
"Mungkin inilah yang disebut bagai memakan buah simalakama. Jujur dan kau kena hajar, berbohong dan kau mengkhianati. Pilihanmu sungguh sangat menentukan nasibmu di kemudian hari." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Bram terdiam. Mencerna dengan baik pertanyaan yang keluar dari bibir merah muda milik Diandra, tanpa sadar jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Tidak menyangka Diandra akan menanyakan hal seperti itu, tepat saat mereka baru saja memutuskan untuk menikah.
Tidak, kumohon jangan. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jika aku berkata jujur, apakah kau akan baik-baik saja? Sedangkan aku tidak ingin berbohong padamu. Tolong, Diandra. Jangan tanyakan hal itu saat ini.
Bram tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Meski dia dapat mendengar dengan jelas kata-kata Diandra baru saja, dia masih bingung harus memberikan reaksi yang bagaimana.
Menatapi manik kecoklatan Diandra yang tampak menatapnya dalam, lelaki itu menelan ludah dengan susah payah. Setelah hening beberapa saat di antara mereka, hanya satu deheman pelan yang berhasil dikeluarkan oleh bibir lelaki itu.
"Hmm?" Berpura-pura tidak memahami pertanyaan wanitanya, Bram berharap agar Diandra tidak mengulangi lagi pertanyaan serupa. Namun tampaknya dia tidak bisa mengelak kali ini, sebab Diandra tidak mundur dengan cepat. Perempuan itu malah melebarkan maniknya, berdecak pelan.
"Ah, suaraku terlalu kecil, Bram?" Telak, mengenai jantung lelaki itu. Diandra menarik napas untuk mengulangi pertanyaan yang sama.
"Apa ada perempuan lain di hidupmu selain aku, Bram?" Kali ini nada suara wanita itu jelas sekali, tegas disampaikan dalam satu tarikan napas.
Bram bergeming. Tidak ada celah untuk mundur, saat Diandra kembali menatapnya penuh rasa ingin tahu.
Jika dulu dia menyembunyikan perangai tidak baiknya di belakang Diandra dengan rapat sekali, kali ini dia sungguh tidak ingin mengatakan kebohongan sekecil apa pun. Menyadari dia pernah dirongrong oleh penyesalan menggunung di dalam hatinya, Bram tahu ini adalah kesempatan terakhirnya untuk merengkuh bahagia bersama sang wanita pujaan.
Dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama, tidak lagi. Karena kelak pernikahan ini akan didasari oleh rasa cinta antara keduanya, Bram ingin memulainya dengan cara yang benar.
"Uhm, itu ...." Terbata saat hendak memulai penjelasannya, Bram mengambil jeda untuk menarik napas panjang-panjang.
Berbeda dengan Bram yang kelihatannya gugup, Diandra malah menyunggingkan senyuman tipis di tepi bibirnya sembari menangkupkan kedua tangan di dagu. Seperti menunggu seseorang untuk menceritakan dongeng, dia telah siap mendengarkan.
"Lanjutkan, Bram. Aku akan mendengarkan," berujar dengan semangat membara, manik Diandra melebar.
"Setelah perceraian kita, aku tidak lagi berkelana, Diandra. Terhimpit atas rasa bersalahku padamu, aku sempat menyendiri dalam satu tahun pertama." Bram mulai bersuara, sesekali melirik ke arah lantai dan sesekali melirik ke arah Diandra yang menaruh perhatian penuh.
"Hingga entah bagaimana satu perempuan sempat singgah, ketika kami bertemu secara tidak sengaja di Paris."
Diandra mengernyitkan dahi. "Paris?"
Bram menganggukkan kepala. "Kau benar, Paris. Tempat di mana aku bertemu dia pertama kali, saat dia menolongku dari seorang pencopet," jelas lelaki itu.
"Ah, menarik sekali. Jadi, di mana perempuan itu sekarang?" Diandra berangsur untuk meraih gelas yang tadi dia letakkan di atas meja, melirik sekilas ke dalam isi dari gelas tersebut yang masih tampak setengah lagi.
Memeganginya di tangan kanan, Diandra menyesap teh tarik dingin itu pelan-pelan.
"Hmm, sekarang? Dia mungkin masih berada di Paris." Menggantung kalimatnya beberapa detik, saat dia melayangkan tatapan pada Diandra.
