Travelove~

Travelove~
25. Tinggal



"Percayalah, aku sungguh tidak ingin kau terluka. Meski aku sendiri juga belum tahu apa alasannya." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


“Apa kau punya salep, Marin?” Lagi-lagi Bram yang memecah keheningan, kali ini dia beringsut mundur untuk meletakkan kaki Marin ke atas ranjang.


Marin mengangguk.


“Ada di kotak P3K di dinding sana, Bram,” jawabnya sambil menunjuk ke arah dinding sebelah kiri. Bram bangkit, mendekati kotak yang dimaksud Marin dan membawanya mendekat. Membuka dan mencari salep yang terselip di antara berbagai macam obat-obatan dan perlengkapan pertolongan pertama, Bram telah memilih sebuah salep berwarna putih dan biru.


“Berikan padaku, Bram,” Marin berkata pelan, mengulurkan tangan kanannya ke arah Bram berniat untuk mengoleskan salep itu pada kakinya sendiri.


Namun Bram tampak acuh, dia malah membuka tutup salep itu dengan cekatan, memencet perlahan dan mengeluarkan isinya. Memindahkan salep berwarna kuning itu ke jari telunjuknya, kini Bram telah mengolesi luka bakar Marin yang tidak lagi memerah.


“Semoga ini akan meredakan sakitnya, Marin. Jika kau merasa lukamu semakin sakit, maka hubungilah aku dan kita bisa pergi ke dokter. Kau mengerti?” Bram bersuara tetapi kepalanya menunduk, masih sibuk mengoles salep.


Marin menahan napas sejenak. Tetapi dia berusaha mencerna informasi yang Bram katakan melalui kalimatnya yang terdengar ambigu di telinganya.


“Sudah selesai,” ujar Bram sembari menaikkan kepalanya, meletakkan kembali salep itu ke dalam kotak P3K.


“Bram,” Marin memanggil Bram dengan nada rendah, membiarkan manik kebiruannnya menembus lurus ke dalam manik kehitaman Bram yang tampak membesar. Lelaki itu masih duduk di tepi ranjang saat Marin telah menarik dan melipat kakinya perlahan, berusaha untuk tidak menambah rasa sakit.


“Hmm?” Bram balas menatap Marin, namun dia memilih untuk menunggu.


Marin tampak berfikir sejenak.


Apa kau khawatir padaku, Bram? Apakah tindakan yang kau lakukan sebab kau merasa bersalah padaku atau karena hal lain? Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu.


“Tidak, tidak jadi.” Alih-alih mengajukan pertanyaan, Marin malah memilih untuk memalingkan pandangan. Satu sisi dia penasaran, namun setitik rasa di hati kecilnya merasa takut jika kelak jawaban dari bibir lelaki itu tidaklah sesuai dengan apa yang dia harapkan.


“Katakan, Marin. Bukankah sudah kubilang aku akan menjawab semua pertanyaanmu meski itu sulit untukku?” Bram sudah kembali mengeluarkan suara, masih memandangi Marin sembari mencuri pandang ke arah kaki gadis itu.


Marin kembali menatap Bram, namun entah mengapa bibirnya terasa kelu sekali.


“Tidak. Tidak jadi. Bibirku terasa kelu tiba-tiba,” ujar gadis itu kemudian. Memandangi ke arah luka bakarnya yang tampak telah lebih baik, namun dia yakin itu pasti akan meninggalkan bekas luka meskipun tidak terlalu parah. Mengutuki diri dalam hati betapa dia ceroboh, namun sekarang dia diam-diam bersyukur bahwa dia dapat melihat perlakuan Bram yang tidak pernah dia duga.


Bram mendekat. Tanpa Marin sadari lelaki itu telah beringsut mendekat, mengurangi jarak yang terlalu lebar di antara mereka. Saat Marin menaikkan kepala, dia tersentak kecil sebab kini Bram telah berada tepat di hadapannya dengan jarak yang tidak banyak.


“Marin, berjanjilah untuk tidak terluka lagi. Berjanjilah untuk selalu berhati-hati, kau mengerti?” Tidak tahu dari mana asalnya kalimat yang dia ucapkan, Bram telah mengutarakan kalimatnya dengan sangat pelan.


