Travelove~

Travelove~
56. Ikatan Takdir (4)



“Kau bisa saja menggenggam takdir, tetapi kau tidak bisa mengendalikan dia.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


FLASHBACK DUA BULAN LALU.


“Kau yakin, Bang?” Leonard merapikan dasinya yang telah terpasang, mematut diri di depan cermin untuk memastikan dia tampil rapi pagi itu.


Suara kekehan terdengar di sebrang sana, menandakan sang penelepon sedang berada dalam mood yang baik.


“Aku bersyukur kau mengambil alih klan kita, Leon. Tidak kusangka kau berbakat dengan merambah sektor penerbangan seperti ini, aku bangga sekali padamu.”


Senyuman Leonard mengembang, memenuhi dirinya dengan percaya diri. Bahkan hari itu ucapan dari suara khas Gionard Butcher-abangnya, terdengar sungguh indah dan powerful. Untuk sesaat menenggelamkan ucapan semangat dari Mikayla-istrinya, yang telah dia terima lebih dulu.


“Kau selalu memuji, Bang. Aku tahu kau ingin sekali mengambil alih sektor ini sejak dulu, maka akan kuwujudkan padamu kali ini. Bagaimana perasaanmu?”


Gionard terkekeh lagi. “Adik kecilku sudah berubah menjadi pria dewasa sekaligus pebisnis hebat di Paris. Akan kukirimkan foto dari helikopter itu kelak untuk membuatmu terpana, oke?” balasnya senang.


Kali ini Leonard yang mengangguk cepat, meski dia tahu abangnya tidak bisa melihat anggukannya. Paris dan Marseille, jarak yang membentang mereka.


“Bagaimana Diandra menanggapi penerbanganmu? Dia meminta untuk ikut?” tanya Leonard penasaran.


“Tentu saja. Dia bahkan merajuk dan merengek agar bisa pergi. Dia mengatakan bahwa itu adalah keinginan dari bayi kembar kami, meski aku tahu itu mungkin hanya trik agar aku membawanya terbang. Dia tidak boleh naik sekarang,” jawab Gionard dengan nada sedikit menyesal.


Leonard tertawa. Membayangkan raut wajah Diandra dengan mata tajamnya, pasti dia tampak manis sekali. Tetapi abangnya benar, menaiki helikopter untuk uji coba memang tidak dibenarkan bagi wanita sembarangan, terutama ibu hamil seperti Diandra.


“Baiklah. Armadanya hampir tiba, Leon. Aku akan meneleponmu setelah uji coba ini selesai,” ujar Gionard lagi.


Leonard mendesah, merasakan degupan jantung yang meningkat pagi hari itu. Merasa khawatir sebab abangnya akan terbang kali ini, meski dia sudah memastikan armada mereka siap dan layak terbang untuk beberapa menit di udara. Gionard meminta agar dia bisa ikut di dalam sana, ingin ikut serta memastikan bahwa klan mereka sukses dalam pengembangan sektor bisnis baru.


“Leon?” Hampir saja memutus sambungan telepon itu, Leonard menahan diri untuk tetap mendengarkan.


“Hmm? Ada apa?”


Terdengar Gionard menarik napas panjang di sebrang sana, hening beberapa saat.


“Aku hanya ingin mengatakan ini, meski aku tidak tahu setan apa yang merasukiku. Percayalah bahwa tidak ada orang lain yang bisa menjaga Diandra sebaik aku, selain pria itu. Mungkin kelak kau akan bertemu dengannya, aku hanya ingin kau mengingat ini.”


Leonard mengernyitkan dahi.


“Kau mengulangnya terlalu banyak, Bang. Sudahlah, aku tidak ingin mendengar lagi tentang itu!” Kesal sebab ini bukan pertama kali abangnya berkata demikian, lagipula Leonard sungguh tidak ingin memikirkan hal buruk. Dia yakin ucapan abangnya hanyalah angin lalu.


“Baiklah. Aku pergi, Leon. Aku akan kembali secepatnya.” Gionard menutup panggilan telepon itu, melangkah dengan langkah besar untuk menaiki armada yang akan membawanya mengelilingi udara. Mencapai cita-cita yang pernah dia idam-idamkan dulu.


Berjanji pada Diandra bahwa dia akan segera kembali, namun nyatanya janji itu tidak kunjung dia tepati.


Itulah pertama dan terakhir kalinya dia mengingkari janji pada istrinya, pada belahan jiwanya.


Gionard tidak pernah kembali.


***


“Dia tidak kembali, Bram. Helikopter itu jatuh tepat di pesisir selatan Marseille dan tidak ada yang selamat,” lanjutnya dengan nada suara bergetar.


