
"Aku tidak ingin kau terluka. Sebab kesakitanmu kini adalah siksaan bagi ragaku." ~Diandra Lee.
.
.
.
Diandra menyorot tajam. Melayangkan tatapan mata penuh amarah, saat lelaki yang berdiri di depannya kini malah sedang tersenyum tipis.
"Jangan tersenyum!" hardiknya ketus. "Aku tidak ingin melihatmu!"
~
Bram tiba beberapa saat lalu. Mobil merah menyala milik Roman yang terdapat tulisan "The Reds" besar-besar di bagian belakangnya sukses membawa Bram dan Alberto kembali dengan selamat.
Roman dan Bram tadinya ingin membawa Alberto ke rumah sakit, karena pria itu ternyata mengalami beberapa luka lebam di tangan dan perutnya, dan beberapa luka memar di bagian wajah. Tetapi Alberto menolak, berkilah kalau ia hanya akan mengobati lukanya sendiri saja. Mungkin salep lebam dan tetesan obat merah akan membantu kali ini.
Berbeda dengan Alberto yang langsung membaringkan diri di sofa ruang tamu kemudian terlelap, Bram menaiki anak tangga untuk masuk ke kamarnya dengan mengendap. Diandra tidak di sana saat ia membuka pintu, tepat saat itulah ia berpikir ia bisa menyimpan satu rahasia dari istrinya.
Berjalan pelan menuju walk in wardrobe mereka, Bram memilih satu kaus berwarna abu muda untuk ia kenakan. Kaus yang sebelumnya ia pakai tadi sudah berbau besi, bahkan sebagiannya basah oleh keringat. Sebaiknya ia berganti baju dengan cepat, sebelum Diandra melihat segalanya.
Tetapi lagi-lagi terlambat.
"Bram." Suara Diandra terdengar pelan, tepat saat Bram baru saja melepas kausnya. Tangannya masih terangkat ke udara, menampilkan polosnya punggung lelaki itu sekarang.
Diandra terpaku. Terdiam sebab mendapati punggung gagah suaminya kini memiliki bekas lebam biru yang cukup lebar, selebar maniknya yang membulat sekarang.
Masih mengenakan handuk kimononya sebab dia baru saja mandi, Diandra buru-buru maju untuk melayangkan pukulan kecil di punggung Bram.
"Bram, apa ini?" tanyanya bingung. Jemarinya bergerak menelusuri bekas kebiruan di sana, meski sepertinya Bram tidak terlalu merasa kesakitan.
"Bukan apa-apa, Sayang," kilah Bram cepat. Memutar tubuhnya untuk menghadap pada Diandra, lelaki itu tersenyum tipis. Menyesali mengapa Diandra melihat bekas pukulan broti yang tercetak di sana tadi, dia khawatir akan membuat perempuan itu sedih sekarang.
"Katakan, Bram. Apa itu?" Suara Diandra melemah, namun sorot matanya tetap setajam pisau. Seolah mampu membelah dada Bram, terbukti dengan lelaki itu terdiam kini.
"Kau terluka, kan?" todong Diandra lagi. Nadanya datar, penuh perasaan tidak suka.
Bram hendak meraih Diandra ke dalam pelukannya, tetapi gagal sebab perempuan itu sudah menepisnya lebih dulu.
"Jangan pegang aku!" teriaknya kesal.
Bram tersentak. Diandra tidak pernah menghindarinya, tetapi entah mengapa kali ini istrinya itu melakukan demikian.
Apa dia terlalu marah karena aku terluka?
"Diandra, hei. Sayang, lihat aku." Bram bersuara pelan. Menundukkan kepala untuk mengelus dagu Diandra, karena perempuan itu telah menghindari tatapannya.
"Tidak!" Diandra kembali menepis tangan Bram yang hampir mengenai dagunya. "Jangan sentuh!" katanya.
Bram hampir saja mati lemas. Mendapat perlakuan yang begitu tidak terduga seperti ini dari Diandra sungguh di luar kendalinya, saat ia kemudian bingung harus berbuat apa. Diandra benar-benar marah kini, benar kan?
Lelaki itu menarik napas. Mencoba mengamati situasi dan atmosfer perasaan istrinya yang mungkin saja memang terlampau khawatir, Bram sedang berpikir jernih tentang apa yang bisa dilakukannya untuk meredakan amarah Diandra.
"Diandra," panggilnya pelan.
Diandra bergeming.
"Maafkan aku, ya. Maafkan suamimu ini yang tidak bisa menepati perkataanya tadi," ujar Bram lagi.
Kali ini sukses membuat Diandra berbalik pandang, menatap ke arah Bram meski dengan wajah tertekuk.
"Seseorang memukul broti ke tengkukku, membuatku terjatuh tiba-tiba. Tetapi selain itu percayalah aku tidak terluka, sama sekali," jelasnya. Dia tidak ingin Diandra khawatir, meski pukulan anak buah Joergen tadi memang terasa menyakitkan.
