
"Karena bibirmu masih terasa sama, meski waktu begitu lama berlalu. Karena rasa cintaku masih sama, persis seperti pertama kali aku membiarkanmu mengambil alih hati dan kehidupanku." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Manisnya pagutan Bram masih terasa sama. Melambungkan, sekaligus memabukkan dalam waktu yang bersamaan. Menerbangkan jiwa menuju nirwana, seolah siap untuk merengkuh kenikmatan yang sempurna.
Menarik tubuh Diandra ke dalam pelukannya, Bram membiarkan perempuan itu menikmati absen lidahnya di dalam rongga mulut. Tidak sedikit pun mengendorkan isapan yang terasa semakin menyiksa, Bram merengkuh Diandra lebih dekat ke dalam dekapan.
Perasaan itu masih sama, gejolak itu masih sama. Membakar api cinta yang belum sepenuhnya membara, saat perpisahan telah menjadi jarak saat satu dari mereka melakukan kesalahan.
Aku menginginkanmu, Diandra. Seluruh tubuhku hanya menginginkanmu.
Melonggarkan sejenak pertemuan dua bibir yang tampak saling menggigit kecil, Bram mendengar dengan seksama deru napas Diandra yang memburu. Perempuan itu menginginkan dirinya, seperti dia yang hampir gila karena setiap malam merindukan Diandra selama hampir empat tahun terakhir.
Tidak kuasa menatap manik kehitaman Bram yang begitu teduh menatapnya, Diandra memilih untuk menundukkan kepala. Setelah dua tahun hidup sendiri, sentuhan Bram yang begitu lembut dan perlahan-lahan sungguh membangkitkan gairah yang telah lama terpendam.
Berada dalam jarak yang dekat sekali, Diandra bahkan tidak menyadari saat kedua lengannya telah melingkari pinggang lelaki itu.
"Kau manis sekali, Diandra." Mengambil napas yang terdengar seperti satu bisikan, Bram tidak membiarkan Diandra mundur satu sentimeter pun.
"Bram." Mendesah pelan, Diandra masih berusaha mengatur degupan jantungnya yang sungguh meloncat naik. Tidak ingin Bram mengetahui bahwa dia begitu menikmati ciuman mereka tadi, dia memilih untuk menggigit bibir bawahnya.
Kau tidak akan menciumku lagi, Bram?
Lagi-lagi mengutuki dirinya sendiri sebab dia malah jelas-jelas menunggu gerakan lanjutan dari lelaki itu, Diandra sedang kesulitan bernapas.
Mengamati gerak gerik Diandra yang tidak meneriaki atau menamparnya kali ini, sang dominan mengambil kesimpulan bahwa perempuan itu juga sedang menanti dirinya untuk memulai permainan mereka.
Permainan yang mereka impikan, permainan yang mereka tunggu selama ini.
"Diandra." Mengucap nama Diandra dengan begitu pelan, Bram mulai menurunkan wajahnya untuk memberikan kecupan lain pada ceruk leher Diandra. Mendapati Diandra tidak menolak sama sekali, Bram hampir saja meninggalkan bekas kemerahan pada leher tinggi wanita itu.
Tersadar untuk tidak menimbulkan hal-hal yang kelak menyusahkan perempuannya, Bram memilih untuk menyorokkan kepala pada ceruk dada Diandra kali ini.
Tidak bisa menahan gejolak yang menggelora dan membakar suasana, Bram membimbing Diandra untuk berbaring dengan benar di atas ranjang.
Manik mereka bertaut, sama-sama mengetahui bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Sama-sama tahu bahwa itu bukanlah sesuatu yang dapat mereka lakukan, tetapi tidak ada yang ingin mundur saat itu. Keduanya saling mendamba, keduanya saling menginginkan.
Berada tepat di atas perempuan itu, Bram meninggalkan jarak yang terlalu sedikit antara dirinya dan Diandra.
"Diandra, kau cantik sekali." Tidak bisa menahan diri untuk tidak memuja perempuan itu, Bram menyunggingkan senyuman kecil.
Kau juga menginginkan aku, Diandra.
Tidak meminta izin untuk aksi berikutnya, Bram berusaha menurunkan kaos bagian atas yang dikenakan Diandra dengan sekali coba. Memandangi belahan yang begitu menggoda, lelaki itu telah melanjutkan kecupannya di sana.
Diandra menggelinjing, menggeliat. Menikmati dengan pikiran sadar setiap sensasi yang diberikan Bram di atas kulitnya, mencengkram punggung lelaki itu dengan kedua tangan.
Dejavu.
Saat hampir saja Bram menyibak kaos Diandra dengan sempurna, sebuah teriakan keras refleks menghentikan aktivitas mereka.
"Bram! Kau di dalam?!"
Hening keduanya, saling membesarkan manik mata.