"Ah, begitu. Jadi kisah kalian tidak berhasil?" Bertanya seolah-olah enteng sekali, Diandra sempat membuat Bram berdecak. Respon yang diberikan perempuan itu sungguh di luar dugaan, sebab Diandra tampak begitu santai dan menikmati setiap kalimat yang dituturkannya. Berbanding terbalik dengan dugaannya dalam hati tadi, saat dia berpikir Diandra mungkin akan memonyongkan bibir sebab cemburu buta.
Apa kau benar-benar mencintaiku, Diandra? Mengapa kau tidak tampak cemburu?
"Hmm, tidak juga. Kurasa kami tidak benar-benar berada dalam satu hubungan yang jelas. Hanya selekebat dan melalui beberapa hal bersama-sama." Bram melenguhkan kepala.
"Kau tahu gadis itu, Diandra. Kau mengenalnya," lanjut Bram lagi.
Diandra hampir saja tersedak oleh minumannya sendiri, saat Bram mengatakan kalimatnya yang baru saja terdengar.
Melebarkan bola mata, dia tampak tidak percaya. "Benarkah?! Siapa dia?" Menaikkan nadanya dua oktaf, perempuan itu benar-benar terkejut.
Bram menyunggingkan senyuman tipis. Karena dia telah terlanjur bercerita, mari ceritakan saja semuanya dengan detil dan sejelas-jelasnya. Lagi pula Diandra dan gadis itu berteman, seperti itu yang Bram tahu.
Menunggu, Diandra tidak bisa memalingkan wajah dari Bram. Lelaki itu memenuhi rongga dadanya dengan udara, sebelum dia mengucapkan nama perempuan yang juga pernah dia bawa masuk ke dalam apartemennya.
"Dia ... Marinda Schoff."
Melongo membentuk huruf O, manik Diandra mengerjap cepat. Terlalu kaget, bahkan dia tidak menduga Bram akan mengumandangkan nama sang profesor ke udara. Tidak hanya bekerja sebagai seorang profesor di universitas tempatnya mengajar dulu, tetapi Marin juga termasuk salah satu teman dekatnya.
"Apa? Marin?!" Mengulangi nama yang sama, Diandra masih tidak percaya.
Bram mengangguk, tertawa kecil. "Apa kau sungguh terkejut, Diandra?"
Berusaha menguasai diri dengan baik, Diandra mencoba mengatur napasnya yang seketika memburu. Entah mengapa ruangan itu terasa hangat sekali, padahal sejak tadi semilir angin dingin terus ditiupkan dari mesin pendingin ruangan. Mengibaskan tangannya di depan wajah, Diandra berusaha mengusir rasa panas yang menjalar.
Astaga, Bram. Bagaimana bisa kau bersama Marin? Kau tidak tahu dia adalah putri dari pemimpin klan ternama di Paris? Kau pasti sudah gila!
Bergumam dalam hati, Diandra sempat menimang apakah dia harus mengeluarkan pertanyaan yang tiba-tiba hadir di kepala.
Apakah Bram mengetahui siapa Marin sebenarnya? Apakah sebab itu maka hubungan keduanya tidak berhasil?
Begitu banyak rasa penasaran yang tiba-tiba muncul, saat Diandra masih memilih untuk diam. Dia tidak tahu hubungan seperti apa yang dilewati Marinda Schoff dan Bram Trahwijaya sebelum ini, dia takut dia akan salah berbicara.
"Dunia memang sempit, Diandra. Dia menolongku dari jeratan copet, aku membelikannya secangkir kopi sebagai tanda perkenalan. Beberapa hari kemudian, dia datang ke apartemen Alberto saat Gionard tersungkur dengan luka memar di wajah." Suara Bram memelan, saat dia tidak menyadari dia sedang menyinggung masa lalu. Terlebih, dia mengucap nama lelaki itu dengan bibirnya sendiri.
Diandra bungkam. Maniknya menerawang, saat dia mendengar dengan jelas nama mendiang suaminya kini kembali mengudara. Tidak seperti dua tahun lalu saat nama itu terlalu sulit untuk dia dengar, kini Diandra sudah baik-baik saja. Dia sudah melepaskan, bahkan dia tengah bersiap untuk hidupnya yang baru. Sebab Gionard adalah masa lalu kini. Masa lalu yang harus dia relakan, meski tidak bisa dia hapuskan begitu saja.
