perawat sudah meninggalkan ruangan, setelah memastikan kondisi Brio Trahwijaya cukup pulih untuk dibiarkan berdua saja dengan putranya.


“Bram.” Suara lelaki tua itu terdengar terbata-bata, dengan bibirnya yang tampak kesulitan terbuka.


“Aku di sini, Pa. Jangan bersuara dulu, Papa belum sehat.” Bersyukur bertubi-tubi sejak tadi sebab Tuhan mendengar doanya, Bram memperhatikan ayahnya dengan lekat. Meski sepertinya penyakit ayahnya sedikit serius, tetapi pria tua itu masih bisa berkomunikasi dengan baik meski hampir terbata-bata karena gerakan bibirnya yang kesusahan.


“Bram. Pergilah, Bram.” Berujar kembali Brio, memusatkan seluruh kekuatannya untuk mengatakan sesuatu.


Bram mengernyitkan dahi.


Memiringkan kepala untuk menatap Bram lebih dalam, Brio Trahwijaya kembali membuka suara.


“Bram, ambil foto di laci atas meja kerja Papa.” Mengucapkan kalimatnya dengan terbata, Brio Trahwijaya tampaknya memang berniat untuk menyampaikan sesuatu. Sesuatu yang tidak dapat dia tunda, sesuatu yang sepertinya urgent untuk dia katakan.


Masih mengernyitkan dahi, Bram masih tidak dapat menebak apa maksud dari perkataan ayahnya.


“Baiklah. Nanti akan kuambilkan untuk Papa,” balasnya cepat.


Brio Trahwijaya menggeleng kali ini.


“Bukan untuk Papa, tapi untukmu,” katanya lagi.


Bram mendesah. Memikirkan apakah mungkin ayahnya sedang berbicara ngelantur sebab kesadaran yang baru pulih, lelaki itu berusaha untuk tenang.


“Baiklah, Pa. Akan aku ambil nanti untukku. Sekarang Papa istirahat dulu, jangan banyak berbicara lagi ya,” ujar Bram kemudian. Masih mengelus punggung tangan ayahnya, dia berusaha memberikan dukungan. Berharap agar ayahnya lekas pulih seperti sedia kala.


Menggeleng lagi Brio kali ini.


“Mungkin ini waktunya, Bram. Papa takut tidak ada waktu lagi.” Kalimat lainnya yang dapat diucapkan lelaki tua itu meski terbata, sontak membuat tubuh Bram menegang.


“Tidak. Jangan bicara yang tidak-tidak, Pa,” sanggahnya cepat. Dia tidak ingin mendengar kata-kata menakutkan seperti itu.


Brio mengedipkan mata berulang kali, menyadari bahwa putranya tampak tidak bisa diajak berbicara kali ini. Anaknya itu masih sama, terlalu sering menjawab dan tidak mendengarkannya dengan seksama.


“Dengarkan Papa, Bram.” Kali ini memberikan perintah, yang terdengar lebih seperti ultimatum meski nada suaranya sangat pelan dan ringkih. Bagaimanapun dia harus memberitahukan semuanya pada Bram, sebelum dia tidak lagi memiliki waktu nanti.


Bram menahan napas. Tidak ingin membuat ayahnya semakin kesulitan, dia akhirnya memilih untuk berdiam diri dan menunggu.


Terdengar Brio Trahwijaya menarik napas panjang.


“Bram, ambil foto itu. Foto ibumu. Di balik foto itu terdapat sebuah alamat,” berujar pelan sekali ayah Bram, dengan Bram yang tampak mendengarkan dengan seksama kali ini. Dia tidak ingin membuat ayahnya mengulangi perintah, dia akan menangkap kalimat ayahnya dengan baik dan tanpa satu kesalahan pun.


Mendapati Bram memperhatikannya, Brio berusaha menyunggingkan senyuman tipis.


“Pergilah ke sana. Temui dia, dan dengarkan semua apa yang dia katakan,” lanjut lelaki tua itu lagi. Menarik napas dengan susah payah, ayah Bram itu hampir saja tersengal. Berhenti untuk beberapa detik, dia kembali melanjutkan.


“Hanya ini kesempatanmu, Bram. Pergilah secepat mungkin, sebelum semuanya terlambat.”


Meski tidak mengerti, Bram tetap mengangguk dan kembali mengeratkan gandengan tangannya.


“Lekas pulih, Pa. Aku akan menuruti perkataan Papa,” ujar lelaki itu pelan.


Menyelesaikan kalimat terakhirnya meski kesulitan, Brio tampak tersenyum dan mengangguk kecil. Masih memandangi putra semata wayangnya, lelaki tua itu sungguh lega sebab dia sudah memberitahukan sesuatu yang dia simpan rapat-rapat selama ini. Kenyataan yang telah dia sembunyikan hampir tiga puluh tahun, kini dia katakan sebelum dia kehabisan waktu.


Bahkan jika Tuhan mencabut nyawanya saat ini juga, dia tidak lagi merasa bersalah sebab pundaknya kini terasa begitu ringan. Mendapati Bram yang mengelus tangannya, lelaki tua itu kembali menutup mata, mulai kehilangan kesadaran.


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Akan up beberapa chapter langsung setelah ini kak readers. Bantu like, tinggalkan komen dan vote yaak, biar cerita ini bisa dibaca lebih banyak orang lagi hehe.. terima kasih semuanyaa ❤️~