Travelove~

Travelove~
61. Jawaban yang Dinanti (3)



"Kau akan tetap di sana, kau akan selalu jadi pilihan utama. Sebab tidak ada pilihan kedua untuk membangun rumah tangga." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


"Aku akan menginap malam ini." Kalimat jelas dan tegas yang diucapkan oleh Bram kala itu, sukses membuat Diandra terdiam seketika. Tepat saat pria itu hendak beranjak dari sana, Diandra tanpa sadar menahan lengannya.


"Kau akan menginap?" Bertanya mengulangi, memastikan dia tidak salah dengar.


Bram tersenyum. Mengambil kesempatan untuk mengelus tangan Diandra, dia menjawab tanpa ragu.


"Tentu. Kita bisa selesaikan pembicaraan yang belum usai ini setelah makan malam," balas lelaki itu dengan wajah yang dipasangi seringai tipis.


"Tapi ...." Terbata Diandra. Mengingat kapan terakhir kali Bram menginap, dia hanya menghela napas. Memorinya sudah melalang buana entah ke mana, menampilkan elegi abstrak dari kejadian yang membuat darahnya berdesir. Terakhir kali lelaki itu bermalam di sini, Diandra hampir saja tidak bisa menguasai diri.


"Ayo, Diandra. Val dan Ver mungkin sudah menunggu kita."


Tidak ada tapi-tapian, Bram kemudian melanjutkan langkahnya yang tertunda setelah mengedipkan sebelah mata.


***


Alberto datang tepat sebelum jam makan malam tiba. Membawa kantong-kantong belanjaan yang berisi buah segar dan jus buah dalam kemasan, lelaki itu meletakkan barang bawaannya di meja dapur. Menyapa ibunya yang sedang memasak sepanci besar sop tulang sapi, Alberto memberikan kecupan di pipi kemudian berlalu.


"Kau datang, Al?" Menuruni tangga satu per satu, Bram menyapa saat maniknya bertemu dengan manik Alberto.


"Tentu. Di mana si kembar?" Celingukan mencari keponakannya yang menggemaskan, Alberto tersenyum lebar saat melihat Vallois dan Verden sedang berada di ruang bermain ditemani dengan pengasuh mereka.


"Jangan membuat mereka menangis, kau dengar?!" Memberikan ultimatum tegas pada Alberto, Bram mendapati lelaki itu sedang membalas kalimatnya dengan umpatan yang tertahan di bibir. Membiarkan Alberto bergabung dengan si kembar yang sedang menyusun balok-balok mainan, Bram memilih untuk berbelok menuju meja makan.


Tante Luna dan beberapa asisten rumah tangga sudah berada di sana lebih dulu untuk menyiapkan makan malam. Menyadari kehadiran Bram yang telah menarik kursi untuk dia duduki, wanita paruh baya itu melebarkan senyuman.


"Kau sudah lapar, Bram?" tanyanya saat mengawasi dari depan kompor yang menyala.


Mengambil sepotong melon yang telah tersedia, Bram mengunyah buah itu dengan cepat.


"Tidak juga. Aku baik-baik saja, Tan."


Asisten rumah tangga mereka menyusun hidangan ke atas meja, sebelum beberapa saat kemudian Tante Luna bergabung bersama Bram di meja makan.


"Kau terlihat lelah, Bram. Apakah pekerjaanmu banyak? Apakah Alberto membuatmu kesulitan?"


Tentu saja Tante Luna khawatir. Sebab dia menitipkan Alberto pada Bram saat putranya itu mengambil alih perusahaan Lee, bahkan hingga beberapa tahun ini lelaki itu masih mendampingi Alberto dan menjadi teman baiknya.


"Tidak juga, Tan. Dia baik dalam mengurusi segala hal. Tante tidak perlu khawatir tentang pekerjaan, dia hanya perlu segera menikah saja." Bram tertawa kecil saat dia menyampaikan kalimatnya, diam-diam bersorak dalam hati sebab bisa mengerjai Alberto untuk kedua kalinya hari ini.


Tante Luna mengangguk setuju, mengembangkan senyuman. "Semuanya berkat bantuanmu, Bram. Terima kasih banyak."


Membalas perkataan Tante Luna dengan anggukan dan senyuman, Bram menuang segelas kecil jus mangga manis lalu menyesapnya perlahan.


"Kau juga harus menikah, Bram." Tante Luna tersenyum menggoda, memberikan isyarat pada Bram melalui tatapan mata yang dia arahkan ke belakang lelaki itu.


Menyadari isyarat yang ditujukan padanya, lelaki itu refleks menoleh dan mendapati Diandra sedang berjalan menuruni tangga. Mengenakan kaus santai dan celana panjang menjuntai, wanita itu tampak begitu menawan dengan ikatan rambut kucir kuda yang bergerak mengikuti gerakan badannya. Beberapa saat kemudian Diandra telah bergabung di meja makan, setelah lebih dulu melangkah untuk memeriksa keadaan Vallois dan Verden yang masih asyik bermain.


Mendapati Diandra duduk tepat di hadapannya, Bram tidak mampu menahan diri untuk tidak tersenyum lebar.


Kau selalu cantik, Diandra. Sebab itulah aku terus memujamu.


***


"Bram?" Panggilan Diandra terdengar nyaring, diikuti dengan ketukan tangan di pintu kamar tamu mereka tetapi belum juga mendapatkan jawaban.


Mengambil jeda sejenak sebelum akhirnya mengetuk lagi. "Bram?"


Lagi-lagi tidak ada jawaban.


