Travelove~

Travelove~
95. Bantuan (3)



"Tumbuhlah menjadi lelaki tangguh, yang mampu mempertanggungjawabkan hal-hal yang kalian pilih, terutama tentang cinta." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Bram mengenal lelaki itu.


Meski ingatannya samar-samar, tetapi masih ada memori yang tersisa tentang seseorang yang kini bangkit dan memeluk tubuhnya yang masih mematung.


"Bang, ini aku!" seru lelaki itu senang. Melonggarkan pelukan dari Roman, Bram masih megernyitkan dahi.


"Apa yang kau lakukan di sini, bocah?" tanya Bram lagi. Memicingkan mata, meski tampaknya Roman menikmati pertemuan mereka.


Lelaki itu, Roman Alvero--adalah seseorang yang Bram kenal. Bungsu dari tiga bersaudara. Salah satu pewaris perusahaan Alvero Grup yang memiliki aset triliunan rupiah, bersanding dengan mitra terbaik mereka, Lefano Coorporation.


Bram memiliki hubungan yang sangat baik dengan Richard Alvero, kakak tertua Roman yang kini menjabat sebagai CEO di perusahaan raksasa itu. Beberapa kali mereka bertemu di perjamuan makan malam, bahkan Bram pernah datang ke kediaman Reisand Alvero--ayah dari Roman.


Siapa yang menyangka kini pewaris perusahaan sebesar itu malah duduk di Confetti, memesan milkshake dan hanya mengenakan kaus oblong dengan celana santai selutut. Meski Bram berani bertaruh bahwa harga kaus yang dikenakan lelaki itu pastilah tidak main-main. Perawakannya masih sama. Wajahnya tetap terlihat tampan, kini sedikit lebih dewasa.


"Duduklah, Bang. Kau pasti terkejut, iya kan?" Roman kembali membuka suara, memperhatikan Bram yang kini menarik kursi dan duduk tepat di hadapan lelaki itu.


"Coba jelaskan ini padaku Alv," pinta Bram.


"Hei, kau masih mengingat nama panggilan itu, astaga!" seru Roman membelalak. "Namaku Roman lah," decaknya kemudian.


Sontak membuat tawa Bram pecah, begitu mudahnya lelaki di depannya ini berubah ekspresi. Dia memang sengaja memanggil nama lelaki itu dengan panggilan seperti bagaimana Richard memanggil adik bungsunya itu, dan itu membuat Roman kesal sepertinya.


"Bagaimana kabar Richard? Juga Ravaella?" Suara Bram kembali terdengar.


"Abang baik. Masih sibuk di perusahaan dan kakak sibuk di rumah sakit," jelasnya. Kakak kedua Roman yang bernama Ravaella Alvero adalah seorang dokter bedah jantung, sekaligus jajaran petinggi di salah satu rumah sakit di kota lain.


"Dan kau? Apa yang kau lakukan? Aku merasa namamu terdengar familiar tadi, tetapi sungguh aku tidak menyangka itu adalah kau," ujar Bram kemudian.


Salah seorang pelayan datang untuk menerima orderan minuman Bram, saat lelaki itu memilih satu teh hijau pahit untuknya.


"Ah, aku berada di The Reds, seperti yang kau tahu. Tadinya aku memeriksa daftar pelanggan kami, dan menemukan namamu di sana. Seharusnya Jaguar tidak menelepon dan berinteraksi langsung dengan pelanggan, kau tahu? Tetapi karena itu kau, tidak masalah, Bang."


Bram memutar mata. Berbicara dengan lelaki yang usianya lebih muda darinya ini tampak menyenangkan, meski ia belum mengerti sepenuhnya tentang apa yang dibicarakan Roman.


"Apa? Jaguar?" Lelaki itu menyandarkan tubuhnya di kursi. "Aku hampir terkikik tadi, apa maksud dari Jaguar itu?" Penasaran dia rupanya.


Roman melebarkan senyuman. Menarik gelas milkshake-nya dan menyeruputnya perlahan.


"Jaguar, satu level di bawah The King. Temanku, sekaligus sahabatku yang merupakan pemimpin utama dari organisasi ini sedang berada di Australia. Aku menggantikan posisinya sebelum dia akan kembali dalam waktu dekat," lelaki itu menjelaskan.


Bram masih mendengarkan dengan seksama.


"Kami tidak memperkenalkan diri kami pada orang lain, Bang. Tetapi orang-oranglah yang mengenal kami. Organisasi ini bisa dibilang berbahaya, yah meski sebenarnya tidak juga."


Bram mengangguk pelan. Mengucapkan terima kasih pada pelayan yang baru saja meletakkan pesanannya di atas meja.


"Baiklah, apa pun itu. Jadi, kalian bisa membantu?" tanyanya cepat. Melirik sekilas pada arlojinya, tidak terasa sudah setengah jam dia duduk di sana.


Roman melebarkan senyuman. "Tentu saja. Anything you need, apa saja. Kecuali membunuh, kami tidak melakukan itu. Tetapi yah kalau memang terpaksa mungkin, apa boleh buat," jelasnya lagi.


Bram menaikkan alisnya. Tertarik. Entah kehidupan seperti apa yang dimiliki Roman selama ini, Bram tidak ingin mengetahui lebih lanjut. Dia yakin lelaki itu punya pilihan dalam hidupnya, meski fakta bahwa dia adalah pewaris dari Alvero Grup tidak bisa dilupakan begitu saja.


"Temukan seseorang untukku, Rom," pinta Bram kemudian. Kini membenarkan posisi duduknya, dia menegakkan tubuh. Pembicaraan mereka akan menjurus ke arah serius sekarang.


"Katakan, Bang. Apa yang bisa kami lakukan?"


