
“Tidak akan ada harapan untukku bertahan jika kau pergi. Karena jika kau tidak di sini, aku sebaiknya mati.” ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Bram berlari. Napas lelaki itu terengah, saat pijakan kakinya terasa semakin mengambang di udara. Dengan peluh yang bercucuran di kening yang bahkan turun ke lehernya, lelaki itu sama sekali tidak mengendurkan langkah.
"Diandra!"
Dengan napas yang tercekat, Bram berusaha sekuat mungkin untuk mengagungkan nama perempuan yang selalu ada di dalam hatinya. Sang ratu, penghuni singgasana tertinggi yang tidak akan tergantikan. Tetapi sepertinya teriakan yang berusaha ia keluarkan itu, tidak sama sekali membuat jarak yang terbentang di antara mereka semakin berkurang.
"Diandra!"
Dengan hampir putus asa, lelaki itu berusaha menggapai tubuh perempuan yang semakin lama semakin menjauh.
Diandra sama sekali tidak menoleh ke arah belakang. Langkahnya tegas, dengan punggung yang tegak dan kepala yang terus menatap ke depan. Dress sebatas lutut yang dikenakan perempuan itu bergoyang di ujung-ujungnya akibat tiupan angin, saat ia masih terus menjaga jaraknya dengan posisi Bram kala ini.
“Diandra, berhenti!”
Dengan sisa-sisa tenaga dan suara lirih yang ia punya, Bram tidak henti-hentinya mengagungkan doa. Memohon dalam hati, agar semesta menghentikan langkah wanitanya. Agar jarak yang ada ini akan terpangkas habis, agar lengan kokohnya bisa merengkuh dan membawa Diandra ke dalam pelukannya. Tetapi yang terjadi adalah, Diandra malah semakin mempercepat langkah, menuju pada setitik cahaya terang yang berada di depan mereka.
Cahaya yang menyilaukan, yang membuat Bram kini tanpa sadar menyipitkan mata akibat pancaran terang yang memberi rasa sedikit tidak nyaman. Baru sekaranglah lelaki itu menyadari bahwa mereka sedari tadi berjalan dalam kegelapan, dengan aroma pinus yang menusuk hingga ke sudut indera penciuman.
Langkah lelaki itu sempat berhenti sesaat, persis ketika ia melihat seseorang yang muncul dari arah cahaya yang sama. Yang mana semakin membuat jaraknya dengan Diandra semakin melebar, dengan manik yang semakin membelalak tidak percaya.
“Diandra! Aku di sini!”
Masih berusaha meneriakkan dengan suara terbata-bata, Bram hampir saja terjatuh saat seseorang yang muncul dari sebalik cahaya tadi kini mengulurkan tangannya tepat ke depan Diandra. Membuat perempuan itu memelankan laju jalannya, sebelum berhenti sejenak dan terdiam beberapa detik di posisi yang sama.
Napas Bram semakin terasa terputus-putus, dengan rambut yang basah dan keringat yang bercucuran di seputaran wajah dan lehernya. Entah mengapa terlalu jauh rasanya bahkan hanya untuk mencapai perempuannya, perempuan yang kini dengan sadarnya tetap berjalan meski ia tahu jarak mereka semakin melebar dari detik ke detik.
Seiring dengan berhentinya langkah perempuan itu, Bram juga tanpa sadar memelankan langkah. Memandangi punggung istrinya, yang selalu ia usap sebelum mereka terlelap hampir belakangan waktu ini. Rambut perempuan itu bergerak tertiup angin, menerbangkan anak rambutnya dengan arah acak.
Bram menahan napas.
Tepat saat Diandra menolehkan kepala dan memutar tubuh ke belakang, Bram masih mencoba mengatur deru napas yang memburu. Masih ada jarak yang terbentang di antara mereka, tetapi Bram tidak khawatir asalkan Diandra tidak lagi bergerak. Lelaki itu masih bisa berlari meski dengan langkah terseok, untuk menghampiri Diandra di posisinya. Untuk meraih tangan perempuan itu, untuk membawa ibu dari anak-anaknya pulang kembali ke rumah.
