Travelove~

Travelove~
24. Daging Panggang



"Terima kasih sebab telah memberikanku kesempatan untuk berbagi ruangan dan udara yang sama." ~Marinda Schoff. 


.


.


.


Bram memasuki apartemen milik Marin. Mengedarkan pandangannya ke sekililing, dia kini tahu Marin ternyata memiliki perabotan dan desain ruangan yang tak kalah baik dari apartemen miliknya. Entah gadis itu telah membeli unitnya atau hanya menyewa sebab dia pernah berkata dia hanya akan tinggal beberapa lama, Bram tetap harus mengakui bahwa gadis itu punya selera yang baik.


“Duduklah, Bram. Apa kau sudah makan malam?” Marin bertanya sembari melangkah ke arah dapur, mempersilakan tamu tak diundangnya untuk duduk di meja makan. Itu adalah kali pertama Bram memasuki apartemen milik Marin, meski tampaknya ukuran apartemen mereka tidak jauh berbeda.


“Aku suka warna dapurmu, Marin.” Bram berkomentar saat dia menarik sebuah kursi di meja makan yang didominasi warna putih, masih memandangi seluk beluk dapur Marin yang tampak luas.


“Ah, benarkah? Dapurmu juga bagus, Bram. Kau memiliki selera yang baik dalam pemilihan perabotan, harus kuakui itu,” Marin membalas kalimat Bram sembari mengenakan kembali celemek yang tadi dia lepaskan, berniat untuk melanjutkan memasak makan malamnya.


Mengapa bisa fikiran kita sama? Aku baru saja hendak memujimu, Nona.


“Kau suka daging, Bram?” Marin telah membalikkan badannya untuk menghadap kembali ke arah pemanggang, membalikkan potongan daging berbumbu yang harumnya sudah memenuhi ruangan.


Bram memperhatikan Marin yang tampak bersahabat dengan berbagai peralatan masak, diam-diam mengagumi kepiawaian gadis itu dalam hati.


“Tentu. Semua orang menyukai daging, bukan begitu?”


Marin mendengar dengan jelas suara Bram yang menggema di dapurnya, lalu tersenyum kecil. Entah mengapa perasaannya terasa berbeda, sebab kini apartemennya tidak lagi terasa sepi. Ada suara orang lain di sana, ada desahan napas orang lain di sana. Bahkan ada wangi parfum Bram yang samar-samar masih tercium oleh indera penciuman Marin, harum yang hampir familiar untuknya.


“Kau benar. Aku bahkan menyukai daging lebih dari aku menyukai diriku sendiri, astaga.” Kembali bersuara, Marin kini memindahkan beberapa potong daging ke sebuah piring lebar. Memasukkan lagi potongan-potongan daging ke dalam alat pemanggang, Marin sudah memutar tubuh untuk menghadap tamunya.


“Tara! Beberapa masih dipanggang, tetapi makanlah Bram. Ini sangat lezat,” berujar dengan nada senang Marin saat dia menarik sebuah kursi yang berada tepat di hadapan Bram.


Menciumi aroma daging bumbu yang menggoda, Bram tanpa sadar telah mengambil sebuah garpu yang tersusun di atas meja. Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, lelaki itu telah memilih sepotong daging dan memasukkan daging itu ke dalam mulutnya. Marin memperhatikan dan menunggu dengan seksama reaksi seperti apa yang mungkin diberikan Bram setelah memakan dagingnya, gadis itu menahan napas. Manik Bram membesar, mengangguk tanpa sadar sebab rasa daging dan paduan bumbu yang terasa pecah dan meleleh di dalam mulutnya, Bram lalu menggeleng pelan.


“Wah, ini lezat sekali, Marin. Sungguh, aku tidak berbohong!” berseru dengan nada sedikit tinggi lelaki itu, sebab dia begitu merasa kelezatan memenuhi mulutnya. Nafsu makannya kini tiba-tiba meluap naik, dibuktikan dengan tangannya yang telah menusuk dagingnya yang kedua.


Marin menghela napas lega. Khawatir Bram tidak menyukai daging yang dia sajikan pada awalnya, namun kini dia merasa sungguh lega sebab tamunya menyukai hidangan yang dia sajikan.


“Makanlah yang banyak, Bram. Akan kuambilkan lagi untukmu.” Marin berujar dengan semangat membara, telah bangkit dari kursinya untuk kembali menuju daging yang sedang dia panggang. Meraih spatula dan membalikkan daging itu, Marin beralih untuk mencuci buah yang diberikan Bram sebelumnya. Membiarkan Bram yang tampak masih fokus mengunyah daging, gadis itu meletakkan buah yang sudah dicuci ke dalam sebuah wadah. Meletakkan wadahnya di atas meja, Marin kembali menghadap ke arah kompornya yang masih menyala.


