
"Jika kau bertanya apa itu definisi keindahan untukku, maka aku sudah pasti akan menjawab itu adalah kau." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Tidak ada yang mampu mengelabui takdir. Ketika ia sudah terlanjur memilihmu, maka tidak ada jalan untuk kau lari dari garis yang ditentukan.
Sebab hidup berputar, mengelilingimu dengan berbagai macam perasaan; bahagia, sedih, marah, dan berbagai macam emosi lainnya. Jika dulu Bram menjadi bulan-bulanan takdir yang tampaknya tidak pernah berpihak padanya, kini lelaki itu bisa bernapas lega. Semesta telah memilih untuk menggariskan jalan hidup baru untuknya, yaitu kesempatan untuk membangun sebuah keluarga secara utuh.
Diandra menggeliat. Merasakan kulitnya bergesekan dengan kulit seseorang yang lain, yang kini menemaninya di atas ranjang super besar. Mengerjapkan mata perlahan-lahan, merasakan embusan pendingin udara yang mengenai tubuh bagian atasnya, memberikan sensasi dingin yang menusuk namun menyejukkan.
Mendapati Bram Trahwijaya--yang kini sudah resmi sekali lagi menjadi suaminya, masih terlelap dengan napas yang naik turun dengan teratur. Lengan kokoh pria itu menjadi sandarannya yang entah sejak kapan, membuatnya berpikir apakah Bram merasa kebas atau tidak.
Bergerak dengan gerakan minim sekali, perempuan itu tidak ingin membangunkan Bram yang masih tertidur lelap. Tetapi ia juga tidak bisa menahan keinginan untuk menatap wajah tampan suaminya, menelusuri setiap lekuk dan rahang tegas milik lelaki itu.
Memutar tubuh dengan sempurna untuk kini berhadap-hadapan dengan Bram yang masih terbuai mimpi, Diandra mendaratkan satu kecupan kecil di pipi suaminya.
Menggerakkan jari telunjuknya untuk menyentuh bibir Bram--yang menjadi favoritnya sejak hari kemarin. Mengingat kembali bagaimana bibir lelaki itu menelusuri setiap inchi dari bagian tubuhnya, memberikan sensasi hangat yang menimbulkan rasa tagih dari setiap kecupan yang ia terima.
Melengkungkan senyuman tipis di sudut bibir, mengelus pipi Bram dengan jari-jari.
"Aku tampan kan, Diandra?" Bibir Bram yang tiba-tiba saja terbuka sontak membuatnya terkejut, tersentak kaget karna ia tidak menduga Bram telah terjaga.
Sejak kapan lelaki tampan ini bangun?
Lelaki itu membuka matanya perlahan, kini manik keduanya bertaut satu sama lain. Pancaran mata Bram yang begitu tenang, entah bagaimana sukses sekali menghadirkan perasaan hangat yang menjalar.
"Kau sudah bangun, Bram?" bisik Diandra pelan. Menghentikan gerakan jarinya di pipi lelaki itu, malu sebab dia tertangkap basah kali ini.
Bram menggeliat. Meregangkan tubuhnya sekilas untuk kemudian menarik lagi selimut hingga sebatas bahu, menutupi tubuh polos keduanya yang masih saling menempel.
"Cium aku," pinta lelaki itu manja. Membuat Diandra memundurkan kepalanya ke belakang, menimbulkan tiga kerutan di dahi.
"Aku belum gosok gigi," tolak perempuan itu halus.
"It's okay. Cium aku, Sayang. Hmm?" Memelas, Bram persis seperti teman sepermainan Val dan Ver yang sedang meminta sesuatu.
Diandra tertawa kecil. Memperhatikan bagaimana lelaki gagah itu memasukinya berulang kali malam tadi, dan lihat kini dia merengek minta diberikan ciuman seperti anak kecil.
"Satu kecupan saja, oke?" tawar Diandra lagi. Masih canggung rasanya berada dalam situasi seperti ini, meski dia tidak menampik bahwa paginya kini terasa menyenangkan.
Bram menunggu. Memajukan bibir untuk diberikan pada istrinya, lelaki itu sontak tersenyum lebar saat bibir mereka bertemu. Meski Diandra hanya memberinya satu kecupan singkat, ia sudah hampir terbang saja.
Menarik perempuan itu semakin dalam ke pelukannya, Bram bergumam pelan.
"Selamat pagi, Diandra. Terima kasih karena membuat pagiku sempurna." Sejurus kemudian dia memberikan beberapa kecupan selamat pagi di pipi kanan dan kiri istrinya, tidak lupa satu di pangkal hidung dan satu lagi di kening.
Diandra tertawa. "Selamat pagi, Bram."
Lelaki itu melonggarkan dekapannya, kembali menatap pada wajah teduh nan cantik istrinya.
"Kau cantik sekali, Diandra," bisiknya kemudian, telah melebarkan senyuman.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Nyonya Trahwijaya, kau hebat sekali malam tadi," lanjut Bram lagi.
