
"Lembaran hidup yang baru mungkin saja sedang menanti kita. Kali ini tanpa ada paksaan, hanya ada cinta yang membara." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
"Lepaskan, Bram." Sudah ketiga kalinya bibir Diandra mengeluarkan kalimat yang sama. Tetapi tidak mendapat gubrisan, lelaki itu tampak masih ingin berlama-lama mendekap wanitanya.
Menyunggingkan senyuman tipis, Bram malah mempererat dekapannya pada tubuh Diandra. Melirik sekilas ke arah manik kecoklatan yang tampak bersinar, Bram sedang berbunga-bunga.
"Aku tidak mau kau pergi," ujarnya sembari menarik napas panjang beberapa detik. "Aku mungkin tidak akan bisa tidur malam ini, hmm?" Menggoda, mendekatkan bibirnya pada telinga Diandra untuk megembuskan napas di sana.
Diandra tergelak. Sapuan napas Bram yang mengenai cuping telinganya terasa menggelikan, sekaligus menimbulkan sensasi menggelitik.
"Aku tidak bisa tinggal, Bram. Mungkin saja sekarang si kembar sedang mencariku." Mencoba melepaskan diri sekali lagi, perempuan itu akhirnya terlepas dari dekapan Bram setelah Bram melonggarkan ikatan tangannya.
"Bagaimana kabar anak-anak? Mereka sehat, kan?" Sudah bangkit duduk kedua insan tadi, saling berhadapan di atas ranjang besar milik Bram.
Diandra belum menjawab. Beringsut turun untuk meraih tas yang dia letakkan di sofa lelaki itu, Diandra berdiri sembari merogoh sesuatu dari sana. Menggapai ponselnya, memilih sebuah kontak sebelum dia menekan tombol panggil.
"Aku menelepon Alberto, menanyakan apa Val dan Ver mencariku atau menangis."
Sebenarnya belum terlalu lama Diandra pergi. Hanya saja setelah memiliki bayi kembar itu di kehidupannya, dia tidak bisa lepas sedikit pun dari mereka. Naluri ibu, yang tidak bisa berjauhan dengan anak-anaknya meski sedang berada dalam situasi seperti apa pun. Pikirannya tetap bermuara ke rumah, kembali pada anak-anak yang terus menanti.
Kali ini Bram yang beringsut turun dari atas ranjang. Melangkah menuju arah pantry, dia hampir saja lupa dengan segelas teh tarik yang tadi dia seduh tepat sebelum Diandra menekan bel apartemennya. Kini mendekati meja makan, dia tahu cairan coklat muda itu tidak lagi hangat, tetapi sudah berubah menjadi dingin. Terlanjur, lelaki itu berbelok ke arah kulkas untuk menambahkan beberapa balok kecil es batu ke dalam gelasnya tepat saat suara Diandra kembali terdengar.
"Halo, Al. Ini aku. Bagaimana keadaan si kembar? Apa mereka menangis atau mencariku?" Rentetan pertanyaan oleh Diandra menggema ke sudut ruangan, memenuhi apartemen itu dengan suaranya yang khas.
Alberto tersenyum kecil di sebrang sana, meski dia tahu Diandra tidak bisa melihat ekspresi wajahnya karena bahagia. Bukan bahagia karena Diandra menelepon, tetapi karena sebuah motor sport keluaran terbaru yang bernilai fantastis telah terbayang di pelupuk matanya.
"Ah, jangan khawatir Diandra. Vallois dan Verden baru saja terlelap. Mami yang mengantarkan mereka tidur. Apa kau bertemu Bram?"
Diandra menarik napas lega. "Oh, syukurlah. Aku khawatir mereka akan menangis. Iya, Al. Aku bertemu dengannya, beruntung dia belum berangkat." Diandra melirik sekilas pada Bram yang masih berdiri di depan meja makan, menggoyangkan gelasnya untuk membiarkan sensasi dingin dari balok es itu menyebar.
Alberto tersenyum lebih lebar.
Maafkan aku, Diandra. Sebaiknya kau tidak tahu bahwa aku berbohong, toh ini demi kebaikan kalian yang terlalu naif dan sulit sekali mengungkapkan perasaan.
"Syukurlah kalau begitu. Apa Bram di sana?"
Diandra melirik lagi ke arah Bram yang kini tampak sedang melangkah menuju dirinya.
"Iya. Kau mau berbicara dengannya?"
