Travelove~

Travelove~
92. After Marriage (4)



“Jika kelak aku berada di antara dua pilihan, maka ketahuilah kau sudah pasti berada di tempat pertama.” ~Diandra Lee.


.


.


.


Tidak ada pria secepat Bram. Setidaknya seperti itulah yang dipikirkan Diandra saat ini.


“Hei, Bram!” pekiknya tertahan. Lengan lelaki itu sudah bertaut di pinggangnya, secepat kilat bahkan mungkin tidak sampai hitungan dua detik.


Jika Diandra membelalakkan mata akibat respon kaget atas gerakan yang tiba-tiba, lain halnya dengan Bram yang malah tersenyum lebar.


“Kau selalu seperti ini, Diandra. Menggodaku, memunculkan gairah yang sulit untuk ditepis.” Berbisik lelaki itu di telinga istrinya, mencuri satu gigitan kecil di ujung telinga Diandra yang menyebabkan perempuan itu meringis.


“Bram! Ini di kantor, tahu?!”


Tentu saja Bram tahu. Justru karena dia tahulah makanya dia bertindak demikian. Sungguh tidak menyangka istrinya akan muncul di sana, terlebih dengan kotak makan siang yang dibeli khusus untuknya. Yang lebih menyenangkan lagi, setelah bertahun berpisah, Diandra masih ingat makanan favoritnya.


“Tentu saja aku tahu, Sayang. Aku lelah sekali, Diandra.” Masih bergelayut manja, Bram mencuri kecupan-kecupan kupu-kupu di leher istrinya.


Diandra beringsut menjauh, menghujani dada bidang Bram dengan pukulan kecil.


“Hei, nanti ada yang lihat bagaimana?” pekiknya tertahan.


Diandra tidak menyadari bahwa si serigala tampannya ini sungguh tidak bisa diberikan pertanyaan ambigu. Jika maksud dari pertanyaan Diandra adalah dia mengkhawatirkan ada seseorang yang mungkin datang, maka yang dipahami Bram ialah istrinya menginginkan privacy. Beda tipis memang.


“Ah, jadi kau ingin berdua saja denganku, begitu kan, Diandra? Kau nakal sekali,” berujar lagi lelaki itu, menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Diandra. Tidak peduli pada perkataan perempuannya tadi, seakan ia tidak ingin mengambil pusing akan hal itu.


“Bram!”


Kali ini lelaki itu tertawa senang. Melepaskan dekapannya yang belum puas ia rasakan, Bram melangkah cepat menuju pintu. Mengunci pintu ruangannya, sekaligus menarik tirai yang tadinya terbuka hingga kini menutupi seluruh kaca jendela ruangannya.


Berbalik badan, lelaki itu menyeringai kecil. Tatapannya seperti lelaki penggoda—namun entah mengapa tetap terlihat tampan dari semua sisi.


“Kini aman, kan?” tanyanya mendekat. Meraih kembali pinggang istrinya, saat Diandra kini tidak melawan sama sekali.


Membiarkan Bram sudah menelusuri bibirnya dengan rakus, padahal sepertinya mereka baru saja berpisah pagi tadi. Mengalungkan kedua tangannya di leher lelaki itu, Diandra memberikan ruang untuk Bram memainkan bibirnya. Saling bertaut lidah, saling bertukar saliva. Saling mendesah pelan, saat keduanya sama-sama tahu bahwa kini keduanya menginginkan hal lebih dari sekedar ciuman saja.


Tidak melonggarkan dekapannya, Bram masih mendempet Diandra. Menempelkan tubuhnya pada perempuan itu, saat kemudian ia melangkah mundur untuk menuju satu pintu kecil. Diandra tertawa, di sela-sela pagutan mereka yang memanas, dia tahu ke mana arah Bram akan membawanya.


Mendorong pintu kecil itu dengan punggungnya, Bram masih terus menikmati dan menggigit bibir Diandra dengan manja. Menghirup aroma buah, sekaligus parfum khas milik perempuan itu yang tercium dekat sekali. Semakin membangkitkan gairah, semakin membawa keduanya terbang entah ke mana.


“Diandra.” Bram mengambil napas, saat tangannya sudah menyapu kulit Diandra di dalam blouse yang dikenakan perempuan itu. Bersyukur sebab dia meminta agar ruangannya tetap difasilitasi dengan satu ranjang berukuran single, tempat di mana dia menghabiskan malam-malamnya dulu saat jatuh hingga dasar jurang setelah Diandra pergi.