"Diandra? Maafkan aku." Mendapati Diandra hening, Bram mencoba memecah keheningan. Khawatir kalimatnya tadi membuat Diandra sedih.
Menggeleng pelan perempuan itu. "Tidak, Bram. Aku baik-baik saja. Jadi, setelah itu apa yang terjadi?"
Bram mengambil jeda.
"Kami kemudian mengetahui bahwa kalian dan Marin adalah kolega, hingga Marin datang tepat pada saat Gionard tidak pulang di hari makan malam yang seharusnya kita lakukan di apartemen kalian." Bram menjelaskan. Mendapati Diandra menunggu tanpa memberikan jawaban, lelaki itu melanjutkan.
"Aku bersamanya saat menemui Gionard, dan yah, semuanya terjadi begitu saja. Kami kembali pulang ke sini tetapi selang sebulan kemudian Marin muncul lagi sebagai tetangga baruku."
Diandra mengernyitkan dahinya, untuk yang kesekian kali. "Tetanggamu?"
Perempuan itu kembali dipenuhi semangat. Sebab tampaknya cerita Bram kali ini akan terdengar sangat menarik.
"Apa yang terjadi, Bram?" Bertanya dengan nada ingin tahu yang penuh.
"Ternyata, seseorang yang dia cari adalah ibuku. Ibuku adalah mantan kekasih dari ayahnya, Diandra. Mantan kekasih dari Luke Schoff, yang ternyata juga merupakan sahabat dari ayahku."
Lagi-lagi Diandra terhenyak. Kenyataan dan fakta yang terungkap saat ini, dia sungguh tidak pernah menduganya sama sekali. Siapa sangka ternyata takdir mempermainkan mereka dengan begitu apik?
"Oh, astaga! Aku tidak bisa berkata-kata!" seru perempuan itu seraya menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangan. Maniknya masih begitu melebar.
"Kau terkejut?" Kali ini Bram mengambil alih gelas yang masih dipegangi Diandra sejak tadi, menengguknya beberapa tegukan untuk membasahi kerongkongan.
"Tentu saja, Bram. Aku tahu seberapa kuat pengaruh klan Schoff di Paris dan aku tadinya berpikir apakah karena itu hubungan kalian tidak berhasil." Terdengar seperti menggumam Diandra, tapi Bram dapat mendengarnya dengan jelas.
"Tidak, Diandra. Seperti yang kukatakan sebelumnya kami tidak benar-benar berada dalam satu hubungan yang jelas. Aku belum selesai bercerita, kau mau tahu lebih dalam?" Menyunggingkan senyuman di wajahnya, Bram benar-benar berniat untuk membuka semua fakta itu selebar-lebarnya. Bagaimana pun Diandra akan kembali menjadi Nyonya Trahwijaya, dia tidak boleh tidak mengetahui siapa Bram sebenarnya.
"Apakah ada fakta yang lebih mencengangkan dari pada tadi?" Diandra menaikkan alisnya, menunggu dengan tidak sabar.
Bram tertawa kecil. Mendekatkan wajahnya pada wajah Diandra, memberikan kecupan sekilas di pangkal hidung perempuan itu.
"Awas, Bram! Lanjutkan ceritamu!" Menggeleng Diandra untuk memberhentikan aksi Bram di wajahnya, namun semakin membuat lelaki itu tergelak senang.
"Cium aku sekali, hmm? Lalu akan kulanjutkan ceritanya." Tidak memundurkan wajahnya sama sekali, dia masih menahan jarak yang begitu dekat dengan wanitanya.
Diandra memonyongkan bibir, tetapi sedetik kemudian dia memajukan wajah untuk memberikan kecupan singkat di pipi kanan pria itu.
"Sudah! Lanjutkan ceritamu ya," pintanya tak sabar.
Bram belum bergerak. "Aku tidak mau di situ, Diandra. Tidak berasa," protesnya kali ini, seperti anak kecil manja yang meminta sesuatu pada ibunya.
Diandra berdecak. "Kau meminta satu tadi, benar kan, Bram?" Tidak terima lelaki itu melayangkan protes.
"Lakukan di tempat yang benar, Sayang." Berbicara dengan nada menggoda, bibir Bram masih melukis sebuah senyuman lebar.