Beberapa saat kemudian, gadis itu tampak sudah memindahkan daging panggang ke atas piring, berniat untuk menaruhnya bersamaan dengan piring pertama yang isinya hampir habis oleh Bram Trahwijaya. Tersenyum sekilas, Marin meraih ujung panggangan, hendak memindahkan benda yang masih panas itu ke arah westafel untuk merendamnya lebih dulu. Tidak menyadari percikan air di lantai yang dia timbulkan sebelumnya, Marin telah kehilangan keseimbangan hingga menyebabkan  panggangan panas itu terjatuh begitu cepat dan mengenai kakinya.


“Marin!” Bram yang mendengar bunyi benda keras menghantam lantai buru-buru bangkit dari kursinya dan menghampiri Marin yang kini berjongkok.


dan hanya membiarkan Bram melakukan apa yang dia kehendaki.


”Marin, luruskan kakimu! Biar aku melihatnya.” Nada suara Bram terdengar memburu, memeriksa dengan cekatan luka yang mungkin ditimbulkan oleh perkakas panas tadi pada kaki Marin. Marin menurut. Meluruskan kedua kakinya, gadis itu mencoba mengidentifikasi titik rasa nyeri di seputaran kaki bawahnya.


“Kau punya air dingin dan handuk, Marin?” Lagi-lagi suara Bram yang memenuhi apartemen luas itu, diikuti dengan anggukan cepat dari sang empunya rumah.


“Di kulkas dan di lemari paling bawah, Bram,” jawabnya kemudian, masih sedikit meringis menahan sakit.


Bram beranjak. Menuju arah lemari yang ditunjuk Marin lebih dulu, mengeluarkan sebuah handuk berukuran sedang dari salah satu lacinya. Berlari kecil menuju dapur untuk mengambil air dingin, lelaki itu telah kembali dengan sebaskom air dingin di tangan kanannya dan handuk di tangan kirinya.


“Tahanlah, Marin. Aku akan mengompresmu lebih dulu,” berujar cepat lelaki itu, tanpa komando dia sudah duduk di tepi ranjang milik Marin, menaikkan kedua kaki Marin ke atas pahanya. Marin tersentak sesaat, namun dia tetap membiarkan Bram untuk kali ini mengambil alih.


“Bagian mana yang terasa nyeri?” Menaikkan kepala untuk bertanya pada korban, Bram tampak seperti petugas Palang Merah Indonesia yang sangat handal.


Menunjuk ke arah punggung kaki sebelah kanan, Marin masih dipenuhi perasaan campur aduk yang tiba-tiba saja hadir. Tidak perlu waktu lama untuk Bram dia telah memeriksa titik yang ditunjuk oleh Marin, mendapati bekas kemerahan di sana. Dengan cekatan menempelkan handuk yang telah dibasahi air dingin, Bram menekan handuk itu dengan sangat lembut untuk memberikan sensasi dingin pada luka bakar Marin.


Merasa sedikit bersalah, Bram kembali menaikkan kepala. Kini menatapi manik kebiruan Marin, Bram menarik napas panjang, merasa menyesal.


“Maafkan aku, Marin. Seharusnya aku yang melakukan itu, sebagai laki-laki,” ujarnya kemudian dengan nada yang terdengar sungguh menyesal.


“Tidak, Bram. Semua sudah ditakdirkan. Memang aku harus mengalami ini maka ini semua terjadi, benarkan? Bukan salahmu, sungguh. Bahkan jika kau tidak datang aku akan tetap memanggang, kan?” Tidak ingin tamunya merasa tidak enak hati, Marin mengutarakan hal yang tersirat di benaknya. Bahwa semua kejadian itu bukanlah salah siapa-siapa, namun memang telah ditakdirkan. (Atau mungkin salah author, haha).


Bram mendesah. Menarik handuk yang sudah mulai tidak lagi dingin, dia kembali merendam handuk itu ke dalam baskom. Memeras pelan, lalu melakukan hal yang sama pada luka Marin untuk yang kedua kalinya.


“Kau merasa lebih baik sekarang? Hanya di situ saja yang terasa sakit?” Bram kembali menatap manik Marin, bahkan dia tampaknya lebih khawatir dibandingkan Marin yang sedang merasakan sakit.


“Tentu, Bram. Sudah lebih baik sekarang.” Gadis itu hendak menarik kakinya yang masih berada tepat di paha Bram, saat tiba-tiba Bram menahan gerakannya. Saling menatap, keduanya hening untuk beberapa saat.


Bram, apa yang kau coba lakukan saat ini?


.


.


.


🗼Bersambung🗼