Kini memandangi istrinya yang berbaring di ranjang sempit itu, Bram merasakan kehangatan yang mengalir deras.


“Lakukan, Bram,” Diandra berbisik. Merasakan sentuhan Bram di atas kulitnya saja sudah membuatnya hampir tidak berdaya, saat kini suaminya telah siap untuk penyatuan mereka.


Bram tersenyum senang. Memperhatikan istrinya yang menarik napas dengan terburu-buru, saat ia sudah bersedia untuk menghujam wanita itu untuk yang kesekian kali. Diandra meremas rambut rapi milik Bram, menancapkan kuku-kukunya di antara tumpukan rambut pria itu. Menggelung suaminya, meminta hal lebih yang mereka sedang capai sekarang ini.


Bergetar saat Bram memasuki dirinya dengan lembut sekali, merasakan jari lelaki itu yang kini menyapu peluh di keningnya. Rambutnya sudah pasti berantakan, tetapi dia tidak peduli.


Gerakan lelaki itu tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata, saat sepertinya rasa kantuknya beberapa saat lalu telah menguap begitu saja. Jika tadi Bram hampir tertidur di ruang rapatnya, kini dia yang hampir membuat Diandra jatuh lemas.


Penyatuan itu berhasil dengan sempurna, diikuti desahan dan lenguhan panjang keduanya saat mereka mencapai titik yang mereka inginkan. Bertumpu pada sikunya untuk mengatur jarak selagi masih berada di atas tubuh istrinya, dada Bram naik turun seiring helaan napasnya yang meningkat.


Melayangkan satu kecupan di kening perempuan itu, kecupan dalam dan cukup lama. Membuat Diandra memejamkan mata, menerima aliran kasih sayang yang diberikan Bram dari setiap kecupannya.


“Aku mencintaimu, Diandra. Aku mencintaimu.”


Bram menghempaskan tubuhnya tepat di samping Diandra, masih berusaha menetralkan degupan jantung dan napas yang seperti sedang lari maraton. Membiarkan Diandra memainkan jari-jemarinya di atas dada pria itu, membentuk simbol hati berulang kali.


“Diandra.” Bram memperbaiki posisinya, menarik Diandra untuk bersandar padanya lengan kokohnya.


Perempuan itu mendongak sedikit. “Hmm?”


Bram memandangi Diandra sekilas, kemudian kini menatap ke arah langit-langit ruang istirahatnya itu. Memutar memori, yang begitu saja melengkungkan senyuman di ujung bibirnya.


“Di sinilah aku menghabiskan malam-malam sepi saat kau pergi waktu itu, Sayang,” ujar Bram pelan. Hampir seperti berbisik namun Diandra mendengarnya dengan jelas.


Perempuan itu kembali mendongak, memperhatikan wajah Bram yang tampak sendu.


“Kau pernah bertanya padaku dulu kan, saat kita duduk bersama di rumah sakit di Paris, saat kau hampir saja keguguran kala itu,” lanjut Bram lagi. Masih terasa sulit untuknya membuka kisah lama, meski kini sudah mulai berhasil.


Diandra menelan ludah. Masih membentuk pola hati di atas dada suaminya, dia mendengarkan dengan seksama.


“Di sinilah aku mengurung diri, menenggelamkan diri dalam tumpukan pekerjaan, berharap bisa mengusir bayang-bayangmu yang terus hadir,” ujar Bram kemudian. Mendapati kini tangan Diandra sudah meraih tangannya, saling bertaut satu sama lain.


“Apa yang terjadi, Bram?” tanya perempuan itu pelan.


Bram tersenyum getir. Masih ingat sekali di benaknya, bagaimana dia berusaha untuk bernapas setelah jarak Indonesia – Paris membentang di antara mereka. Setelah bertahun Bram memendam semuanya, mungkin inilah saat yang tepat untuk membuka dirinya pada Diandra.


“Aku hampir gila, Diandra.”


Hati Diandra berdebar, mengerjapkan mata tidak percaya.


“Aku kehilangan arah, tidak tahu harus berbuat apa. Kupikir pekerjaan akan membantuku mencari celah lain, namun ternyata tidak. Setiap detik yang terlewati terasa begitu menyakitkan, hingga aku hampir tidak pernah pulang,” jelas Bram.


Diandra mengernyitkan dahi. “Kau tidak pulang?”