Sukses membuat Diandra tersipu, memberikan pukulan kecil yang tidak bertenaga di dada bidang Bram.
"Hei, kau membuatku malu!" protesnya cepat.
Tingkah Diandra yang tampak malu-malu ini sungguh mencuri perhatian Bram. Ia kini menyukai bagaimana Diandra tersipu dan pipinya memerah, setiap kali mereka membahas tentang adegan yang terjadi di antara mereka. Penyatuan yang pada tempatnya, penyatuan yang memberikan rasa saling memiliki satu sama lain.
"Kau tidak mengakuinya?" tanya Bram.
Diandra menggeleng. "Tidak. Mana ada!" berkilah dia.
"Ah, begitu ya ... Jadi siapa malam tadi yang mengerang dan mendesah--"
"Bram!" Manik perempuan itu melebar.
"Bram! Astaga!" potong kembali.
Bram semakin menahan senyuman.
"Yang menjadi dominan saat terakhir kali--"
Terhenti. Tepat saat bibir Diandra mengunci bibir lelaki itu untuk membuatnya berhenti berbicara, saat itu jugalah Diandra tidak berpikir panjang atas tindakan yang ia lakukan.
Tidak membiarkan Diandra menarik bibirnya begitu saja, Bram sudah kembali memagut bibir merah muda itu dalam satu ciuman panjang.
Gerakan yang tepat, Diandra. Selamat datang di serangan fajar, haha.
"Bram." Terengah, Diandra tidak menyadari bahwa Bram telah menyingkap selimut mereka, sudah berada tepat di atasnya pula.
Dasar lelaki serigala. Cepat sekali gerakannya.
Tidak mendapati jawaban dari lelaki itu, Diandra berubah ke mode pasrah saat Bram telah menelusuri lehernya yang jenjang.
Membuka diri dengan memberikan ruang bagi lelaki itu menelusuri tubuhnya (lagi), Diandra menahan senyuman saat Bram sudah berubah menjadi lelaki gagah (lagi).
Baiklah. Olahraga di pagi hari tentu saja menyehatkan.
***
Setelah serangan fajar yang berlangsung dramatis dan memabukkan itu usai, Bram keluar dari kamar tidak beberapa lama setelah ia membersihkan diri.
Membiarkan rambutnya yang basah tidak kering sepenuhnya, saat tetesan air masih mengaliri tengkuknya yang tegas. Menuruni anak tangga satu per satu, meninggalkan Diandra yang masih memilih untuk berdiam diri di dalam kamar.
Telah mengenakan sehelai kaus dan celana pendek santai selutut, Bram berbelok ke arah dapur. Penghuni rumah belum terjaga sepenuhnya, sebab ia belum mendapati Tante Luna di sana. Vallois dan Verden juga masih terlelap, meski gelapnya malam mulai terganti dengan cahaya terang.
Berniat untuk mengambil sebotol air, Bram mendapati Alberto sudah duduk di meja makan, sedang mengaduk segelas kopi hitam yang berada tepat di atas meja.
"Hei, brother. Ah, ini dia si pengantin baru! Kemarilah, Bram!" Suara Alberto sudah terdengar nyaring, seiring dengan gerakan sendoknya yang memutar di dalam gelas.
Bram mendekat. Mengambil air minum dari kulkas, kemudian menarik satu kursi untuk duduk di depan sepupu iparnya.
"Tumben kau bangun pagi, Al."
Alberto meringis. Menjauhkan sendoknya yang masih terasa panas bibirnya.
"Hanya terbangun. Sudah tidak bisa tidur lagi," balasnya cepat.
Bram diam. Menenggak air minumnya dengan satu tegukan, mengalirkan sensasi segar.
"Jadi, bagaimana malammu?" tanya Alberto penasaran, sekaligus ingin menggoda lelaki itu pagi ini.
Bram menyeringai. Tentu saja Alberto salah total dengan pertanyaan seperti itu.
"Kau tidak bisa membayangkan, Al." Menggerakkan kepala, dengan sengaja lelaki itu menampakkan satu sisi dari lehernya yang tegas.
Mendapati sepupu iparnya kini benar-benar mengejeknya, Alberto meringis sebab dia melihat lebih dari tiga tanda kemerahan di leher lelaki itu. Masih tampak jelas sekali, meski kulit Bram tidak seterang kulit Diandra.
"Sial. Kau menikmatinya dengan sangat, huh?" protes Alberto kemudian, meraih gelas kopinya untuk dia sesap saja. Menyendok sejak tadi sepertinya tidak selesai-selesai.
Bram semakin melebarkan seringai. Cukup sudah memamerkan itu pagi ini.
"Menikahlah, Al," katanya sembari bangkit dari kursi. Mendapat decakan kesal dari Alberto kali ini.
"Dan rasakan bagaimana wanita mengubah hidupmu."
Sejurus kemudian lelaki itu telah berbalik badan, melangkah besar-besar untuk menemui kembali istrinya. Menggenggam botol air minum di tangan, mendengarkan samar-samar omelan Alberto di belakang sana.
.
.
.
🗼Bersambung🗼