Diandra hampir saja mundur. Sebaiknya dia tidak menyuruh Bram untuk melanjutkan cerita tetapi dia sudah begitu penasaran. Berpikir beberapa detik, Diandra memutar bola matanya saat dia memajukan wajah untuk memberikan sebuah kecupan singkat. Menempelkan bibirnya di bibir lelaki itu, Diandra hanya ingin mengecupnya sebentar saja.
Terlambat, sebab Bram sudah memagut bibir merah muda miliknya. Menjadikan sebuah kecupan tadi menjadi sebuah ciuman berdurasi beberapa menit, Bram mundur saat Diandra mendorongnya pelan.
"Bram, lepaskan! Ayo lanjutkan ceritamu, aku sudah menciummu di tempat yang benar, kau tahu?!" Perempuan itu benar-benar penasaran.
Bram tergelak. Memandangi wanitanya, dia kemudian menarik napas.
"Hmm, ternyata hubungan ayahku, ibuku, dan ayah Marin terkait erat, Diandra. Aku datang ke Paris untuk yang ketiga kalinya, saat Papa menyuruhku untuk menemui Luke, ayah dari Marin."
Diandra mengerjap. "Kau bertemu Luke, ayahnya Marin?"
Mengangguk kecil lelaki itu. "Benar. Aku menemui mereka di kediaman Schoff dan Luke menceritakan sebuah kisah klasik."
"Kisah klasik? Apa itu?" Diandra benar-benar penasaran, harus dia akui bahwa Bram kali ini sukses mencuri penuh atensinya.
"Kisah klasik, tentang perebutan cinta. Luke berpacaran dengan ibuku, tetapi ibuku berakhir dengan menikahi ayahku. Seperti kisah kita, bukan?"
Diandra tidak bersuara. Memproses informasi yang terdengar, meski itu terlalu mengejutkan.
"Benar-benar di luar dugaan, Bram. Dunia memang sempit, benar kan?"
Bram menaikkan alisnya. "Ada satu hal lagi, Diandra. Kau mungkin akan terkejut mendengar ini."
"Katakan, apa itu?" Memajukan tubuh, Diandra memperbaiki posisi tubuhnya untuk mendengarkan lebih seksama.
"Aku, Bram Trahwijaya, calon suami dari perempuan cantik nan mempesona, Diandra Lee ... sebenarnya adalah salah satu penerus pimpinan klan Schoff."
Kali ini Diandra benar-benar tercengang, hampir saja dia pingsan saat mendengar apa yang Bram katakan. Tidak bisa berkata-kata lagi saat Bram menjelaskan asal-usulnya tentang penerus klan besar itu, Diandra masih melongo dalam keterkejutan.
"Astaga, Bram. Aku tidak menyangka kau menyimpan rahasia besar seperti ini. Kini klan Schoff dipimpin oleh Anderson Lueic, suami dari Marin. Apa kau mengenalnya?"
Bram menggeleng. "Tidak. Tetapi aku tahu Marin berkencan dengan pria itu saat aku menemui mereka. Marin juga harus bahagia, kan?"
Merapatkan diri untuk beringsut mendekat, Bram telah menyandarkan kepalanya pada dada Diandra. Melingkarkan tangannya di pinggang perempuan itu, Bram menarik napas panjang karena dia merasa lega sekali.
Tidak ada pertengkaran, sebab memang tidak terjadi sesuatu yang serius di antara Marin dan dirinya. Lega sebab dia telah mengatakan semuanya pada Diandra, kini Bram benar-benar mendedikasikan seluruh kehidupannya untuk perempuan itu.
Mengelus puncak kepala Bram dengan rambut kehitamannya, Diandra membiarkan tubuh Bram berada dalam dekapannya. Hening beberapa saat, sebelum perempuan itu kembali mengeluarkan suara.
"Bram."
Bram tersenyum, selalu menyukai bagaimana Diandra menyebut namanya.
"Apa, Sayang?"
Menganggap tidak akan ada lagi pertanyaan yang menohok hati, sebelum akhirnya dia mendengar pertanyaan yang lebih membingungkan.
"Sejauh mana kau bersamanya? Apa kalian berciuman?" Pertanyaan Diandra terdengar datar sekali, saat Bram kembali menelan ludah dengan susah payah.
Astaga, Diandra. Aku bisa gila!
.
.
.
🗼Bersambung🗼