"Bram? Bram? Kau tidur?!"
Bangkit dari posisinya untuk duduk tegak, Diandra menatap Bram dengan tatapan aneh. Tetapi syukurnya dia menyunggingkan sebuah senyuman di sudut bibir, menandakan bahwa dia baik-baik saja.
Bram menggeram, mengepalkan tangan sekuat tenaga saat dia menatap tajam ke arah pintu ketika terdengar kembali ketukan untuk yang ketiga kalinya.
"Bram, kau di dalam, kan? Aku akan masuk, oke?!"
Kau benar-benar brengsek, Al. Lihat saja perhitungan yang akan kulakukan untukmu, pengganggu sial!
***
Vallois dan Verden masih dibuai mimpi. Setelah mengenakan setelan kemeja dan celana kantornya yang diantarkan Diandra tadi malam ke kamar tamu, Bram mampir sejenak untuk memberikan kecupan pada kedua anaknya yang tertidur lelap.
Memandangi bocah kecil itu, perasaan hangat selalu hadir di sana. Paras mereka yang begitu rupawan, khas perpaduan antara ras Parisian yang diwarisi oleh gen ayah mereka dan ras Asia yang didominasi dari sang ibu.
Mendengar suara pintu yang terbuka saat dia masih memandangi ke arah anak kembar itu, Bram menoleh untuk memeriksa siapa gerangan yang hadir di sana. Menghentikan langkah sejenak saat kedua manik mereka bertemu, Diandra menarik napas panjang sebelum melanjutkan langkah. Tidak menyangka Bram akan berada di sana sepagi itu, saat dia mengira lelaki itu masih terlelap di kamarnya.
Memperhatikan Diandra yang tampak segar pagi itu, Bram masih menyilangkan kedua tangan di depan dada. Memberi senyuman lebar sebagai ucapan selamat pagi, dia tahu mereka berdua sedang berada dalam situasi canggung tingkat dewa.
Bagaimana tidak, sebab kejadian semalam merubah semuanya. Meski akhirnya Diandra keluar dari kamar tamu itu setelah Bram menyuruh Alberto menunggunya di bawah, ada setitik kenangan yang tercipta meski tidak utuh.
"Kau akan berangkat, Bram?" Diandra berdiri tepat di samping lelaki itu, melirik sekilas pada wajah Bram yang pagi ini tampak sudah bersih. Tidak terlihat lagi bulu halus di sekitar dagunya yang semalam sukses membangkitkan bulu roma.
Bram mengangguk kecil. "Benar. Sebentar lagi," jawabnya.
"Baiklah. Nikmati harimu dan jangan melupakan makan siang," pesan Diandra kemudian. Canggung rasanya, saat dia masih memutar dengan jelas apa yang terjadi di antara mereka semalam di pelupuk mata.
Bram tersenyum. "Tentu saja. Jangan khawatir, Diandra. Aku sudah merasa lebih baik sebab kerokanmu semalam. Terima kasih," ujarnya seraya membelokkan tubuh untuk menghadap pada Diandra.
Memperhatikan wajah cantik mantan istrinya yang terlihat menawan dengan cepolan rambut, Bram tanpa sengaja melihat segaris bekas kemerahan pada ceruk leher perempuan itu. Membelalakkan mata, dia tidak menyadari bahwa isapan yang dia hentikan mendadak kala itu ternyata berhasil meninggalkan bekas di sana.
"Diandra, lehermu ...." Menggantung kalimatnya akibat perasaan bersalah yang menelusup masuk, Bram menatap perempuan itu dengan tatapan dalam.
Buru-buru menutupi bekas itu dengan telapak tangan kirinya, Diandra tersenyum kecil. Kali ini dia yang memperhatikan visual Bram yang sudah tampak rapi, sebelum dia maju dua langkah untuk mendekati lelaki itu.
"Tidak apa-apa. Aku akan menutupi dengan krim nanti," ujarnya dengan nada sangat tenang sekali, saat kedua tangannya sudah mengarah pada dasi yang dikenakan Bram. Merapikan dasi yang tampak sedikit miring, Diandra ingin memastikan penampilan pria itu agar selalu tampak sempurna.
Senyuman Bram merekah selebar wajah, saat dia dapat mencium aroma semerbak lavender yang berasal dari rambut Diandra.
Terdengar menarik napas panjang, Diandra membalas senyuman Bram dengan sebuah kalimat jelas, yang membuat lelaki itu sontak kehilangan keseimbangan.
"Jangan datang lagi, Bram. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama."
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~Hai Readers yang baik, terima kasih atas semua dukungannya ya. Bantu untuk klik ⭐5 di halaman paling depan yaak, komen membangun sangat diperlukan untuk terus semangat mengetik hal-hal halu ini, wkkwkwk. Terima kasih banyaak ❤️