Lelaki itu menganggukkan kepala. “Aku tidak berani pulang, lebih tepatnya. Karena di setiap sudut rumah itu ada kenanganmu, bahkan foto-fotomu masih tersusun rapi di sana.”


Benar-benar membelalak Diandra kali ini, tidak menyangka Bram akan melewati masa yang begitu sulit setelah perpisahan mereka. Dia mengira lelaki itu akan kembali bersenang-senang seperti menjadi lajang lagi, sungguh tidak tahu jika perasaan Bram sudah terlanjur dalam untuknya bahkan sejak dulu.


“Maaf,” ujar perempuan itu pada akhirnya, merasa bersalah meski kini sudah terlambat.


Bram mengeratkan kaitan tangan mereka. Tersenyum lembut, mengecup puncak kepala istrinya.


“Kau tidak bersalah, Diandra. Semuanya karena kesalahanku, dan aku pantas menerima itu. Terlalu sulit bagiku untuk hidup tanpamu, makanya aku menjual rumah kita dulu dan pindah ke apartemen.”


Diandra mengangguk kecil.


“Di sinilah aku tidur, di ranjang sempit ini, berharap kau datang dan kembali padaku bahkan sejak bertahun-tahun lalu.” Bram menunduk untuk menatap manik kecokelatan istrinya. “Kau harus tahu bahwa aku mencintaimu, Diandra. Lebih dari apa pun, lebih dari nyawaku sendiri.”


Tidak bisa tertahan, bulir air mata itu sudah meluncur jatuh ke pipi Diandra. Begitu sedih rasanya mendengarkan bagaimana keadaan Bram dulu, tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Bram yang menghadapinya sendirian.


“Hei, kau menangis, Sweetheart?” Jemari Bram sudah menghapus aliran air mata itu, saat ia melebarkan satu senyuman.


“Aku merasa sedih, sekaligus bersalah padamu,” ujar Diandra jujur.


Bram kembali mendekap istrinya. Mengelus punggung Diandra yang masih polos, mengurai kesedihan.


“Semuanya sudah berlalu, aku hanya ingin kau tahu seberapa besar aku membutuhkanmu di hidupku, itu saja. Sekarang kita sudah bersama maka semua akan baik-baik saja, oke?” Terdengar menenangkan, Diandra diam-diam menyetujui perkataan Bram kali ini.


Mendekat, ia melayangkan satu kecupan di pipi kiri Bram. “Terima kasih karena sudah menungguku, Bram,” bisiknya pelan.


Bram tersenyum kemudian. Saat suara keroncongan yang berasal dari perut kotak-kotaknya terdengar, maniknya memutar. Dia sudah kelaparan ternyata.


Mengundang tawa renyah dari Diandra, saat perempuan itu menepuk dari mana suara tadi berasal.


“Ayo makan, Bram. Kau sudah lapar dan itu tadi pastilah melelahkan,” ujar Diandra sembari bangkit untuk duduk, memungut pakaiannya yang tersebar di lantai.


Bram meringis. Mengutuk perutnya yang tidak tahu situasi dan kondisi, namun kemudian ia juga bangkit dan menuju lemari untuk mengambil setelan kemeja yang baru. Dia tidak mungkin kembali bekerja dengan kemeja yang kusut dan awut-awutan, kan?


Sudah mengenakan pakaiannya, Diandra menghadap pada Bram untuk memasang kancing kemeja lelaki itu, saat Bram merapikan rambutnya sekilas. Melirik pada arlojinya yang sudah menunjukkan hampir pukul satu lebih, yang menandakan bahwa istirahat makan siangnya telah usai sejak beberapa menit lalu.


Masih berada di ruang istirahat itu, saat keduanya sudah siap untuk keluar dari sana.


“Diandra.”


“Hmm?” Menoleh sebelum Bram menarik gagang pintu ruangan itu, Diandra menunggu apa yang ingin Bram katakan kali ini.


Lelaki itu tersenyum tipis, menyeringai persis seperti serigala yang tampan.


“Kau mau datang lagi besok?”


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Hi readers, bantu terus utk vote, like dan komen yak, biar travelove~ ini tetep rame cem nopel-nopel sebelah wkwkwk 🤭


Oh iya aku ada rekomendasi bacaan bagus, silakan berkunjung ke novel berjudul BOS MARCO, authornya Belinda Marchely--sahabatku, hehe. Ditunggu di sana yaak🙏


Sehat selalu dan happy weekend 😍