Travelove~

Travelove~
66. Bermain Kata (1)



"Saat kabut menggelap dan kau tak datang, saat itu pula aku menyadari kau mungkin telah mengisi relung hati." ~Diandra Lee.


.


.


.


Bram tidak datang.


Berulang kali Diandra melirik ke arah jendela, mencuri pandang pada gerbang besar rumah mewah mereka. Menunggu sesuatu akan muncul dari sana, tetapi ternyata tidak kunjung terkabulkan.


Menimang ponsel yang dia genggam erat-erat dengan kedua tangannya, perempuan itu duduk dengan wajah penuh gelisah. Sesekali menggigit bibir, menoleh lagi. Menunduk, menoleh lagi. Sudah hampir satu jam dia di sana, sembari memperhatikan hari yang terus merangkak menggelap.


Malam akan tiba, tetapi kini kau juga tidak datang.


Sudah empat hari. Empat hari setelah perpisahan yang diliputi keheningan itu terjadi, dan Bram benar-benar tidak muncul lagi di rumah mereka.


Bahkan Diandra sendiri tidak tahu lelaki itu berada di mana, sebab tidak satu pun pesan atau panggilan masuk ke ponselnya dari lelaki itu. Semakin dia menunggu, semakin dia menelan kekecewaan.


Untuk ke sekian kalinya Diandra menaikkan kepala, berharap mobil berwarna hitam milik Bram akan muncul memasuki gerbang mereka. Dia tidak akan melarang lelaki itu untuk datang lagi, dia tidak akan berkata yang tidak-tidak lagi.


Bahkan kalau perlu, dia akan menjawab pertanyaan Bram tempo lalu yang dia belum berikan jawabannya.


Aku akan menjawab iya, Bram. Datanglah. Datanglah, kumohon.


Suara hati yang begitu jelas tersayat nyatanya tidak bisa meruntuhkan harga diri seorang perempuan yang kini diobrak-abrik kerinduan, sebab dialah yang menyuruh lelaki itu untuk pergi dari sisinya.


Ketika hampir saja dia putus asa, sekelebat cahaya lampu tampak menyorot ke arah gerbang, saat sebuah mobil berwarna hitam berbelok untuk melewati pagar tinggi yang kini telah terbuka.


Hampir saja menyunggingkan senyuman di bibirnya ketika dia berpikir itu adalah mobil Bram yang kini sedang diparkirkan oleh sang pengemudi, lagi-lagi Diandra menelan pil pahit sebab itu ternyata bukan seseorang yang dia tunggu.


Itu Alberto.


***


Alberto datang dengan sekantung besar snack dan minuman sehat untuk si kembar Vallois dan Verden Butcher. Mendekati ibunya yang sedang mengawasi kedua cucu di ruang bermain yang bersebelahan dengan ruang santai, Alberto mengitari seisi lantai satu rumah itu untuk mencari seseorang.


"Mi, mana Diandra?" Bertanya sesaat setelah dia duduk di sebelah sofa yang diduduki ibunya, Alberto terdengar sedikit merendahkan suara.


"Di atas. Masih baru mandi kayaknya," jawab Tante Luna yang juga adalah ibu kandung dari Alberto, tanpa menoleh sebab dia sedang fokus memperhatikan drama korea di salah satu channel televisi.


"Oke. Mami nanti jangan lupa ya apa yang aku udah bilangin kemarin, awas lho. Ini semua demi si kembar dan kedua orang itu," ujarnya memperingatkan.


Tante Luna berdehem. Belum menoleh untuk melihat anak sulungnya, dia masih sibuk menonton. Alberto sudah bersandar pada sofa dengan sebungkus besar chiki di tangannya saat tak berapa lama kemudian Diandra bergabung bersama mereka.


"Al." Memanggil Alberto dengan nada pelan, Diandra sempat ragu-ragu apakah dia harus bertanya pada sepupunya itu mengenai keberadaan Bram.


"Hmm?" Membalas cuek, padahal maniknya melirik dengan antusias. Dia sudah menyiapkan sebuah rencana, rencana yang mungkin akan membawa Diandra pada Bram. Semoga saja.


Diandra menarik napas untuk mengusir rasa ragu. Meyakinkan hati bahwa dia hanya ingin tahu, apakah Bram sedang baik-baik saja atau tidak.


"Kau bertemu Bram?" Pertanyaan Diandra terdengar datar, saat manik perempuan itu menatap penuh harap pada Alberto.


Binggo. Aku tidak perlu bersandiwara berlebihan karena Diandra yang lebih dulu bertanya. Kau akan dapatkan dia kali ini, Bram.


Alberto menegakkan tubuh.


"Tentu. Dia sedang mempersiapkan diri untuk berangkat." Jawaban Alberto terdengar nyaring sekali, saat lelaki itu dapat melihat jelas manik Diandra yang melebar.


"Apa kau bilang? Kemarilah, Al!" Bangkit kemudian berlalu dari ruang keluarga, Diandra melangkah cepat menuju ruang tamu yang berada tidak jauh dari sana. Dia ingin bertanya lebih jauh tentang kata-kata Alberto, dia akan mengorek informasi lebih dalam mengenai Bram.