Bram menjelaskan runutan perkara yang ada. Meminta Roman untuk melacak seseorang yang bersama Hana pagi ini di parkiran basement salah satu mall terbesar di kota mereka, meminta agar The Reds melacak informasi pria itu.


Setidaknya dia perlu mengetahui siapa pria itu sebenarnya dan apa hubungannya dengan Hana. Mengapa dia melakukan kekerasan--seperti yang Alberto saksikan dan ceritakan tadi, dan apa motif di balik itu semua.


Roman mencatat dengan baik semua penjelasan dan permintaan Bram. Terlepas dari kedekatan lelaki itu dengan abang sulungnya, kini Bram adalah pelanggan mereka. Pelanggan yang langsung ia tangani sendiri, meski sebenarnya ia jarang sekali melakukan ini.


"Baiklah. Akan kuberitahu padamu nanti, Bang. Akan kuhubungi setelah kami mendapatkan informasi," ujar lelaki muda itu.


Bram mengiyakan, menarik kembali gelasnya untuk menghabiskan sisa minuman di dalam sana. Berniat untuk mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari dompetnya, saat tiba-tiba Roman menahan tangannya.


Sontak membuat Bram terkejut sesaat, sebelum akhirnya dia melebarkan senyuman.


"Good boy. Thanks, Alv," katanya lagi.


Mengundang tatapan sinis dari lelaki itu, sebelum tawa keduanya pecah setelah decakan Roman.


***


Hampir malam saat kemudian mobil Bram memasuki pagar tinggi menjulang. Memarkir benda roda empat itu di tempatnya, lelaki itu kemudian berjalan cepat menuju arah pintu masuk.


Si kembar sudah tidak berada di ruang bermain, begitu pula pengasuh mereka dan Diandra juga sudah tidak kelihatan di lantai satu rumah itu.


Melangkah untuk menaiki anak tangga, Bram sempat melewati kamar mereka untuk terus lurus menuju arah kamar Vallois dan Verden.


Mendorong pintu itu, Bram disambut dengan penerangan temaram. Si kembar tampaknya sudah terlelap, sebab tidak ada lagi teriakan atau lompatan di sana. Masuk mengendap, Bram menghampiri dua bocah lelaki yang sudah ditutupi dengan selimut tebal bermotif avenger.


Duduk di tepian ranjang, Bram memperhatikan lekat pada wajah Vallois dan Verden dengan napas mereka yang teratur. Pastilah keduanya sudah dibuai mimpi saat ini. Memberikan kecupan di kening masing-masingnya, Bram mengelus rambut Verden yang berada lebih dekat dengan sisinya duduk.


Tumbuhlah menjadi anak yang tangguh, cerdas, dan bermanfaat bagi banyak orang. Jadilah kebanggaan, sama seperti Ayah yang bangga memiliki kalian.


Menarik selimut itu untuk menutupi tubuh keduanya lebih atas, Bram kemudian beranjak dari sana. Tidak jauh melangkah, kini dia memasuki kamarnya, mendapati Diandra sudah berbaring memunggunginya.


Berbelok untuk masuk ke kamar mandi, lelaki itu membersihkan dirinya sekilas sebelum ikut naik ke atas kasur. Mengganti kaus yang dia kenakan, menyugar rambutnya setelah mencuci wajah.


Setelah memastikan dirinya bersih dan nyaman, lelaki itu bergabung kemudian memeluk istrinya dari belakang. Menenggelamkan kepala ke dalam ceruk leher Diandra, menghirup aroma tubuh istrinya yang khas.


"Bram?" Merasakan sentuhan Bram di kulitnya, Diandra menggeliat. Dia baru saja terlelap.


"Ini aku, Diandra. Maaf aku membangunkanmu," balas Bram pelan.


Diandra memutar tubuhnya, kini menghadap pada Bram. Mengelus wajah tampan suaminya yang tampak sudah segar.


"Tidak, aku hanya terlelap sebentar. Bagaimana pertemuanmu, apakah lancar?"


Bram mengeratkan pelukannya. "Hmm, lancar. Kurasa ini akan lebih mudah, semoga saja." Tangannya bergerak untuk mengelus rambut Diandra.


"Baguslah kalau begitu," jawab Diandra pelan.


Bram menatap langit-langit. Tangannya masih berada di rambut Diandra.


"Tadi aku ke kamar Val dan Ver," bisik Bram pelan. Sengaja tidak melihat pada Diandra, dia memilih untuk melihat ke atas saja.


"Hmm?"


Bram menarik napas. "Aku mulai khawatir bagaimana kelak mereka tumbuh dan mencintai wanita. Jangan sampai sebodoh aku, jangan sampai seperti Al," katanya kemudian.


"Hmm?"


Bram menarik napas. "Kau tidak khawatir Diandra?" tanya lelaki itu pelan.


Menunggu sejenak sebelum mendapati Diandra lagi-lagi menjawab dengan deheman.


"Hmm?"


Ada yang tidak beres. Menurunkan kepalanya untuk menatap pada Diandra, Bram menertawai diri sendiri sebab Diandra sudah menutup mata. Perempuan itu telah terlelap, mungkin sejak tadi tidak memperhatikannya berbicara.


"Kau cantik sekali, Diandra." Melayangkan kecupan di kedua pipi, kening, dan bibir istrinya, Bram diam-diam bersyukur Diandra telah tertidur. Jika belum, mungkin saja pembahasan ini akan menghabiskan waktu yang tidak sebentar.


Menarik kembali istrinya untuk dia dekap erat, Bram memejamkan mata setelah berbisik pelan.


"Selamat tidur, Sayangku. I love you."


.


.


.


🗼Bersambung🗼