"Baiklah, berikan padanya."
Diandra menjauhkan ponselnya beberapa detik, menyodorkan benda pipih berwarna putih susu itu ke hadapan Bram yang kini berdiri di sampingnya.
"Alberto ingin bicara," katanya memberitahu.
Bram meraih uluran ponsel itu dari Diandra, menempelkannya ke telinga kanan.
"Apa, Al?"
"Hei, Brother. Kali ini kau percaya bahwa aku adalah dewa cupid, benarkan?" Suara Alberto terdengar nyaring sekali, diikuti kekehan di ujung telepon yang dapat jelas didengar oleh Bram.
Kau pasti bahagia sebab akan menghabiskan uangku, Al.
"Tentu saja! Semuanya mudah kan, Bram? Jangan lupakan janjimu, Brother. Apa kau akan menahannya di sana malam ini?" Kekehan kembali terdengar, sepertinya Alberto mempunyai hobi baru untuk menertawakan dan menggoda Bram sekarang.
"Aku harap iya, haha. Tetapi tidak, mungkin lain kali. Kau tidak membuat anak-anakku menangis kan, Al?"
Berdecak Alberto. "Astaga, Bram! Kau terdengar seperti bapak tua sekarang. Anak-anakmu menyukaiku, kau tahu? Kau membuatku kesal saja!"
Bram melebarkan tawa. Menatap Diandra yang sedang memperhatikannya dari sofa depan, sesekali menyesap teh tarik dingin itu di ujung bibirnya.
"Sampai jumpa, Al!" Berkata dengan nada sedang sebelum dia mengambil jeda. "Datanglah besok. Kubelikan kau makan siang sekalian hadiah yang kau mau," lanjutnya lagi dengan memelankan suara.
Disambut dengan teriakan 'yes' di sebrang sana, akhirnya Bram menutup telepon itu. Bangkit dari sofa yang dia duduki baru saja, lelaki itu bergabung dengan Diandra di sofa lain tempat Diandra duduk.
Menyodorkan ponsel pada perempuan itu, Bram tersenyum.
"Apa anak-anak baik-baik saja?" Bertanya pelan dia.
Diandra mengangguk. Menatap pada manik kehitaman Bram dengan tatapan dalam.
"Mereka sudah tidur, bersama Tante Luna." Berhenti sejenak untuk menyesap minuman itu kembali. "Aku bersyukur aku memiliki Tante Luna, Bram. Bagaimana pun dia sudah seperti ibu untukku."
Bram setuju. Melebarkan tangannya dan menarik Diandra untuk bersandar di dadanya, lelaki itu menganggukkan kepala kini.
"Aku juga bersyukur, Diandra. Karena begitu banyak waktu yang berlalu tanpa kita sadari." Menerawang manik lelaki itu, saat tangannya mengelus rambut Diandra yang halus.
Hening sejenak saat keduanya berkutat dengan pikiran masing-masing, memandangi arah depan yang sama meski bukan pada objek yang sama.
"Diandra."
"Hmm?" Mendongakkan kepala sekilas untuk melihat pada Bram, Diandra beringsut maju saat meletakkan gelasnya di atas meja.
"Kalau kita membahas tentang pernikahan, apakah menurutmu itu terlalu cepat?" Bertanya dengan hati-hati, Bram berhasil mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi bercokol di kepala. Dia ingin memastikan semua persiapan pernikahan mereka berjalan lancar, tiada kurang satu hal apa pun.
Diandra menarik napas. "Kau sudah tidak sabar, Bram?"
"Tentu." Menundukkan kepala untuk mengecup pipi Diandra, Bram mengembangkan senyuman.
"Empat tahun menunggu, aku tidak menyangka kau akan datang padaku, Diandra. Entah bagaimana takdir mempermainkan kita, siapa sangka pernikahan keduaku adalah dengan orang yang sama?"
Diandra menarik diri dari pelukan Bram. Duduk tegak menghadap lelaki itu, dia sedang bertanya-tanya dalam hati tentang kehidupan Bram selama ini.
"Bram."
"Hmm? Ada apa, Diandra?"
Mengatur napas, Diandra tampak seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Menelaah dengan baik, sebelum dia benar-benar menyampaikan apa yang sudah dia tahan di bibirnya sejak tadi.
"Apa ada perempuan lain di hidupmu selain aku?"
.
.
.
🗼Bersambung🗼