“Tetaplah di sana, Diandra. Aku akan datang.”
Bram sempat melengkungkan satu senyum tipis, tepat sebelum ia berniat untuk mengambil langkahnya kembali. Tetapi suara serak yang keluar dari bibir merah muda Diandra begitu saja menghentikan langkahnya, membuat lelaki itu terdiam seribu bahasa kemudian.
“Jangan datang, Bram!”
Begitu Diandra memberi perintah, dengan raut wajah datar tanpa senyuman di wajahnya. Manik perempuan itu melebar sempurna, saat Bram kini mendapati butiran kristal di sudut-sudut mata indah istrinya.
Napas lelaki itu semakin tercekat, dengan tenaga yang telah terkuras tak bersisa. Rasanya ia hampir saja pingsan.
“Diandra, ini aku, Sayang,” lirih lelaki itu pelan. Tidak tahu apakah kalimatnya tadi dapat didengar dengan baik oleh Diandra atau tidak, saat sepertinya perempuan itu tidak bereaksi sama sekali.
Diandra menggeleng lemah. Menunduk untuk mengusapkan punggung tangannya ke daerah pipi, perempuan itu tampak sedang menghapus sesuatu yang meluncur dari manik indahnya. Bram ingin berada di sana, tetapi lagi-lagi langkahnya tertahan. Tidak peduli seberapa kuatnya ia berusaha untuk berlari menuju Diandra, langkahnya terasa begitu berat hingga ia hampir tidak bisa melawan beban yang mengikat kedua kakinya.
Seseorang yang lain itu mendekat. Dengan cahaya yang masih bersinar terang, seseorang itu kembali mengulurkan tangan pada Diandra. Seakan tidak mempedulikan kehadiran Bram di sana, saat sepertinya perhatian sosok itu hanya terpaku pada Diandra saja. Bram tidak berarti apa-apa untuknya, saat lelaki itu sempat melihat senyum angkuh yang tersampir di sudut bibir seseorang itu. Bram tidak mengenali siapa sosok itu sebenarnya. Tetapi dari siluet yang terlihat, Bram bisa menyimpulkan bahwa orang itu adalah seorang pria dengan tinggi menjulang dan dada bidang yang lebar.
“Aku mencintaimu, Bram. Tetapi sekarang pergilah!”
Begitu saja terjadi, saat Diandra mengangkat tangannya untuk meraih uluran tangan pria lain tadi. Sama sekali tidak menoleh ke belakang, saat perempuan itu sudah meneruskan langkahnya yang tertunda untuk kemudian menghilang ke dalam cahaya.
Hanya sekian detik, sebelum kemudian cahaya tadi lenyap seketika. Meninggalkan Bram yang masih terdiam tidak berdaya, dengan langkah yang tidak bisa ia teruskan. Meski peluh bercucuran, lelaki itu ternyata sama sekali tidak bergerak dari posisinya berdiri sejak tadi. Memandangi titik hitam di mana cahaya tadi buyar begitu saja, ada perasaan menyayat yang kini menyengat lelaki itu, saat Diandra benar-benar memilih untuk pergi dari sisinya kali ini.
Airmata tidak bisa tertahan, meluncur begitu saja dari kedipan mata seorang Bram Trahwijaya. Ditemani kegelapan malam dan bau pinus yang masih menyengat, Bram merasa separuh jiwanya hilang entah ke mana. Terbang, mungkin menuju langit yang tinggi. Meninggalkan seorang laki-laki dengan luka menganga yang terlampau dalam, saat kini ia berharap agar semesta juga mengambil nyawanya.
Dia tidak sanggup. Tidak akan sanggup lagi menatap dunia, jika Diandra tidak berada di sana bersamanya.
***
“Bram?!”
Suara itu terdengar familiar, dengan nada suara yang lembut sekali.
“Bram, bangun!”
Sapuan tangan yang terasa pelan mendarat di pipi kanan Bram, saat kini ia tersentak dan refleks membuka matanya lebar-lebar. Mendapati visual seseorang yang kini berada tepat di depan matanya, lelaki itu masih tercengang untuk beberapa detik ke depan.