Sempat celingukan sesaat, Diandra sedang menerka-nerka di mana kira-kira lelaki itu sekarang. Mengetahui bahwa Alberto juga akan menginap malam itu, dia sempat berpikir mungkin keduanya sedang bersama saat ini.


Mengamati beberapa helai baju yang dia bawa di tangan kanan, Diandra akhirnya memberanikan diri untuk meraih gagang pintu. Dia hanya akan masuk untuk meletakkan baju bersih milik lelaki itu, kemudian dia bisa pergi dari sana dan kembali ke kamarnya.


Melangkah masuk, wanita itu berjalan lurus menuju ranjang yang terletak di tengah ruangan. Menyapukan pandangan ke sekeliling, Diandra menyakini bahwa Bram memang tidak berada di sana. Meletakkan tumpukan baju Bram yang dia bawa ke atas ranjang, Diandra berbelok untuk meraih remote AC yang terletak di atas nakas.


Memeriksa bilangan yang tertera di remote itu, Diandra berdehem pelan. Menekan tombol beberapa kali untuk menaikkan hingga layar menunjukkan angka 22 derajat celcius, Diandra menyampirkan sebuah senyuman tipis. Sebab itu adalah suhu ruangan terbaik untuk Bram, sebab itu adalah suhu favorit Bram.


Hendak berlalu dari sana dengan memutar tubuhnya, Diandra hampir tercekat saat menyadari Bram telah berdiri tepat di depannya.


"Diandra."


Lelaki itu lagi-lagi bertelanjang dada, membiarkan sebuah handuk melilit pinggang kokohnya dengan rambut yang masih tampak basah.


Melongo, Diandra hening.


Apakah dia baru saja mandi? Makanya dia tidak dengar aku memanggilnya sejak tadi? Astaga!


"Kau di dalam? Ah, aku mengantarkan bajumu, Bram. Kupikir kau berada di luar kamar." Menyampaikan kalimatnya, Diandra berusaha menetralkan ritme jantung yang memburu.


Lagi-lagi Diandra tidak bisa menahan maniknya untuk menatap tubuh bagian atas lelaki itu, terutama pada dada bidang yang tampak ditutupi bulu-bulu halus. Entah mengapa semakin menambah pesona seorang Bram, sukses membuat Diandra menahan napas untuk beberapa detik.


"Aku baru saja mandi, Diandra. Kau sudah mandi?" tanyanya dengan seutas senyuman di wajah.


Diandra mengangguk cepat. Tidak ingin memperlihatkan bahwa dia gugup, tidak ingin Bram menangkap kesan canggung yang mengambil alih. "Tentu saja!"


Bram menahan senyuman. Dia jelas-jelas menangkap perubahan yang terjadi pada wajah Diandra. Meraih sehelai kaos yang berada di tumpukan baju paling atas, lelaki itu mengenakan kaos berwarna abu-abu dengan gerakan cepat.


"Aku pergi, ya." Diandra baru saja hendak kembali mengayunkan langkah, saat lengan kokoh Bram telah menahan lengannya kali ini. Membuat gadis itu refleks membelalakkan mata, saat Bram telah mendekapnya dalam satu dekapan hangat.


"Diandra." Berbisik pelan tepat di telinga wanita itu, Bram membiarkan embusan napasnya menerpa kulit Diandra yang putih mulus.


Merasakan sensasi bergidik yang kembali merangkak naik, nyatanya Diandra tidak berusaha melepaskan pelukan itu sedikit pun.


"Hmm?" Mencium aroma khas Bram Trahwijaya yang lekat, Diandra sempat mengingat kembali momen-momen yang terjadi di antara mereka.


"Kumohon jangan pernah lagi menyuruhku untuk memilih yang lain," bisik Bram kemudian, menggerakkan tangannya untuk mengelus rambut indah Diandra.


"Hanya kau satu-satunya pilihanku. Tidak ada lagi, Diandra, sungguh."


Hati Diandra hampir saja mencelos. Kata-kata yang dibisikkan Bram terlalu menelusuk masuk ke dalam hatinya, entah mengapa membuatnya merasakan bahagia serta denyutan di saat yang bersamaan.


"Bram."


"Aku menginginkanmu, Diandra. Aku begitu menginginkanmu." Mengeratkan pelukannya, Bram seolah-olah tidak ingin Diandra pergi jauh dari sisinya. Dia ingin mendekap wanita itu setiap hari, menjalani hari-hari dengan ibu dari anak-anaknya.


Napas Diandra naik turun. Dia mencerna dengan baik apa yang disampaikan oleh Bram, berusaha menahan diri untuk tidak menjatuhkan dirinya pada lelaki itu.


Aku mungkin tidak pantas untukmu, Bram.


"Bram." Lagi-lagi memanggil nama Bram dengan nada rendah, kali ini Bram yang menjawab dengan sebuah deheman.


"Hmm?"


"Kau perlu memikirkannya sekali lagi," ucap Diandra pelan.


Menata hatinya yang porak poranda, Diandra sedang bermain dengan takdir. Dia pernah berada dalam ikatan bersama lelaki itu, dan memutuskan untuk kembali bersama tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.


Bram menarik napas panjang. Tahu ini pastilah tidak mudah untuk mereka berdua, terutama untuk Diandra.


Melepaskan pelukannya dengan perasaan tidak rela, Bram kini menatap manik kecoklatan Diandra dengan sangat dalam dan penuh makna.


"Diandra," panggilnya lagi.


Manik keduanya bertaut, saling menyelami perasaan satu sama lain. Tenggelam dalam keheningan, saat malam mulai merangkak naik.


"Kau ingin tidur di sini malam ini?"


.


.


.


🗼Bersambung🗼