Travelove~

Travelove~
58. Menanti Sebuah Jawaban



~Sepenuhnya aku ingin memelukmu


Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu


Setulusnya aku akan terus menunggu


Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu~


(Padi-Menanti Sebuah Jawaban)


.


.


.


Keduanya hening. Hanya dentingan jarum jam yang sedari tadi terdengar, memenuhi ruangan kerja Leonard yang masih memandangi tamunya dengan tatapan nanar, sekaligus penuh harap.


Dia tidak punya pilihan lain, sungguh. Setelah memastikan Diandra dan kedua anak kembarnya aman dengan memboyong mereka ke Paris, kini dia tidak tahu ke depannya akan jadi seperti apa.


"Aku ingin pulang, Leon. Di sini begitu sesak untukku, karena setiap aku membuka mata hanya bayangan dia yang hadir. Paris tidak lagi nyaman, tidak lagi menenangkan. Aku begitu kesulitan bernapas, saat aku tahu aku seharusnya tegar bagai karang untuk Val dan Ver. Mereka akan tumbuh besar tanpa ayah, aku harus menjadi ibu serta ayah untuk mereka."


Teringat kembali lelaki itu atas kalimat panjang yang diucapkan Diandra beberapa waktu lalu. Dia tahu wanita itu pastilah menahan beban kesedihan yang terlalu berat, meski Leonard tahu Diandra juga lebih tangguh dari kelihatannya.


Sebab itulah dia mengumpulkan keberanian, menyingkirkan perasaan bersalah pada mendiang abangnya, karena dia secara terang-terangan meminta pria lain untuk membawa kakak iparnya pergi dari sana.


Bram menegang. Mengatur deru napas yang kian memburu, pikirannya semakin semrawut meski dia ingin sekali mengangguk.


"Kau sudah memikirkan matang-matang permintaanmu itu, Leonard Butcher?" Bertanya bahkan mengucapkan nama Leonard dengan lengkap, mata elang Bram masih mengawasi.


Leonard menarik napas pelan, percampuran antara perasaan sedih dan tidak rela tersirat di sana tetapi ada ruang untuk dia menyampaikan pesan sesuai yang telah diperintahkan abangnya.


"Abangku pernah mengatakan hal ini hampir tiga kali, Bram. Dan aku benar-benar mengingatnya dengan jelas," ucap lelaki itu pelan, namun terdengar tegas.


Bram menunggu dalam hening, memberikan perhatian penuh saat Leonard mendengkus.


"Dia berkata bahwa tidak ada pria lain yang mampu menjaga Diandra seperti dirinya, kecuali kau." Kalimat yang disampaikan Leonard dalam satu tarikan napas, semakin membuat Bram terdiam. Tidak bisa berkata-kata saat maniknya melebar, sebelum beberapa detik kemudian dia tertunduk lemas.


"Aku tidak percaya padamu pada awalnya. Tetapi semakin ke sini aku tahu, bahwa abangku tidak mungkin menitipkan Diandra pada pria yang tidak mampu." Leonard berhenti sejenak. "Sebab itu aku memintamu, karena Diandra berkata dia ingin pulang."


Bram mendesah. Tidak tahu harus bersikap, bertindak, atau berbicara apa. Kata demi kata yang Leonard sampaikan tadi begitu bertubi-tubi, menyakitkan di satu sisi namun entah mengapa menimbulkan percik harapan di sisi lainnya. Bram tahu dia masih mendamba, dia akan selalu mendamba.


Leonard menegakkan tubuh kali ini, sebelum dia bertanya untuk yang terakhir kali.


"Kau bisa melakukannya?"


***


Langkah kaki lelaki itu berat dan gontai. Tidak pernah menyangka keadaan akan serumit ini, tidak pernah menduga hal mengerikan ini akan terjadi pada Diandra. Dalam setiap doanya, dia berulang kali menyebut nama wanita itu. Berharap agar wanita itu bahagia, sekaligus belajar untuk membuka diri untuk tempat yang lain.


Tetapi tampaknya takdir tetap saja mempermainkan dia. Seolah-olah belum cukup dengan perpisahan yang menguras hati tempo lalu, kini Bram terlanjur dihadapkan dengan situasi sulit.