Bram menarik rambutnya dengan kasar. Kini menundukkan kepala untuk memandangi lantai marmer yang berada tepat di bawah pijakan sneakers-nya, lelaki itu menerawang sambil sesekali menutup mata.


Tidak menyangka dia akan mendengarkan kalimat demi kalimat yang disampaikan Leonard tadi, fakta yang tidak hanya mengguncang keluarga besar Butcher, tetapi juga mengguncang dirinya.


Tidak, Gio. Bagaimana bisa kau pergi dengan cara seperti itu?


Gemelutuk gigi lelaki itu menahan luapan perasaan dalam hatinya, bercampur antara rasa kaget dan kesedihan. Masih belum menguasai diri, keduanya tetap diam dalam keheningan.


Jangankan untuk Diandra, untuk dia saja sudah begitu sulit. Kini pikiran lelaki itu melayang tentang bagaimana tidak Diandra shock ketika Gionard meninggalkannya dengan begitu tiba-tiba. Seberapa sedihnya wanita itu, Leonard benar. Mereka jauh lebih terpukul.


“Aku ... aku ...,” terbata Bram mengucapkan kalimatnya.


Leonard menarik napas pelan-pelan.


“Aku tidak mendengar ini sebelumnya, Leon. Bahkan tidak sedikitpun,” bisik Bram pelan.


“Kau benar. Kami masih merahasiakan kepergian abangku dari semuanya. Tidak ada yang tahu selain organisasi dan klan kami. Aku memutuskan untuk menutupi hal ini, menimang keadaan yang sedang tidak kondusif,” jelas Leonard.


Bram mendesah. Tidak tahu harus berkata apa, tetapi ini mulai terdengar masuk akal sebab dia yakin Alberto juga pasti tidak tahu. Fakta yang begitu mengejutkan, fakta yang dia tidak pernah duga sebelumnya.


“Aku membawa Diandra ke Paris beberapa hari setelahnya, Bram,” lanjut Leonard lagi. Membuat Bram kembali menaikkan kepala, tampaknya masih ada hal yang harus dikatakan oleh lelaki itu.


“Sungguh menyedihkan, Bram. Dia bahkan belum bertemu dengan kedua anaknya saat Diandra melahirkan bayi kembar mereka.” Leonard jelas sekali menengadahkan kepalanya ke atas, berusaha sekuat tenaga untuk menahan kumpulan air di pelupuk mata. Tidak mudah sungguh, meski kejadian itu telah berlalu beberapa bulan.


“Aku turut berduka, Leon. Ini juga sulit untukku.” Kali ini Bram yang bersuara pelan.


Mengangguk kecil, Leonard tahu Bram tulus akan kalimatnya baru saja. Dia tahu abangnya tidak pernah salah menilai orang lain, tidak peduli meski Leonard sendiri pernah menganggap Bram tidak lebih dari seorang brengsek tengik.


“Kami berencana untuk mengumumkan kepergian abangku dalam waktu dekat ini. Kami mungkin akan berkabung beberapa hari, dan aku harus memastikan Diandra dan si kembar jauh dari media. Aku tidak bisa membiarkan media meliput mereka, tidak akan membiarkan Diandra, Val, dan Ver menjadi sorotan. Terutama Diandra, dia sudah lebih dari cukup dalam menahan kesedihan, aku tidak ingin membuatnya jatuh lagi.” Leonard menyampaikan kalimatnya dengan rinci, sesekali melirik ke arah Bram yang masih mendengarkan, berharap lelaki itu bisa diandalkan kali ini.


Mencermati perkataan Leonard, Bram tahu lelaki itu telah berusaha sebaik mungkin untuk memastikan Diandra dan bayi kembarnya aman. Sebab itulah dia memiliki pengamanan yang sangat berlapis, tidak ingin hal ini bocor ke pihak yang tidak bertanggungjawab.


“Kau mau membantuku, Bram?” Pertanyaan Leonard membuyarkan keheningan Bram, membuatnya menatap kembali pada manik lelaki itu.


Bram mengangguk cepat. Apa pun itu, dia pasti akan membantu jika Leonard meminta. Kini setelah Gionard tidak di sana, Bram tahu Leonard-lah yang paling bertanggungjawab atas keselamatan Diandra.


“Katakan, apa yang bisa aku lakukan?”


Mengambil jeda beberapa detik, Leonard menarik napas panjang untuk mengutarakan maksud yang akan dia sampaikan.


“Bawa Diandra dan si kembar pergi dari sini, Bram. Paris tidak lagi indah untuk mereka.”


.


.


.


🗼Bersambung🗼