Menarik Diandra ke dalam pelukannya, Bram tidak kuasa menahan haru saat ia kini mengucap jutaan kali rasa syukur di dalam dada. Bersyukur bahwa semua tadi itu hanya mimpi, bersyukur bahwa Diandra masih berada di dalam pelukannya. Bersyukur bahwa ia masih bisa menatap ke dalam manik perempuan itu, saat semuanya yang terjadi beberapa waktu tadi sungguh terasa nyata. Mempermainkan adrenalin, yang menghempaskan Bram ke jurang terdalam kemudian.
“Bram, hei—“
“Jangan pergi, Diandra,” potong lelaki itu cepat. Mengeratkan dekapannya, lelaki itu bernapas dengan tersengal. Menutup kedua matanya, Bram menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya. Aroma yang dia suka, aroma yang selalu menjadi favoritnya sepanjang masa.
Diandra mengelus punggung lelaki itu, menarik napas dalam-dalam meski pelukan Bram kali ini terasa sangat berbeda. Dominan, dan sedikit membuatnya sesak. Bahkan menekan perutnya yang sudah mulai tampak membuncit, tetapi perempuan itu masih membiarkan suaminya melakukan hal itu. Diandra berada di sana, tepat di samping Bram ketika lelaki itu terdengar memanggil namanya lirih dengan mata tertutup.
“Berjanjilah kau hanya akan menggenggam tanganku, Diandra. Berjanjilah,” bisik Bram lagi, dengan nada penuh harap yang jelas sekali terdengar dari suaranya. Sedikit gemetar, yang jelas sekali menampakkan bahwa lelaki itu sedang ketakutan sekarang.
“Aku di sini, Bram. Aku tidak akan ke mana-mana,” lirih Diandra. Dia tidak tahu apa yang baru saja dimimpikan suaminya hingga membuat lelaki itu mengigau dan berpeluh seperti ini, tetapi dia sudah memutuskan untuk tidak bertanya apa-apa.
“Dan aku berjanji, Sayang. Aku berjanji.”
Butuh beberapa saat hingga Bram perlahan melonggarkan dekapannya. Kini lelaki itu sudah bernapas lebih baik, meski peluh masih terlihat di sekitar kening dan pelipisnya. Menatap Diandra dalam-dalam, manik lelaki itu tampak memancarkan sinar yang berbeda.
“Hei, tenanglah, Bram.” Diandra mengusap kening suaminya yang terlihat mengkilap, menyingkirkan peluh dari sana. Membalas tatapan Bram dengan satu tatapan teduh yang berasal dari manik kecokelatan suaminya, Diandra menyampirkan satu senyum tipis.
“Hanya mimpi, tenanglah. Apa pun yang kau mimpikan tadi, lupakan saja jika itu membuatmu merasa tidak nyaman,” ujar Diandra lagi. Melirik sekilas ke arah jam yang hampir menunjukkan pukul empat pagi, perempuan itu masih menggenggam tangan suaminya kini.
Bram terdiam. Masih memandangi dengan lekat ke arah yang sama, juga berharap agar peristiwa tadi memang hanya sekedar mimpi. Lelaki itu menunduk sekilas, sebelum kembali menarik Diandra ke dalam pelukannya untuk beberapa saat. Tidak seerat tadi, saat kini ia menaruh satu tangannya ke atas perut perempuan itu. Mengeluskan tangan kokohnya di atas sana, sebelum kemudian menunduk untuk memberi satu kecupan hangat yang mendarat di dress tidur Diandra. Menegakkan tubuhnya, manik hitam Bram kembali bertemu dengan manik indah istrinya.
“Jangan tinggalkan aku, Diandra. Apa pun yang terjadi, jangan pernah pergi dari sisiku.”
.
.
.
~Terharu aku masih ada yang baca dan nunggu cerita ini, hiks.. Maafkan ya, belum sempet update apa-apa karna masih sibuk di Cassandra dan Aleandra
:( Kangen juga ternyata ama Brambang, semoga mimpinya hanya numpang lewat yaaa :p
~Jangan ditunggu lanjutannya yaa, nanti kelamaan dan kecewa wkwkwkwk. Sehat selalu semuanya :)