Alberto menikmati permainan kata yang sudah dia mulai. Mengikuti Diandra hingga mereka berada di ruang tamu, lelaki itu mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi panjang.


"Katakan, apa maksudmu dia berangkat?" Diandra sudah duduk tepat di depan Alberto, kini menuntut penjelasan atas jawaban lelaki itu baru saja.


Alberto mulai bersandiwara, menahan senyuman sebab ini akan menarik.


"Dia akan pergi, Diandra. Dia tidak akan lagi berada di kota ini," ujarnya tanpa nada berdosa.


Diandra membelalak. Masih tidak mengerti apa maksud dari perkataan Alberto, saat degupan jantungnya mulai merangkak naik.


"Aku tidak mengerti, Al. Katakan yang jelas!"


Alberto berdecak. "Kau menyuruhnya pergi, kan? Maka dia akan benar-benar pergi kali ini. Itu kan yang kau inginkan?" Pertanyaan Alberto sungguh menohok hati, saat Diandra tidak bisa menggeleng untuk mengelak.


"Dia sudah putus asa, Diandra. Kehadirannya selama ini ternyata tidak berarti di matamu, saat dia bertahan selama empat tahun terakhir untuk mencintai dan menanti orang yang sama." Semakin semangat Alberto saat dia mendapati Diandra terdiam seribu bahasa, tidak mendebat apa yang dia katakan dan tidak juga bersuara.


Perempuan itu sedang mengatur hatinya yang remuk redam. Menyesali kesalahan, berharap dia bisa mengulang waktu.


"Kau tidak tahu bagaimana dia melewati setiap harinya tanpamu, bahkan setelah perpisahan kalian bertahun-tahun lalu. Dia selalu di sana, Diandra. Mendoakan dalam diam bahkan saat aku menyuruhnya untuk berhenti berharap karena mungkin tidak ada kesempatan lagi untuk kalian," lanjut Alberto lagi.


"Tidak seperti itu, Al." Kalimat putus asa yang keluar dari bibir Diandra, saat manik kecoklatannya telah lurus menatap lantai. Menarik napas dalam-dalam, dia sedang berusaha mencermati keadaan.


Alberto mengaitkan kedua tangannya, membentuk pertahanan.


"Karena setiap manusia punya batas kesabaran, Diandra. Karena menunggu dan rindu itu berat, kau tidak tahu?" Berkata bak dewa cupid Alberto, sama sekali tidak menyangka dia bisa berkata demikian. Ternyata mencari kata-kata romantis di internet sebelum percakapan ini memang berdampak baik tampaknya.


Diandra mencelos. Mendesah pelan, saat dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Tidak hanya si kembar yang terus bertanya di mana ayah mereka, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya dia juga merasa rindu yang mendalam.


Rindu pada lelaki itu, rindu pada kekeraskepalaan Bram yang terus berbuat semaunya meski dia ribuan kali melarang. Rindu saat lelaki itu memanggilnya dengan sebutan sayang meski dia tidak pernah membalas, terlebih rindu akan desahan napas dan aroma tubuh lelaki itu yang begitu memabukkan.


"Aku tahu, Al. Aku tahu! Aku menyesal menyuruhnya pergi kala itu, saat aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Aku terlalu naif, aku terlalu egois." Menunduk setelah menyelesaikan kalimat yang penuh penyesalan, Diandra kembali hening saat Alberto malah mencuri kesempatan untuk tersenyum lebar di belakangnya.


Ini akan mudah sekali, Bram. Jangan lupa hadiah yang kau janjian untukku, brother.


"Belum terlambat jika kau ingin menahannya. Kau tahu, aku tidak pernah menemukan pria yang begitu dalam mencintai wanita seperti dia mencintaimu, Diandra," ucap Alberto lagi.


Diandra menaikkan kepala. Mendapati manik sepupunya yang berkaca-kaca, Alberto hampir saja merasa iba dan ingin mengacaukan semuanya. Tetapi demi hadiah yang akan dia minta pada Bram jika rencana ini berhasil, dia semakin senang untuk melanjutkan.


"Mungkin kau masih punya satu kesempatan, Diandra. Kesempatan terakhir untuk menahannya agar tidak pergi, kesempatan untuk mengatakan hal yang belum pernah kau katakan." Alberto berpura-pura melirik arloji yang dia kenakan di pergelangan tangan kiri, saat dia menaikkan kedua alisnya agar terlihat sedang menimang sesuatu.


"Pergilah, tahan dia. Penerbangannya pukul sepuluh malam." Mengeluarkan kunci mobil dari kantung belakang celananya, pria itu meletakkan kunci itu di atas meja.


Diandra masih hening. Bergemuruh saat dia menimang apakah dia akan pergi atau tidak. Apakah dia akan menahan lelaki itu atau tidak, apakah dia akan memanfaatkan waktunya yang tinggal beberapa jam ini atau tidak. Alberto bergerak cepat.


"Dacosta Apartemen, unit 111," katanya memperjelas.


Diandra menaikkan kepala, menatap dalam pada manik Alberto yang tampak membesar.


"Kami akan jaga si kembar. Pergunakan waktumu sebaik mungkin. Semoga beruntung."


.


.


.


🗼Bersambung🗼