Meraih knop pintu dan memutarnya perlahan, Bram telah menciptakan celah untuk dirinya mengintip ke arah dalam. Diandra masih terlelap, dengan posisi yang sama saat dia tinggalkan tadi.


Menutup pintu dengan berusaha menimbulkan minim sekali suara, Bram melangkah untuk mendekati ranjang besar mantan istrinya. Meski rasanya begitu sesak, dia terus mengatur pasokan udara yang masuk dan keluar. Berkecamuk tidak hanya dalam pikiran, tetapi juga dalam hati.


Berdiri dan memandangi visual Diandra yang tampak tertidur lelap, Bram tidak bisa membendung perasaan bersalah yang memenuhi diri. Tanpa sadar merasakan matanya basah oleh setitik air yang menggenang, Bram Trahwijaya telah ikut jatuh ke dalam pusaran prahara paling dalam.


Bagaimana kau menahannya, Diandra? Bahkan menatapmu saja aku tercabik-cabik, bagaimana bisa kau tersenyum padaku tadi?


Menurunkan tubuh untuk duduk di tepian ranjang, Bram meraih tangan kanan Diandra yang sempat menahan tangannya tempo lalu.


Aku di sini, Diandra. Bertahanlah. Jika kau kesulitan maka bagilah denganku, atau biarkan aku menanggungnya untukmu.


Napas wanita itu naik turun, seiring dengan matanya yang tertutup rapat. Semakin diperhatikan lebih dalam, maka semakin terlihat bahwa pipi Diandra telah lebih tirus dari sebelumnya. Wanita itu pastilah menghabiskan banyak waktu untuk berkabung dalam kesedihan.


Berguncang bahu Bram menahan kesedihannya, dengan pandangan menunduk yang mengarah ke lantai. Tidak sanggup berbicara, tidak sanggup dia membayangkan apa yang telah dilalui oleh wanita yang masih memiliki sepenuh hatinya.


Tersadar, Diandra mengerjap saat menyadari genggaman hangat seseorang begitu terasa menenangkan, saat manik kecoklatannya tertuju pada mantan suaminya yang sedang menundukkan kepala.


"Bram," panggil wanita itu pelan sekali, dengan suara serak yang terdengar.


Bram tersentak. Tidak menyadari wanita itu telah sadar, merasa bersalah karena dia membangunkan Diandra.


"Kau terbangun? Maafkan aku," balasnya cepat. Menyembunyikan raut kesedihan, dia berusaha untuk mengulas senyuman kecil.


"Kau mendengarnya, Bram?"


Manik keduanya bertaut. Saling menyelami perasaan satu sama lain, saling menduga satu sama lain. Begitu banyak perasaan berbeda di sana, tetapi ada satu perasaan yang sama yaitu kesedihan yang menyelimuti.


Bram hening, belum memberikan jawaban saat Diandra kembali bersuara.


"Kau mendengarnya, kan?"


Kali ini lelaki itu menundukkan kepala, saat menyadari manik kecoklatan Diandra telah kembali berkaca-kaca. Wanita itu menggigit bibir bawahnya saat dia berusaha menahan air mata, sebelum kemudian terisak saat Bram mendekapnya dengan erat dengan sebuah sentuhan hangat.


Mengelus punggung Diandra yang terasa ringkih, Bram membiarkan air matanya meleleh kali ini. Mencaci maki takdir, yang begitu kejamnya memporakporandakan keadaan dan mempermainkan mereka.


Membiarkan lagi-lagi kausnya basah sebab air mata Diandra yang tidak berhenti mengalir, Bram telah memilih. Meski dia tidak tahu apa yang akan dia hadapi di kemudian hari, dia sungguh hanya ingin Diandra dan kedua bayi kembar itu bahagia.


Aku mencintaimu, Diandra. Aku akan selalu begitu, tidak peduli apa pun yang terjadi.


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Yehee terima kasih semuanya yaa, berkat dukungan pembaca yang baik rangkingnya naik dan semakin baik. Terima kasih telah percaya padaku dan pada Bram 😊 Sarangheyow~