Travelove~

Travelove~
17. Melewati Waktu



"Aku tahu diammu itu menyimpan rahasia. Tetapi aku siap jika suatu saat kau butuh teman untuk bercerita." ~Marinda Schoff.


.


.


.


"Terima kasih." Marin menerima segelas teh hangat yang disodorkan Bram ke hadapannya, sesekali merapatkan selimut yang tersampir tepat di pundaknya.


Bram mengangguk sekilas lalu mengambil posisi duduk di sebelah Marin, bersandar pada dinding kayu demi menunggu waktu. Kepergian Bram beberapa saat lalu syukurnya membuahkan kabar baik, setelah lelaki itu menemui perangkat desa untuk menanyakan tempat dimana mereka bisa berteduh hingga hujan selesai turun dan jembatan dapat dilewati. Seorang pengurus desa menawarkan rumahnya yang kosong untuk jadi tempat persinggahan, sementara dia bertugas untuk mengawasi keadaan jalan yang longsor akibat banjir.


Membawa Marin ikut serta menemui sang pemilik rumah, Bram diam-diam bersyukur dalam hatinya bahwa mereka akhirnya bisa duduk di tempat dan keadaan yang hangat.


"Apa kau masih kedinginan, Marin?" Menyesap teh hangat yang juga telah disediakan oleh sang empunya rumah, Bram memecah keheningan. Pria paruh baya tadi telah meninggalkan mereka di sana, undur diri untuk kembali meninjau lokasi.


"Aku merasa jauh lebih baik, Bram. Syukurnya bapak pemilik rumah mengizinkan kita untuk tinggal beberapa saat. Aku tidak bisa membayangkan jika harus berada di dalam mobil hingga beberapa jam lagi," ujar Marin panjang. Tampak semburat asap putih yang merangkak naik dari gelas yang sedang dia genggam erat-erat.


Bram tersenyum. Tidak menjawab apapun, kini lelaki itu malah terdengar tertawa kecil. Mau tak mau membuat Marin menolehkan kepala, mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


"Hei, kau sungguh menertawaiku kini, Bram?" Nada suara gadis itu terdengar sedikit dinaikkan, dengan kerutan di keningnya yang tampak semakin banyak.


Bram cepat-cepat menggeleng. Tetapi senyuman di wajahnya belum juga pudar.


"Tidak, Marin. Tidak. Aku hanya tidak habis fikir," balas Bram.


"Katakan. Apa yang kau tidak habis fikir?"


Bram menarik napas pelan. Meletakkan cangkir yang isinya belum berkurang banyak, kini lelaki itu memutar tubuh untuk duduk tegap menghadap Marin.


"Rasanya kontras sekali, Marin. Aku pernah melihatmu begitu tangguh, bahkan kau dengan tepat membidik kaki Julliete saat itu untuk membuatnya lumpuh seketika. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana kau berteriak padaku agar aku menekan luka tembak Gionard supaya darahnya tidak banyak terbuang sembari melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Kau tahu apa yang aku fikirkan kala itu?" Bram menatap manik biru Marin.


Mencerna perkataan Bram, Marin menggeleng pelan.


"Uhm, apa yang kau fikirkan memangnya Bram?" tanya gadis itu penasaran.


Bram kembali tersenyum.


"Aku berfikir kau pastilah gadis tangguh, yang mungkin tidak punya kelemahan. Tetapi melihatmu kedinginan tadi, aku menyadari bahwa setiap kita punya sisi lemah dan rapuh. Bukan begitu?"


Kali ini Marin yang menyunggingkan senyuman. Memandangi wajah Bram yang begitu dekat, tanpa sadar dia memang telah menunjukkan sisi lemahnya pada lelaki itu.


"Kau benar, Bram. Aku setuju dengan kalimatmu. Pernahkah kau merasa kau sedang berada di titik terendahmu, Bram?" Kali ini Marin yang mengajukan pertanyaan, menanti jawaban Bram sembari menyesap kembali teh hangat dari gelasnya.