Diandra masih diam. Menimang kata apa yang akan disampaikannya kali ini, perempuan itu berpikir sejenak.
"Apa itu broti?" tanyanya lugu.
Hampir saja Bram terkekeh, kalau tidak segera ditahannya sekuat tenaga. Nada suara Diandra yang begitu halus dan pelan sungguh menggoda, ditambah lagi dengan wajahnya yang benar-benar penasaran sekarang.
Diandra berkacak pinggang. "Jadi kau dipukul dengan kayu, Bram?!" pekiknya tertahan. Dadanya naik turun seiring helaan napas yang memburu.
Bram tidak langsung menjawab. Mendapati Diandra dalam kondisi seperti di depannya saat ini sungguh membuatnya bahagia. Memperhatikan tetesan air yang menuruni tengkuk hingga leher jenjang perempuan itu, membuat Bram tersenyum lebar.
"Jawab aku!" Diandra kembali bersuara.
Bram mendesah. "Kemarilah, Diandra," pintanya pelan. Tangannya maju untuk menggapai istrinya, dia ingin memeluk Diandra sekarang juga.
Diandra tidak berkilah kini. Tarikan Bram terasa halus, sebelum kemudian ia sudah mendarat dalam dekapan pria itu. Kulit keduanya bergesekan, mengalirkan rasa tenang dan mendamba.
"Maaf," bisik Bram pelan. Menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh kesukaannya. Tubuh Diandra.
Diandra masih diam. Tidak bergerak.
"Maaf karena membuatmu khawatir, Diandra," kata lelaki itu lagi. Setulus hatinya meminta maaf, sebab ia pulang dengan luka.
Tubuh Diandra berguncang pelan. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Bram, perempuan itu sudah mulai terisak. Membuat Bram refleks terkejut, lalu melonggarkan pelukan mereka untuk memeriksa kondisi istrinya.
"Diandra, hei. Kenapa, Sayang?" tanyanya pelan. Menunduk untuk menyamakan posisi wajahnya dengan wajah Diandra, jarinya bergerak cepat menghapus aliran air mata yang meluncur di pipi Diandra.
Perempuan itu masih terisak.
"Kau berjanji untuk tidak terluka, Bram. Aku tidak tahu bagaimana bisa aku hidup jika--" Diandra tidak mampu melanjutkan kalimatnya, terlalu sedih rasanya. Dia pun tidak tahu mengapa emosinya bisa menjadi seperti ini, padahal ia bukanlah tipikal perempuan cengeng yang mudah menangis.
"Diandra." Panggilan Bram itu terdengar lembut sekali.
"Apa?!" jawab Diandra ketus. Meski ia menangis karena sedih suaminya terluka, tetapi kekesalannya masih bercokol di dalam sana.
"Jangan menangis lagi, Sayang. Aku tidak apa-apa, sungguh. Salep memar akan membantuku pulih, Diandra," jelas Bram lagi.
Diandra menaikkan kepala. Menatap manik kehitaman Bram yang tampak mengkilap.
"Kau harus meminta izinku lain kali jika kau ingin terluka," katanya pelan. "Tubuhmu itu milikku, Bram, kau tahu? Tidak ada yang boleh membuatmu terluka selain aku."
Jika ada yang hampir terbang menembus atap bak supermen, maka Bramlah orangnya. Kalimat Diandra entah bagaimana sukses membuat dadanya berdesir kencang, saat perempuan itu dengan manisnya mengatakan bahwa tubuh lelaki itu adalah miliknya.
Tersenyum lebar, Bram menarik kembali Diandra untuk mendekat.
"Kau manis sekali, Sayang," lirihnya. Mencuri satu kecupan di tengkuk Diandra, mengalirkan perasaan cinta yang membuncah dari sana.
Kemarahan--atau yang bisa disebut kekesalan Diandra tadi, kini telah berubah menjadi tangis yang tidak ia duga. Entah apa yang terjadi, tetapi Bram bersyukur Diandra kini telah kembali baik padanya.
"Jangan menggodaku," balas Diandra ketus. "Kau akan libur dua minggu sebab kau membuatku khawatir, kau mengerti?" ancam perempuan itu sekarang.
Bram menegang. Melepas kembali dekapannya, mendapati sorot tajam manik Diandra telah kembali ke tempatnya semula.
"Apa? Libur apa?"
Diandra mendelik. "Libur pegang-pegang aku lah," katanya tanpa ragu.
Membuat manik Bram membulat sempurna, saat Diandra sudah beranjak dari hadapannya.
"Sayang," panggilnya memelas. Tetapi Diandra sudah lebih dulu berlalu, masuk ke ruang ganti untuk mengenakan pakaian lengkap. Hukuman untuk lelaki itu dimulai sejak pagi ini.
Bram mematung. Membayangkan sehari saja tanpa Diandra sudah membuatnya gila, apalagi dua minggu?
Yang benar saja, Diandra?!
.
.
.
🗼Bersambung🗼