Marin mengerjapkan mata.


“Apa kau khawatir padaku?” Akhirnya memiliki keberanian untuk bertanya, Marin menunggu jawabannya dengan dada berdesir.


Bram menarik napas.


“Aku tidak tahu mengapa, tetapi iya kau benar bahwa aku mengkhawatirkanmu. Aku tidak ingin kau sakit, tidak ingin kau merasa kesakitan. Entah aku punya hak apa terhadapmu, aku tidak tahu.”


“Kau hanya perlu berjanji, Marin. Berjanjilah padaku,” sambung Bram lagi.


“Baiklah. Kuanggap itu sebab kau mungkin merasa bersalah karena menyaksikan aku terluka di depan matamu. Aku berjanji, Bram.” Marin telah membuat hipotesisnya sendiri. Lelaki itu tidak mengetahui apa yang menjadi penyebab rasa khawatirnya, dan sepertinya Marin akan mendulang kecewa jika dia benar-benar berharap lebih.


Bram tiba-tiba menggeleng.


“Tidak, tidak. Bukan begitu yang aku maksudkan!” Mencoba menyangkal Bram kali ini, namun dia sendiri juga bingung atas apa yang sedang dia rasakan. Mungkin saja kesakitannya terdahulu telah melemahkan hatinya. Sebab dia pernah begitu terpuruk atas nama cinta, sehingga kini hatinya menolak mentah-mentah rasa ketertarikan yang dia tancapkan pada diri Marin. Meski dia tahu tindakannya menuntun pada hal itu, tetapi hatinya tampak masih tertutup begitu rapat.


Marin menyunggingkan senyuman tipis.


“Baiklah, Bram. Aku mengerti,” berujar gadis itu untuk menyudahi pembicaraan mereka, saat dia menyadari hawa canggung yang mulai menyeruak muncul. Dia sendiri hampir bingung pada dirinya, untuk sesaat tidak


mengerti apa sebenarnya yang dia inginkan dari lelaki ini.


Bram mendesah lagi, kali ini lebih berat.


“Marin, aku hanya—“


“Aku mengerti, Bram. Aku tahu. Kau tidak perlu melanjutkan kalimatmu lagi,” Marin sudah memotong perkataan Bram yang belum selesai, sungguh tidak ingin memperlama agenda mereka malam itu. Dia masih merasa lapar, namun tampaknya selera makannya telah menguap entah kemana. Belum lagi ditambah kini dia memiliki luka di pangkal kakinya yang masih menimbulkan rasa sakit meski tidak separah tadi.


“Tidak. Kau mungkin tidak mengerti.” Mengucapkan kata-katanya dengan serius kali ini, Bram kembali menatap dalam pada manik Marin.


Marin, ini tidak mudah untukku. Sebab aku pernah gagal dan begitu terluka.


“Aku ingin kau tetap sehat. Aku tidak ingin kau terluka sebab aku merasa khawatir padamu. Bukan karena aku merasa bersalah, sama sekali bukan. Hanya saja seperti itulah yang aku rasakan, aku ingin kau selalu bahagia. Kau paham maksudku?” Bram kembali berujar panjang, membuat Marin mengerjapkan mata perlahan.


Kau tidak spesifik, Bram. Kau mungkin tidak merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan.


“Baiklah. Aku paham maksudmu. Terima kasih, Bram.” Marin menyunggingkan kembali seutas senyuman, meski sesungguhnya sulit juga untuknya.


Bram menarik napas panjang. Memilih untuk hening beberapa saat, lelaki itu tampak bergumul dengan fikirannya sendiri.


Tidak, kau tidak paham, Marin. Atau mungkin aku yang terlalu sulit mengutarakannya padamu. Mungkin saja aku tidak mampu memberitahumu lewat kata-kata, mana tahu dari tindakan kau akan benar-benar memahami apa maksudku.


“Marin,” Bram memanggil kembali nama Marin dengan nada suaranya yang pelan, membuat Marin kembali menoleh untuk menatap ke manik hitam miliknya.


“Apa kau keberatan jika aku ingin tinggal malam ini?”


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Selamat scroll terus kak Readers, hehe. Jan lupa klik like dan vote yak ;)