Bram hening sesaat. Menundukkan kepala tanpa sadar, Bram tampak sedang memutar kenangan lama. Tentang masa dimana dia berada di titik terendahnya, hampir hilang akal dan tidak mengenali dirinya sendiri.


"Tentu saja. Semua orang pasti pernah berada di titik terendah mereka kan, Marin?" Tidak menjawab dengan jelas, Bram justru mengeluarkan kalimat yang diakhiri dengan tanda tanya juga kepada gadis itu.


Kau menutupnya dengan sangat rapat, Bram.


"Benar, Bram. Aku tahu. Sebab aku juga pernah berada di titik terlemahku. Tetapi jika kita melihat pada keadaan sekarang, semuanya telah terlewati dan waktu telah menyembuhkan. Kelak jika aku menghadapi titik terlemahku lagi, kurasa aku akan cukup kuat kala itu." Marin tersenyum lebar. Mengutarakan semua kalimat yang terlintas di benaknya, gadis itu terdengar menarik napas panjang.


Bram hening. Meraih kembali gelasnya untuk menyesap cairan coklat itu kembali, kini keduanya tenggelam dalam keheningan. Menyadari suara hujan masih terdengar meski samar-samar, Bram berharap hujan benar-benar akan membersihkan hatinya. Bram berharap agar hujan mampu mengembalikan kepercayaan dirinya untuk membuka lembaran baru kehidupan.


"Jadi, kau akan tinggal lama di sini, Marin?" Suara Bram kembali terdengar, membuat Marin sontak menaikkan kepalanya dari gelas.


"Tidak lama, Bram. Kau mungkin harus mengucapkan selamat tinggal dengan cara yang benar kali ini," ujar Marin tersenyum.


Bram tidak ingin bertanya lebih lanjut, tetapi entah kenapa hatinya sudah cukup penasaran.


"Kau akan kembali?" tanyanya pelan, menahan perasaan yang berkumpul di dalam hatinya.


Marin mengangguk. Merapikan helai rambut yang turun menutupi keningnya.


"Tentu," jawab gadis itu.


Bram terdiam.


"Kecuali aku punya alasan bagus mengapa aku harus tinggal lebih lama," lanjut Marin kemudian.


Kali ini Bram menatapnya lurus. Marin sedang menahan senyuman di sudut bibirnya.


Apa maksud perkataan dan tatapanmu, Marin?


"Jadi kau akan tinggal jika kau menemukan alasan?" Bram kembali bertanya.


Gadis itu mengangguk kecil. Kali ini menaikkan kepalanya, menatap pada sekeliling ruang tamu yang mereka tempati.


"Aku punya satu alasan mengapa aku datang, Bram. Apakah itu kelak akan membuatku untuk tetap tinggal atau tidak, aku belum tahu," balas gadis itu pelan.


Bram mendesah kecil. Hening beberapa saat di antara mereka.


"Kuharap itu akan membuatmu tinggal, Marin. Jika memang seperti itu seharusnya." Bram kembali bersuara.


Marin sontak menoleh. Menatap pada wajah Bram penuh tanda tanya.


Apa kau tau apa alasanku datang, Bram? Benarkah kau akan mampu membuatku untuk tetap tinggal?


Gadis itu tertawa kecil.


"Apa kau ingin aku tinggal? Sebab kau kini punya tetangga baik sepertiku, hmm?"


Bram membalas dengan sebuah senyuman lebar.


"Benar. Aku baru saja memiliki tetangga yang baik sepertimu. Kuharap kita bisa bertetangga lebih lama," jawab Bram kemudian.


Jika kau berfikir demikian maka tidak masalah untukku, Marin. Aku hanya merasa senang kau ada di sini.


Hening kembali berada di antara mereka, saat terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari arah pintu. Sang pemilik rumah telah kembali, membawa satu kabar baik untuk dua orang yang masih menahan diri dengan sangat baik.


Mereka bisa pulang malam nanti.


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Hola, jangan lupa untuk like, komen dan vote ya kak readers. Makasih banyak sudah mampir 🙏